Kita Dan Kisah Yang Belum Usai

Kita Dan Kisah Yang Belum Usai
Aku masih merindukannya


__ADS_3

Perusahaan ini cukup besar,sebelum nya Maliq menelepon temannya yang posisinya sebagai area branch manager di perusahaan ini.Ketika kami menunggu di loby dia langsung datang menemui kami.


"Hai bro,apa kabar?" Lelaki jangkung yang berpakaian rapi menepuk pundak Maliq.


"Alhamdulillah sehat bro."Maliq dan lelaki itu langsung melakukan salam ala lelaki dengan cara adu kepal tangan.


"Keasyikan di hutan kamu,jadi sombong sekarang."


"Hahaha..bisa saja kamu Di,eh ini Shareen yang kemarin aku rekomendasiin ke kamu." Maliq langsung memperkenalkan ku.


"Oo..iya ya,sudah di terima kan sama bagian HRD?" Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.


"Eh kenalkan saya Hayadi."Lelaki yang sekarang manager ku mengulurkan tangannya.Aku menyambutnya dan memperkenalkan nama ku Shareena.


Aku langsung di arahkannya ke bagian HRD.Sebelum berlalu masih ku dengar Maliq mengatakan kepada Hayadi untuk menitipkan aku sebagai adik nya.Aku meninggalkan mereka yang masih asik bercengkrama.


Setelah mengisi data karyawan aku diarahkan oleh bagian HRD ke sebuah ruangan.Didalam ruangan terdapat beberapa meja yang dibatasi oleh kubikel.Aku juga diperkenalkan dengan beberapa karyawan wanita dan pria diruangan ini.Mereka cukup ramah walaupun ada beberapa karyawan wanita yang menatap sinis pada ku.Aku pun berpikir mereka seperti itu mungkin karena kami belum saling mengenal.


Ketika aku baru duduk dikursi dan menyalakan komputer,sesosok kepala muncul dari kubikel sebelah.


"Shareen kenalin aku Elisa."Seorang perempuan menjulurkan tangannya padaku.Aku menyambut nya dan menyebutkan namaku.


"Kamu masih muda banget Ren,berapa usia kamu?"


"Aku 20 tahun."Aku menjawab sambil tersenyum.


"Pantesan,eh kalau ada yang kurang mengerti soal pekerjaan kamu tanya saja sama aku ya."Aku pun mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Aku langsung akrab dengan Elisa.Dia ramah dan cantik,kulit nya putih,badannya sedikit berisi,rambut nya sebahu dan berombak.Kami langsung akrab walaupun baru bertemu.Dia sendiri sudah bekerja disini selama dua tahun.


Ketika aku masih sibuk menginput pekerjaan ke komputer,tiba-tiba diletakkan setumpuk map dimeja ku.Aku sedikit terkejut.Namun ku lihat bu Dewi kepala divisi ku yang meletakkannya.


"Kamu kerjakan ini,ini laporan bulan lalu yang belum diinput.Jangan mentang-mentang kamu titipan lalu bisa enak-enak kerja disini."Aku sedikit terkejut mendengar kata-katanya.


"Kenapa?kamu terkejut karena saya tahu kalau kamu itu titipan.Ya jelas saya tahu lah,kami yang bekerja disini semua tamatan sarjana.Nah, kamu cuma tamatan SMA bisa masuk kesini kalau bukan karena titipan ya nggak mungkin lah." Aku hanya terdiam dan menunduk mendengarkan kata-katanya.Kubiarkan semua itu berlalu tanpa harus kumasukkan dalam hatiku.


Setelah Bu Dewi berlalu keruangannya,Elisa langsung muncul dari kubikel nya.


"Udah Ren,kamu cuekin saja.Dia memang seperti itu bawaan usia yang sudah tua tapi belum nikah juga.hahahah!"Elisa tertawa mencoba menghibur ku.


"Hush,nanti kalau dia dengar bisa gawat kita."Aku langsung memperingati Elisa.


"Ya sudah nanti kalau kerjaan aku sudah siap aku bantuin kamu ya!"


Tidak terasa sudah masuk jam pulang kantor.Aku pun bersiap-siap membereskan pekerjaan ku.Elisa sempat bertanya aku pulang dengan siapa,dan aku tinggal dimana.Aku memberitahukan alamat kost ku.Dia cukup terkejut dan mengatakan kalau komplek kost disitu cukup mahal.Dia pun bertanya apa boleh datang dan main ke kost ku.Aku mengangguk dan berkata dengan senang hati kalau dia bersedia datang.


Ketika aku keluar dari pintu kantor,kulihat mobil Odyssey Hitam milik Maliq sudah terparkir.Melihat ku keluar kantor dia menurunkan kaca mobil nya dan membunyikan klakson nya dua kali.Aku langsung berjalan kearahnya dan masuk ke mobil nya.


"Gimana kerjaan kamu tadi?teman-temannya gimana?kalau ada yang ganggu kamu bilang saja,nanti aku akan bilang ke hayadi."


"Ih apaan sih Bang Maliq,aku kan bukan anak kecil lagi.Pakai acara ngadu-ngadu segala." Aku mengerucutkan bibir ku.


Maliq mengajakku ke swalayan untuk membeli beberapa perlengkapan dan stock makanan ku untuk di kost.Aku setuju,karena Maliq tidak mungkin setiap hari bisa menemani makan diluar.


"Kamu beli saja stock untuk sarapn Ren,makan siang kamu kan dikantor,makan malam kamu bisa beli pulang kerja,atau kamu kerumah oma saja.Dia rajin masak kok."Maliq terus berbicara sambil mengemudi.

__ADS_1


"Kalau pagi aku biasa sarapan oat,kalau makan malam aku nggak mungkin minta makan sama oma.Aneh ih bang Maliq."


Kami sampai di swalayan yang cukup besar dan ramai.Swalayan ini termasuk lengkap dalam menyediakan bahan makanan dan perlengkapan kebutuhan sehari-hari.Maliq membawaku ke bagian rak buah-buahan.Dia memilih beberapa buah,dia juga menyuruh ku membeli untukku.Dia bilang aku harus sering makan buah daripada makan snack.Aku mulai merasa Maliq sekarang sudah seperti Dimas.Yang mulai suka mengatur ini dan itu.Aku jadi teringat kembali dengannya.Dimas,bahkan aku masih merindukannya.


Selesai berbelanja kami memutuskan untuk makan di area food court yang ada di swalayan ini.Beberapa gadis muda melirik kearah kami.Maliq memiliki wajah yang cukup menarik.Bentuk badannya pun sangat proposional untuk ukuran lelaki.Ketika aku berjalan dengan nya sama seperti aku berjalan dengan Rendy.Mereka akan selalu jadi pusat perhatian gadis-gadis.


Kulihat seorang wanita mendekati meja kami.


"Kamu maliq kan?"Dia menyapa Maliq seolah-olah baru bertemu teman lama.Maliq sendiri memandang sedikit bingung padanya.


"Ya ampun Maliq,aku sarah..masak kamu lupa sih!" Wanita itu menyebutkan namanya sambil memukul pelan pundak Maliq.Dia pun langsung berinisiatif untuk duduk disebelah Maliq.


Badannya tinggi semampai bak seorang model.Kulit nya putih mulus terlihat sekali sering perawatan.Rambut nya sebahu dan sedikit berombak.Menurut ku dikota ini sangat gampang menemukan wanita cantik.Hampir semua wanita-wanita yang kutemui berparas cantik dan berpakaian modis.


Setelah berpikir beberapa saat akhir nya Maliq mengingat nya.


"Oh iya,ya Sarah..kita dulu satu SMA kan?" Maliq tersenyum kemudian menjulurkan tangannya bersalaman dengan Sarah.


"Ini siapa?adik kamu ya?" Sarah tersenyum kepadaku.Aku sendiri langsung spontan menjawab iya.Dan langung mengenalkan namaku.Kulihat ekspresi Maliq berubah.Dia seperti tidak suka dengan jawaban ku.Namun aku tidak begitu peduli dan mengabaikannya.


Setelah bertukar nomor telepon dengan Maliq,Sarah kembali ke meja nya kembali bergabung dengan teman-temannya.


"Cantik banget."Tanpa sadar aku berbicara sambil terus melihat sarah berlalu dari meja kami.


"Biasa saja,cewek seperti dia banyak tuh bertebaran dikota ini.Nggak ada istimewa nya.Yang paling penting itu inner beauty,kecantikan dari dalam."Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Maliq aku hanya memutar bola mataku jengah.


Terlalu munafik jika orang pertama kali bertemu tidak memandang kecantikan fisik.Karena itu yang terlihat di permukaan.Kalau masalah kecantikan dari dalam,seseorang harus mengenal lebih dekat lagi.Lalu jika dihadapkan antara perempuan cantik,langsing dengan perempuan pendek,gendut,dekil siapa yang akan dilihat atau dipilih lebih dulu untuk berkenalan lebih dekat.

__ADS_1


Aku tak melanjutkan perdebatan ku dengan Maliq.Selesai makan,Maliq mengantar ku pulang.Dia pun mengingatkan ku untuk mendownload apliksi ojek online di ponselku,agar besok pagi aku bisa langsung memesannya.Dia begitu perhatian padaku,bahkan sampai hal-hal yang terkecil sekalipun.


__ADS_2