Kisah Cinta Si Gadis Dingin

Kisah Cinta Si Gadis Dingin
(37) Tisana Melarikan Diri Dari Rumah 1


__ADS_3

(37) Tisana Melarikan Diri Dari Rumah 1.


Tiana memeluk Fauzal dan ia memeluk Tiana kembali dengan cukup erat.


"Abang juga kangen kamu Tiana." ucap Fauzal yang memeluk Tiana dengan sangat erat.


"Bang Fauzal." panggil Tiana.


"Ada apa Adik Abang yang manis?." tanya Fauzal.


"Bang, ngampus di luar negeri rasanya bagaimana?." tanya Tiana kembali.


"Enak dong ngampus disana, nanti saat kamu ingin ke Universitas, apa kamu mau ngampus di luar negeri?!!." tanya Fauzal kembali.


"Aku mau kuliah di luar negeri seperti abang." jawab Tiana dengan sangat polos.


"Kalau kamu mau kuliah di luar negeri, kamu harus rajin belajar biar kamu bisa seperti abang yang dapat beasiswa untuk kuliah di California, Amerika Serikat." ucap Fauzal.


"Ok Bang, aku bakal rajin belajar supaya aku bisa dapat beasiswa untuk sekolah di luar negeri seperti abang yang aku cinta ini." ucap Tiana.


"Yaudah, semangat untuk belajarnya, Adik Abang yang sangat manis." ucap Fauzal.


"Iya Bang." ucap Tiana.


Keadaan Tisana yang masih berada di dalam kamarnya dan ia menyilet tangannya tersebut dengan benda tajam yang bernama silet.



Tisana dari dulu sangat suka menyilet tangannya dan dia melakukan hal tersebut untuk self harm, ia sengaja melakukan hal tersebut supaya dirinya bisa tenang dengan adanya ia menyilet tangannya tersebut.


"Hahaha! seru juga menyilet tangan sendiri bahkan sampai keliatan garis-garis tangan yang pernah di silet oleh diriku ini dan bahkan orang tuaku saja tidak mengetahui kalau aku melukai diriku dengan menyilet tangan ini, hahaha! sangat lucu hidup yang aku jalani, hiks! kenapa hidupku harus begini? aku salah apa sama Bang Fauzal? aku tidak pernah membuat temannya bunuh diri hanya gara-gara aku! aku capek harus berpura-pura bahagia didepan semua orang dan saat aku berubah menjadi orang yang dingin itu sangat mengasikkan tetapi kenapa aku harus menjadi Tisana yang dahulu? yang bukan Tisana yang dingin! hahaha! apa semua orang pernah mengalami hidup seperti yang aku jalani ini?apa mereka menyerah dengan hidup mereka dan akhirnya mereka memutuskan untuk bunuh diri? apa Allah lagi menguji aku biar aku bisa menjadi orang yang kuat dan mentalnya kuat untuk menjalani hidup? tapi yang selalu aku tanya mau sampai kapan hidup aku menderita seperti ini? ahh! aku pengen banget berteriak sekencang mungkin untuk melepaskan semua beban hidup ini tetapi aku tidak bisa berteriak disini, takutnya ganggu tetangga sama orang di rumah, apa aku kabur aja dari rumah? aku juga udah muak tinggal di rumah ini! sudah aku putuskan kalau aku akan melarikan diri dari rumah ini dan selama aku melarikan diri, aku akan melakukan self healing dibandingkan self harm yang selama ini aku lakukan." ucap Tisana.

__ADS_1


Keadaan Lia yang mengkhawatirkan Tisana dan ia menyuruh Tisana untuk makan siang.


"Aku khawatir sama Tisana, apa nanti aku tanya saja ke Tisana? kenapa ia mendiamkan aku? yaudalah, sekarang aku harus panggil Tisana untuk makan siang bersama." ucap Lia.


Lia mendatangi kamar Tisana untuk menyuruh Tisana makan siang. Setelah sampai ke kamar Tisana, ia langsung menyuruh Tisana untuk makan siang.


"Tisana." panggil Lia.


Tisana mendengar suara Lia dan ia langsung menyeka titisan air matanya yang jatuh tersebut.


"Ada apa Ma?." tanya Tisana yang baru selesai menangis.


"Makan siang dulu yuk, Tisana." ajak Lia untuk makan siang.


"Mama duluan aja nanti Tisana menyusul." ucap Tisana.


"Yaudah, pokoknya nanti kamu harus makan siang, yaudahlah kalau begitu mama ke ruang makan." ucap Lia.


Tisana keluar dari kamarnya dan ia langsung menuju ke ruang makan untuk makan siang bersama walaupun nanti ia tahu suasananya akan menjadi canggung.


"Kak Tisana, sini duduk di samping aku." ajak Tiana.


"Hmm."


Tisana duduk di samping Tiana untuk makan siang bersama. Dan Tiana langsung bertanya kepada Tisana yang secara tiba-tiba cuek pada dirinya.


"Kak Tisana." panggil Tiana.


"Apa?." tanya Tisana.


"Kenapa Kakak seperti dahulu, yang dingin dan cuek?." tanya Tiana kembali yang langsung bertanya kepada Tisana.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu tahu." jawab Tisana.


"Kenapa aku tidak boleh tahu?." tanya Tiana.


Tisana mendiamkan ucapan Tiana sembari mengambil makanan. Setelah ia selesai mengambil makanan, ia menuju ke kamarnya.


Tiana dan Lia merasa heran kepada sikap Tisana yang tiba-tiba berubah menjadi diri yang sebelumnya.


"Ma, kenapa Kak Tisana berubah lagi menjadi dia yang dulu?." tanya Tiana kepada Lia.


"Mama tidak tahu, Tiana." jawab Lia.


"Kalau Bang Fauzal tahu tidak Kak Tisana kenapa tiba-tiba berubah?." tanya Tiana kepada Fauzal.


"Abang tidak tahu, Tiana." jawab Fauzal.


"Tiana kira Abang tahu." ucap Tiana.


"Abang saja baru datang ke sini lagi dan mana mungkin Abang tahu Tisana kenapa?!!." ucap Fauzal.


"Iya juga, mana mungkin Bang Fauzal tahu kenapa Kak Tisana tiba-tiba berubah?!." ucap Tiana.


"Hahaha!, rasakan Tisana, gua baru saja pulang ke sini, lu langsung berubah drastis, hahaha! gua sangat senang kalau lu menderita, Tisana, kita lihat saja nanti lu akan bertahan sampai mana mental lu itu! soalnya gua akan menghancurkan mental lu secara perlahan, hahaha! gua sangat senang!." ucap Fauzal dalam hati.


Pada malam harinya, pukul 22.00 PM atau 10 malam, Tisana melarikan diri dari rumah dan ia memutuskan untuk pergi sejauh-jauhnya dari rumahnya.


"Aku harus berhasil kabur dari sini, aku udah muak sama semua ini, pokoknya rencana aku untuk kabur dari rumah harus berhasil!." ucap Tisana yang kabur dari rumah.


Setelah Tisana berhasil melarikan diri dari rumah, Lia mengecek kamar Tisana dan ia terkejut kalau Tisana tidak ada di kamarnya tersebut sampai dirinya mencari keberadaan Tisana ke seluruh ruangan yang ada di rumah dan akan tetapi ia tidak menemui keberadaan Tisana di manapun, ia mulai khawatir sama Tisana karena Tisana tidak ada di rumah.


"Tisana, kamu di mana? mama sangat khawatir sama kamu." ucap Lia yang sangat mengkhawatirkan Tisana.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2