
Pak Dimas tak berbohong,selesai lari pagi kami diajaknya makan diwarung nasi gurih yang ada dipersimpangan tiga.Warung sarapan ini cukup terkenal di kota ini.Pengunjung nya selalu ramai.
Pak Dimas memesan kan 3 porsi nasi gurih,dan 3 gelas teh pahit hangat.Aku ingin protes dengan minuman yang dipesan Pak Dimas untukku,namun dia selalu bilang kalau aku sudah terlalu banyak mengonsumsi gula.Rendy hanya tersenyum melihat ku mengerucutkan bibir ku.
Selesai sarapan kami langsung kembali ke kantor.Aku yang terlalu lelah lari pagi,tidak sanggup lagi naik ke lantai dua.Pak Dimas dan Rendy yang melihatku hanya menggelengkan kepala.
"Besok,sehabis subuh aku mau tidur saja.Aku nggak sanggup seperti ini." Aku menggerutu sambil dengan lemas menaiki anak tangga.Rasanya kaki ku sudah tak bertulang lagi.Pak Dimas yang begitu gemas melihatku tiba-tiba menggendongku ala bridal style.Aku spontan menjerit.Kulihat Rendy hanya tercengang dibawah menatap kami.
Sampai dilantai dua Pak Dimas meletakkan ku disofa.Wajahku langsung memerah seperti kepiting rebus.
"Besok kamu nggak mungkin lari pagi.Besok kamu kan harus puasa." Iya aku lupa kalau besok Ramadhan pertama.
"Aku sudah stok bahan makanan di kulkas untuk kamu sahur Ren.Dan kita akan sahur bersama." Aku terkejut mendengar penuturan Pak Dimas.
"Pak Dim serius mau menemani ku sahur?" Aku mencoba meyakinkan nya.
"Iya,dan aku ingin mencoba belajar berpuasa juga."
"Aku juga ikut ya!" Tiba-tiba Rendy yang baru muncul pun ikut berseru.
Sebuah senyuman terbit disudut bibirku melihat mereka berdua.Ada perasaan hangat yang menjalari hatiku.
Bukan kah ini termasuk rezeki untukku,ketika aku selalu dipertemukan oleh orang-orang yang baik.Mereka tentu tidak mengimani kepercayaanku,mereka hanya percaya bahwa sebenarnya berpuasa itu baik untuk kesehatan.
Aku ingat dulu ketika aku masih duduk di bangku SMA kelas 1,aku sering buka puasa secara diam-diam ketika berpuasa Ramadhan.Setiap pulang sekolah papa akan bertanya apakah aku masih berpuasa? aku yang notabene nya susah berbohong akhirnya ketahuan juga oleh papa.Aku takut papa marah,namun papa cuma bilang.
"Belajarlah melakukan sesuatu itu setidak untuk kebaikan dirimu sendiri.Manfaat berpuasa itu baik untuk kesehatan mu loh."
__ADS_1
Sejak saat itu aku berusaha untuk serius dalam berpuasa.
Selesai mandi aku langsung turun kebawah untuk bekerja.Kulihat Merryana semakin sulit beraktifitas dengan kehamilannya yang semakin membesar.Aku memegang dan mengelus perut nya.Aku merasakan pergerakan kecil dari dalam perut Merry.
"Wow dedek bayi nya menendang." Spontan aku berteriak takjub.Merryana hanya tertawa melihatku.Aku selalu bertanya pada Merry apakah itu berat kemana-mana dengan perut sebesar itu?Aku melihat Merry kesulitan berdiri dari duduk nya.Dia juga sulit memakai sepatu nya ketika duduk.Dia akan merasakan sakit di pinggang dan punggung nya jika terlalu lama duduk.Namun aku melihat Merry begitu menikmati semua nya.Bahkan usia Merry masih terlalu muda,dia baru 20 tahun.Dan dia akan segera menjadi ibu di usia 21 tahun.
"Kenapa?kamu juga tertarik menikah dan hamil di usia muda?" tiba-tiba karin mengejutkan ku yang masih asik mengelus perut Merry.
"Oh no..aku belum siap berlelah-lelah mengandung dan mengurus baby,masih banyak keinginan ku yang belum terwujud."Aku menjawab pertanyaan Karin sambil kembali kemeja ku.
"Saat kamu melihat baby nya Merry nanti kamu pasti akan ingin segera menikah." Karin masih melanjutkan ucapannya.
Aku hanya menggedikkan kedua bahu ku.
Merry pasti akan memiliki bayi yang lucu.Mungkin dia akan lahir dengan wajah oriental seperti ibu nya atau lebih ke wajah indonesia seperti ayahnya.Apapun itu dia adalah anak yang diharapkan.
Setelah cukup lama berkutat didepan komputer,aku mulai meregangkan otot-otot ku.Mataku terasa lelah dan pinggang ku pun terasa pegal.Kalau sudah begini biasa nya aku akan berjalan-jalan sebentar mengelilingi ruangan dikantor ini.
Ketika aku berjalan melewati ruangan Pak Dimas kulihat pintu nya sedikit terbuka.Aku berniat masuk namun segera ku urungkan.Kelihatannya dia sedang serius bertelepon dengan posisi duduk membelakangi meja kerja nya.Aku berdiri terpaku,awalnya aku tidak berniat menguping pembicaraannya.Namun aku penasaran ketika dia memanggil mama ditelepon.
"Mama dapat kabar itu dari siapa? Ma...aku nggak bohong aku nggak pacaran dengannya.Aku disini kerja ma bukan pacaran." Deg..jantung ku berdebar,apa mungkin mama nya sudah tahu tentang hubungan kami.Sebelum Pak Dimas tahu keberadaan ku aku segera berlalu dan kembali kemeja ku.
Perasaan ku mendadak kacau.Ada rasa takut menyelinap dibenakku.Bagaimana kalau orang tua Pak Dimas benar-benar tahu hubungan kami dan melarang dia untuk bekerja lagi.Tidak,bahkan itu hal yang menakutkan untuk ku.Tapi siapa yang memberitahukan mereka?Apa Rendy? Tapi aku tidak yakin Rendy orang yang sepert itu.
Aku terus menerka-nerka,sampai sebuah tepukan dipundakku mengejutkan ku.
"Melamun saja,kamu tidak berniat makan siang?" Pak Dimas bertanya dengan ekspresi yang begitu santai,seperti tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Eh,iy.. iya..pak." Aku menjawab dengan sedikit tergagap.
"Kamu kenapa Ren? Lagi ada masalah?Atau kamu lagi kurang sehat ya? wajah kamu sedikit pucat."
"Enggak kok pak." Aku dengan cepat menggelengkan kepala ku.
"Kamu tidak pernah minum vitamin lagi ya? itu vitamin saya beli untuk kamu loh.Nanti malam kamu minum ya!"
Aku hanya menanggukkan kepala ku.
Makan siang hari ini aku meminta Pak Dimas memasak omurice.Awal nya Pak Dimas menolak.Namun aku terus memaksanya.Akhirnya dia menyerah,dan setuju untuk memasak nya.Dia bilang aku sudah seperti wanita hamil saja yang sedang mengidam.
Karena omongannya aku jadi ingin merasakan mengidam sungguhan.Kalau aku mengandung anak nya,aku akan meminta dia setiap hari memasak untukku.hahaha aku hanya tertawa dalam hati ketika menyadari pikiran absurd ku ini.
Kami makan siang hanya berdua.Mulut ku dari tadi sudah tidak tahan ingin menanyakan tentang percakapannya ditelepon tadi.Tapi aku takut kalau dia malah akan mengira aku suka menguping pembicarannya.
"Kamu kenapa Ren?saya perhatikan dari tadi kamu kelihatan gelisah.Apa ada yang ingin kamu katakan?" Pak Dimas seperti nya bisa membaca gerak gerik ku.
"Oh enggak kok pak.Saya hanya ingin tahu besok sahur,Pak Dim mau masak menu apa?" Aku mencoba menetralkan keadaan.
"Kamu mau nya makan apa?"
"Hmmm..aku mau ikan yang di steam itu loh pak,yang ada jahe nya."
"Ooo..Tim ikan jahe ya? besok aku masakkan deh.Masakannya gampang dan enggak ribet kok."
Kenapa dia bisa sebaik ini.Kenapa ada lelaki selembut dan sepengertian dia.Dia bahkan rela mengerjakan apa pun.Padahal dia termasuk pria yang dilahirkan dengan sendok perak di mulut nya.Kenapa dia hampir tak bercelah sama sekali.Dan kenapa dia harus tak seiman dengan ku.Tuhan seandainya nanti aku harus berpisah dengannya,kumohon tunjukkan satu saja keburukannya yang bisa membuat ku ikhlas untuk melupakannya.Agar tak terlalu sakit luka yang aku rasakan nanti.
__ADS_1