
Tak disangka ayah mertua ku menghabiskan bubur ayam yang kubuat.Selesai sarapan dia menghampiri ibu mertua ku.Dari semalam aku memang belum berani menjenguk nya secara langsung.
Dimas memilih mandi dan membersihkan diri.Aku membersihkan dan merapikan bekas sarapan Dimas dan ayah mertua ku.Kulihat Jennika datang menghampiriku.Dia duduk dihadapanku.Aku tidak tahu kenapa dia sudah sampai disini sepagi ini.
"Kalian benar-benar egois ya.Kalian nggak pernah memikirkan perasaan ai Ana.Gara-gara kalian ai jadi begini." jennika mencoba memprovokasi ku.
Aku tak berniat menanggapi nya.Aku memilih diam dan mengabaikannya.Kalau aku melawannya aku yakin akan terjadi keributan disini.
"Pelet apa yang kamu pakai?sampai-sampai ko Dimas rela ninggalin keluarga nya demi perempuan seperti kamu.Percuma kepala kamu ditutupi tapi hati kamu asli nya busuk."Mendengar ini telinga ku menjadi panas,apalagi ketika dia membawa-bawa jilbab ku.
Aku memandang wajahnya yang menurut ku tak lagi seperti peri.Dia benar-benar seperti rubah yang licik.
"Jennika tolong,saya hanya nggak ingin membuat gaduh disini.Dari tadi saya sudah coba sabar ya.Tapi seperti nya kamu semakin keterlaluan.Memang nya kenapa kalau saya menikah dengan Dimas?Lagi pula saya tidak pernah memaksa nya.Semua atas dasar kemauannya sendiri.Jadi tolong berhenti memancing emosi saya."
"Sadar diri kamu,sampai kapan pun kamu nggak akan diterima dikeluarga Halim"Jennika mengacungkan jari nya kewajah ku.Aku langsung menepis tangannya.Mungkin aku terlalu kuat menepis tangannya sampai dia menyenggol kopi panas ayah mertua ku dan mengenai pahanya.Kebetulan dia hanya mengenakan gaun diatas lutut.
Jennika langsung menjerit kepanasan.Paha nya yang putih mulus nampak memerah.Dimas yang baru keluar dari kamar mandi langsung mendatangi kami.
"Ada apa ini?" Dia memandang Jennika yang menangis.
Aku.....
__ADS_1
"Aku nggak tahu ko,tadi aku cuma ngobrol dengan Shareen masalah penyakit ai Ana.Tapi seperti nya dia emosi dan menyiramkan kopi panas padaku."Jennika memang ahli dalam bersandiwara.
Dimas melihatku dengan tatapan yang sulit diartikan.Kemudian menyuruh Jennika membasuh pahanya dengan air mengalir dikamar mandi.
Dimas menarik ku keluar ruangan.Pikiran ku menjadi kosong,aku benar-benar tidak sengaja melakukannya.
"Ren,aku tahu kamu nggak suka dengan Jennika.Tapi kamu juga nggak seharus nya berbuat seperti itu padanya.Kamu kan tahu mama saat ini sedang sakit.Jadi tolong jangan buat mama tambah drop." Aku tercengang mendengar kata-kata Dimas.Bagaimana mungkin dia percaya dengan semua yang dituduh kan Jennika padaku.
"Ko Dimas percaya kalau aku sengaja menyiramkan kopi itu ke Jennika?Aku nggak segila itu ko.Kalau memang koko lebih percaya dengan Jennika,harus nya kemarin koko menikahi dia bukan menikahi ku."Aku langsung pergi meninggalkan Dimas.Hati ku begitu sakit dan kecewa.Bukan karena fitnah yang dibuat Jennika.Tapi lebih karena ketidakpercayaan Dimas padaku.
Dimas memanggil nama ku berulang kali,namun aku tak peduli dan masuk ke dalam lift.Aku terus berjalan keluar dari Rumah sakit.Sampai dipelataran Rumah sakit aku bingung mau pergi kemana.Aku tak ingin pulang ke D'Cafe.Kalau pergi kekantor aku masih cuti hari ini.Dimas benar-benar menyebalkan.Kalau sekarang harus berpisah dengannya pun aku tak akan rugi.Dia juga belum menyentuh ku.Kami hanya tidur bersama sekali,dan kemarin itu pun kami hanya tidur berpelukkan.
Akhir nya aku memutuskan berjalan kaki menyusuri trotoar.Setelah lelah berjalan aku duduk di halte bus.Aku membuka aplikasi ojek online.Aku memutuskan pergi ke Villa mutiara.Lagi pula aku masih menyimpan kunci nya.Jadi kalau pun Elissa sudah pergi kekantor aku masih bisa masuk kerumah.
Aku meletakkan tas ku disofa.Aku mulai membersihkan rumah.Mulai dari mencuci piring,menyedot debu,melap meja dan kursi.Setelah semua selesai aku berniat membuang sampah ke tempat pembuangan sampah yang tidak jauh dari rumah.
Saat aku berjalan sampai teras,kulihat mobil Dimas sudah terparkir didepan rumah.Aku ingin berbalik masuk dan mengurungkan niat ku membuang sampah.Namun Dimas dengan cepat keluar dari mobil,berlari masuk dan memegang tangan ku.
"Shareen,tunggu!" Aku menghentakkan tangannya.Pegangannya pun terlepas.
"Shareen maaf,kamu marah ya?"Lelaki ini keliharan pintar,namun ternyata asli nya bodoh.Kenapa dia masih bertanya kalau aku marah atau tidak.Apa dia tidak bisa melihat kemarahan diwajah ku.
__ADS_1
Aku tak menjawab nya.Aku mengeluarkan jurus andalan ku saat marah,yaitu jurus diam.
"Shareen,aku percaya kalau kamu bukan sengaja menyiram Jennika.Aku hanya nggak mau terjadi keributan dirumah sakit.Aku takut mama bertambah drop." Dimas memegang tangan ku.Aku hanya menghela nafas.
"Jennika terus-terusan memprovokasi ku.Aku sudah coba sabar.Namun dia bilang aku perempuan berhati busuk dan dia bilang percuma aku memakai jilbab.Dia menunjuk muka ku,jadi aku menepis tangannya.Tapi tangannya kemudian menyenggol gelas kopi itu dan akhir nya tumpah ke pahanya.Aku nggak tahan dengan kata-katanya ko,aku kesal."Aku tak bisa menahan,air mataku akhir nya turun juga.
Dimas langsung memelukku,menepuk punggung ku dengan pelan.Sedetik kemudian emosiku langsung mereda.Dimas menghapus air mataku dengan tangannya.
"Untuk sementara kamu nggak usah ke rumah sakit dulu ya! Lagi pula mama sudah sadar,beberapa hari lagi juga sudah bisa pulang.Nanti aku akan bawa kamu kerumah menemui mama." Aku menyipitkan mata ku memandangnya.
"Kenapa aku nggak diperbolehkan ke Rumah Sakit?Apa karena ada Jennika disana?Agar koko bisa berduaan saja dengannya disana kan?" Aku menarik salah satu sudut bibirku,tersenyum sinis pada nya.
"Ya Allah Ren,kok kamu bisa punya pikiran seperti ini sih.Lagipula besok kan kamu sudah masuk kerja,kamu juga harus menyelesaikan skripsi mu,kamu akan jadi lebih sibuk." Dimas memegang kedua pundakku.
Aku hanya diam tak berkomentar sama sekali.Dimas kemudian mengajakku pulang ke D'Cafe.Aku tak dapat menolak dan hanya menuruti nya.Sesampai nya di D'Cafe Dimas langsung ke kamar dan tertidur.Mungkin tadi malam tidur nya kurang nyenyak.Aku memilih turun kebawah membawa laptop ku.Aku berniat mengerjakan skripsi ku yang sempat tertunda.
Begitu masuk waktu zuhur aku naik kekamar.Kulihat Dimas tidak ada dikamar.Terdengar suara air dikamar mandi.Kupikir dia pasti sedang mandi.Aku melepas jilbab ku dan rebahan sebentar sambil memainkan gadget ku.Dimas selalu membutuh kan waktu lama untuk mandi,bisa sampai satu jam.
Setelah bermain ponsel sebentar aku jadi mengantuk.Akhir nya aku jatuh tertidur.Aku terbangun saat tetesan air jatuh diwajahku.Aku membuka mata dengan berat.Kulihat Dimas sudah berada diatas ku,mengungkung diriku.Tetesan air dari rambut nya jatuh diwajahku.Dia masih mengenakan handuk.Seperti nya dia baru saja selesai mandi.
"Lama banget mandinya ko,sampai ketiduran aku nunggu nya." Aku berbicara dengan canggung.Namun Dimas hanya menatapku dengan tatapan yang berat.Tiba-tiba jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya.Jangan bilang dia ingin meminta hak nya disiang hari ini.Bukankah nanti namanya jadi berganti, bukan malam pertama tapi siang pertama.Apa itu tidak terasa aneh.
__ADS_1
Jarak kami semakin dekat aku pun berinisiatif memejamkan mataku,kupikir dia pasti akan mencium ku.Namun tiba-tiba ponsel nya berdering.Semua menjadi buyar.Dimas bangkit dan meraih ponsel nya.Aku pun langsung bangun dan memegang dadaku yang belum stabil debarannya.