
Aku hanya dirawat selama dua hari di rumah sakit.Ketika dalam perjalanan pulang kerumah,Dimas mengatakan kalau minggu depan kami sudah bisa pindah kerumah baru.
"Besok kita sudah bisa berbelanja perabotan untuk mengisi rumah kita.Oh iya,sertifikat rumah itu aku buat atas nama kamu."Aku terkejut mendengar nya.Kenapa dia membuat rumah itu atas namaku?harga rumah itu juga tidak murah.
"Kenapa?kamu terkejut ya?itu hadiah,hadiah karena kamu mau menikah dengan ku."Dimas memang selalu penuh dengan kejutan.Mungkin ini merupakan suatu keberuntungan bisa menikah dengannya.Tapi tiba-tiba aku merasa takut.Jika nanti ibu mertua ku tahu,dia pasti berpikir kalau aku menikah dengan Dimas karena menginginkan harta nya.
"Aku menikah dengan Ko Dimas bukan karena harta."Aku membuang pandanganku keluar jendela.
"Shareen,aku nggak pernah berpikir seperti itu.Aku memang berniat membelikan rumah itu untuk kamu.Kamu istri ku,calon ibu untuk anak-anak ku."Dimas menggenggam jemari ku.
Begitu sampai di D'Cafe,Dimas langsung membawaku ke lantai dua.Dia menyuruh ku beristirahat dikamar.Dia sendiri kembali turun kebawah.
Karena aku lebih banyak tidur ketika dirumah sakit,saat ini aku tidak merasa mengantuk.Aku berjalan keruang kerja Dimas.Selama ini aku tidak pernah duduk dimeja kerja nya.Kursi kerja Dimas begitu empuk dan nyaman.Aku duduk berputar-putar.Aku melihat barang-barang tersusun rapi diatas meja kerja nya.
Sedikit penasaran aku membuka laci nya.Aku terpaku dengan sebuah foto anak lelaki berumur sekitar tiga tahun.Aku berpikir ini pasti foto Dimas waktu kecil.Mata dan hidung nya mirip sekali dengannya.Aku tersenyum melihat nya dan meletakkan kembali ketempat nya.
Tidak berapa lama Dimas masuk membawa sebuah nampan yang penuh dengan makanan.Melihat ku duduk dimeja kerja nya dia menaikkan sedikit alis nya.
"Hey,kenapa tidak istirahat dikamar?"
"Aku sudah dua hari istirahat dirumah sakit,lagi pula penyakit ku tidak terlalu parah."Aku mengerutkan bibir ku,berjalan mendekati nya yang sedang menyusun makanan dimeja.
"Kalau begitu ayo makan dulu.Kamu harus makan yang banyak agar tubuh mu cepat pulih dan sehat.Dan kita bisa...." Dimas tak melanjutkan kata-kata nya.
"Bisa apa?" aku menyipitkan mataku.
"Dan kita bisa berbelanja perabotan nanti."Dimas mengedikkan bahu nya.Aku merasa bukan itu tadi yang ingin dikatakannya.
__ADS_1
Selesai makan siang Dimas menyuruh ku istirahat.Dia pamit mau kekantor,ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikannya.
Dikamar aku tidak bisa tidur,aku menonton drama korea dari ponsel ku.Setelah bosan menonton,aku turun kebawah.Aku berniat membeli snack dan makanan ringan di supermarket yang tak jauh dari cafe.
Karena jaraknya tidak begitu jauh aku memutuskan untuk berjalan kaki.Ketika sampai di depan supermarket aku melihat mobil Dimas ada diparkiran.Ya,jenis dan no plat nya sama.
"Tadi dia pamit mau kekantor,lalu kenapa dia sekarang ada disini?" Aku bergumam dalam hati.
Aku terus berjalan masuk,namun langkah ku terhenti ketika aku melihat Dimas sedang duduk di food court di dalam supermarket tersebut.Dia tidak sendiri ada seorang wanita dan seorang anak lelaki yang berusia sekitar tiga tahun duduk satu meja dengan nya.Aku tidak melihat dengan jelas wajah mereka.Karena wanita dan anak itu duduk membelakangi ku.
Aku ingin menghampiri mereka namun segera ku urungkan.Aku memilih masuk dan membeli beberapa snack dan buah.Ketika aku mengantri di kasir,tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang.Ketika aku menoleh ternyata Maliq yang berdiri dibelakang ku.
"Melamun aja neng,belanja apa?"
Aku terkejut melihat nya ada disini.
"Bang Maliq kapan pulang?kok nggak bilang-bilang?"
"Baru kemarin,tapi kamu kok kelihatan agak kurusan?Kamu sakit ya Ren?"Maliq melihat ku dari atas kebawah.
Aku hanya menggelengkan kepala,dan mengatakan kalau aku baik-baik saja.
Akhir nya semua belanjaan ku Maliq yang membayar nya.Selesai belanja Maliq mengajak ku ngobrol di food court.Tapi aku menolak nya dan mengatakan kalau aku sudah makan.Akhirnya dia menawarkan untuk mengantar kan ku pulang.Namun lagi-lagi aku menolak nya dan mengatakan kalau aku sudah ada janji dengan teman ku.
Aku berjanji akan keluar makan dengannya lain kali.Aku juga berencana memberitahukan padanya kalau aku sudah menikah dengan Dimas.Maliq hanya mengangguk dan pergi lebih dulu,karena aku beralasan mau ke toilet.Di dalam toilet aku tidak melakukan apa-apa.Ini hanya alasan ku agar Maliq tidak melihat ku pergi ke D'Cafe.
Setelah sepuluh menit dan kurasa aman.Aku keluar dari toilet dengan mengendap-endap mengintai sambil sedikit membungkuk,memastikan kalau Maliq sudah pergi.Pada saat aku ingin berdiri aku menabrak seseorng dibelakang ku.Aku hanya bisa terdiam melihat Dimas sudah berdiri dihadapanku.
__ADS_1
"Kamu ngapain disini?bukannya tadi lagi istirahat dikamar?Ini kamu lagi sembunyi dari siapa sih?" Aku mendadak bingung mau menjawab nya.
"Hmm...bukan siapa-siapa,tadi ada teman satu divisi aku.Nggak enak aja kalau mereka lihat aku keliaran disini.Padahal kan aku ijin nggak masuk karena sakit."Alasan ku sungguh masuk akal.Dimas langsung percaya dan mengangguk.
"Ko Dimas sendiri ngapain disini?Tadi katanya mau kekantor?" Aku bertanya balik pada nya.
"Ooh tadi aku ada ketemu klien."Dimas menjawab santai.Seolah-olah dia tidak sedang berbohong.Apa mungkin perempuan tadi adalah klien nya?Aku sedikit kecewa,namun aku berusaha bersikap biasa.
Dimas mengajak ku pulang.Aku hanya patuh pada nya.Karena jarak dari supermarket dan D'Cafe tidak terlalu jauh,aku tidak banyak berbincang di mobil.
Malam hari nya Dimas mengajak ku menjenguk Mama Ana.Namun karena suasana hatiku kurang baik,aku menolak nya dengan alasan tubuhku tiba-tiba lemas.Dimas terlihat khawatir dan ingin mengurungkan niat nya kerumah orang tua nya.Namun aku memaksa nya untuk pergi.Karena selama dia menjaga ku dirumah sakit dia tidak pernah datang menjenguk ibu nya.
Setelah kami makan malam,Dimas pamit kerumah orang tuanya.Sebelum pergi dia tidak lupa mencium keningku,dan berjanji tidak akan pulang terlalu larut.
Setelah sholat Isya,aku memilih berbaring di ranjang.Pikiran ku masih dipenuhi oleh pertemuan Dimas dengan perempuan di foodcourt tadi siang.Aku merasa kalau perempuan itu bukan lah klien nya.Tiba-tiba aku menjadi takut.Apa Dimas punya hubungan spesial dengan perempuan itu?Dan anak kecil itu,jangan-jangan anak itu adalah anak Dimas bersama wanita itu.
Aku hampir gila memikirkannya.Aku mulai berspekulasi yang tidak-tidak.Pikiran ku menjadi kacau.Padahal kemarin dokter menyarankan ku untuk jangan terlalu stress.
Suara dering dari ponsel membuyarkan lamunan ku.Ternyata Maliq yang menelpon.Aku tak berniat menjawab nya.Namun ponsel ku tak berhenti berdering.Karena tidak tahan,akhirnya aku menjawab nya.
"Halo,Shareena Hashi..kenapa lama sekali menjawab telpon dari ku?"
"Hmmm...sorry bang Maliq, tadi aku ketiduran."Aku pura-pura menguap.
"Hei,tumben banget kamu,ini masih jam sembilan loh Ren." Maliq terdengar tak percaya.
"Iya,aku memang ngantuk banget bang,mata aku berat banget nih."
__ADS_1
"Ya sudah deh,padahal aku pengen ngajak kamu nonton.Hmm...Besok saja kamu aku jemput sepulang kerja."Maliq langsung mengakhiri panggilan sebelum aku menolak nya.