Kisah Cinta Si Gadis Dingin

Kisah Cinta Si Gadis Dingin
(35) Tisana Bertemu Dengan Fauzal


__ADS_3

(35) Tisana Bertemu Dengan Fauzal.


Setelah Tisana mendengar suara Tio yang sedang menenangkan dirinya, ia langsung menghapus tetesan air matanya yang sedang terjatuh.


"Tio, kamu kenapa kesini?." tanya Tisana.


"Aku khawatir sama kamu, Sana." jawab Tio.


"Aku tidak apa-apa, jadi kamu tidak perlu khawatir sama aku." ucap Tisana.


"Tidak kenapa-kenapa apa?, tadi aku baru melihat kamu menangis." ucap Tio.


"Aku cuma..." ucap Tisana yang terhenti.


"Cuma apa? apa kamu pikir dengan adanya kamu meninggal dengan bunuh diri itu bisa membuat kamu tenang di akhirat?, mungkin kamu akan tenang di dunia tetapi kalau di akhirat bagaimana?." tanya Tio yang marah sama Tisana yang tentang ia ingin bunuh diri.


"Aku tahu tetapi... a-aku capek sama hidup aku, Tio, kamu tidak pernah merasakan jadi aku yang selalu hidup menderita, aku sangat capek, kalau kamu ingin mengetahui aku punya penyakit mental, itu semua dari hidup aku yang sampai membuat aku depresi, yang membuat aku mempunyai penyakit mental, tidak ada yang pernah mengerti dan memahami kondisi yang aku alami sekarang." jawab Tisana yang capek sama kehidupannya.


"Walaupun begitu kamu jangan pasrah sama hidup yang sedang kamu jalani, aku pun juga begitu, Tisana, aku tidak pernah cerita sama siapapun tentang masalah hidup aku, karena aku terus berpikir jalani hidup dengan penuh keceriaan walaupun hidup yang aku jalani tidak seindah orang pikirkan, jadi aku mohon kamu jangan menyerah terhadap hidup kamu, karena hal baik menantikan kehadiran dirimu." ucap Tio.


Tisana tersenyum kecil mendengar ucapan Tio yang membuat dirinya sedikit lebih tenang.


"Terima kasih Tio, kamu udah membuat aku sedikit lebih tenang." ucap Tisana.


"Iya, sama-sama, tuan putriku." ucap Tio yang sembari mencubit pipi Tisana.


"Sakit tau, pipi aku dicubit-cubit, kamu kira pipi aku ini apa?!!!." ucap Tisana yang tidak suka dicubit.


"Pipi kamu itu seperti bakpao." gumam Tio.


"Hah? pipi aku, kamu kira seperti bakpao, sumpah, darimana nya pipi aku mirip bakpao?!." tanya Tisana.


"Pipi kamu itu tembem dan menggemaskan!." jawab Tio.


"Tidak, pipi aku tidak menggemaskan, Tio." ucap Tisana.


"Tapi menurut aku, kamu itu menggemaskan, Sana." ucap Tio.


"Hii! aku tidak menggemaskan, Tio." ucap Tisana.


"Kamu itu menggemaskan, Sana." ucap Tio.


"Terserah kamu." ucap Tisana.


"Kenapa ngambek?." tanya Tio.


"Aku tidak ngambek, Tio." ucap Tisana.


"Masa..?!!!." ucap Tio.

__ADS_1


"Iya, aku tidak ngambek." ucap Tisana.


"Iya, terserah kamu, Sana, yang terpenting kamu sudah tersenyum lagi." ucap Tio yang sembari menyentuh hidung Tisana.


"Terima kasih Tio, kamu sudah menghibur aku walaupun yang kamu hibur ke aku sama sekali tidak lucu." ucap Tisana yang sembari tersenyum.


"Hehehe! maaf kalau aku bilang kamu mirip bakpao tetapi emang benar adanya!" ucap Tio sembari tertawa kecil.


"Bodo amat! kamu tadi bukannya beli soto ayam?!! dan sekarang soto ayamnya dimana?." tanya Tisana.


"Astaghfirullah! aku lupa bawa soto ayamnya, kalau begitu aku balik ke kantin dulu, buat mengambil soto ayam yang aku beli." ucap Tio yang kelupaan membawa soto ayamnya ke kelas.


"Hahaha! kamu pakai kelupaan segala untuk membawa soto ayam!." ucap Tisana.


Tio berlari menuju ke kantin untuk mengambil soto ayam yang ia tinggal. Setelah sampai di kantin, ia langsung menanyakan ke mbok kantin.


"Mbok, soto ayam yang saya lupa bawa dimana?." tanya Tio kepada mbok kantin.


"Nak Tio, soto ayamnya ada didalam, apa kamu mau mengambil soto ayamnya?." tanya Mbok kantin kembali.


"Saya ingin mengambil soto ayam yang saya beli, mbok." jawab Tio.


"Yaudah, kamu tunggu sebentar, mbok ingin mengambil soto ayam yang kamu beli, nak Tio." pungkas mbok kantin.


Mbok kantin mengambilkan soto ayam yang Tio beli.


"Terima kasih mbok." ucap Tio.


"Sama-sama, nak Tio." ucap Mbok kantin.


Tio kembali lagi ke kelas sembari membawa soto ayamnya. Setelah sampai di kelas.


"Tisana." panggil Tio.


"Apa?." tanya Tisana.


"Ini soto ayamnya." jawab Tio.


"Yaudah, kamu makan saja dan ada yang ingin aku tanyakan sama kamu, Tio." ucap Tisana.


"Kamu ingin menanyakan aku tentang apa?." tanya Tio.


"Kamu makan terlebih dahulu, baru aku tanyakan kamu tentang sesuatu." jawab Tisana.


"Baiklah kalau begitu." gumam Tio.


Setelah Tio sudah selesai makan, Tisana langsung menanyakan sesuatu ke Tio.


"Tio, kamu pernah mengalami masalah dalam hidup kamu itu seperti apa? soalnya tadi kamu bilang kalau kamu mempunyai masalah kehidupan dalam hidup kamu." ucap Tisana.

__ADS_1


"2 tahun sebelumnya, aku pernah mempunyai sahabat dan sahabat aku amnesia karena dia mengalami kecelakaan dan sampai sekarang aku masih mencari pelaku yang menabrak sahabat aku walaupun sahabat aku tidak seperti dahulu." gumam Tio.


"Nama sahabat yang kamu maksud itu siapa? setahu aku, kamu mempunyai sahabat yang namanya Fadri dan Nico doang." pungkas Tisana.


"Nama sahabat aku yang pernah mengalami kecelakaan sampai membuat dirinya amnesia yaitu Nico." ucap Tio.


"Nico?!! berarti dia pernah mengalami kecelakaan dan apakah nama Nico itu benar-benar nama asli dia atau sudah diubah namanya sama orangtuanya?." tanya Tisana.


"Nama Nico itu bukan nama aslinya dan nama aslinya adalah Put..." ucap Tio yang terpotong sama suara bel berbunyi.


Bel masuk pelajaran kedua sudah masuk dan bel tersebut berbunyi sampai ucapan Tio terpotong.


Ding dong ding dong.


Siswa-siswi masuk ke kelas masing-masing, dan Tio mengembalikan mangkok soto ayam ke mbok kantin, setelah ia selesai mengembalikan mangkoknya, ia masuk ke kelas.


Yasmin masuk ke kelas untuk mengajar anak-anak muridnya.


Setelah bel jam pelajaran kedua berbunyi, mereka belajar kembali di kelas sampai bel pulang berbunyi.


Bel pulang berbunyi dan para siswa-siswi sangat senang karena bel pulang berbunyi lebih cepat dari biasanya.


Ding dong ding dong.


Dan Tisana menanyakan ucapan Tio yang tadi terpotong.


"Tio, tadi siapa nama asli Nico sebelum namanya diubah setelah kecelakaan?." tanya Tisana.


"Nama Nico sebelum diubah adalah Putra, itu nama asli Nico sebelum dirinya amnesia dan ibunya harus terpaksa mengganti nama Putra menjadi Nico." jawab Tio.


"Kenapa nama asli Nico seperti nama mantan aku yang selama ini aku cari?, karena aku sama sekali tidak percaya kalau Putra meninggal dan apalagi waktu kecelakaan yang Nico alami itu sama seperti waktu kecelakaan yang Putra alami, apakah Nico itu Putra, mantan aku yang selama ini aku cari? tapi itu baru persepsi aku." ucap Tisana dengan suara kecil.


"Hah? kamu ngomong apa? Sana." tanya Tio.


"Tidak, bukan apa-apa!!." gumam Tisana.


"Yaudah, aku akan mengantar kamu pulang." ucap Tio.


Setelah Tisana sampai di rumah, ia langsung bertemu dengan Fauzal dan itu yang membuat Tisana sangat ketakutan tetapi dirinya berpikir bahwasanya ia harus lewat tanpa ada ucapan apapun keluar dari mulutnya.


Dan akan tetapi Fauzal menghentikan jalan Tisana yang sedang menuju ke kamarnya.


"Halo Tisana, bagaimana kabar kamu selama bang Fauzal kuliah di luar negeri?." tanya Fauzal kepada Tisana.


Bersambung~


Terima kasih sudah mampir dan membaca novel saya yang berjudul "Kisah Cinta Si Gadis Dingin" tolong dukung Author agar Author semangat updatenya, like, favorit, dan votenya, terima kasih~


Salam hangat Author.

__ADS_1


__ADS_2