
Pagi ini aku bangun lebih awal,aku berniat memasak sarapan pagi ini.Namun begitu aku keluar kamar aku sudah mencium aroma masakan.Ku lihat Pak Dimas sedang berkutat didapur dengan segala macam peralatan memasak.
Ketika melihat ku dia menoleh sebentar lalu fokus kembali dengan masakannya.
"Bagaimana tidur mu Ren?nyenyak?apa kepala mu masih pusing?"
"Aku tidur dengan baik dan kurasa kepala ku sudah tidak terlalu pusing.Pak Dim masak apa?"
"Hmmm..aku masak sup ikan."
"Sup ikan? kapan Pak Dim membeli ikan nya?" Aku bertanya sambil mengernyitkan dahi ku.
"Tadi pagi-pagi sekali aku berbelanja ke pasar.Aku membeli ikan dan beberapa bahan makanan.Kamu pernah makan sup ikan?" Aku hanya menggelengkan kepala,karena selama ini yang aku tahu yang bisa dimasak sup itu ya ayam dan daging.Aku membayangkan bagaimana ikan di sup,apa tidak berbau amis?
Dia menyuruh ku duduk dan mencicipi masakannya.Aku duduk kemudian mulai mencicipi sup ikan yang baru dimasaknya.Setelah kucicipi aku merasa ketagihan,sup ini enak,dan ajaib nya aku tidak mencium bau amis sedikitpun.
"Bagaimana,apa kamu menyukainya?" Aku hanya mengangguk dan terus memakan sup yang ada di mangkuk kecil.Pak Dimas yang melihat ku hanya tersenyum sambil membelai kepala ku.Aku merasa menjadi adik kecil nya.
"Kalau kamu suka,kedepannya aku akan lebih sering memasaknya untukmu.Ini minum teh jahe,aku membuat nya untukmu."Pak Dimas menyodorkan segelas teh jahe.
"Apa boleh ditambahkan susu atau krimer?"Jujur aku tidak menyukai rasa pedas dari jahe.
__ADS_1
"Hmmm...harus nya lebih baik ini tanpa krimer,tapi kalau kamu kurang suka aku akan menambahkan sedikit saja susu." Pak Dimas kemudian menambahkan susu dalam teh jahe ku.
Aku meminumnya dengan pelan.Aku menyukai semua makanan dan minuman yang dibuat oleh Pak Dimas.Aku ingin setiap hari memakan masakannya.Bahkan aku jadi ingin menua bersamanya.
Selesai sarapan Pak Dimas menyuruhku mandi,sebelum nya dia menyuruh ku meminum vitamin untuk menjaga daya tahan tubuhku.
"Kamu harus bisa menjaga kesehatan mu sendiri Ren,aku tidak bisa slalu ada disamping mu." Aku tertegun mendengar ucapannya.
"Bapak berencana meninggalkanku?"
"Tidak,aku tidak akan pergi darimu,sampai kamu yang menyuruh ku untuk pergi." Aku begitu terharu mendengar kata-kata nya.Mataku berkaca-kaca,aku langsung bergegas kekamar ku mengambil handuk dan jubah mandiku.
Begitu aku keluar dari kamar mandi aku tidak lagi melihat Pak Dimas didapur.Yang aku lihat Rendy sedang menyantap sup ikan buatan Pak Dimas.Ketika melihat ku dia tersenyum dan berkata aku terlihat segar hari ini.Aku hanya menunduk dan berjalan dengan sedikit cepat ke kamarku.
"Kalau kamu serius dengannya harus nya kamu mulai mengenal kan Islam padanya Ren.Siapa yang tahu,hidayah bisa datang kapan saja.Kamu pun harus mulai rajin sholat." Karin memang benar,aku sadar selama ini aku sendiri jarang menunaikan kewajiban ku sebagai seorang muslim.Bagaimana aku bisa mengenalkan agama ku padanya.
"Kak Karin,aku nggak mau memaksakan keyakinan ku pada orang lain."
"Yang menyuruh mu memaksa siapa? Aku bilang kamu mengenalkan,bukan memaksa,kalau dia tertarik atau tidak itu hak dia." Aku mengangguk-angguk membenarkan ucapan Kak Karin.
Kak karin benar,apalagi bulan depan sudah masuk bulan Ramadhan.Aku rasa ini adalah moment yang tepat.
__ADS_1
Aku kembali kemejaku dan melanjutkan pekerjaanku.
Siang hari nya begitu masuk jam istirahat aku bergegas keatas.Aku melaksanakan sholat zuhur dikamar ku.Dalam sujud ku aku meminta diberi kekuatan iman dan minta diberikan kesempatan untuk bertaubat.Aku sadar selama ini aku telah jauh dari Nya.Aku melalaikan kewajiban ku sebagai hamba.
Selesai sholat aku keluar kamar,begitu aku membuka pintu kamar kulihat Pak Dimas sedang duduk menonton televisi.
"Sudah selesai sholat nya?" Pak Dimas yang melihat ku bertanya sambil tersenyum.Aku hanya menganggukkan kepala ku pelan.
"Oke,sekarang kamu mau makan siang apa?"
"Aku ingin makan nasi padang." Spontan aku menjawabnya dengan mata berbinar-binar.Pak Dimas mengerutkan dahi nya memandang ku.
"Tumben mau makan nasi padang,oke karena kami menginginkan nasi padang ayo kita makan nasi padang."
Begitu lah Pak Dimas,dia selalu menuruti keinginanku.Hampir setiap pagi dia memasak sarapan untuk ku.Ketika siang hari dia akan mengajakku makan siang bersama.Dimalam hari terkadang dia memasak atau kami makan diluar bersama.Tidak ada yang lebih bahagia dari menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kita cintai dan juga mencintai kita.
Lalu setelah sedekat ini,bagaimana nanti nya kalau aku harus berpisah dengannya.Membayangkan nya saja itu sudah menjadi hal yang menakutkan untuk ku.Kami juga kadang berselisih paham,namun akhirnya kami berbaikan kembali.Aku merasa tak baik-baik saja jika menjauh dari nya.
Setelah sebulan ini aku mulai tidur sendirian,Merryana sekarang tinggal dirumah mertua nya.Sedangkan Maliq,aku mulai jarang berkomunikasi dengan nya.Pernah dia ingin mengajakku keluar makan malam bersama,namun aku menolak nya.Pergerakan ku terbatas karena Pak Dimas selalu bersama ku.Terakhir dia mengirim pesan padaku memberitahukan kalau dia mungkin akan dimutasi ke daerah lain.Mendengar nya aku merasa sedih.Maliq adalah orang yang sangat perhatian kepadaku.Dia menyayangi ku seperti adik perempuannya.Dia berpesan kapan pun aku butuh bantuannya untuk jangan sungkan menghubungi nya.Dan tawarannya kemarin masih berlaku kapan pun aku menginginkan nya.
Sekarang aku merasa bahwa itu benar, setiap orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita bukan lah tanpa disengaja.Tuhan pasti punya alasan sendiri.Ada yang datang untuk sementara,ada yang untuk menetap.Ada pula sebagian hanya sebagai ujian bagi kita.Namun semua itu tetap harus disyukuri.
__ADS_1
Minggu depan adalah Ramadhan pertama ku dikota ini.Aku tak pernah membayangkan kalau harus melewati Ramadhan sendirian tanpa keluarga.Papa sering menelepon dan mengingatkan kalau Ramdhan ini adalah moment paling baik untuk kita mensucikan diri.Kita harus benar-benar memanfaat kan moment Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya,perbanyak amal dan sedekah dibulan ini.Karena tidak ada jaminan kita akan bisa berjumpa dengan Ramadhan tahun depan.
Kata-kata ini hampir tiap tahun papa ucap kan setiap kali kami menyambut bulan Ramadhan.Bahkan moment sahur bersama dan berbuka puasa bersama keluarga adalah hal yang paling membahagiakan dan paling aku nantikan.Namun untuk kali ini aku mungkin akan melewatkannya.