
Tak berapa lama Rendy sudah kembali,dia memapahku berjalan ke meja makan.
"Aku sudah cukup kuat berjalan sendiri Ren." Rendy seolah tak mendengar ucapan ku.Dia terus memegangi tangan dan bahu ku.
Kulihat dimeja makan sudah ada 2 mangkok bakso.Kami akhirnya makan siang berdua.Aku melihat Rendy makan bakso tanpa saus dan cabai.Penasaran aku pun bertanya.
"Kenapa makan bakso nya cuma pakai kecap saja?kenapa tidak ditambahkan saus atau cabai giling."
Rendy menatapku dan kemudian berkata kalau dia tidak suka makanan pedas.Perut nya akan bermasalah jika diisi dengan makanan pedas.
Aku hanya mengangguk dan melanjutkan makan ku.Setelah aku memperhatikan Rendy aku merasa tidak asing dengan wajahnya.Cuma aku lupa pernah melihat nya dimana.
"Hmmmm....Ren,apa kita pernah bertemu sebelum nya?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Menurutmu,apa kamu masih mengenaliku?"Rendy menjawab namun masih terus melanjutkan kegiatan makannya.
"Entah lah,mungkin itu hanya perasaan ku saja." Aku menggedikkan bahu ku,karena aku memang tidak tahu dimana aku pernah melihat nya.
"Di kereta,aku yang meminjamkan selimut pada mu." Aku benar-benar terkejut mendengar jawaban dari Rendy.
Yaa..Aku ingat waktu itu aku pulang ke kota T untuk check up kesehatan ku,aku duduk dengan seorang pria di kereta.Namun karena aku tertidur sepanjang perjalanan aku tidak begitu memperhatikan orang yang duduk disebelah ku.Dan ternyata itu Rendy.
"Kenapa? terkejut ya? Kita sering bertemu loh,tapi kamu nya saja yang nggak sadar." Lagi-lagi Rendy membuat ku bingung.
"Maksud nya?"
"Di pusat perbelanjaan,kamu main game pukul-pukul kepala buaya dengan semangatnya,sendirian lagi.Setelah itu kamu makan direstoran cepat saji sambil nangis sendirian."
__ADS_1
Rasa nya aku malu sekali mendengar penjelasan dari Rendy.Aku hanya mengerucutkan bibir ku.Seperti nya tidak ada kesan yang baik yang kutinggalkan, ketika aku bertemu dengannya.
"Kenapa kamu bekerja disini?Katanya kamu mau melanjutkan kuliah." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Memang,ini pun hanya sementara.Kamu nggak tahu kan sebenarnya Ko Dimas itu sepupu ku.Jadi mama nya Ko Dimas itu kakak dari papa aku.Keluarga Halim dan Rahardja itu sebenarnya bersaudara.Masa kamu nggak tahu.Terkenal loh di kota R." Rendy menjelaskan panjang lebar.
Aku memang tidak tahu kalau keluarga mereka terkenal di kota R.Karena aku juga tidak berasal dari kota itu.Memang aku pernah tahu nama ibu nya Pak Dimas adalah Suliana Rahardja.Aku tahu itu juga dari Merry.Dan nama bapak nya Sudjatmiko Halim.Dan Rendy nama lengkap nya Rendy putra Rahardja.
Lalu aku iseng bertanya dengan Rendy bagaimana orang tua Pak Dimas.Rendy mengatakan kalau tante nya itu orang yang cukup baik,walaupun sedikit cerewet.Dia orang yang rajin berdarma dan sembahyang ke vihara.Kalau om nya orang nya pendiam persis seperti Pak Dimas.
Rendy juga bilang kalau Pak Dimas itu sebenar nya kurang cocok dengan papa nya.Karena dari dulu dia ingin membuka usaha sendiri.Tapi papa nya ingin dia meneruskan usaha keluarga.Akhirnya dia bekerja untuk mengumpulkan modal untuk membuka usaha nya nanti.
Entah mengapa aku merasa bernasib baik bertemu dengan Rendy.Aku jadi bisa mencari informasi tentang Pak Dimas.Aku mengulum senyum ku.Nanti aku akan bertanya lebih dalam lagi padanya.Kalau sekarang aku banyak bertanya dia pasti akan curiga.
Selesai makan aku merasa cukup sehat.Aku mandi dan berpakaian rapi lalu turun kebawah.Ketika Rendy melihatku dia sedikit terkejut.
"Cuma mau ngerjain laporan saja,besok pagi sudah harus dikirim ke pusat."Aku menjawab sambil berlalu kemeja ku.
Merryana yang melihatku juga menanyakan keadaanku.Aku senang sekali bekerja disini,aku mempunyai teman-teman yang cukup perhatian.Aku merasa sudah betah bekerja dikantor ini.
Sampai malam ini pun Pak Dimas belum menghubungi ku.Pesan yang kukirim padanya juga belum dibaca nya.Dari tadi aku hanya membolak balikkan badanku diranjang.Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 21.00 wib.Aku begitu gelisah memikirkan kabar Pak Dimas.Sedang apa dia sekarang?apakah dia baik-baik saja.
Tiba-tiba ponsel ku berdering,ku lihat nama Pak Dimas ada dilayar ponsel.Aku segera mengangkat nya.
"Halo.."
"Ren,tolong buka kan pintu aku dibawah." Aku terkejut saat dia mengatakan kalau dia ada dibawah.Namun aku tetap turun kebawah untuk membuka pintu.
__ADS_1
Begitu aku membuka pintu kulihat Pak Dimas sudah berdiri disebelah motor sport nya.Helm masih menempel dikepala nya.Aku heran kenapa dia nekat kembali kesini malam ini.
"Pak Dim,apa-apaan ini?Bapak naik motor kesini,sendirian malam-malam begini?" Aku masih menatap nya tidak percaya.
"Merry bilang kamu sakit.Aku kepikiran terus.Masih demam? masih pusing?" Pak Dimas menyentuh dahi ku.
Ya Tuhan bagaimana aku tak meleleh dengan semua perhatian dan perlakuan manisnya.Dia bahkan rela menempuh perjalanan malam dengan mengendarai motor,hanya karena ingin bertemu dengan ku.Sungguh aku tak akan pernah menyesal mengenal lelaki ini.
Aku mengajaknya masuk namun Pak Dimas malah menarik lengan ku.
"Kamu belum makan malam kan? kita cari makan dulu."
"Tapi pak,aku udah pakai piama gini?aku ganti baju dulu sebentar." Aku hendak masuk kembali berniat mengganti baju ku.Namun dia malah menarikku.Dia bilang aku cantik dengan pakaian apapun.Bahkan jika aku memakai daster robek sekalipun.Aku hanya tersenyum malu mendengarnya.
Kami makan di warung nasi uduk yang tidak begitu jauh dari kantor.Pak Dimas bertanya tadi aku sarapan dan makan siang apa? Aku menjelaskan kalau Rendy yang mengurus makan ku seharian ini.Aku melihat raut tidak suka diwajah nya.
"Jangan terlalu dekat dengan anak itu."
"Kenapa pak?karena dia sepupu Pak Dim ya?" Pak Dimas langsung terkejut mendengar kata-kataku.
" jadi dia sudah cerita sama kamu?"Aku hanya menganggukkan kepala ku.
"Dia dekat sekali dengan mamaku,aku tak mau dia bicara yang macam-macam ke mama."
Aku hanya terdiam,bahkan suatu saat nanti harus nya orang tua nya akan tahu tentang hubungan kami.Kami melewati makan malam ini dengan hening.Setelah kembali ke Mess,Pak Dimas menyuruh ku mencuci muka dan menyikat gigi.Aku patuh dan mengerjakan perintah nya.Saat aku keluar dari kamar mandi dia masih duduk dikursi makan.Dia mendekatiku dan membelai kepalaku,mengatakan kalau aku harus segera tidur dan jangan bermain gadget lagi.Aku hanya mengangguk dan berlalu kekamar ku.
Bagaimana aku bisa sepatuh ini dengan nya.Dia bahkan terlihat seperti orang tua ku.Sebelum tidur aku masih melihat ponsel ku sejenak.Seharian ini Maliq tidak ada menghubungiku.Pesan nya pun tidak muncul di kotak masuk ku.
__ADS_1
Kenapa aku jadi merindukannya.Dia seperti seorang kakak yang baik untukku.Dia juga begitu memperhatikan masa depan ku.Dia Muhammad Maliq Atalah.