
Bahkan ketika kau sangat menginginkan sesuatu, kau tetap harus menggunakan logika mu.Dari dulu ini adalah salah satu hal yang paling aku inginkan.Ketika Dimas dengan tulusnya meminta ku untuk menikah dengan nya.Tapi sekarang aku merasa itu terlalu konyol.Ketika aku memutuskan untuk tidak berhubungan dengan keluarga nya lagi,dia sendiri yang menginginkan ku menjadi pasangan hidup nya.Terkadang semesta memang sebercanda ini.
"Aku sudah pernah bilang,jika kita bertemu lagi dimasa depan,aku akan menikahi mu.Dan aku tidak bercanda dengan ini Ren."Yah dia tidak sedang bercanda.Aku bisa merasakan keseriusan nya dalam mengatakan ini.
"Kenapa kita harus membahas tentang pernikahan?Bukankah kita harus nya membahas obat yang aku temukan tadi?"Aku mencoba mengalihkan pembicaraanya.
"Aku sakit dan hampir gila setelah sebulan kepergianmu.Aku pikir aku bisa melupakanmu begitu saja.Aku merasa telah mengambil keputusan yang salah.Kamu tahu kenapa aku memutuskan untuk resign?karena aku selalu dibayang-bayangi oleh dirimu.Aku mulai berhalusinasi kalau kamu masih ada.Setiap malam aku harus tidur dengan bantuan obat tidur.Aku juga menyalahkan mama.Hubungan ku dengan nya memburuk.Aku tak ingin berkomunikasi dengannya.Dan sering tidak bisa mengontrol emosi ku.Sampai akhirnya mama jatuh sakit,dan aku pun menyesal dan semakin merasa bersalah."Aku hanya termangu mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut nya.
Bagaimana mungkin dia bisa depresi hanya karena aku.Karena ketika kami bertemu dia terlihat baik-baik saja.Bahkan dia semakin tampan dan berwibawa.
"Ko Dimas terlihat baik-baik saja ketika kita bertemu?"
"Iya,karena kemudian aku memutuskan untuk berkonsultasi dengan seorang psikiater.Dan ya..perlahan hubungan ku dengan mama membaik." Ya hubungan yang paling dekat seharusnya adalah hubungan antara ibu dan anaknya.
"Tapi,kenapa Ko Dimas masih menyimpan obat ini?Apa koko masih mengkonsumsi nya?"
"Sebenar nya aku sudah berhenti mengkonsumsi nya,karena dokter menyatakan kalau aku sudah sembuh.Namun ketika aku melihat kamu begitu dekat dengan Maliq,entah kenapa aku tidak bisa mengontrol emosi ku.Makanya kemarin tanpa sengaja aku bicara kasar padamu."
"Shareen,aku mencari mu.Aku juga menghubungi Maliq,menanyakan keberadaanmu.Tapi dia tidak mau memberitahu ku." Aku memang tak pernah meminta Maliq untuk merahasiakan keberadaan ku dari Dimas.Mungkin dia mengambil inisiatif sendiri karena mendengar semua ceritaku.
__ADS_1
Pikiran manusia itu begitu kompleks.Di satu sisi aku ingin menerima lamaran Dimas.Namun disisi lain aku memikirkan perasaan Maliq.Tiba-tiba aku merasa seperti kacang yang lupa akan kulit nya.Bagaimanapun juga Maliq telah banyak membantu ku.Kalaupun aku tidak menerima cinta nya,setidak nya aku menghargai setiap kebaikannya dengan tidak menerima lamaran dari Dimas.
"Ko,menikah bukan hanya menyatukan dua orang manusia yang saling mencintai.Tapi juga menyatukan dua keluarga.Apa lagi keluarga kita memiliki banyak perbedaan.Yang paling utama adalah soal kepercayaan.Kepercayaan kita sudah berbeda ko."Tiba-tiba saja aku menjadi sok bijaksana.
"Ajari aku,ajari aku tentang agama mu.Bukankah memilih kepercayaan adalah hak asasi setiap manusia?Lagi pula aku sudah dewasa tak ada salah nya aku menentukan pilihan ku sendiri." Aku tercenung mendengar penuturannya.
"Jangan sekali-kali menjadikan aku sebagai alasan kamu memilih Islam.Karena aku tidak pernah memaksa mu." Menurut ku semua agama itu akan mengajarkan kebaikan.Hanya saja setiap agama mempunyai aturan masing-masing.Menurut apa yang selama ini aku pelajari dari guru dan orang tua ku,tidak diperbolehkan wanita muslim menikah dengan lelaki non muslim.Namun bila ada yang berpandangan lain,itu pun hak mereka.Karena aku pun masih belum terlalu mendalami dan masih terus belajar.
"Aku serius ingin mendalaminya Ren." Ya dia benar,belajar apapun itu tak ada salahnya.Almarhum papa ku juga ketika hidup banyak mengoleksi dan mempelajari kitab suci agama lain.Dia benar-benar orang yang berpikiran terbuka.
Tak ada jawaban ya atau tidak dari mulut ku.Aku membiarkan dia menjalani proses nya terlebih dahulu.Aku ingin tahu sampai dimana keyakinannya akan bertahan.Setelah ini dia juga harus menghadapi cobaan yang lebih besar lagi,yaitu meyakinkan keluarga nya.Aku mungkin akan menemani nya untuk melalui semua nya.Namun aku tidak pernah berniat untuk memaksanya.
Hari demi hari penuh dengan kesibukan.Pulang kerja aku langsung kuliah.Selesai kuliah Dimas akan menjemput ku dan membawa ku ke cafe nya.Aku akan menonaktifkan ponsel ku ketika berada di cafe nya Dimas.Aku hanya tidak ingin Maliq tahu kalau aku sering bertemu dengan Dimas.Aku akan beralasan kalau ponsel ku kehabisan daya.Ini bahkan sudah mirip seperti perselingkuhan seorang istri.
Dimas akhirnya menyetujui proyek kerjasama antara perusahaan ku dan Rumah Sakit milik keluarganya.Semua nya berjalan sesuai harapan.Jangan ditanya bagaimana sumringah nya wajah ku dan Pak Leo,ketika Hayadi memberitahukan bahwa kami akan mendapatkan reward tour ke Beijing.Bahkan Elissa sudah membuat daftar oleh-oleh yang akan dipesannya.Aku hanya bisa menghela nafas melihat catatan panjang dari nya.
"Bulan depan aku akan jalan-jalan ke Beijing."Ini adalah perjalanan pertama ku ke luar negeri.Dimas tersenyum menatap ku yang begitu antusias.
"Seperti nya kamu tidak perlu menikah dengan orang kaya untuk mewujudkan keinginanmu.Kamu bisa mewujudkannya dari hasil jerih payah mu sendiri.Hebat bukan?" Aku mengerucutkan mulutku mendengar pujiannya.
__ADS_1
"Ko Dimas,menyindirku ya!Ini kan karena andil Ko Dimas juga,yang meloloskan kerja sama perusahaanku."
Dia hanya tertawa dan menggelengkan kepala nya.
"Kenapa kamu jadi tidak percaya diri begini Ren? Biasa nya kamu orang yang selalu optimis."
Aku hanya mengedikkan bahu ku.
"Entah lah,sekarang aku merasa hidup tak perlu terlalu optimis atau pun terlalu pesimis.Aku juga tak perlu terlalu berambisi dalam hidup ini.Karena jika terlalu berambisi,bisa saja kita menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginan kita."
"Wow,Shareena Hashi ku sudah begitu dewasa sekarang.Baru setahun lebih berpisah kamu sudah membuat ku kagum." Dimas menatapku dengan begitu takjub.Aku hanya bisa memutar bola mataku jengah.
"Lalu kalau kamu pergi,siapa yang akan menjadi guru ku?" Dimas menyilangkan kedua tangannya didada.
"Oh ayo lah ko,aku cuma pergi seminggu.Lagipula koko sudah hafalkan surah al fatihah.Nah koko tinggal belajar gerakan sholat.Pelan-pelan saja belajarnya,tidak usah terlalu terburu-buru.Nikmati saja proses nya.Karena proses itu lebih penting loh daripada hasil nya."
"Baik cikgu!" Ya..dia sering memanggil ku dengan sebutan ini sekarang.
Aku sengaja mengajari semuanya dengan perlahan.Aku membelikannya buku-buku tentang Islam.Dan aku pun ikut belajar juga bersama nya.Kami mendengarkan ceramah bersama.Kami saling bertukar pikiran.Kami benar-benar membuat ini begitu menyenangkan.
__ADS_1