Kita Dan Kisah Yang Belum Usai

Kita Dan Kisah Yang Belum Usai
Tak Seperti Romeo dan Juliette


__ADS_3

Seperti api yang membakar jerami,berita kedekatan ku dengan Pak Dimas cepat menyebar di kantor pusat di kota R.Tak ada satu pun dari kami yang berniat mengklarifikasi.Karena aku merasa tak perlu,dan kupikir Pak Dimas pun berpikiran yang sama.Karena memang kenyataannya tak ada hubungan yang spesial diantara kami.Kami hanya teman.Yaa...teman kerja,teman makan,teman nonton TV,teman curhat,ya intinya hubungan kami hanya dilabelin dengan hubungan pertemanan.


Namun tak seperti yang kubayangkan, ternyata cerita nya menjadi lebih rumit.Karena Pak Irsan hari ini datang dari kantor pusat hanya untuk memastikan gosip yang sedang beredar.


"Benar kalian memang tidak ada hubungan apa-apa?"Pak Irsan mulai menginterogasi ku dan Pak Dimas.Aku mulai merasakan aura dingin diruangan Pak Dimas yang tidak begitu luas ini.


"Hanya hubungan kerja ko,diluar jam kerja kami hanya berteman kok ko."Pak Dimas yang berinisiatif menjawab.


Ada sebersit rasa kecewa dihatiku ketika mendengar penjelasan dari nya.Entah mengapa aku menginginkan hubungan yang lebih dari sekedar teman.Terkadang perempuan lebih condong bermain dengan perasaan daripada logika.Tapi bukankah cinta itu sendiri tak mengenal logika.Kalau memang cinta memiliki logika bagaimana dengan kisah percintaan Romeo dan Juliette.Atau pun tragedi percintaan Cleopatra dan Mark Antony yang kesemua nya berakhir dengan begitu tragis.


"Sebenarnya itu hak kalian kalau kalian ingin punya hubungan yang lebih.Cuma saya tidak mau ini mengganggu kinerja kalian.Apalagi posisi kalian disini adalah sebagai atasan dan bawahan."Pak Irsan kembali menjelaskan.


Aku hanya diam mendengarkan tak berniat menjawab atau pun menyela.


Seperti seorang terdakwa yang seharus nya aku masih lebih cocok dijadikan sebagai tersangka.Terkadang perasaan memang harus serumit ini.Sesaat aku lebih senang kalau Pak Dimas mengaku kalau dia memiliki perasaan lebih terhadap ku.Tapi bukankah itu terlalu impossible,karena selama ini dia sendiri tak pernah berniat membahas tentang perasaannya pun tak pernah bertanya bagaimana perasaanku.


Atau mungkin dia sendiri memang menyukai hubungan yang mengambang seperti ini.Tanpa ada keterikatan atau pun pengakuan,toh kami masih bisa saling memperhatikan,menyayangi,ataupun bermesraan dalam tanda kutip tak ada sentuhan yang lebih.

__ADS_1


Jika kisah percintaan Romeo dan Juliette berakhir tragis,bagaimana jika aku nekat menjalin cinta dengan Pak Dimas akan kah berakhir setragis mereka.Aku menggelengkan kepala berkali-kali mencoba menyingkiran pikiran-pikiran absurd dikepala ku.


Biarkan seperti ini saja,mengagumi dan mencintai seseorang dalam diam kadang lebih menarik.Daripada harus mengungkapkannya jika aku sendiri yakin akan kecewa.


Sikap Pak Dimas tak berubah sama sekali.Ketika masuk jam makan siang dia akan mengajakku makan bersama.Sore hari saat jam kantor selesai kami akan berkeliling di kota kecil ini dengan motor inventaris kantor.Malam hari kami habis kan dengan menonton acara TV berdua.Tak jarang kami bertengkar hanya karena berebut channel TV.


Aku benar-benar menikmati kebersamaan kami.Dan ku pikir begitu juga dengan Pak Dimas.Dia tak sekaku dulu,dia sekarang lebih sering tertawa.Walau pun masih irit bicara,tapi dia sudah mau bercanda.Bahkan dia lebih sering berada diluar ruangannya.Terkadang dia duduk dimeja Merryana,terkadang dia datang kemeja ku hanya sekedar melihat-lihat.


"Nanti malam mau makan apa?"kubaca pesan dari Pak Dimas.Kami memang lebih sering berkomunikasi lewat pesan ketika jam kerja.


"Kemarin aku lihat ada baru buka warung seafood dan ikan bakar didekat klinik Dr.Hendry.Mau coba nggak?"Bahkan seolah-olah dia selalu ingin berbagi dengan ku setiap hal-hal baru yang dia temui.


Dia juga sekarang sudah mengganti kosa kata saya menjadi aku.Dia benar-benar sudah berubah,tak seperti Dimas Sudjatmiko yang pertama kukenal.Haruskah aku berbangga karena merasa memiliki andil dalam merubah nya?


Bahkan salah satu hal yang paling menakutkan buat ku adalah merubah kepribadian seseorang.Dan aku tak pernah berniat merubah sifat atau pun kebiasaan orang yang dekat denganku.Biasa nya aku adalah tipe manusia yang cenderung mengikuti arus.


Selesai pekerjaan kantor, jam tujuh malam kami memutuskan untuk makan malam.Akhir-akhir ini Pak Dimas memang lebih sering keluar makan denganku.Karena Merryana lagi melalui proses ngidam dikehamilannya yang memasuki usia 3 bulan.Biasanya jam 8 malam dia sudah istirahat dan tidur.Paling dia akan bangun untuk sekedar buang air kecil.

__ADS_1


Warung ikan bakar ini tidak terlalu besar.Dinding nya yang tinggi nya hanya setengah dari tubuh orang dewasa terbuat dari anyaman bambu.Ada beberapa meja panjang dan kursi plastik yang tak memiliki sandaran.Benar-benar tempat makan yang sederhana namun cukup nyaman.


Begitu masuk aku langsung mengambil tempat duduk dipaling sudut.Entah kenapa aku selalu suka dengan posisi ini,setiap makan diwarung makan umum begini.Lebih nyaman saja menurutku.


Pak Dimas tak langsung duduk,kulihat dia memilih ikan yang mau dipesan nya.Kudengar dia juga berbicara bahasa Hokkien dengan abang yang sedang memanggang ikan.Kalau diliat dari forum wajah dan bentuk mata nya seperti nya mereka berasal dari ras yang sama.Hanya saja warna kulit abang itu tak seputih Pak Dimas.


Tiba-tiba aku baru tersadar warung makan ini halal atau tidak ya.Karena pelayan nya pun tak menggunakan hijab.Walaupun aku sendiri sebagai muslim juga tidak menggunakan hijab sih.


Ketika Pak Dimas sudah duduk dihadapanku aku langsung memberondong nya dengan pertanyaan.


"Pak Dim,ini yang jualan orang apa?"Aku bertanya sedikit berbisik.


"Kenapa?takut?tenang aja koko itu udah Muallaf kok.lagian kan nggak mungkin aku bawa kamu makan ditempat yang non halal.Aku juga nggak segila itu."Pak Dimas menjawab sambil mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap meja dihadapnnya.Ya dia memang orang yang sebersih itu,Namun dia juga bukan orang yang anti untuk makan diwarung pinggir jalan.


Tak berapa lama pesanan kami datang,Ikan mujair bakar,cah kangkung,dan cumi asam manis.Kesemua menu ini Pak Dimas yang memilih nya.Dan seperti biasa untuk minuman Pak Dimas selalu pesan Teh pahit panas.Kalau aku sih lebih memilih es teh manis.Kemarin dia pernah mengingatkan ku agar tak terlalu banyak mengonsumsi gula.Katanya gula itu jahat.Aku malah menjawab,"Kira-kira mana lebih jahat dengan lelaki yang suka memberi harapan palsu?lagian pak, hidup ini tuh udah pahit jadi kita nggak usah nambahin pahit lagi dengan mengonsumsi yang pahit-pahit.Cukup obat saja yang pahit pak."


Dan bisa ketebak dong reaksi dia hanya geleng-geleng kepala saja,tanpa mau melanjutkan perdebatan.Mungkin dia tau bakalan sia-sia bicara dengan ku yang keras kepala ini..

__ADS_1


__ADS_2