
No skinship,aku tahu Pak Dimas orang yang cukup sopan dan terpelajar.Dia bukan orang yang gila akan s*x atau belaian.Dari awal dia sudah bilang hubungan kami hanya sekedar mencoba menjalani.Dan tidak ada alasan untuk diumumkan di khalayak ramai.
Namun bukan berarti kami tidak bisa mesra.Aku cukup mengerti apa itu kemesraan dari tatapan mata nya.Sesekali dia akan membelai rambut ku.Dia akan merangkul pundakku.Yah hanya sebatas itu.Dia sangat menghargai aku sebagai wanita nya.
Malam ini aku tidur dengan mimpi yang baru.Aku ingin menciptakan dongeng percintaan ku dengan Pak Dimas.Dimas Sudjatmiko Halim.
Bagaimana seandai nya aku bisa hidup bersama nya,memiliki anak yang lucu-lucu.Putra putri kami akan memiliki warna kulit dan bentuk wajah perpaduan dari kami berdua.Mungkin kulit nya akan putih seperti papa nya,tapi memiliki mata yang sedikit bulat seperti mama nya.Aku ingin hidung nya berbatang seperti ku.Rambut nya lurus seperti papa nya.Imajinasi ku sudah melayang terbang tinggi jauh ke negeri antah barantah.
Sebahagia ini kah aku,sampai-sampai aku sudah memikirkan masa depan ku bersama Pak Dimas.Aku tersenyum sendiri,sesekali aku berguling dan menutupi wajahku dengan bantal.
Khayalan ku terusik dengan suara notifikasi yang masuk di ponsel ku.Ku lihat ada pesan masuk dari Maliq.
"Assalamu'alaikum cantik,lagi ngapain?" hmmm...dasar penggombal ulung.Aku mencebikkan bibir ku membaca pesannya.
"Lagi dikamar,menghayal sebelum tidur."
"Pantes dari tadi abang makan dan minum tersedak terus.Rupanya ada yang mikirin abang.hehehe." Ish..ini anak memang pede nya kebangetan.
"Iya sebahagia abang aja deh."
"Hmmm...besok makan siang bareng yuk,abang jemput kekantor kamu besok ya! tidak ada yang namanya penolakan.Abang mau tidur sekarang."
"Ih apa-apaan si Maliq ini,maksa banget jadi orang."Aku bergumam dalam hati.
"Aduh gimana besok kalau dia beneran datang ya? Kemarin Pak Dimas udah ngelarang aku jangan dekat-dekat sama dia."Aku masih memikirkan kenekatan Maliq besok.
Tiba-tiba muncul ide dalam benakku,besok aku akan berpura-pura sakit perut saja.Aku akan menghubungi nya agak siang saja besok.Setelah berbalas pesan dengan Maliq aku memilih memejamkan mata ku.
Pagi hari nya ketika terbangun aku melihat jam diponsel sudah menunjukkan pukul tujuh.Kulihat Merry sudah mandi dan bersiap-siap untuk turun.
"Yee..aku kirain kamu mau tidur sampai siang."Merry nyeletuk melihat aku terbangun dan bangun dari tidur tergesa-gesa.
__ADS_1
"Ish..tega kakak nggak banguni aku."
"Yee..dari tadi dibanguni cuma ha hem ha hem doang."
Begitu aku keluar kamar kulihat Pak Dimas turun dari lantai tiga dengan pakaian yang sudah rapi.Aku memilih menunduk dan menutupi wajahku dengan handuk.Karena tergesa-gesa kekamar mandi,aku hampir terpeleset didepan kamar mandi.Namun dengan cepat aku berpegangan pintu kamar mandi.
"Ren,pelan-pelan saja,masih ada setengah jam untuk kamu bersiap-siap." Aku tak sempat menanggapi ocehan Pak Dimas dan langsung masuk ke kamar mandi.
Aku bersiap-siap dalam waktu setengah jam,sedikit berlari menuruni anak tangga agar tidak terlambat mengisi absensi ku.Sesampai nya dibawah aku sedikit tertegun melihat Jennika sudah ada diruangan Pak Dimas.Mereka sedang menikmati sarapan bersama.Segila itu kah dia,jam berapa dia berangkat dari kota R.Hingga sepagi ini dia sudah sampai disini.
Aku memilih untuk tidak melihat mereka saat lewat didepan ruangan Pak Dimas.Akhirnya aku memutuskan sarapan pagi ini hanya dengan segelas sereal oat.Sehabis sarapan aku lebih memilih sibuk mengerjakan pekerjaan ku yang kutinggalkan kemarin sore.
Notifikasi masuk di ponsel ku.Kulihat pesan dari Pak Dimas.
"Sudah sarapan atau belum?"
"Sudah,sarapan oat." Aku membalas singkat.
"Hmmm...belum tau pak,belum dipikirin."
"Oke nanti bilang saja mau makan apa ya!"
Aku mengakhiri chat dengan Pak Dimas dan kembali melanjutkan pekerjaan ku.
Karena begitu sibuk nya aku dengan pekerjaan ku,aku sampai lupa menghubungi Maliq untuk membatalkan janji makan siang ku dengan nya.Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 11.55.Aku bergegas meraih ponsel ku yang ada dilaci meja.ketika aku sedang sibuk mengetik pesan untuk Maliq,Pak Dimas dan Jennika lewat didepan ku.Dan yang membuat aku tercengang Jennika berjalan sambil melingkarkan tangannya dilengan Pak Dimas.
Sempat kulihat reaksi risih dari Pak Dimas saat aku menatapnya.Namun yang membuat ku sakit,dia seakan-akan tak berniat menyingkirkan tangan Jennika dari lengannya.Darah ku mendidih sampai ke ubun-ubun.Aku batal mengirim pesan ke Maliq dan memutuskan menerima tawaran makan siang dengannya.
Tak berapa lama ponsel ku berdering,kulihat panggilan masuk dari Maliq.Aku segera mengangkat nya.
"Aku sudah didepan ini Ren." Dan benar saja aku melihat Maliq sudah di depan kantor,dia duduk diatas motor matic yang terakhir aku tahu itu adalah inventaris dari kantor nya.Waktu itu aku sempat meledek nya,Pak manager inventaris nya cuma motor.Namun ternyata dia juga dapat inventaris mobil cuma dia malas kalau harus keluar membawa mobil,ribet kata nya.
__ADS_1
Aku segera berlari keluar dan tanpa aba-aba naik diboncengannya.
"Sekarang adek cantik mau makan siang apa?" sebelum jalan dia menanyakan aku ingin makan apa.
"Hmmm...pengen ikan bakar." karena tiba-tiba aku teringin makan ikan bakar.
Maliq mulai menjalankan motor nya.Kami makan di warung ikan bakar dan seafood tempat kami makan malam dahulu.Begitu masuk kepelataran warung aku melihat mobil kantor yang dibawa Pak Wiryo terparkir disana.Ingin membatalkan namun Maliq sudah terlanjur berhenti dan memarkir kan motor nya.
Mau tak mau aku mengekori Maliq dari belakang."Ih cepetan,jalan nya udah kayak gery aja." Yang dimaksud gery oleh Maliq adalah keong peliharaan Spongebob.
Kami duduk dimeja yang ada disudut dan posisi duduk ku tepat dihadapan Pak Dimas.Jarak kami cukup dekat.Ketika mereka berbicara aku bisa dengan jelas mendengar nya.Begitu pun sebaliknya.
Melihat ku makan diwarung yang sama, Pak wiryo tersenyum dan menyapaku.Aku membalas tersenyum dan mengangguk kepadanya.
"Adek cantik mau pesan apa?" Maliq yang dengan tak tahu malu nya memanggil ku dengan sebutan adik cantik,membuat pelayan yang bertugas menulis pesanan kami tersenyum.
Aku menendang kaki nya yang ada dihadapanku sambil membelalakkan mata ku tanda protes padanya.
"Ih koq nendang kaki abang sih.Mbak,liat deh,menurut mbak dia ini cantik atau nggak?" dengan tak tahu malu nya dia malah meminta pendapat kepada si mbak pelayan.Wajahku yang berubah merah semerah tomat hanya bisa memukul dahi ku lalu tertunduk.
"Iya emang cantik koq.Aku saja yang perempuan suka melihat nya."Aku hanya tersenyum tipis mendengar pujian dari pelayan tersebut.
"Nah kan aku nggak bohong,si mbak aja bilang kamu nya cantik.Kalau kamu mau,udah aku jadiin pacar loh dari pertama kita ketemu." Lagi gombalan Maliq membuat aku tercengang dan si mbak pelayan tertawa.Sekilas kulihat Pak Dimas menatap kearah kami.Aku yakin dia dengan jelas mendengar ucapan Maliq tadi.Aku melihat pandangan tak suka yang ditujukan nya pada kami.
Aku tak begitu perduli dan memilih melanjutkan untuk memilih menu.Aku memesan ikan bakar,cah kangkung,dan untuk minumannya aku memilih es teh pahit.
"Loh tumben kamu minum yang pahit?" Maliq berkomentar saat aku memilih minum es teh pahit.
"Iya nggak apa-apa,cuma pengen ngebandingin aja.Mana yang lebih pahit,es teh pahit ini atau kehidupan ini."Maliq yang mendengar jawaban ku hanya tertawa.
Maliq memesan ikan bakar dan udang telur asin.Untuk minumannya dia memilih jus semangka.Pilihan yang sangat cocok di siang yang cukup terik ini.
__ADS_1