
40 Menit berlalu Rima tiba di kediaman Vano
"Pagi Non Rima.."
"Pagi mang Dadang,." Rima tersenyum ramah dan berlalu pergi masuk ke dalam rumah.
"Pagi Non.."
"Pagi bik Yem, bik Ayra dikamar ya..?"
"Non Ayra di kamarnya Non, Non Rima mau minum apa..?"
"Gak usah Bik masih kenyang tadi baru sarapan. Bik aku langsung naik ya.."
"Iya Non silahkan.."
Rima segera menaiki tangga menuju lantai dua tempat dimana kamar Ayra berada, Rima segera memutar handle pintu dan mendongakkan kepala kedalam.
Dilihatnya Ayra sedang tidur diatas ranjang, pelan-pelan ia mulai melangkahkan kakinya mendekati ranjang.
Rima naik dan tanganya menyentuh kening sahabatnya.
"Ra Lo sakit...?"
"Hem.. Lo disini, kok aku gak tau Lo masuk." Suara serak Ayra khas bangun tidur.
"Nah Lo tidur bagaimana mau lihat gue masuk. Lo sakit apa..?"
"Gak sakit, gue cuman mabuk perjalanan aja. Buat tiduran juga udah mendingan."
"Udah minum obat..?"
"Gak perlu, nie juga udah mendingan."
"Jangan ditunda-tunda kalau sakit ntar gk sembuh-sembuh."
Ayra hanya tersenyum tipis mendengar sahabat cerewetnya, keduanya menghabiskan waktu dengan menonton film di ruang tamu dengan beberapa cemilan dimeja.
Sesekali keduanya tertawa lepas, tiba-tiba ponsel Ayra diatas meja berdering menghentikan aktifitas nya menonton film.
Dilihatnya tertera nama Vano disana, Ayra segera menggeser gambar telepon warna hijau dan menempelkan benda pipih itu ditelinganya.
"Hallo Be, Assalamualaikum.."
"Walaukumsalam.. Sayang gimana keadaanya udah baikan..?"
"Udah lebih enakan Bee, pusingnya udah hilang."
"Syukurlah.. lagi sibuk apa.?"
"Gak sibuk mas lagi nonton film sama Rima.."
"Nanti malam mas mau ngajakin makan diluar gimana..? Jam 7 dianterin mang Dadang ke restoran x ya..?"
"Hem... Iya Bee.."
Vano menutup sambungan telepon nya, Ayra berfikir ada apa Vano mengajak nya makan diluar. Karena suaminya gak suka ditolak Ayra gak mau terlalu banyak bertanya.
__ADS_1
"Kak Vano kenapa Ra, kelihatanya serius amat..?"
"Mas Vano ngajakin makan diluar nie.."
"Ya bagus donk.. Sesekali emang harus ada waktu untuk berdua meskipun hanya hal sepele. Makan malam romantis contohnya.."
"Sok tau nie anak, kayak punya suami aja.." Ayra tertawa puas.
"Yah itu menurut cerita novel yang sering gue baca lah.."
Pukul 3 sore Rima pamit pulang pada sahabatnya, keduanya berpelukan rasanya gak ingin berpisah setiap kali keduanya habis bertemu, perasaan itu masih sama. Rima harus pulang ke apartemen Ayra, besok harus kembali bekerja karena hari ini sudah bolos demi Ayra.
Vano sudah menyelesaikan pekerjaan nya lebih awal, malam ini akan menjadi malam yang tak akan pernah dilupakan istrinya.
Vano menekan tombol yang ada dimejanya, diseberang sana terdengar suara asisten Han.
"Iya Van.."
"Ke ruangan ku sekarang..!"
Vano langsung memutuskan sambungan sepihak tanpa mendengar jawaban Han.
Vano yang masih duduk dikursi kerjanya mendengar suara pintu dibuka, masuklah asisten Han dengan suara sepatu yang semakin mendekat ke mejanya.
"Han bagaimana persiapan acara nanti malam..?"
"Sudah 80% Van.."
"Gimana, kan kurang 3 jam lagi acaranya.."
Ayra tiba direstoran x tepat pukul 7 malam, tidak ada yang spesial seperti restoran pada umumnya. Ayra duduk disebuah Kursi yang mejanya bertuliskan meja 10, 15 menit berlalu Vano belum juga terlihat.
Seorang waiters datang dengan membawa daftar menu, dengan ramahnya ia menyapa Ayra
"Selamat malam ibu, ada yang bisa saya bantu..?"
"Nanti aja mbak, maaf saya lagi nunggu seseorang."
"Atas nama siapa ya.."
"Devano Setya Nugraha"
"Dari keluarga Nugraha ada dilantai atas ibu, mari saya antrkan.."
Ayra mengikuti langkah pelayan restoran naik ke lantai 2, diruangan yang sangat luas itu terdapat sebuah ruangan tersendiri.
Setelah keduanya berada didepan pintu ruangan itu, pelayan meminta Ayra untuk masuk.
"Silahkan ibu, bapak Vano sudah menunggu didalam." Ayra hanya mengangguk
Ayra mendorong pintu ruangan itu sangat pelan, ruangan bernuansa modern yang didominasi warna gold terlihat sangat indah.
Dengan lampu yang tidak begitu terang menambah suasana romantis, disetiap sudut ruangan terdapat lampu warna warni, meja makan dengan bunga dan lilin. Terdapat pintu yang menuju ke balkon ruangan tersebut, Ayra melangkahkan kakinya mendekati meja makan ditengah-tengah ruangan.
Dari belakang seseorang tiba-tiba memeluknya dan melingkarkan tangan kekar dipinggangnya.
Dari Aroma maskulinnya Ayra yakin itu adalah suaminya.
__ADS_1
"Sayang kamu menyukainya..?"
"Bee..!"
"Selamat ulang tahun sayang, maaf telat.." Vano memutar tubuh istrinya, kini keduanya saling berhadapan.
Vano menyium bibir Cherry milik istrinya, Ayra membalas ciuman Vano. Ayra melingkarkan tanganya dipundak Vano, Vano memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat.
Hingga keduanya melepaskan ciumannya untuk menghirup oksigen, pasangan halal ini sama-sama kehabisan nafas.
Vano menarik kursi untuk istrinya, dan berputar menarik kursi untuk dirinya sendiri. Kini keduanya saling berhadapan, Vano memantik korek api dan menyalakan lilin yang ada diatas kue tart.
"Sayang berdo'a dulu ya.."
Ayra memejamkan matanya dan mengucapkan harapan didalam hatinya, kemudian meniup lilin. Ia memotong dan memberikan suapan pertama pada Vano.
"Selamat sayang.." Vano mengecup kening istrinya dengan sayang.
"Terimakasih Bee, ini kejutan yang sangat luar biasa..."
Setelah keduanya makan malam romantis Vano menyerahkan semuah amplop besar berwarna coklat, Ayra memandanginya dengan tatapan penuh tanya.
"Sayang buka lah.."
"Apa ini Mas..?"
"Buka aja, kamu akan tau."
Perlahan tangan Ayra mengambil amplop yang ada didepanya, dengan perasaan berdebar-debar ia mulai membukanya.
Diambilnya beberapa lembar kertas yang ada didalamnya, tatapan matanya ia alihkan pada Vano. Dan Vano mengangguk tanda setuju dengan nya.
Ayra mulai membaca lembaran demi lembaran kertas yang ada ditangannya, ia mulai mengenyitkan keningnya. Tanpa sadar air matanya mengalir dengan derasnya, Ayra menatap suaminya ia berdiri dan berhambur memeluk suaminya.
"Bee terimakasih untuk semuanya.."
"Sayang jangan nangis, harusnya kamu bahagia donk.."
"Aku terharu Bee, rasanya seperti mimpi.." Ayra masih terus terisak didada bidang suaminya.
"Sayang masih ada satu lagi ayo duduklah.."
Ayra kembali duduk di kursinya, Vano berdiri dan berjalan ke belakang Ayra.
Dari belakang Vano memakaikan kalung berlian yang sangat indah dileher istrinya.
"Bee jangan berlebihan.."
"Tidak ada yang berlebihan untuk istriku, bahkan nyawaku.."
Ayra berdiri dihadapan Vano, Vano menghapus sisa air mata dipipi istrinya.
Keduanya berjalan ke arah balkon, dan melihat keindahan lampu jalanan dari atas. Tangan kiri Vano merangkul pinggang istrinya, cukup lama keduanya saling diam dengan pikiran masing-masing.
Menikmati keindahan lampu dan hembusan angin malam yang begitu menenangkan.
Setiap berada dipelukan suaminya Ayra selalu merasa sangat nyaman, kenyamanan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Nyaman saat didekatnya, nyaman saat dipeluk semua yang berhubungan dengan suaminya.
__ADS_1