Kita Dan Kisah Yang Belum Usai

Kita Dan Kisah Yang Belum Usai
Kangen ngobrol dengan kamu


__ADS_3

Ketika kereta sampai di kota M,Hujan turun dengan deras nya.Di pintu keluar,David menawarkan padaku untuk satu mobil dengan mereka.Dia juga mengajakku untuk sekalian makan malam bersama.Awal nya aku ingin menolak,namun David dan Ediono terus memaksa.Akhir nya aku hanya bisa setuju.


Di dalam mobil,Ediono memilih duduk dikursi paling belakang.Aku dan David duduk ditengah.Sedangkan Dimas duduk didepan disebelah supir.David mengatakan bahwa kami akan makan di D'cafe.Mendengar nya aku sedikit terkejut.Kenapa mereka bisa tahu D'cafe,apa cafe itu begitu terkenal.


"Shareen kamu pasti belum tahu kan kalau D'Cafe itu adalah cafe miliknya Dimas mantan bos kamu?" Deg..jantung ku serasa berhenti berdetak mendengar kata-kata David.Bahkan seharusnya aku sudah menyadari dari rasa makanannya.Kopi susu yang selalu diganti dengan teh susu.Kartu pelanggan yang dicetak hanya untuk ku.Selama ini ternyata dia begitu dekat dengan ku.


Hati ku pun selalu ditarik ke cafe itu.Aku betah berjam-jam duduk disana.Bagaimana bisa aku tidak menyadari nya selama enam bulan ini.Dimas,bagaimana aku bisa melupakan mu kalau kenyataannya kamu selalu dekat dengan ku.


"Ren,jadi aku bener ya kalau kamu memang tidak tahu cafe itu milik Dimas?Astaga bro,kamu sengaja tidak memberitahu Shareen ya?" David menepuk pundak Dimas dari belakang.Namun Dimas tidak bereaksi dia masih tetap diam.


Tiba-tiba aku merasa menjadi orang bodoh.Aku tidak tahu harus berkata apa.Seolah-olah aku memang tidak penting lagi bagi Dimas.Suasana di mobil menjadi hening sesaat.Kami larut dengan pikiran masing-masing.


Di D'cafe


Aku duduk berhadapan dengan David dan Ediono.Tiba-tiba beberapa pelayan sudah datang dan meletakkan beberapa jenis makanan dimeja.Dalam sekejap meja sudah penuh dengan berbagai macam hidangan.Dimas muncul dari belakang dan langsung duduk di kursi sebelah ku.Aku merasakan jantung ku berdetak tiga kali lebih cepat dari biasa nya.


David dan Ediono mulai menikmati hidangan yang ada di hadapan kami.


"Wow Dim,bagaimana kamu bisa menyiapkan ini semua untuk kami.Kamu benar-benar menjamu kami.Ini seperti perayaan malam tiga puluh menyambut imlek."David berkata sambil menyendokkan sup kepiting jagung ke mangkuk nya.


"Kenapa tidak makan?" Dimas bertanya kepadaku.


"eh.."aku sedikit terkejut,ini adalah pertama kali nya dia berbicara kepada ku setelah setahun kami berpisah.Bahkan tadi di kereta dia seperti nya tak berniat memandangku apalagi berbicara padaku.


Dimas mengambil semangkuk sup kepiting dan menyodorkan padaku.Aku mulai memakannya dengan pelan.Ada rasa bahagia bercampur haru dihati ku.Karena begitu bahagia rasanya sampai ingin menangis.

__ADS_1


Dimas terus melayani ku.Mengambilkan semua jenis makanan untukku.Dia seperti Dimas tiga tahun yang lalu.Selesai makan David dan Ediono pamit lebih dahulu untuk kembali ke hotel.Aku yang ingin pamit ditahan oleh Dimas dan diajaknya ke ruangannya dilantai dua.


Didalam ruangannya sangat nyaman.Dia juga menyediakan kamar disini,mungkin untuk dia beristirahat.Dimas mepersilahkan ku duduk,dan menyodorkan segelas teh susu jahe.Dia memandang ku cukup lama,membuat ku sedikit risih dan salah tingkah.


"Bagaimana dengan pekerjaan dan kuliah mu?"Dimas bertanya sambil menyesap kopi nya.


"Alhamdulillah baik,dan aku menikmati semua nya."Aku menjawab tanpa ragu.


"Bagus lah,aku selalu mengkhawatirkan mu.Karena itu aku memutuskan membuka cafe ini."Dimas berbicara sambil menunduk memperhatikan gelas kopi yang masih dipegangnya.


Kami menceritakan setiap hal yang aku dan dia lalui selama setahun ini.Setelah aku resign,sebulan kemudian dia menyusul resign juga.Ketika sedang mencari tempat untuk membuka usaha,tanpa sengaja dia melihatku ketika akan berangkat kerja.Dia sempat mengikuti sampai ke kantor ku.Akhirnya dia memutuskan membuka cafe nya di daerah ini.


Dia juga tahu pertama kali aku datang ke cafe ini dengan Elissa.Tapi dia belum mau menemuiku,dan tak ingin aku tahu bahwa dia lah pemilik cafe ini.Ternyata Ibu nya menepati janji untuk membantu dia mewujudkan keinginannya jika aku meninggalkannya.Mereka orang-orang kaya sangat pintar.Menukar kebahagiaan anak nya dengan kebahagiaan juga.Ketika dia berpisah denganku dia tetap akan bahagia karena bisa membuka bisnis nya sendiri.Sepertinya mereka memang ditakdirkan untuk hidup senang didunia ini.


Kali ini dia mengantar ku dengan Mobil Mercy keluaran terbaru.Kutaksir harganya pasti hampir 1milyar.Harga memang tidak pernah berbohong.Mobil ini benar-benar terlihat mewah dan nyaman.


"Ko Dimas mobil baru ya?"Aku berbasa basi pada nya.


"Hmm...aku memutuskan meneruskan usaha papa.Jadi ini mobil inventaris." Dia menjawab sambil memasang seatbelt.


Ya dia anak semata wayang,dia yang akan mewarisi semua nya.Dan aku merasa semakin jauh dengan nya,seperti ada Gap diantara kami.


Sewaktu aku duduk disekolah dasar ketika ditanya tentang cita-cita, aku akan menjawab ingin menjadi seorang guru.Guru tugas yang mulia.Tapi ketika SMA cita-cita itu berubah,ketika melihat guru disekolah ku rata-rata kendaraannya hanya sepeda motor.Pada saat itu hanya satu dua orang yang memiliki mobil.Aku berpikir menjadi guru tidak akan menghasilkan banyak uang.Apalagi kalau cuma guru honorer.


Semua menjadi berubah haluan,aku tak ingin lagi menjadi guru.Aku ingin menghasilkan uang yang banyak agar bisa mewujudkan keinginan ku keliling indonesia dan keliling dunia.

__ADS_1


"Ren,kamu ingin sekali kan traveling keliling dunia?Nah,kamu nikah saja dengan orang kaya.Kamu punya modal loh,wajah cantik dan otak pintar."itu adalah ide terabsurd yang pernah dicetuskan oleh Uti.Tapi aku setuju dengan ide nya.


Namun setelah aku mengenal keluarga Dimas Sudjatmiko aku sadar,berhubungan dengan orang-orang besar itu cukup mengerikan.Mereka tidak mungkin menikahkan putra semata wayang mereka dengan wanita biasa.Apalagi yang berbeda agama dengan mereka.


"Besok kamu kuliah Ren?" Dimas membuyarkan lamunan ku.


"Eh,iya." Aku menjawab sedikit tergagap.


"Kamu melamunkan apa? oh iya kamu kuliah mengambil jurusan apa?"


"Aku mengambil jurusan marketing komunikasi."


"Dulu bukannya mau jurusan sastra jerman ya?"Dimas mengerutkan dahi nya.


"Iya itu dulu,setelah bekerja di perusahaan yang sekarang aku berubah pikiran." Mendengar jawabanku dia hanya menganggukkan kepalanya.


"Ko,kenapa kita lewat dari sini? kalau lewat jalan ini kan semakin jauh ke kost aku." Aku baru tersadar Dimas mengambil jalan memutar.


"Sengaja,saya kangen ngobrol dengan kamu." Aku hanya tercengang mendengar jawabannya.Tiba-tiba wajahku memanas mendengar kata kangen yang keluar dari mulut nya.


Setelah setengah jam akhir nya aku sampai di kost.Sebelum turun aku mengucapkan terimakasih atas jamuan makan malam dan tumpangannya.Dia hanya diam menatapku.Aku sedikit salah tingkah dan bergegas turun.Mobil Dimas pun berlalu ketika aku sudah masuk kedalam kamar kost.


Aku langsung menghempaskan tubuhku keranjang.Kurasakan wajahku memanas,irama detak jantungku pun tak beraturan.Bagaimana aku bisa bertemu dengan Dimas Sudjatmiko Halim.Dia terlihat begitu dewasa dan mempesona.Dia pasti melakukan perawatan di klinik kecantikan,bagaimana bisa kulitnya wajah nya begitu halus dan bersih sekarang.Walaupun sikap nya terkesan dingin namun dia masih perhatian dengan ku.Berkali-kali aku menepuk pipiku.


Setelah mandi dan membersihkan diri aku melaksanakan sholat Isya.Malam ini aku benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak.Bayangan wajah Dimas mulai mengusik ku.

__ADS_1


__ADS_2