
Setelah peristiwa di warung mie sop.sikap Pak Dimas berubah kepadaku.Dia menjaga jarak dengan ku dan bicara seperlu nya saja.
Tak ada yang lebih menakutkan bagi ku dari seseorang yang sangat mengistimewakan ku hari ini,dan kemudian memutuskan tak menginginkan ku lagi di lain hari.
Manusia itu seperti musim yang selalu bisa berubah.Seperti Pak Dimas,dia berubah menjadi Dimas yang dulu.Dimas yang irit bicara,dan jarang keluar ruangan walaupun sekedar menyapa.Dia lebih sering menghabiskan waktu nya bersama Jennika diruangannya.
Bahkan kedekatan kami tadi malam anggap saja itu hanya sebuah delusi.Dan aku yakin sore ini pun dia pasti akan pulang ke kota R.
Sebuah notifikasi masuk di ponsel ku.
"Assalamu'alaikum..saya Maliq.Teman satu meja kamu saat makan mie sop tadi."
Aku tersenyum membaca pesan dilayar ponsel ku.Ternyata ini dari Maliq.Aku langsung membalas pesannya.
"Wa'alaikumsalam,Aku Shareen.Yang mie sop nya kesiram saos..."
Maliq langsung membalas pesan ku dengan emot tertawa sampai mengeluarkan air mata.
Aku sadar setelah ini ponsel ku akan penuh dengan notifikasi pesan masuk dari nya.Dan Maliq mengajak ku untuk makan malam bersama nanti.Aku menyetujuinya,apa salah nya berteman dan mengenal orang baru.
Namun aku terkejut karena Maliq sudah berdiri didepan kantor.Bahkan ini masih jam 4 sore.Aku keluar menemui nya.Dia cuma ingin memastikan kalau aku memang setuju keluar makan malam dengan nya.Benar-benar orang yang aneh.
Maliq hanya singgah sebentar,setelah dia pergi aku kembali masuk.Dan aku sudah memastikan akan diberondong pertanyaan oleh Merryana dan Kak Karina.
"Ciee....roman-romannya ada yang berlanjut ini Mer..!"Kak karin mulai bersuara.
"Nggak apa lah Kak rin,kesian dia loh sekarang tiap malam sendirian.Semenjak koko nya selalu pulang ke kota R.Itung-itung ada teman dia makan malam sekarang dengan babang Maliq."Aku tahu saat Merry mengatakan ini dia pasti tidak sadar kalau Pak Dimas berdiri dibelakang nya.
Aku hanya menanggapi mereka dengan juluran lidah ku.Lalu berlalu kemeja ku.Sempat kutangkap ekspresi Pak Dimas yang aku sendiri tidak bisa menebak nya.Cemburukah? terlalu dini dan pede nya diriku beranggapan seperti ini.Walaupun sebenarnya ini yang paling kuharapkan.
Tak seperti tebakan ku ternyata Pak Dimas malam ini tidur di mess.Kali ini aku juga tidak tahu alasannya.Kalau untuk menemaniku rasa nya tak mungkin.Karena malam ini Merry pun tidur disini.Jam tujuh malam aku sudah siap-siap mau keluar bersama Maliq.Ketika aku keluar kamar kulihat Pak Dimas sedang diruang tv.
"Jangan lewat dari jam 10 malam." Dari pada pemberitahuan ini lebih tepat ke penegasan dari Pak Dimas.
__ADS_1
"Ha!" Aku sedikit terkejut.
"Disini ada jam malam nya,kamu tinggal di mess kantor,jadi harus ikut peraturan."setelah bicara Pak Dimas langsung berlalu naik kekamar nya.Seperti nya dia tak ingin mendengar protes dari ku.
Begitu aku membuka pintu depan kulihat Maliq sudah berdiri disebelah motor matic nya.Dia tersenyum dan melambaikan tangannya.Aku membalas tersenyum.
"Hmmm...kita makannya cari yang dekat saja ya.Soal nya aku nggak bisa kalau pulang lewat jam 10 malam."
"Hmmm..oke deh,nggak masalah."
Akhir nya kami memilih makan di warung seafood tempat aku dan Pak Dimas dulu sering makan.
Sambil menunggu makanan datang,kami mengisi nya dengan obrolan ringan.Ternyata Maliq juga berasal dari luar kota.Dia berasal dari kota M.Disini dia bekerja sebagai manager di salah satu perkebunan Nusantara.Ketika aku bilang aku berasal dari kota T dia cukup terkejut.Karena kota T dan kota M itu cukup dekat.Dia juga bertanya kenapa aku jauh sekali ,mencari pekerjaan sampai kesini.Kenapa aku tidak mencari pekerjaan dikota M saja dan melanjutkan pendidikan ku.
Aku menceritakan kalau awal nya aku tinggal di kota R dengan kakak tertua ku.Kemudian aku dimutasi kesini.
Setelah selesai makan kami memutus kan untuk berkeliling dengan motor nya sebentar sambil mengobrol.Cukup menyenang kan berbincang dengannya.Usia ku dan Maliq terpaut 5 tahun.Maliq sekarang berusia 24 tahun.
Karena asyik nya berbincang tanpa kami sadari sudah jam setengah 11 malam.
"Astaghfirullah ren,abang pun lupa ren.kita balik sekarang ya!" kulihat Maliq merasa bersalah.
Sesampainya didepan kantor,aku mencoba mendial nomor Merry tapi tidak diangkat.Aku tahu pasti Merry sudah tidur jam segini.Tak ingin mengganggu,aku mencoba menghubungi Pak Dimas namun tidak diangkat.Aku mulai bingung,tidak mungkin aku tidur diteras kantor.Disini aku juga tidak punya sanak saudara.
Ada 17 kali aku mendial nomor ponsel Pak Dimas namun nihil,tetap tak ada jawaban.
"Bener-bener tega Pak Dimas,aku tahu dia jam segini pasti belum tidur."Aku bergumam dalam hati.
Kulihat Maliq merasa bersalah.Karena dia yang mengajak ku keluar malam ini.
"Ada teman nggak yang nge kost di daerah sini?biar malam ini kamu numpang tidur ditempatnya."Maliq memberikan ide.Aku langsung ingat Kak Karin.Aku mencoba mendial nomor nya,tidak berapa lama terdengar suara khas orang bangun tidur menjawab panggilan ku.
Akhirnya Maliq mengantar ku ke kost an Kak Karin yang tak begitu jauh dari kantor.Malam ini aku menumpang tidur di kost kak Karin yang cuma seluas 3x4 meter.Hanya ada 1 bed single.Aku memilih tidur dibawah beralaskan bed cover.
__ADS_1
Besok pagi nya aku kekantor menumpang motor matic nya kak karin.Asli belum mandi dan masih memakai pakaian yang ku kenakan tadi malam.Benar-benar tidak ada persiapan apa-apa,dan semua tak terencana.Sesampai nya dikantor aku langsung berlari ke atas,ritual mandi kilat dan berdandan ala kadar nya.
Aku bergegas turun karena kupikir aku sudah terlalu terlambat.Dibawah Merry langsung mencegat ku.
"Hey,tadi malam tidur dimana?koq bisa nggak pulang?liat tuh muka Pak Boss,dari pagi udah angker."
"ish...panjang cerita nya,kalau mau lebih jelas tanya sama kak karin.Lagian kakak tadi malam aku call koq nggak angkat?"
"Hehehe...aku selama hamil memang gini,kalo sudah tidur susah dibangunin.Sorry ya..!"Merry menyengir kuda.
Aku mendengus kesal berniat duduk dimeja ku.Namun tiba-tiba Merry langsung nyeletuk.kalau aku dipanggil pak boss tadi keruangannya.
"Ish..apa lagi sih ini." Aku bergumam kesal dalam hati.
Kuketuk pintu ruangan Pak Dimas.Dia menyuruh ku masuk dan tidak mempersilahkan aku duduk.Aku hanya berdiri didepannya.Dia masih sibuk dengan laptop nya tak berniat melihat ku.Setelah 15 menit berdiri kaki ku mulai pegal.Persis seperti murid sekolah yang dihukum berdiri didepan kelas karena tidak mengerjakan tugas rumah.
Aku mulai kesal dan bertanya pada nya.
"Pak,ada apa sebenarnya bapak manggil saya?kaki saya udah pegel loh pak."
"Baru berdiri gitu aja udah mengeluh.Atau kamu mau saya kasih SP(surat peringatan) saja?"
"Loh koq jadi SP?memang salah saya apa pak?"
"Masih nanya,kamu nggak sadar dengan kesalahan kamu?"
Aku langsung memukul jidat ku karena teringat kejadian tadi malam.
"Iya pak saya salah,tapi saya cuma telat setengah jam loh pak.Lagian saya udah nelpon bapak 17 kali tapi bapak nggak angkat." Aku mencoba membela diri.
"Saya nggak pernah ngelarang kamu untuk keluar dengan siapa pun.Mau itu Maliq,monik,torik,dan lainnya,saya nggak peduli.Tapi jangan sekalipun kamu melanggar aturan disini.kalau pun kamu merasa terkekang silah kan kamu angkat kaki dari mess ini.Kamu bisa menyewa kamar kost seperti karyawan yang lain.Kamu bebas mau keluar sampai jam berapa pun,kalau niat nggak pulang sekalian pun nggak apa-apa."Sungguh kata-kata terakhir Pak Dimas benar-benar menyakiti ku.
Rasanya ada belasan pisau yang ditusukkan bersamaan kedalam hati ku.Ini mungkin yang dinamakan sakit tapi tidak berdarah.
__ADS_1
Bahkan selama tinggal disini baru kali ini aku keluar dengan orang lain.Selama ini aku selalu keluar bersamanya.
Dari kata-katanya yang bisa kutangkap, seolah-olah dia menggambarkan aku sebagai perempuan yang murahan.