Kisah Cinta Si Gadis Dingin

Kisah Cinta Si Gadis Dingin
(94) Berkata Jujur Itu Lebih Baik [S2]


__ADS_3

(94) Berkata Jujur Itu Lebih Baik [S2]


...Welcome My Story Kisah Cinta Si Gadis Dingin S2...


...Happy Reading~...


.


.


.


Fadri pun langsung menyerang ke titik kelemahan yang biasa manusia punya. Dan ternyata artikel yang dibacanya itu benar-benar menunjukkan titik kelemahan yang khalayak umum punyai. Preman itu pun langsung melemah dengan adanya Fadri menyerang titik kelemahan mereka.


Yang pertama Fadri memukul salah satu hidung preman tersebut sampai berdarah dan preman itu langsung melemah.


Blam!


Blam!


Blam!


Salah satu preman itu teriak kesakitan karena Fadri memukul hidungnya hingga berdarah dan dirinya melanjutkan kembali untuk memukul semua preman tersebut lewat titik kelemahan yang umumnya manusia biasa punya.


Semua preman itu pun teriak kesakitan disebabkan Fadri yang menyerang mereka lewat titik kelemahan.


"Akhhh!" teriak kesakitan semua preman tersebut.


Dan setiap manusia mempunyai titik kelemahan yang masing-masing mereka punyai seperti halnya pada bagian hidung, dagu, tepi leher, dada, dan kepala bagian belakang. Itu semuanya berisiko apabila terkena serangan seseorang secara keras dan bahkan bisa menyebabkan kematian.

__ADS_1


Fadri menyerang sekelompok preman tersebut dengan menggunakan pukulan, tepi tangan dan tendangan pada semua daerah titik kelemahan itu hingga mereka mengaku menyerah dan berkata jujur bahwasanya merekalah yang mencelakakan Bundanya atas suruhan seseorang.


"Hahaha! kalian lemah sekali!" ejek Fadri kepada sekelompok preman tersebut.


"Berisik lu dan tidak usah mengejek kami!." Marah sekelompok preman itu kepada Fadri karena Fadri mengejek mereka.


"Hahaha! sekarang keadaan kita terbalik ya, yang tadinya kalian mengira gua sudah menyerah atas serangan kalian yang sampah itu dan malah sekarang kalian yang sepertinya hampir menyerah atau mungkin kalian emang sudah menyerah! hahaha!" ucap Fadri sembari tersenyum yang seperti sedang meremehkan mereka.


"Brengs*k lu dan juga jangan mentang-mentang lu bisa mengalahkan kami bukan berarti lu bisa meremehkan kami!" sambung premannya dengan emosi marah.


"Kata siapa gua meremehkan kalian? gua sama sekali tidak meremehkan kelemahan kalian tersebut dan emangnya gua keliatan seperti meremehkan kalian? hah?" ucap Fadri.


"Kata gua dan raut wajah lu itu seperti meremehkan kami" sambung salah satu sekelompok preman itu.


"Ck! gua tidak meremehkan kalian dan juga jawab pertanyaan gua dengan jujur!" ucap Fadri dengan tegas.


"Siapa yang berani menyuruh kalian untuk mencelakakan Bunda gua? jawab pertanyaan dari gua dengan jujur!" tanya Fadri dengan suara yang lantang dan tegas.


"I-itu... kita tidak tahu" jawab mereka dengan perasaan gugup.


"Apa kalian yakin tidak tahu yang menyuruh kalian untuk mencelakakan Bunda gua?" tanya Fadri kembali untuk meyakinkan.


"Kita tidak tahu!" jawab preman itu.


Dan ada salah satu dari mereka berkata jujur kepada Fadri bahwasanya wanita yang bernama Akasuki Chiye lah yang menyuruh mereka untuk mencelakakan Bundanya itu.


Fadri pun terkejut bahwasanya pelakor yang merusak hubungan kedua orangtuanya tersebutlah yang mencelakakan Bundanya.


"Apa? ternyata pelakor tersebut yang beraninya menyuruh kalian untuk mencelakakan Bunda! sangat brengs*k tuh cewek dan lihat saja nanti, gua akan membuat hidup lu menderita, dasar pelakor jal*ng!" ucapnya dengan emosi yang tidak menerima bahwasanya Bundanya itu dicelakakan oleh Akasuki.

__ADS_1


Sedangkan anggota preman yang lainnya menegur temannya itu yang memberi tahu bahwasanya Akasuki lah yang menyuruh mereka.


"Bagaimana si lu? dan emangnya lu tidak takut apa bahwasanya nyawa lu itu menjadi taruhannya kalau misalnya lu berkata jujur sama itu anak?." Tegur mereka kepada temannya.


"Gua tidak takut dan lebih mendingan gua berkata jujur kepada dia bahwasanya Akasuki yang menyuruh kita untuk mencelakakan Ibunya itu!. Dan juga gua ingatkan bahwa berkata jujur itu lebih baik dibandingkan berbohong" sambung dirinya yang tidak takut bahwasanya nyawanya akan menjadi taruhan.


"Yasudahlah yang penting lu jangan bawa-bawa kami apabila nanti ditanya oleh perempuan brengs*k itu! paham kan lu, Dio?" ucap mereka kepada Dio.


"Paham kok gua" sambungnya.


Fadri pun membiarkan mereka pergi dan untungnya dirinya mempunyai bukti pengakuan sekelompok preman tadi.


"Huh! untungnya tadi gua rekam yang mereka bicarakan supaya ini bisa menjadi bukti yang kuat dan akurat bahwasanya Akasuki lah yang menyuruh mereka untuk mencelakakan Bunda!" ucapnya.


.


.


.


Bersambung~


...


Jangan lupa untuk like, favorit, gift dan votenya karena itu semua membuat aku semakin semangat updatenya.


Terima kasih bagi yang sudah mampir dan dukung Author.


Salam hangat Author.

__ADS_1


__ADS_2