Kisah Cinta Si Gadis Dingin

Kisah Cinta Si Gadis Dingin
(103) Psikiater [S2]


__ADS_3

(103) Psikiater [S2]


...Welcome My Story Kisah Cinta Si Gadis Dingin S2...


...Happy Reading~...


.


.


.


Sedangkan Fadri yang sudah selesai bertanya kepada Dokter, dirinya pun kembali ke ruang inap-Nya Driana.


"Bunda pasti akan senang kalau dirinya sudah diperbolehkan pulang sama Dokter!!," ucap Fadri dengan perasaan gembira.


Setelah itu, dirinya pun sampai ke ruang inap Bundanya yang sedang dirawat tetapi di saat dirinya sudah sampai, Bundanya tersebut pun sudah tidak ada di ruang inap tersebut.


"Hah? Bunda kemana? kok di ruang inapnya, dirinya tidak ada? ahh! sudahlah Fadri, lu harus cari Bunda. Baiklah gua akan cari keberadaan Bunda!," ucapnya dengan rasa gelisah di hati.


Fadri pun mencari keberadaan Bundanya tersebut dari daerah sekitar rumah sakit.


"Sial, Bunda tidak ada di sekitaran sini dan untuk sekarang gua harus cari Bunda kemana?; apa gua tanya aja ke penjaga di rumah sakit ini? hmm... yaudahlah gua akan tanyakan ke penjaga rumah sakit!!." Ucap Fadri yang memutuskan untuk bertanya ke penjaga rumah sakit tersebut.


Dirinya pun pergi ke pos penjaga.


"Permisi," ucap Fadri dengan sopan.


"Iya, apa ada yang bisa saya bantu?," sahut penjaga rumah sakit itu.


"Hmm... apakah saya boleh tanyakan sesuatu ke Bapak?."


"Boleh, apa yang ingin kamu tanyakan kepada saya?."


"Jadi begini Pak, saya ingin tanya sesuatu ke Bapak tentang keberadaan Bunda saya yang secara tiba-tiba tidak ada di rumah sakit ini...,"


"Jadi...?"


"Jadi... apakah tadi Bapak melihat Bunda saya keluar dari rumah sakit ini?."


"Sebelumnya saya minta maaf karena saya tidak tahu keberadaan Bunda anda tersebut dan terlebih lagi anda tidak menyebutkan ciri-ciri Bunda anda tersebut ke diri saya."


"Oh iya maaf Pak kalau begitu dan juga seperti ini ciri-ciri Bunda saya, Pak."


Fadri pun menyebutkan ciri-ciri Bundanya tersebut beserta mengasih foto Bundanya itu.



"Bunda saya seperti ini Pak dan apakah Bapak melihat bahwasanya Bunda saya keluar dari rumah sakit ini?"


"Mohon maaf saya tidak melihat bahwasanya ia keluar dari rumah sakit ini"


"Begitu ya Pak, yasudahlah terima kasih Pak."


"Iya, sama-sama."


Setelahnya, Fadri pun bingung harus cari Bundanya kemana lagi. "Gua harus cari Bunda kemana lagi? ahhh!!."


Secara tiba-tiba, dering telepon handphonenya pun berbunyi.

__ADS_1


KRIIING...!


KRIIING...!


KRIIING...!


"Eh... sebentar siapa yang menelepon gua ya? nomor tidak dikenal lagi, gua angkat gak ya. Hmm... yaudah gua angkat saja, siapa tahu penting?!!." Ucapnya.


Dirinya pun mengangkat telepon tersebut yang ternyata dari Polres.


"Assalamu'alaikum, apa benar ini dengan saudara Fadri Abdullah Rizki?." Tanya salah satu anggota kepolisian di dalam teleponnya.


"Iya benar dengan saya Fadri Abdullah Rizki, dan juga anda siapa ya?." Jawab Fadri sekaligus bertanya dengan anggota kepolisian tersebut.


"Saya Abdul Jabbar dari Polres Metro Kota Tangerang ingin memberi tahu bahwasanya Ibunda anda ada di kami."


"Hah? apa? Ibu saya ada di Polres? apa yang sudah membuat Ibu saya ada disitu, Pak?." Ucap Fadri dengan perasaan terkejut.


"Kalau anda ingin tahu tentang Ibunda anda segera datang ke sini supaya kami bisa menjelaskan secara lebih detail."


"Baiklah saya akan datang ke situ."


Telepon pun dimatikan, dan sedangkan Fadri langsung bergegas ke Polres Metro Kota Tangerang.


Sesampainya di Polres.


"Bunda" ucap Fadri.


"Iya, Nak" sahut Driana.


"Kenapa Bunda ada disini? dan apa yang terjadi dengan Bunda hingga ada di Polres?" tanya Fadri kepada Driana karena dirinya khawatir terhadapnya.


"Tetapi Bun...,"


"Sudah, kamu duduk dulu dan dengarkan yang dibicarakan oleh Pak Polisi ini!,"


"Baiklah Bunda kalau begitu, Fadri akan duduk dan dengarkan yang dibicarakan oleh Pak Polisi ini"


"Sebelumnya saya meminta izin untuk berbicara sebentar, jadi sebenarnya Ibunda anda ini adalah seorang korban dari pemerkosaan yang sudah direncanakan oleh seorang perempuan yang bernama Akasuki Chiye dan juga saya memberi tahu akan hal ini karena anda adalah salah satu keluarga dari saudari Driana yang bisa dihubungi oleh kami." Ucap Anggota Kepolisian.


"Oh jadi begitu dan juga apa yang akan kalian perbuat dengan saudari Akasuki yang sudah mencelakakan Bunda saya?," tanya Fadri dengan tegas.


"Kami akan perbuat saudari Akasuki sesuai dengan undang-undang yang sudah berlaku secara hukum yaitu berupa dengan mempidana matikan saudari Akasuki, yang sudah tercantum dalam KUHP Pasal 340 tentang rencana kejahatan hingga hampir merampas nyawa seseorang atau bisa dibilang pembunuhan berencana dengan melalui tindakan pemerkosaan yang sudah tercantum dalam KUHP Pasal 285 tentang pemerkosaan." Jawab Anggota Kepolisian tersebut.


"Baiklah kalau begitu dan juga apa yang akan kalian lakukan kepada komplotan preman yang sudah disewa olehnya?."


"Kami akan memenjarakan preman yang sudah disewanya dengan hukuman pidana penjara paling lama dua belas tahun."


"Baguslah kalau begitu dan juga apa kami boleh pergi dari sini?," tanya Fadri.


"Silakan, kalian sudah diperbolehkan pergi dari sini."


Fadri dan Driana pun pergi dari Polres tersebut, dan mereka pun pergi menuju ke rumah untuk beristirahat.


Sesampainya, Driana menceritakan semua yang terjadi kepada dirinya ke Fadri.


"Bunda tidak apa-apakan?" tanya Fadri dengan khawatir.


"Bunda sudah tidak apa-apa kok dan juga Bunda hampir saja ingin diperkosa oleh sekelompok preman yang sudah disewa oleh perempuan j*lang tersebut!!," jawab Driana.

__ADS_1


"Baguslah kalau Bunda tidak apa-apa, Fadri sangat mengkhawatirkan Bunda tahu!" ucap Fadri.


"Hahaha! cie ciee, anak Bunda bisa khawatir juga dengan Bundanya!." Sambung Driana yang bercandain Fadri.


"Ihh, Bunda mah. Yaudah kalau terjadi sesuatu sama Bunda, tidak usah menghubungi Fadri!" ucap Fadri yang ngambek sama Driana.


"Hahaha! anak Bunda kok ngambek, Bunda cuma bercanda doang!,"


"Siapa yang ngambek juga?... aku tidak ngambek tuh"


"Yang benar? kamu tidak ngambek sama Bunda?"


"Iya, aku tidak ngambek juga sama Bunda"


"Hahaha! iya, anak Bunda lucu banget si."


"Iya dong, Fadri gitu"


"Iya deh, terserah kamu dan kalau begitu Bunda masuk ke kamar terlebih dahulu ya, Nak."


"Baik Bunda."


...----------------...


Sedangkan di keadaan Tisana yang sudah selesai dari kegiatan kampusnya, ia pun secara diam-diam pergi ke tempat Psikiater untuk mengecek kesehatan mental dan fisiknya.


Sesampainya di Psikiater. Tisana pun langsung berkonsultasi, ia menjelaskan semua keluhan yang sudah terjadi kepada dirinya belakangan ini.


"Kamu itu sudah depresi berat, Tisana begitupun yang sudah terjadi kepada kamu secara belakangan ini yaitu Anxiety Disorder. Kamu itu perlu istirahat secukupnya dan tenangkan diri kamu itu"


"Saya tahu tetapi bagaimana caranya untuk diri saya sendiri bisa tenang?"


"Kamu cukup lupakan semua yang kamu cemaskan dan khawatirkan secara berlebihan itu hingga membuat kamu seperti sekarang ini!"


"Ya, saya tahu tetapi itu berat untuk saya lakukan" ucap Tisana yang hampir ingin meneteskan air matanya.


"Apa yang membuat kamu kesusahan untuk melupakan semua yang kamu cemaskan secara berlebihan itu? ceritakan saja kepada saya, Tisana. Saya tahu, kamu butuh seseorang untuk bisa mengerti dirimu tersebut."


"S-saya tidak bisa menceritakan semua itu" ucap Tisana sembari menangis.


"Kenapa?,"


"Saya tidak bisa, karena semua yang saya rasakan itu menyakitkan yang hampir membuat saya ingin bunuh diri" Tisana ucap tersebut sembari menangis.


"Baiklah kalau kamu tidak ingin cerita kepada saya tetapi apa boleh saya tahu? apa yang membuat kamu mencemaskan dan mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan seperti itu?."


.


.


.


Bersambung~


...


Jangan lupa untuk like, favorit, gift dan votenya karena itu semua membuat aku semakin semangat updatenya.


Terima kasih bagi yang sudah mampir dan dukung Author.

__ADS_1


Salam hangat Author


__ADS_2