
Hari berikut nya rumah terasa sepi.Maliq pulang ke kota M bersama Elissa.Aku belum memutuskan kapan akan kembali ke kota M.Maliq berpesan untuk menghubungi nya kalau aku ingin pulang ke kota M,agar dia menjemput ku kesini.
Bang Rahman menghampiri ku yang sedang duduk diteras depan.
"Bagaimana keadaan suami mu?"Dia meletakkan secangkir kopi diatas meja.
"Dia sedang menjalani pengobatan di Jerman."Aku menghela nafas berat.Aku tak berniat menceritakan pada siapa pun tentang perceraian kami.
"Kamu,tidak berniat menyusul nya kesana?Harus nya kamu mendampingi nya,memberi nya semangat." Bang Rahman menyesap kopi yang di buat nya sendiri.
"Kapan Bang Rahman pulang ke kota R?" aku mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin setelah tiga hari.Aku akan membawa Ayana tinggal bersama kami." ya..dia anak lelaki tertua,Ayana adalah tanggung jawabnya.
Aku hanya mengangguk tanda setuju dengan keputusannya.
"Biarkan kan rumah ini jadi tempat kita berkumpul nanti,abang akan bayar orang untuk membersihkan nya setiap hari."
Rumah ini memiliki banyak kenangan.Kami memang tidak berniat untuk menjual nya.Lagi pula kami juga tidak kekurangan uang.Apalgi sebentar lagi aku akan menjadi janda kaya.Mengingat ini aku hanya bisa menarik keatas salah satu sudut bibir ku.
Tak ada sayur lodeh buatan ibu yang setiap aku pulang akan selalu tersedia dimeja makan.Tak ada tempe bacem yang selalu kuhabiskan sebelum selesai ibu menggoreng nya.
Dan bunga-bunga ini,mungkin nanti nya akan mati dan layu karena tak ada lagi yang merawat nya.Semua seperti mimpi namun kenyataannya ini adalah mimpi yang benar-benar nyata.
Setelah tiga hari kepergian ibu,kami memutuskan untuk pulang ke kota masing-masing.
Ayana ikut dengan Bang Rahman ke kota R.Sedangkan aku pulang dijemput oleh Maliq.Salah satu kunci rumah kami titip kan pada Bu Nur,tetangga terdekat kami.Bang Rahman membawa satu kunci,dan aku juga membawa satu.
Disepanjang perjalanan pulang ke kota M,aku tertidur.Badan ku terasa penat.Aku merasa benar-benar lelah.Maliq menyetel musik klasik,perjalanan terasa begitu menenangkan.Dia juga mengemudikan mobil dengan santai.
__ADS_1
Kami sampai di kota M menjelang maghrib.Aku langsung menyuruh Asih membersihkan Davino dan menidurkannya.Kebetulan tadi sebelum sampai kota M,Maliq mengajak kami makan di salah satu restaurant seafood yang cukup terkenal.
Selesai mandi aku membaca kembali surat gugatan perceraian yang dikirimkan Dimas kemarin.
Aku menelpon ayah mertua ku,mengabarkan kepulangan ku ke kota M.Sekaligus aku menanyakan tetang gugatan perceraian yang dilayangkan oleh Dimas.Dimas sendiri pun belum menandatangani nya.
Aku mengatakan kepada ayah mertuaku kalau aku akan menerima gugatannya,tapi dengan satu syarat.Aku ingin berbicara dengannya,aku ingin dia menghubungi ku.Ayah mertua ku mengatakan kalau dia akan menyampaikan ini nanti pada Dimas.
Keesokan hari nya aku memilih istirahat dirumah.Saat asyik bermain dengan Davino ponsel ku berdering.Dari nomor luar negeri.Dengan tangan gemetar aku mengangkat nya.
"Halo.."
"Assalamu'alaikum Shareen.." Suara yang begitu ku kenal.
Tak ku pungkiri detak jantungku menjadi tiga kali lebih cepat dari biasa nya.
"Ya wa'alaikumsalam."Aku menjawab dengan sedikit terbata.
"Shareen,aku turut berduka cita atas kepergian ibu.Maaf aku tidak bisa pulang.Bagaimana keadaan mu dan Davino?"
Entah kenapa mendengar dia mengungkit tentang ibu air mata ku seketika mengalir.
"Alhamdulillah kami sehat.Bagaimana pengobatan nya?"Aku bertanya dengan suara yang sedikit serak.
Hening sejenak,Dimas tak langsung menjawab pertanyaanku.
"Hmm...tidak begitu baik.Dokter masih terus berusaha.Namun mungkin ini memerlukan waktu yang lama.Shareen,aku minta maaf.Tapi aku tak ingin membebani mu.Jika ada lelaki yang lebih baik yang bisa menjaga dan melindungi mu,aku ikhlas Ren."Walaupun dia mengucapkan dengan lembut,namun kata-katanya terasa tajam untuk ku.
Aku seolah-olah menjadi istri yang tidak setia,yang hanya menerima semua kelebihannya saja.Aku ingin menyangkal ucapannya,namun aku merasa sangat kecewa pada nya.
__ADS_1
"Baik lah,aku akan menandatangani surat gugatan cerai itu.Seperti nya Ko Dimas sudah sangat ingin bercerai dengan ku."Semua kata-kata ini terucap begitu saja.
Bahkan dia masih meragukan kesetiaanku,setelah aku melewati kehamilan dan melahirkan tanpa diri nya.
Persetan orang-orang akan menilai ku negatif,karena sudah dengan tega menceraikan suami nya yang lumpuh.Aku sudah lelah dengan semua ini.Aku hanya ingin hidup bahagia bersama Davino.
Aku langsung mengakhiri panggilan.Kuambil pena dilaci dan tanpa ragu menandatangani surat gugatan cerai kami.Dunia ku seolah berubah jadi gelap.Satu-satu nya yang kumiliki saat ini hanya Davino.
Malam ini aku tidur dengan nyenyak.Tak pernah aku tidur senyenyak ini.Mungkin karena aku telah melepas kan semua nya.Terkadang tak semua yang hilang harus dicari,kita hanya perlu merelakannya.
Seminggu kemudian aku memutuskan pindah ke Villa Mutiara.Aku ingin melupakan semua kenangan ku bersama Dimas.Tak ada yang tahu tentang perceraianku.Aku hanya cerita dengan Elissa.Bahkan dengan Maliq pun aku tidak cerita.
Hari-hari kulalui seperti biasa.Davino tumbuh menjadi anak yang lucu.Dia mewarisi wajah papa nya.Kulitnya putih,hidung nya cukup mancung,ketika tersenyum matanya seperti membentuk bulan sabit.Persis seperti Dimas.
Aku seperti melihat sosok Dimas dalam diri Davino.Sifat nya yang pendiam juga seperti papa nya.
Waktu berlalu begitu cepat,Davino sekarang sudah berusia empat tahun.Dia bersekolah di salah satu sekolah favorit di kota M.Aku sendiri semakin sibuk mengurus D'Cafe.Aku juga sudah membuka beberapa cabang dikota T dan kota R.
Davino lebih sering menghabiskan waktu dengan Maliq.Maliq yang kini meneruskan bisnis perkebunan keluarga nya,sekarang lebih banyak memiliki waktu bersama Davino.
"Om Maliq,kenapa mommy ku selalu melarang aku makan es krim?padahal aku sangat suka es krim loh." Davino selalu mengadu pada Maliq ketika aku melarang nya atau memarahi nya.
Hari ini kami menjemput Davino bersama.Dan berencana untuk mengajak nya makan diluar di hari ulang tahun nya yang ke empat.
"Davin,mau es krim?"Davino langsung mengangguk menjawab pertanyaan Maliq.
"Oke,om akan beli kan.Tapi untuk hari ini saja ya karena hari ini Davin berulang tahun."Mendengar ini wajah Davino langsung berbinar-binar.Dia bertepuk tangan kegirangan.
Aku yang duduk di sebelah Maliq hanya menggelengkan kepala sambil menatap Maliq yang fokus mengemudi.
__ADS_1
"Ayo lah Ren,kamu juga tidak boleh terlalu melarang nya.Dia masih anak-anak." Maliq menatap ku sesekali dan bergantian melihat Davino yang duduk dibelakang.Ketika melihat Davino dia akan menaikkan alis nya berulang kali.Davino akan membalas nya dengan mengacungkan kedua jempol nya.
Bukan aku tidak mengijinkannya makan es krim.Namun Davino memang memiliki alergi dengan protein hewani dan protein tinggi.Aku harus benar-benar menjaga makanannya.Memang setahun belakangan ini aku sudah mulai mencoba memberikan nya sedikit demi sedikit telur dan ikan.Namun kalau terlalu banyak aku takut alergi nya kambuh.Aku masih trauma ketika seluruh tubuh nya gatal dan merah-merah.