
Jarak antara stasiun kereta dengan kost yang ku sewa seharus nya tidak begitu jauh.Namun karena dikota ini banyak jalan yang searah,jadi kami harus jalan memutar.
Sepanjang perjalanan Maliq bercerita kalau dia tak percaya akhirnya aku akan mengambil keputusan ini.
"Kenapa kamu memutuskan untuk pindah ke kota ini?"
"Mungkin memang sudah jalannya.Aku bisa melanjutkan kuliah ku dan bisa lebih sering menjenguk ibu ku."Aku menjawab sambil memandang keluar jendela.
"Oh iya,bagaimana kabar orang tua mu Ren? Mereka sehatkan?Bagaimana dengan papa,apakah hipertensi nya masih sering kambuh?"
"Hmm....papa,papa sudah nggak ada.Baru dua minggu yang lalu."Suara ku melemah mengatakannya sambil berusaha menguatkan hatiku.
Maliq spontan mengerem mobil nya dengan mendadak.Beruntung nya dibelakang kami kondisi jalan lengang tanpa kendaraan lain.
"Serius kamu Ren,Innalillahi wainnailaihi roji'uun.Kenapa kamu tidak mengabari saya?"
"Aku kalut dan nggak kepikiran,semua terasa begitu cepat dan tiba-tiba.Maaf.."
"Hmmm...iya sudah,kamu yang sabar ya..Jodoh,rezeki,pertemuan,maut itu semua sudah diatur sama Allah.Apa pun yang terjadi yakin lah Dia selalu punya alasan dibaliknya."
Maliq kembali melanjutkan perjalanannya.Kami sampai di sebuah komplek kost-kostan putri.Kamar kost ini memang di khususkan untuk perempuan.Kalau pun ingin menerima tamu lelaki tidak boleh dibawa masuk kedalam.Karena disetiap teras kamar kost disediakan dua buah kursi santai dan meja.
Kost-kostan ini cukup asri dan sejuk.Karena ada taman mini ditengah-tengah halaman kost ini.Disetiap depan kamar terdapat tanaman palem-paleman.Terdapat sepuluh kamar kost disini.Dan kamar ku terletak didekat pintu gerbang kost.Didepan komplek kost ini terdapat rumah utama si pemilik kost.
Aku dikenal kan Maliq oleh si pemilik kost.Perempuan berumur sekitar enam puluh tahun lebih.Perempuan ini sangat ramah,dia membahasakan dirinya oma.Maliq juga terlihat akrab dengannya.
__ADS_1
"Jadi ini ya yang namanya Shareen." Dia berbicara sambil tersenyum.Aku hanya mengangguk dan membalas senyumannya.
"Panggil saja saya Oma,semoga kamu betah ya tinggal disini."Oma menepuk bahu ku dengan lembut.Aku pun kembali mengangguk dan mengucapkan terimakasih.
Kamar kost ini berukuran 5x4 meter,dan terdapat satu kamar mandi didalamnya.Mereka menyediakan satu lemari dua pintu,kulkas mini,dispenser untuk air panas dan dingin,televisi,dan juga AC.Aku heran dengan fasilitas yang selengkap ini mengapa aku hanya perlu membayar 600 ribu rupiah perbulan.Menurut aku kost-kostan ini sudah termasuk kost-kostan yang bagus.Apalagi kost-kostan ini terletak tidak terlalu jauh dari pusat kota.
Aku menatap Maliq dengan curiga dan bertanya berapa sebenarnya harga sewa kamar kost disini.akhirnya dia mengaku kalau harga kamar kost disini sebenarnya 1,2 juta per bulan.Namun karena kost ini milik nenek nya jadi dia meminta potongan harga sampai setengahnya.Aku hanya bisa tercengang mendengar ucapannya.Pantas saja dia terlihat akrab dengan oma pemilik kost,ternyata itu nenek nya sendiri.
"Ren,seharusnya kamu bisa tinggal gratis disini.Kalau ditanya sama teman kost yang lain bilang saja kamu cucu dari yang punya kost.Kamu kan sudah aku anggap adik.Lagi pula kenapa kamu nggak mau aku tawarkan tinggal dirumahku bersama papa dan mamaku.Mereka pasti seneng loh Ren."
Aku hanya memutar bola mataku malas.Seperti nya aku memang ditakdirkan beruntung selalu bertemu dengan orang-orang kaya.
"Bang kalau aku bilang aku ini cucu pemilik kost,mereka akan bertanya kenapa aku tidak tinggal saja dirumah utama?"
Melihat ekspresi ku Maliq hanya menggedikkan bahu nya.
Setelah menyusun pakaian dan beberapa barang di lemari,hari sudah menjelang maghrib.Aku ijin dengan Maliq untuk melaksanakan sholat maghrib dahulu di kamar kost ku.Sedangkan Maliq sendiri sholat dimesjid yang tidak jauh dari sini.Selesai sholat Maliq mengajak ku untuk keluar makan malam.Kami makan diwarung nasi uduk tenda biru dipinggir jalan.
"Enggak apa-apa kan kalau kita makan disini?" Maliq bertanya sebelum turun dari mobil.
"Aku bukan orang yang pemilih dalam hal makanan.Yang penting halal dan bisa dimakan,it's okay lah!" Maliq tersenyum kemudian berkata,"Bebek panggang nya enak disini." Maliq memang selalu tahu tempat makan enak,termasuk yang didalam gang sempit sekalipun.
Sambil menunggu pesanan,kami mengobrol ringan.Maliq mengatakan kalau besok dia yang akan mengantar ku kerja dihari pertama.Namun lusa aku harus berangkat dan pulang kerja sendiri.Karena dia hanya cuti sehari.Dia menyarankan aku naik ojek online saja.Nanti setelah aku mengenal tempat dan jalan didaerah ini dia akan meminjamkan motor matic nya.
"Kamu bisa naik motor kan?dirumah ada motor matic yang nganggur,kemarin dibeli untuk bibi belanja kepasar.Namun karena bibi pernah jatuh ditikungan,dia tidak berani lagi menaikinya.Jadi sekarang motor itu hanya diletakkan di garasi dan tidak digunakan.Minggu depan aku akan membawa nya ke bengkel untuk diperiksa apa saja yang harus diperbaiki."
__ADS_1
"Minggu depan Bang Maliq pulang lagi?"
"Ya karena sekarang kamu sudah ada disini tiap minggu aku akan pulang." Maliq tersenyum melihat ku.
"Lagi pula tempat ku bekerja sekarang tidak begitu jauh.Hanya butuh waktu dua jam perjalanan kesini." Dia melanjutkan kata-kata nya.
Pesanan kami datang,kami mengakhiri obrolan dan menikmati makanan kami.Selesai makan maliq mengantarku pulang ke kost.Dia menyuruh ku beristirahat yang cukup.Dan jangan tidur larut malam.Aku hanya mengangguk.
Rezeki itu memang tak selalu berkaitan dengan uang dan harta.Bertemu dengan orang-orang yang baik juga termasuk rezeki.Aku tidak tahu bagaimana aku harus membalas kebaikan dari Maliq.Papa pernah bilang hutang budi itu dibawa sampai mati.Dan sekarang aku merasa telah berhutang budi pada Maliq.
Aku mandi dan sholat Isya kemudian aku memutuskan untuk pergi tidur.Namun tiba-tiba aku teringat dari tadi aku belum memberitahu ibu kalau aku sudah sampai.Aku menelepon Ayana,dan mengatakan kalau aku sudah sampai di kost ku dengan selamat.
Aku memeriksa pesan di kotak masuk,namun tak ada pesan baru yang masuk.Bohong bila aku tak merindukannya.Dimas,sedang apa dia sekarang?Bahkan aku masih mengharapkan perhatiannya.Kupandangi cincin bermata ruby dijari manis ku.Manis sekali,kenapa begitu pantas dijariku.Aku jadi tak ingin melepas nya.Akhirnya aku tertidur dengan ponsel yang terletak diatas perut ku.Malam ini tidur ku nyenyak sekali.Padahal ini pertama kali aku tidur dikamar ini.
jam tujuh pagi Maliq sudah menjemputku.Dia datang lebih cepat karena kami akan sarapan bersama.
"Kita sarapan yang dekat dengan kantor kamu saja ya ren."Maliq berkata sambil memasang seatbelt nya.
"Oke,aku ikut saja.Aku juga belum tahu daerah ini."Aku menjawab sambil merapikan jilbab ku dengan bercermin dikaca spion dalam.Maliq yang melihat ku hanya tersenyum.
"Sudah,sudah cantik loh Ren."
"Ya ini kan hari pertama aku masuk kerja,penampilan aku harus perfect dong!" Aku berbicara sambil menaik turunkan alis ku.
Dan maliq hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1