Kita Dan Kisah Yang Belum Usai

Kita Dan Kisah Yang Belum Usai
Ayo kita menikah


__ADS_3

Sudah lewat dari seminggu,namun pertanyaan yang dilontarkan Maliq belum juga aku jawab.Bahkan rencana dia mau mengajak ku untuk berkenalan dengan keluarga nya harus gagal.Karena tiba-tiba dia harus kembali ke kota K tempat nya bekerja,karena ada masalah dengan beberapa bawahannya.Entah mengapa aku merasa senang.Aku merasa benar-benar lega.


Seminggu ini pula aku tak mendapat kabar dari Dimas.Dia seperti hilang ditelan bumi.Aku pun terus disibukkan dengan pekerjaan ku.Hari ini aku harus pulang kerja sedikit malam dari biasanya.Ketika aku keluar dari pintu kantor, hujan turun dengan cukup deras.Mang Satpam menyarankan ku memesan taxi online saja.Ketika aku membuka aplikasi di ponsel ku ternyata daya ponsel ku habis.Aku memang seceroboh ini.Kalau cuaca seperti ini angkutan umum pun jarang lewat.Apalgi sudah diatas jam sembilan malam.


Cuaca semakin dingin,aku berdiri didepan kantor.Aku sempat memikirkan hal konyol untuk menginap di pos satpam malam ini.


"Mbak Shareen,koq nggak jadi pesan taxi online nya?" Mang satpam mungkin heran melihat ku sudah berdiri setengah jam di depan kantor.


"Ponsel aku kehabisan baterai mang?jadi nggak bisa buka aplikasi deh.Si mamang ada charger nggak? boleh pinjam?"


"Ada,tapi saya nggak tahu cocok nggak dengan ponsel nya mbak shareen." Si mamang pun mengajak ku ke pos satpam.Dan sial nya charger milik nya tidak cocok dengan ponsel ku.


"Mang,boleh pinjam ponsel nya nggak?untuk menghubungi teman ku."Aku memang berniat menghubungi Elissa.Mang satpam menyerah kan ponsel nya.Berkali-kali aku mendial nomor Elissa namun tidak diangkat oleh nya.Mungkin dia sudah tertidur,apa lagi cuaca nya yang mendukung seperti ini.Perut ku terasa perih,karena aku memang belum makan malam.


Terbayang oleh ku betapa enaknya makan mie instant kuah dicuaca seperti ini.Aku sudah menghayal jika sampai tempat kost aku akan menyeduh mie instant dan menikmati nya sambil menonton drakor kesayanganku.Namun,Elissa tak juga mengangkat telepon nya.Aku hanya hafal nomor Elissa dan nomor Dimas.Tapi mana mungkin aku menghubungi Dimas.Sementara sudah seminggu ini kami tidak ada berkabar.


Setelah menimbang beberapa saat akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Dimas.Aku mendial nomor nya,ada nada sambung,namun panggilan ku tidak dijawab.Aku mencoba menelepon nya lagi,tidak berapa lama ada suara wanita diujung sana yang menjawab telepon ku.Aku terpaku dan hanya bisa terdiam.Karena tidak ada jawaban dari ku, dia akhir nya memutuskan sambungan teleponnya.Ada rasa nyeri dihatiku.Apa mungkin itu kekasih Dimas.Kenapa hatiku menjadi sakit membayangkan ini.


Aku mengembalikan ponsel mang satpam dan berjalan keluar dari pos satpam.Aku berjalan linglung ditengah hujan.Dalam sekejap jilbab dan baju ku sudah basah kuyup diterpa hujan yang cukup deras.Tiba-tiba sebuah mercy hitam berhenti didepan ku.Sosok tinggi dengan berpayung hitam keluar dari mobil dan berjalan kearah ku.


"Kamu kenapa hujan-hujanan seperti ini?" Dia memayungiku dan membawa ku masuk ke mobil nya.Aku hanya patuh dan duduk di kursi depan sebelah pengemudi.Aku masih tak menyangka bahwa itu adalah Dimas.Baru saja aku menelepon nomor nya, dan yang menjawab suara perempuan.Tapi kenapa sekarang dia ada disini?


Dimas membungkus tubuhku dengan handuk tebal yang ada dimobil nya.

__ADS_1


"Kamu kenapa hujan-hujanan Ren?Kamu apa nggak bisa pesan taxi online?atau kamu hubungi aku kan bisa."Dimas terus mencecarku dengan pertanyaan.


"Ponsel aku kehabisan daya.Tadi aku nelpon Ko Dimas pakai ponsel mang satpam,tapi malah perempuan yang angkat." Aku menjawab sambil mengeratkan handuk yang membungkus tubuh ku.


"Iya,ponsel aku tertinggal tadi di meja receptionist di Rumah sakit.Mungkin yang menjawab tadi salah seorang suster yang sedang piket.Ini aku baru mau kembali ke Rumah Sakit,mau mengambil ponsel ku."


Dimas mengemudikan mobil nya mengarah ke RSU Halim Medical Center.Dia bergegas turun dan masuk ke Loby rumah sakit untuk mengambil ponsel nya.Aku sendiri memilih menunggu nya dimobil.Tidak berapa lama dia sudah masuk kembali ke mobil.


"Dingin banget ya?Baju kamu basah semua ren.Kita ke cafe aku aja ya, lebih dekat dari sini" Dimas menatapku sambil menyalakan kembali mesin mobil nya.Aku hanya diam tidak berkomentar.Badanku mulai menggigil kedinginan.


Hanya butuh waktu lima belas menit,kami sudah sampai di D'Cafe.Dimas langsung membawaku naik keruangannya.Dia menyuruh ku mandi dan mengganti pakaian dikamar nya.


"Tapi aku kan nggak bawa baju ganti ko?"


Aku masuk kekamar dan membuka lemari kaca tiga pintu,ada banyak kemeja yang tergantung.Diantara kemeja Dimas,ada beberapa potong tunik lengan panjang dan kaos lengan panjang untuk perempuan.Ada juga jilbab polos segi empat dengan berbagai warna yang tersusun dirak paling atas.Di rak kedua ada celana panjang dan beberapa pasang piama perempuan.Dan ini semua seukuran dengan tubuh ku.Ketika laci lemari ini kubuka aku menemukan pakaian dalam wanita yang masih baru.Bagaimana mungkin dia menyiapkan ini semua untuk ku.Aku hanya bisa tercengang menyaksikan ini semua.


Selesai mandi aku mengeringkan rambut ku dengan hairdryer.Tiba-tiba mataku tertuju pada botol obat yang ada dimeja nakas.Isi nya sama dengan pil yang kutemukan di laci dashboard mobil nya.Ketika aku masih memperhatikan obat ini,tiba-tiba pintu kamar terbuka.Dengan cepat aku menutup kepala ku dengan jilbab.


"Upss...Sorry Ren,aku pikir kamu sudah selesai.Aku mau mengajak mu makan malam."Dimas hanya berani berdiri didepan pintu.


"Ini obat siapa ko?"Aku menunjukkan botol obat kepada Dimas.Raut wajah Dimas langsung berubah.Ada keterkejutan yang tidak bisa dia tutupi.


"Ko Dimas bisa jelasin ini?" Aku semakin penasaran.

__ADS_1


"Nanti saja aku jelaskan,ayo kita makan dulu." Dimas berlalu berjalan keruang kerja nya dan duduk di sofa menungguku.


Aku makan dengan cepat dan lahap.Rasanya sudah tak sabar ingin mendengar langsung penjelasan dari Dimas tentang obat anti depresan hasil temuanku.


"Makannya pelan-pelan saja,jangan terburu-buru.Tidak baik untuk pencernaan mu."Dimas selalu menasehatiku jika aku makan dengan tergesa-gesa.Aku tak terlalu memperdulikannya.Kuletakkan diatas meja mangkuk bekas wadah mie ku.


"Aku sudah selesai ko,sekarang Ko Dimas bisa cerita padaku."


"Eh.."Dia mengerutkan dahi,bergantian memandang ku dan mangkuk mie yang isi nya baru dimakan setengah oleh nya.


"Upss,sorry aku pikir Ko Dimas sudah selesai makannya.Habiskan saja dulu Ko mie nya."


Dimas meletakkan mangkuk mie dimeja,kemudian menatap ku serius.Aku yang ditatap seperti ini menjadi sedikit jengah.


"Shareena Hashi,ayo kita menikah!"


"Eh.." Sejenak aku tercengang dengan apa yang baru saja Dimas ucapkan.Namun sejurus kemudian aku tersadar dan tertawa.


"Hahhaha..,Ko Dimas kadang bercanda nya suka melampaui ekspektasi ya!"


Bahkan jika ucapan nya ini hanya bercanda,pun telah sanggup memporak-porandakan hatiku dengan sekejap.Kata-kata yang terlihat begitu tulus mampu menghangatkan sudut-sudut hatiku.


Bercanda nya Dimas sudjatmiko memang beda.Dia yang memang terlahir serius,atau memang aku yang terlalu berharap kalau ini memang bukan sekedar guyonan.

__ADS_1


__ADS_2