
(54) Isi Surat Dari Fauzal.
...Welcome My Story Kisah Cinta Si Gadis Dingin....
...Happy Reading~...
.
.
.
Tisana membacakan surat yang dikasih oleh Fauzal yang bertuliskan.
Surat dari Fauzal sebagai permintaan maaf untuk Tisana dan semuanya.
"Assalamu'alaikum Tisana. Abang minta maaf sama kamu, Tisana dan pastinya kamu sudah menerima surat inikan?!!, sekali lagi a-ab-bang." ucap Tisana yang tidak sanggup untuk melanjutkan membaca surat dari Fauzal dan ia membaca surat tersebut sembari menangis.
Tio yang ikutan nangis setelah ia melihat kekasihnya menangis atas kepergian abang tercintanya. Dan ia berusaha menghibur Tisana supaya dirinya tidak sedih lagi.
"Tisana, jangan nangis nanti aku jadi ikutan nangis."
"Tanpa perlu aku berhenti nangis, kamu juga udah nangis, Tio."
"Oh iya kah, aku udah nangis duluan??!!."
"Au ah, malah kamu buat aku kesel bukannya kamu menghibur aku supaya aku tidak sedih akan kepergian bang Fauzal."
"Aku cuma bercanda, tuan putri."
"Kamu nyebelin banget!!!!."
"Iya, aku nyebelin."
"Tumben ngaku, kalau kamu nyebelin, Tio!!."
"Bodoamat, aku ngambek."
"Hahaha! baru tahu aku cowok bisa ngambek?!!."
"Bisa dong, masa cewek doang yang bisa ngambek?!." ucap Tio yang sembari mencubit pipi Tisana.
Tio bahagia kalau dirinya bisa membuat kekasihnya tertawa dan senyum, karena dirinya mengganggap Tisana sangat manis ketika senyum dan tertawa.
"Kamu kenapa, Tio?." tanya Tisana yang aneh saat melihat Tio senyum dengan sendirinya.
"Tidak apa-apa." jawab Tio yang semakin senyum dengan sendirinya.
"Kamu serius tidak apa-apa?!! tetapi kenapa kamu senyum sendiri seperti orang gila, hahaha!!." Ejek Tisana ke Tio.
"Idih, aku tidak senyum dengan sendirinya."
"Masa? tapi aku masih lihat kamu masih senyum-senyum sendiri."
"Udah g-gak kan?!."
"Masih."
"Kamu jangan bohong, Sana."
"Hehehe!, hahaha!!, aku capek ketawa, Tio."
__ADS_1
"Ya berhentilah kalau capek ketawa, bagaimana dah kamu, Tisana?."
Tiana yang lagi meratapi meninggalnya Fauzal dan ia merasa sangat kehilangan sosok abang yang ia cintai.
"Ya Allah, kenapa kamu mengambil nyawa abang saya? saya kehilangan sosok abang, ya Allah, kenapa? saya tanya kenapa engkau mencabut nyawa abang saya, Fauzal?!!." ucap Tiana yang meratapi meninggalnya Fauzal.
Dan Tisana yang melihat adiknya yang terlalu meratapi atas meninggalnya Fauzal, ia menasihati Tiana kalau Allah tidak suka terhadap hambanya yang terlalu meratapi orang yang sudah meninggal.
"Tiana, Allah larang kita untuk meratapi orang yang sudah meninggal dan tetapi Allah tidak melarang kita untuk menangis asalkan tangisan kita terhadap mayit itu tidak berlebihan dan itu sudah dijelaskan dalam hadist yang berbunyi لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ، أَوْ" شَقَّ الْجُيُوبَ، أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
“Bukan dari golongan kami siapa yang menampar-nampar pipi, merobek-robek kerah baju, dan menyeru dengan seruan jahiliyyah (meratap).(HR. Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103)."
"Aku tahu tetapi aku sangat kehilangan sosok bang Fauzal, kak Tisana."
"Bagaimana dengan kakak? kalau kamu mau tahu kakak itu sangat kehilangan sosok bang Fauzal walaupun bang Fauzal membenciku pada waktu itu, apa yang kamu rasa tidak seberapa yang aku rasa, Tiana?!!!."
"Kakak tidak tahu aja hidup aku seperti apa?!! kalau kakak mau tahu, aku sering di bully sama orang terkecuali teman sekelasku!!."
"Kenapa kamu baru bilang sama kakak kalau kamu di bully sama orang dan juga apa gunanya kamu bisa beladiri kalau tidak dibuat untuk melindungi diri sendiri?." tanya Tisana dengan tegas kepada Tiana.
"Aku tahu tetapi pelatih aku bilang bisa beladiri untuk melindungi orang lain dan jangan digunakan secara sembarangan ataupun sombong terhadap ilmu beladiri yang sudah di ajarkan." jawab Tiana.
"Pelatih kamu tidak bilang, kalau beladiri itu untuk melindungi diri sendiri juga bukan hanya melindungi orang lain, berarti selama ini beladiri kamu itu tidak berguna untuk diri sendiri dan hanya berguna untuk orang lain?!! ucapan pelatih kamu itu lucu, walaupun ada benarnya ucapan pelatih kamu itu tetapi asal kamu tahu kamu boleh melindungi diri kamu sendiri asalkan jangan sombong karena kamu bisa beladiri dan sembarangan memakai jurus silat yang kamu pelajarin selama ini!!."
"Pelatih aku tidak bilang kalau beladiri itu untuk melindungi diri sendiri dan ia hanya bilang untuk melindungi orang lain, tapi yaudahlah kak, besok akan aku usahakan untuk melindungi diri aku." ucap Tiana dengan polos.
"Pelatih kamu siapa?." tanya Tisana.
"Mantan kakak yang namanya Nanda." jawab Tiana dengan wajah yang sangat polos sekali.
"Mantan kakak? emangnya kakak punya mantan yang bernama Nanda?!!." ucap Tisana yang bingung akan nama mantan kelimanya.
"Kakak punya mantan nama panjangnya kalau tidak salah Nanda Aarav Kelvin."
"Kenapa kamu hafal nama mantan kakak? padahal kakak lupa semua nama mantan kakak terkecuali...,"
"Kakak lagi berusaha move on, Tiana."
"Baguslah!."
Tio yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang mantan Tisana yang namanya mirip sama nama Nico yang dahulu.
"Putra? namanya tidak asing di telinga gua dan apalagi nama itu, nama mantannya Tisana, sebentar, jangan bilang mantan Tisana yang bernama Putra itu sebenarnya nama Nico yang dulu alias Nico, mantan Tisana?!! semoga aja tidak benar tebakan gua!."
Lia dan Jaya datang ke rumah sakit kembali untuk melihat kondisi Tisana dan mereka berjumpa dengan Tisana, Tiana dan Tio yang berada di depan ruangan operasi.
"Tisana, kamu sudah sadar, nak? alhamdulillah banget kalau kamu sudah sadar." ucap syukur Lia atas anaknya sudah sadar dari kecelakaan.
"Aku sudah sadar, ma. Mama sama Papa, kenapa datang ke sini?."
"Tentu saja, kita mengkhawatirkan kondisi kamu, Tisana, yang belum sadar juga dan akhirnya kita menyempatkan ke sini untuk melihat kondisi, anak mama."
"Emangnya mama sama papa habis ngapain kok ada kata nyempetin?!!."
"Kita habis raaawr." ucap Jaya.
"Raaawr apa pah? jangan bilang papa sama mama bikin anak lagi ya?!!." ucap Tisana yang blak-blakkan.
"I-iy..,"
Lia langsung menutup mulut suaminya supaya anak mereka tidak tahu mereka habis melakukan sesuatu yang seharusnya anak mereka tidak boleh tahu.
***
__ADS_1
Lia bertanya kepada Tisana, Tiana dan Tio yang ada di depan ruangan operasi.
"Kalian kenapa ada di depan ruangan operasi? siapa yang di operasi?." tanya Lia kepada mereka bertiga.
"Bang Fauzal meninggal ma." Tiana memberi tahu kalau Fauzal telah tiada.
"Apa? Fauzal meninggal, innalillahi, kenapa bisa Fauzal meninggal, Tiana? cepat kasih tahu mama, kenapa abang kamu bisa meninggal?!!." Lia banyak bertanya kepada Tiana tentang anak pertama mereka meninggal dan pastinya mereka sebagai orang tua sedih sekaligus panik.
Tiana hanya bisa diam menangisi Fauzal dan sedangkan Tisana yang sudah menyiapkan mental takutnya dia disalahin oleh orang tuanya atas meninggalnya Fauzal dan dia menjawab semua pertanyaan dari Lia.
"Hiks!, hiks!, hiks!." Tangis Lia.
"Jangan sedih, sayang, nantikan kita bisa buat anak lagi." ucap Jaya yang menyeleneh.
Lia menampar Jaya dengan keras.
Plak!.
"Sakit sayang, kenapa kamu menampar aku?."
"Siapa suruh kamu bilang begitu di depan anak-anak? kamu mau nanti anak kita jadi tidak polos lagi? padahal anak kita kalau polos, lucu!!." ucap Lia yang marah kepada Jaya.
"Iya, maaf, sayang."
"Kamu beneran minta maafkan?!!."
"Aku beneran minta maaf, sayang."
"Yaudah, aku maafin kamu."
"Terima kasih, sayangku."
"Hmm."
.
.
.
Lia memanggil Tisana untuk dibawa ke ruangan sesuatu dan mereka bicara empat mata. Setelah dirinya selesai membawa Tisana ke ruangan tersebut, ia langsung bicara serius kepada Tisana.
"Tisana." panggil Lia.
"Ada apa ma?." sahut Tisana.
"Fauzal sudah meminta maaf sama kamu, nak?!!." tanya Lia.
"Sudah ma, kenapa mama tanya hal itu?."
"Syukurlah kalau Fauzal sudah meminta maaf sama kamu soalnya mama tahu permasalahan kalian dan juga mama tidak mengharapkan abang kamu meninggal dengan cara menusuk dirinya dengan pisau tetapi kemungkinan dia mempunyai alasan tersendiri."
.
.
.
Bersambung~
...
Jangan lupa untuk like, favorit, gift dan votenya karena itu semua membuat aku semakin semangat updatenya.
__ADS_1
Maaf tulisan yang ada di kertas tadi jelek karena itu emang asli tulisan Author, jadi maaf ya para readers.
Terima kasih yang sudah mampir dan mendukung Author.