Kita Dan Kisah Yang Belum Usai

Kita Dan Kisah Yang Belum Usai
Melepas Rindu..


__ADS_3

Setidak nya aku tahu Dimas masih hidup dan sehat-sehat saja.Hanya satu yang aku sesalkan, kenapa Dimas tidak ingin menemuiku.Aku masih ingat terakhir kali dia masih begitu menyayangi ku.


Selesai makan malam aku dan Maliq langsung pulang.Maliq kembali kerumah nya setelah mengantarkan aku masuk kerumah ku.Ku lihat Elissa belum pulang kerja.Biasa nya kalau lembur dia bisa pulang sampai jam sebelas malam.Aku memutuskan memesan taxi online.


Aku mengganti pakaian ku dengan pakaian yang lebih santai.Gamis terusan berbahan jersey.Kehamilan yang memasuki usia lima bulan membuat perut ku sedikit menonjol.Tidak berapa lama taxi pesanan ku datang.Aku bergegas naik,dan menyuruh supir taxi menuju kediaman mertuaku.


Sepanjang perjalanan jantung ku berdebar lebih cepat dari biasa nya.Akhir-akhir ini aku memang sedikit gelisah.Kemungkinan yang terburuk yang ada dibenakku adalah Dimas amnesia dan tidak mengenali ku.Namun aku tidak terlalu yakin,karena cerita itu hanya ada dalam drama.


"Mbak,rumah nya yang mana ya?" ketika kami memasuki area perumahan supir taxi membuyarkan lamunan ku.


"'Hmm...yang diujung pak.Rumah bercat putih gading dengan pagar hitam pak."supir taxi hanya mengangguk mendengar instruksi dari ku.


Sampai didepan pagar aku turun,dan memanggil satpam yang berjaga.Beruntung nya dia masih mengingat ku.


"Mbak Shareen ya?" Dengan cepat dia membuka kan pagar untuk ku.


Aku tersenyum dan mengucapkan terimaksih pada nya.


Kulihat mobil maserati terparkir dihalaman rumah.Aku semakin yakin kalau lelaki yang kulihat kemarin memang benar Dimas.


Aku menekan bel dua kali,tidak berapa lama pintu dibuka oleh bi Ani pembantu dirumah ini.


Dia terlihat terkejut menatap ku.Dengan sedikit tergagap dia menyapaku,"Eh..mbak Shareen.Kok malam-malam begini datang kesini?"


"Saya nggak boleh ya berkunjung kerumah mertua saya?" Aku berbicara lembut pada nya.


"Ya boleh dong mbak,masuk mbak!" Bi Ani mempersilahkan ku masuk.Baru saja aku melangkah masuk kulihat ibu mertua ku berjalan dari ruang keluarga.


"Siapa bi yang datang?"Dia belum menyadari kedatanganku.


"Mama,kapan pulang dari Singapore?Bareng dengan Ko Dimas kan?" Wajah ibu mertua ku langsung menegang ketika melihat ku.

__ADS_1


Dia terlihat canggung dan sedikit bingung.Semua dapat kulihat dengan jelas.


"Kamu kenapa lagi hamil begini keluar malam sendirian?"Dia menarik tangan ku untuk duduk di sofa ruang tamu.Belum pernah dia seakrab ini dengan ku.


"Aku ngidam ingin makan sup ikan buatan Bi Ani."Aku mencari alasan yang klise.


"Kalau hanya ingin makan sup ikan,kamu tinggal telepon saja.Biar dimasakkan oleh Bi Ani,nanti supir yang antar kerumah kamu."Ibu mertua ku masih terlihat sedikit gelisah.


"Ma,dimana Ko Dimas?Dia ada disini kan ma?aku ingin sekali menemui nya ma.Sudah empat bulan lebih aku nggak bertemu dan mendengar suara nya ma.Ma,sekali saja ma."Aku terus mengiba,air mataku kubiarkan mengalir begitu saja.


Ibu mertua ku terdiam sesaat.


"Ma,biarkan dia bertemu dengan Dimas.Dia istri nya dia berhak tahu keadaan Dimas yang sebenarnya."Tiba-tiba ayah mertua ku sudah muncul dari ruang keluarga.


Akhir nya aku diijinkan naik ke lantai dua menuju kamar Dimas.Jantung ku berdebar tiga kali lebih cepat.Ini persis seperti pertemuan dengan kekasih yang telah lama berpisah.


Aku mengetuk pintu kayu berwarna coklat tua.


Aku membuka pintu dengan perlahan,kulihat Dimas sedang membaca buku duduk bersandar diranjang.Aku hanya berdiri didepan pintu menatap nya.Awal nya dia tidak melihat ku.Namun sedetik kemudian pandangan kami bertemu.


Dimas begitu terkejut melihat ku.Namun seperti nya dia tidak berniat mendekati ku.Pandangannya jatuh pada perut ku yang mulai menonjol.Tatapan nya berubaj menjadi berbinar-binar.


Aku melangkah kan kaki dengan perlahan untuk mendekati nya.Hidung ku terasa sakit dan mataku memanas.Dimas hanya terdiam,tangannya masih memegang buku yang sedang dibaca nya.Aku berdiri disisinya menatapnya yang masih duduk dengan kaki diluruskan kedepan.


Semua perasaan bercampur aduk,ada rasa bahagia,rindu,dan juga kecewa karena Dimas merahasiakan kepulangannya.Beberapa saat kemudian Dimas menarik tubuh ku,memeluk pinggang ku dan mencium perut ku berulang kali.Seperti nya bayi dalam perut ku ikut merasakan,dia memberi respon dengan menendang.


Melihat ini Dimas langsung tersenyum memandang ku.Bagaimana mungkin seorang anak yang masih dalam perut bisa tahu kalau yang memeluk dan mencium nya adalah papa nya.


Aku melihat mata Dimas juga berkaca-kaca.Namun sejurus kemudian aku mulai menyadari sesuatu yang aneh,tak ada pergerakan dari tubuh bagian bawah nya.Kaki Dimas terlihat kaku.Pandanganku juga tertuju pada kursi roda didekat ranjang nya.


Aku menutup mulut ku dengan telapak tanganku.Dimas seolah tahu dengan keterkejutan ku.Dia menggeser duduknya ketengah dengan sedikit susah payah.Lalu dia menarik ku untuk duduk disebelahnya.

__ADS_1


Tangan nya masih terus mengelus perut ku.


"Apa dia nakal?kamu masih mengalami morning sickness?pasti sulit melewati semua nya tanpa seorang suami yang menemani."


Aku menggelengkan kepala ku,"Dia anak yang baik.Seperti papa nya."


"Shareen,aku hanya tidak ingin menyusahkan mu.Kamu sedang hamil,sungguh tidak memungkinkan untuk mu merawat ku yang lumpuh."Dimas masih terus mengelus perut ku.


Aku hanya menggelengkan kepala ku,dada ku terasa sesak mendengar kata-kata yang keluar dari mulut nya.


"Ko Dimas itu suamiku,sudah kewajiban ku sebagai istri untuk merawat koko."Aku memandangi wajahnya yang sudah beberapa bulan ini sangat kurindukan.


Malam ini aku memutuskan untuk tidur dirumah mertua ku.Sebelum nya aku mengirim pesan pada Elissa kalau aku tidak pulang kerumah dan menginap dirumah mertua ku.


Sepanjang malam aku tidak tertidur,aku dan Dimas saling berbagi cerita.Dia mengatakan kalau dia sengaja tidak menghubungi ku.Dia takut dia akan semakin rindu padaku.


Rencana nya minggu depan Dimas akan pergi ke Jerman untuk menjalani terapi.Mungkin memerlukan waktu yang sedikit lebih lama.


"Shareen,aku ingin mengatakan sesuatu."Dimas menggenggam erat jemariku.


"Hmmm...mau mengatakan apa?"Aku menatap nya dalam.


"Shareen,aku tidak tahu apakah aku masih bisa berjalan lagi nanti.Namun kalaupun kelumpuhan ini menjadi permanen,aku sudah memutuskan kalau aku akan membebaskan mu.Kamu masih muda,masa depan mu masih panjang.Aku tidak mau membebani hidup mu.Aku akan memberikan uang tunjangan untuk mu,rumah,dan D'Cafe."


Mendengar ini aku sangat terkejut,aku menggelengkan kepala ku.


"Ko Dimas harus tahu,bahkan seandainya pun koko hanya bisa berbaring aku akan tetap hidup bersama mu.Jangan pernah berpikir yang aneh-aneh.Allah nggak akan kasih cobaan yang nggak bisa dilalui oleh makhluk nya.Koko harus yakin kalau koko bisa sembuh.Demi aku dan demi dia ko."Aku mengarahkan tangan Dimas untuk menyentuh perut ku.


Dimas langsung mencium kening ku,ciuman yang begitu dalam.


Terkadang kita harus belajar berpura-pura kuat dan baik-baik saja,hanya untuk menyemangati orang terdekat kita.Pertemuan ini pertemuan yang begitu kuharapkan.Bahkan aku tak ingin memejamkan mata ku,aku takut kalau aku terbangun nanti ternyata ini semua hanya lah mimpi.Biarkan malam ini kami habiskan untuk melepaskan kerinduan kami yang selama ini terpendam.

__ADS_1


__ADS_2