Kisah Cinta Si Gadis Dingin

Kisah Cinta Si Gadis Dingin
(88) Kerinduan dan Mengejek Sang Mantan [S2]


__ADS_3

(88) Kerinduan dan Mengejek Sang Mantan [S2]


"Bapak kenapa terkejut sampai segitunya? apakah saya tidak boleh mencintai bapak? padahalkan saya cukup menggoda untuk menjadi istri bapak yang baru," ucap karyawannya yang terlalu kepedean. Karyawannya itu terus menggoda Alberic.


Alberic yang sedang digoda oleh karyawannya. "Apa kamu bisa hentikan semua ini? dan juga saya tidak mencintai kamu walaupun kamu boleh mencintai saya tetapi saya hanya ingin ingatkan bahwa saya tidak bisa mencintaimu, Alya" ucap Alberic yang tidak bisa mencintai karyawannya itu.


"A-apa? kenapa bapak tidak bisa mencintai saya? apa karena saya tidak cukup menggoda untuk menjadi istri bapak?" tanya Alya dengan perasaan yang cukup terkejut oleh ucapan Alberic.


"Bukan begitu tetapi saya masih mencintai istri saya walaupun ia sudah tiada dan posisi dia sebagai istri saya belum atau tidak bisa digantikan oleh perempuan lain yang ingin menjadi istri saya" jawab Alberic.


"Tetapi kenapa bapak masih mencintai istri bapak itu walaupun sudah tiada? apa karena istri bapak itu spesial di hati bapak? makanya perempuan lain tidak bisa menggantikan posisinya" tanya Alya lagi ke Alberic.


"Iya karena istri saya itu spesial di hati saya dan cuma dia doang yang bisa menerima diri saya dengan apa adanya tanpa perlu memandang apapun dari diri saya" jawab Alberic.


"Oh begitu dan maaf Pak atas kelakuan saya yang tadi. Tolong lupakan kelakuan saya yang tadi pak dan saya permisi dahulu" ucap Alya dengan perasaan yang kecewa dan dirinya pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Oh oke"


Alya dengan perasaan kecewa karena ucapan Alberic yang ternyata masih mencintai sang almarhumah istrinya. "Sudahlah Alya, lu tidak usah kecewa dengan ucapan bos Alberic dan siapa suruh lu, diri sendiri cinta sama bos? hahaha! begini banget nasib gua!" ucapnya dengan diri sendiri.


Keadaan Pak Herman yang ingin meminta berkasnya yang sudah di tandatangani oleh Alberic, dirinya mendatangi Alya dan setelah sampai ke keberadaan Alya, ia melihat Alya yang seperti sedang kecewa. Dirinya pun langsung bertanya ke Alya.


"Alya kamu kenapa? kenapa saya lihat kamu seperti sedang kecewa akan hal sesuatu?"

__ADS_1


"Saya tidak apa-apa, Pak Herman dan juga saya sedang tidak kecewa. Bapak pasti datang ke sini apa karena ingin meminta berkas yang sudah di tandatangani oleh Pak Alberic?"


"Iya, saya datang ke sini untuk meminta berkas yang sudah di tandatangani oleh Pak Alberic dan juga dimana berkas itu, Alya?"


"Ini Pak berkasnya" ucap Alya sembari mengasih berkas itu.


"Oke, terima kasih Alya"


"Iya, sama-sama Pak"


Tiana dan Yalia yang sedang dalam perjalanan untuk pulang ke rumah. Selama di perjalanan untuk pulang ke rumah, mereka berdua pun berbincang-bincang. Setelah mereka berdua sampai ke rumah masing-masing, di keadaan Yalia yang selalu merasa kesepian setiap pulang ke rumahnya itu.


"Ahh! keadaan rumah seperti biasa yaitu sepi dan sunyi, seakan-akan rumah ini tidak berpenghuni. Kenapa setiap pulang ke rumah, gua selalu merasakan kesepian seperti ini? dan suasana ini bukan suasana yang gua inginkan, gua tidak ingin akan suasana rumah seperti ini. Coba saja, mama masih hidup. Suasana rumah tidak akan seperti yang sekarang ini, gua rindu suasana rumah yang dulu. Sial! selalu saja gua menangis, hiks! rindu mama! Yalia rindu mama" ucap Yalia yang merasakan kesepian akan suasana rumahnya dan dirinya rindu sosok ibu yang sudah lama tiada.


Tisana yang daritadi memperhatikan Dosen yang sedang mengajar dan dirinya pun merasa risih akan tingkah Tio yang terus menerus melihat dirinya. "Kenapa Tio memperhatikan diriku terus ya? sumpah, aku risih banget di perhatikan seperti ini. Apa aku laporin aja ke Dosen bahwasanya Tio daritadi tidak memperhatikan Dosen yang sedang mengajar? hmm... ide yang bagus, aku akan laporin ke Dosen supaya Tio di omelin!" ucapnya.


Setelah Tisana laporin Tio ke Dosen bahwasanya ia tidak memperhatikan yang di ajarkan oleh Dosennya itu, lagi dan lagi dirinya di hukum oleh Dosennya tersebut. Tisana yang lihat akan Tio dihukum oleh Dosennya, ia merasa senang ketika Tio dihukum.


"Pufft... Tisana kamu tidak boleh tertawa!" Tisana berusaha menahan tawanya.


Tio yang melihat Tisana yang hampir menertawakan dirinya, ia pun merencanakan sesuatu untuk membalas perbuatan Tisana yang laporin dirinya ke Dosen dan sekaligus hampir menertawakan dirinya tersebut. "Awas saja kamu, Tisana. Gua akan balas perbuatan lu itu yang laporin gua ke Dosen sekaligus hampir menertawakan diri gua ini!" batinnya.


Tisana yang melihat Tio yang sedang kesal akan dirinya yang melaporkan Tio ke Dosen, dirinya pun terus mengejek Tio.

__ADS_1


"Kasian ada yang dihukum sama Dosen" ejek Tisana ke Tio.


"Diam lu, Tisana dan kita lihat saja nanti, lu juga akan dihukum lagi oleh Dosen yang jelek ini!" ucapnya.


"Hahaha! waduh, Pak Tio bilang bapak itu jelek" sambungnya.


"Iya, bapak tahu dan kamu, Tisana jangan ejek Tio yang sedang dihukum. Apakah kamu mau dihukum juga oleh bapak? kalau mau, bapak tidak keberatan untuk mengasih kamu hukuman, Tisana" ucap Dosennya.


"Tidak pak, terima kasih atas tawaran bapak yang ingin mengasih saya hukuman" sambungnya.


"Yaudah kalau kamu tidak mau, kamu tidak usah mengejek Tio yang sedang dihukum ini hanya karena dirinya memperhatikan kamu sehingga tidak fokus akan yang saya ajarkan di papan tulis!" pungkas Dosennya.


"B-baik pak" sambungnya.


Teman-teman nya pun merasa heran akan ikatan hubungan yang Tisana dan Tio punya sehingga mereka bisa akrab seperti itu.


"Mereka ada hubungan apa sampai bisa akrab seperti itu? apa jangan-jangan mereka pacaran? makanya bisa akrab seperti itu dan lagipula kalau dilihat-lihat Tio sering memperhatikan Tisana dibandingkan Dosen yang lagi ngajar!" ucap teman-temannya.


Bersambung~


Jangan lupa untuk like, favorit, gift dan votenya karena itu semua membuat aku semakin semangat updatenya.


Terima kasih bagi yang sudah mampir dan dukung Author.

__ADS_1


Salam hangat Author.


__ADS_2