Khayra Gadis Pilihan

Khayra Gadis Pilihan
episode8 Mengambil hatinya


__ADS_3

Saat namanya dipanggil keruang atasan, khayra bertanya-tanya ada apa dirinya dipanggil bosnya. Ketika pintu dibuka semua yang ada diruangan itu serempak menoleh, khayra terkejut melihat Vano berada disofa.


Vano berpatokan kepada sahabatnya untuk membawa Ayra pergi, dengan senang hati langsung diizinkan.


Mengingat semua masalah hukum diperusahaan Vano berada dinaungan firma hukum miliknya, tidak ada alasan bagi khayra untuk menolak perintah.


Didalam mobil tidak ada yang berpicara sepatah katapun, sesekali Vano melirik khayra yang ada disebelahnya. Terlihat lebih dewasa dibandingkan beberapa tahun lalu saat baru pertama mengenalnya, terlihat tegas tidak mengurangi keanggunanya.


30 menit mereka telah sampai direstoran tempat asisten Han memesan ruang VIP, asisten Han memilih makan dimeja yang ada diluar ruangan.


Kedua orang ini saling menatap tanpa sepatah katapun, mereka duduk di kursi berseberangan.


Beberapa waiters memasuki ruangan dengan membawakan hidangan yang telah dipesan asisten Han, tidak ada yang mengalihkan pandangan di antara keduanya.


"makanlah dulu Ra nanti kita ngobrol lagi." ucapkan Vano.


"bukannya dari tadi kita hanya diam aja." batin Ayra.


Setelah acara makan siang itu selesai Vano menatap Ayra dengan tatapan yang serius, "Kenapa pergi enggak bilang." ucapan Vano.


"Aku tidak ingin merepotkan orang lain."


"bukannya Rima dan laki-laki itu juga orang lain.?"


" Dia Roby sahabatku dan rima."


"Ra ayo kita menikah, aku akan menikahimu tanpa perjanjian laknat itu."


Ayra terkejut dengan ucapan Vano yang tiba-tiba, "apa orang ini salah minum obat." batinnya.


"memang aku belum mencintaimu Ra tapi aku akan berusaha untuk mencintaimu. aku memberimu waktu untuk memikirkan semua ini."


"maaf pak pekerjaan apa yang akan kita bahas.?" Aira mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"jangan memanggilku bapak aku bukan bapakmu dan juga bukan bosmu." ucapkan Vano.


Ayra hanya diam seribu bahasa, diam dalam kebingungan apa yang harus dilakukannya.


****


Setelah ucapan Vano siang yang tadi, Ayra tidak bisa memejamkan matanya. Tubuhnya hanya berguling-guling di atas kasur, merasakan kasur di sebelahnya terus aja ada gerakan. Rima berbalik dan membuka matanya.


"Ra kalau lu nggak bisa tidur jangan gerak terus dong gue ngantuk nih."


Setelah Ayra kembali ke Indonesia, Ayra meminta Rima untuk tinggal bersamanya di apartemen. Rima tidak merasa keberatan karena setiap waktu ada teman ngobrol, kak Han juga mengizinkan Rima tinggal di apartemen Ayra.


Ayra hanya nyengir kuda dan menutup tubuhnya dengan selimut sampai kepala, pukul 5 pagi Rima membangunkan dan Ayra untuk salat subuh.


Setelah salat subuh Ayra kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur, matanya masih terasa berat karena pukul 3 pagi baru bisa tertidur.

__ADS_1


Saat Ayra bangun jam sudah menunjukkan pukul 6.30, Ayra bergegas bangun dan berlari menuju kamar mandi.


Rima sudah duduk di meja makan, saat Rima sedang sarapan tiba-tiba bel apartemen Aira berbunyi. "Siapa sih pagi-pagi gini bertamu." ucapnya.


Saat pintu terbuka Vano sudah berada di depan Rima, "kak Vano mau jemput Ayra ya.??"


"Hem." jawab Vano sambil berlalu masuk ke apartemen dan duduk di ruang tamu.


"Ayra masih mandi kak, mungkin sebentar lagi juga selesai. aku berangkat dulu kak sudah kesiangan." Rima berlalu pergi dari hadapan Vano.


Setelah selesai mandi Ayra menggunakan make up, meskipun hanya tipis tetapi aura kecantikannya tidak diragukan lagi.


setelah selesai dengan ritual make up nya Ayra menyambar tas kerjanya yang ada di tempat tidur dan berlalu keluar kamar.


"Rim ayo sarap..." Ayra menghentikan ucapannya tatkala melihat Vano duduk di sofa di ruang tamu.


"kamu ngapain disini van?" sambil berlalu menuju meja makan.


"emangnya ke apartemen calon istri harus ada alasan.."


Ayra yang sedang meminum susu terbatuk-batuk mendengar ucapan Vano, Vano yang melihat Ayra terbatuk-batuk segera menghampirinya.


Dengan ibu jarinya Vano mengusap bibir Ayra, "minum susu kok belepotan gini kayak anak kecil aja."


Ayra hanya mematung melihat tingkah Vano pagi ini, "sayang aku akan mengantarmu ke kantor."


"aku nggak terima penolakan."


Sesampainya di depan kantor firma hukum tempat Ayra bekerja, Vano mengambil sebuah tas kecil berisi kotak makanan dan menyerahkannya pada Ayra.


"ini sarapan untukmu tadi mbok Yem yang nyiapin."


"Van gak perlu repot-repot."


"nggak ada yang repot untuk calon istriku. sayang nanti pulangnya aku jemput ya.?"


Ayra mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan Vano, setelah Ayra tidak terlihat Vano melajukan mobilnya menuju kantornya.


Di sepanjang jalan Vano terus mengembangkan senyumnya, begitupun di kantornya. Semua karyawan Vano merasa sedikit aneh, tidak seperti biasa bosnya tampak begitu bahagia.


Asisten Han yang mendengar pembicaraan para karyawan dibawah langsung menuju lantai 9 tempat dimana ruangan Vano berada, saat assistant Han membuka pintu ruangannya terlihat Vano sibuk dengan berkas di meja kerjanya.


"Van lu nggak papa kan?"


"emangnya gue kenapa,!" sahut Vano


"ketiban rejeki nomplok apa hari ini kayaknya lo senang banget."


"gue mau kencan sama khayra entar malam."

__ADS_1


"lo yakin emang Ayra mau sama lo..!"


"sialan loh." Vano melemparkan pulpen yang ada di tangannya ke arah asisten Han.


Han pun berlari kecil meninggalkan ruangan Vano, Vano terlihat kesal dengan ulah asistennya.


****


Sore saat Ayra keluar dari gedung kantor tempatnya bekerja, mobil Vano sudah terlihat parkir di depannya. Vano melambaikan tangannya kearah khayra, khayra pun segera menghampiri Vano.


Vano membukakan pintu mobil untuk Ayra, kemudian memutar dan membuka untuknya sendiri. "sayang yang kita makan dulu ya..?"


khayra mengiyakan ajakan Vano karena dirinya juga sudah merasa lapar, mobil melaju ke restoran favorit Vano. Di restoran tempat Vano dan Ayra makan malam pengunjung terlihat sangat padat.


"sayang bagaimana kalau besok kita ke rumah papa? pasti papa dan mama seneng banget kita kesana.."


"boleh juga aku juga kangen sama om dan tante."


"Van aku mau ke toilet sebentar."


"Perlu tak anter sayang."


"Gak usah."


Ayra pun berlalu pergi meninggalkan meja makan, saat Ayra yang keluar dari toilet Ayra berpapasan dengan seseorang yang sangat dikenalnya.


"Kak Amel." sapanya.


Begitu ada yang memanggil namanya Amel pun menoleh ke arah sumber suara, dilihatnya Ayra dari berdiri persisi dibelakangnya.


"kamu.... ngapain kamu di sini."


"disini tempat umum wajar dong kalau aku juga ada disini."


"pasti kamu disini diajakin om-om hidung belang, dasar wanita murahan" ejeknya.


"semua harta papa sudah kamu dan mamamu ambil, aku nggak masalah tapi jangan sesekali kamu menganggapku wanita murahan." Ayra mulai emosi.


Amel membuka tutup botol yang dipegangnya dari tadi, kemudian menyiramkan air yang ada di botol ke baju Ayra. Belum habis air yang ada di dalam botol Ayra dengan cepat membuangnya.


Saat Amel mengangkat tangannya dan akan menampar Ayra, Amel merasa ada yang menahan tangannya.


Dia adalah Vano, Vano mencari Ayra karena merasa Ayra pergi ke toilet terlalu lama.


Amel merasa sedikit takut saat melihat wajah Vano memerah penuh amarah, Vano menepiskan tangan Amel dengan sangat kuat membuat Amel mundur ke belakang beberapa langkah.


"berani kau menyentuh calon istriku, akan kuhabisi kamu dan keluargamu." dengan tangan Vano menunjuk ke muka Amel.


Vano meraih tangan Ayra dan membawanya pergi, Amel masih mematung ditempat dan terkejut saat Vano mengatakan Ayra adalah calon istrinya.

__ADS_1


__ADS_2