
Beberapa saat kami hanya saling berpandangan.Aku yakin bukan hanya aku yang terkejut.Lelaki dihadapan ku pun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Siapa bang yang datang?" terdengar suara Bu Asmah yang berjalan mendekat.
"Eh,Shareen.Bang Maliq,kenapa tamu nya nggak disuruh masuk?Ini loh tetangga baru kita yang waktu itu pernah mama ceritakan."Bu Asmah menarik tanganku dan membawaku masuk ke dalam rumah.
Aku duduk di sofa ruang tamu, dan meletakkan tiga tingkat wadah makanan di meja.
"Loh ada acara apa Ren,kok banyak banget makanannya?" Bu Asmah duduk disebelah ku.
Maliq yang duduk dihadapanku masih terus memandangiku.Melihat tingkah Maliq Bu Asmah hanya tersenyum.
"Bang,kok sebegitu nya sih mandangin Shareen?cantik kan bang?tapi sayang sudah jadi istri orang.Jangan macam-macam ya bang!"Mendengar ini aku menjadi salah tingkah dan tersenyum canggung.Maliq memandang ku dengan tatapan yang sulit kuartikan.
Bu Asmah pamit sebentar sambil membawa makanan dari ku.
"Ini maksud nya apa? jadi kamu yang membeli rumah disebelah?" Maliq tidak tahan untuk tak bertanya padaku.Aku hanya mengiyakan dan mengangguk lemah.
"Sudah berapa lama kamu menikah?apakah dengan Dimas?"Maliq menyilangkan kedua tangannya didada dan duduk bersandar di sofa.
"Hampir dua bulan.Aku belum ada waktu memberitahu bang Maliq.Semua begitu tiba-tiba.Acaranya pun hanya sederhana.Kemarin aku sudah berniat memberitahu saat direstoran sushi tapi tiba-tiba perut ku sakit."
"Bagaimana dengan orang tuanya?apa mereka bisa menerima mu?"
"Ayah nya cukup welcome.Ibu nya masih belum bisa menerima ku.Dia butuh waktu." Aku menghela nafas.Dan berniat pamit pulang.Namun ketika aku ingin berlalu dia menarik tangan ku.
"Ren,kita masih bisa berteman kan?Tolong bersikap seperti biasa terhadap ku.Jangan berpikir untuk menghindari ku.Jika kamu ada masalah apapun tetap cerita pada ku."Aku hanya mengangguk dan melepaskan pegangan tangannya.
Aku berjalan linglung memasuki rumah.Mengapa semua begitu kebetulan.Bagaimana jika Dimas tahu kalau rumah Maliq bersebelahan dengan rumah kami.Apa yang akan dilakukan Dimas,apa dia akan menjual rumah ini?Tapi aku sudah terlanjur menyukai rumah ini.
Aku duduk termenung diruang tengah.Maliq orang yang baik bahkan sangat baik.Bukan hanya sekali dia menyatakan perasaan nya padaku.Bu Asmah juga orang yang baik.Namun,mungkin takdir kami hanya sebagai teman.
Aku mendengar suara mobil Dimas memasuki garasi.Aku berjalan ke teras untuk menyambut nya.Dia keluar dari mobil membawa pet cargo yang berisi dua ekor anak kucing.
"Ih kucing siapa ini? lucu banget."Aku mengintip dari sela-sela pet cargo.
__ADS_1
"Suka nggak?"Dimas bertanya sambil tersenyum padaku yang masih menatap gemas anak kucing persia yang tidak terlalu kecil.
Aku mengangguk dengan antusias.Dan membuka penutup keranjang.Aku mengambil salah satu anak kucing yang bulu nya bercorak putih dan bercampur abu-abu.
"Untuk menemani kamu dirumah,kalau aku harus dinas keluar kota atau luar negri." Mendengar ini aku mengerutkan mulut ku.
"Ko Dimas bakalan sering dinas luar ya?" Aku bertanya sambil mengelus anak kucing dalam gendongan ku.
"Papa bilang aku harus sudah ikut mengurus bisnis properti nya.Mungkin dua minggu sekali aku harus ke kota R." Dimas merangkul ku dengan sebelah tangan nya dan membawa ku masuk ke dalam rumah.
"Kalau aku nggak kerja,aku mau ikutin Ko Dimas terus.Tapi aku kan kerja."Aku menghela nafas.
"Ya sudah kamu resign saja.Memang nya uang yang aku kasih setiap bulan belum cukup?Aki malah senang kalau kamu bisa ikut kemanapin aku pergi." Dimas mengeluarkan seekor kucing yang lain dan memangku nya.
"Aku bakalan resign kalau aku sudah punya anak." Entah kenapa setelah mengatakan ini pipiku langsung bersemu merah.
Dimas langsung tersenyum menatap ku.Lalu berkata,"Karena kamu begitu menginginkan seorang baby,kita akan berusaha lebih keras dan lebih giat lagi."
Aku.........
Apakah aku sudah salah bicara?
Sore hari nya Dimas mengantar ku ke kelas mengemudi.Aku akan masuk seminggu tiga kali.Dimas mengatakan kalau aku sudah bisa mengemudi sendiri,dia tidak akan khawatir kalau dia harus keluar kota.
Setelah sebulan belajar aku sudah cukup mahir mengemudi.Dimas berencana membelikan ku mobil baru.Aku mengatakan kalau aku menginginkan mobil yang biasa-biasa saja.Bahkan aku meminta honda jazz grey nya yang ada dikota R.Mendengar ini Dimas hanya tertawa.
"Kalau begitu,minggu depan kita ke kota R naik kereta.Pulang kesini kita bawa si grey." Mendengar dia mengatakan ini aku langsung mengangguk setuju.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan juga ke kota C.Aku rindu ingin bertemu dengan Merryana dan anak nya Errya.Pasti dia sudah besar sekarang."Aku berbicara dengan penuh semangat.
"Ya...mungkin usia nya sudah empat tahun sekarang."Dimas tersenyum menatapku sambil mengelus puncak kepala ku.
Sebelum kami berangkat ke kota R,aku menitipkan sepasang kucing persia ku,cimoy dan cimol pada Elissa.
Kami berangkat naik kereta malam.Sabtu pagi kami sudah sampai di kota R.Kami beristirahat di rumah Ko Dimas.Dirumah Ko Dimas hanya ada dua orang pembantu yang tinggal untuk membersihkan rumah.Sementara Ayah dan Ibu mertuaku masih di kota M.
__ADS_1
Jam sepuluh pagi kami berkunjung kerumah bang Rahman.Di rumah bang Rahman kami hanya sebentar karena kami langsung pergi ke kota C.Sepanjang perjalanan aku mengingat kembali masa-masa dahulu.Aku tak pernah menyangka bisa mengunjungi kota ini kembali bersama Dimas yang sudah menjadi suami ku sekarang.
Ditengah perjalanan aku merasa pusing dan mual.Aku pikir aku pasti mengalami mabuk kendaraan.Dimas menyuruh ku untuk tidur.Aku terbangun ketika Dimas menepuk lembut pipi ku.
"Shareen,kita sudah sampai." Dimas mengelus pipiku dengan lembut.
Aku mengucek mataku dan membuka nya perlahan.Dimas mencoba menghubungi Merryana.Tak berapa lama Merryana menjawab panggilan Dimas.Dimas menanyakan dimana tempat tinggal nya sekarang apakah masih tinggal dirumah mertua nya atau tidak.Ternyata Merryana sekarang sudah membeli rumah dikota C.Setelah memberitahu alamat nya kami langsung menuju kesana.
Dimas menghentikan mobil didepan rumah bercat hijau.Rumah Merryana tidak terlalu besar,namun terlihat asri dan sejuk.Didepan rumah nya terdapat pohon rambutan.
Ketika kami turun aku melihat seorang anak perempuan kecil sedang bermain diteras rumah nya.Aku yakin itu adalah Eryya.Aku turun sambil membawa beberapa kotak makanan,kue dan coklat yang sengaja kubawa dari kota M.Aku juga membelian beberapa pasang pakaian untuk Errya.
Merryana yang melihatku dan Dimas datang langsung berlari menghambur memelukku.Penampilan Merryana sekarang sudah berubah.Dia telah memakai hijab.Dia terlihat begitu cantik.
Dia mengajak kami masuk kerumah.Dimas mendekati Erryana yang terlihat malu-malu.Setelah beberapa saat dia langsung akrab dengan Dimas.
Merryana merasa terkejut mendengar berita pernikahan kami.Aku memang tidak memberitahu nya kemarin kalau aku akan menikah dengan Dimas.Kini pernikahan kami sudah berjalan hampir 6 bulan.
"Shareen,kamu beruntung.Dimas itu orang yang baik dan penyayang."Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata Merryana.
Melihatku membawa banyak bingkisan,Merryana hanya menggelengkan kepala.Dan mengatakan kalau aku tidak berubah dari dahulu.Paling suka menghamburkan uang.
Menjelang sore,kami berpamitan pulang pada Merryana.Kami berjanji akan mengunjungi nya lain kali.Diperjalanan pulang aku hanya tertidur.Ketika sampai di kota R hari sudah malam.Aku terbangun ketika Dimas menghentikan mobil nya didepan restaurant yang aku ingat harga sate nya cukup mahal.
Aku memesan beberapa jenis makanan,sekarang aku tidak peduli dengan harga makanan direstaurant ini.Karena aku tahu kalau uang Dimas ternyata tidak berseri.
Aku makan dengan begitu lahap nya.Dimas yang melihat ku makan hanya bisa menggelengkan kepala nya.
"Pelan-pelan saja Ren,nggak ada yang mau minta makanan kamu."
"Lagi pula percuma minta makanan aku,aku juga nggak bakalan ngasih kok."Aku menjulurkan lidah ku.Dimas hanya tertawa melihat tingkah ku.
"Ren,akhir-akhir ini porsi makan kamu nggak seperti biasanya deh."Dimas menggeser kan piring berisi sate ke hadapan ku.
"Iya nih ko,aku juga nggak tahu.Mulut aku pengen makan terus."Aku meminum jus jeruk hangat yang baru diantar oleh pelayan.
__ADS_1
"Apa mungkin kamu hamil Ren?" Mendengar kata-kata Dimas aku langsung tersedak.Melihat ku yang terus terbatuk-batuk Dimas menepuk pelan punggung ku.
Setelah kupikir-pikir memang jadwal menstruasi ku sudah lewat beberapa hari.Dimas mengatakan kalau kami akan pergi menemui dokter untuk memeriksa kan ku ketika sampai di kota M nanti.