Kita Dan Kisah Yang Belum Usai

Kita Dan Kisah Yang Belum Usai
Sop yang manis..


__ADS_3

Seminggu belakangan ini kami semua disibukkan dengan keluarnya produk baru.Sebagian karyawan bagian penjualan sibuk mengikuti training tentang spesifikasi produk baru.Pak Dimas seminggu ini pun harus pulang pergi dari kota C ke kota R.Biasanya jam lima sore dia pulang ke kota R dan esok hari nya sekitar jam 11 siang dia baru sampai lagi di kota C.


Intensitas pertemuan kami semakin sedikit.Paling hanya sekali dalam seminggu ini kami makan siang bersama.Dia lebih sering berada diruangannya.Aku sendiri lebih fokus dengan pekerjaan karena terus diburu deadline.


Selama Pak Dimas pulang pergi dari Kota C ke Kota R,aku jarang keluar mess.Sepulang kerja biasa nya aku langsung mandi.Malam hari aku lebih memilih makan mie instant atau sereal.Di pagi hari aku hanya makan semangkuk sereal oat.Aku juga jadi malas menonton televisi.


Dalam seminggu ini makanan ku hanya seputar sereal dan mie instant.Siang hari aku kadang makan bakso atau mie sop dengan Kak Karina.


"Nggak bosen tiap hari sarapannya sereal?" Kak karin melihat mangkuk sereal ku sambil bergidik jijik.Dia selalu bilang kalau sereal oat itu makanan untuk orang sakit.Dia juga tidak suka bubur,kecuali bubur kacang hijau.


"Belum sih,nggak tau kalo minggu depan."aku menjawab sekenanya.


"Baru seminggu kamu udah makin kurus,pipi makin tirus,udah kayak nenek-nenek 60 tahun,kempot."Kak Karin mencoba menakuti ku.


Aku berhenti menyuap sereal ku, sebagai ganti aku memegang kedua pipiku,dan sedikit mencubit nya.


"Nggak koq,masih cubby koq.Kakak nggak usah nakut-nakutin aku lah."


"Ih dibilangin nggak percaya,yang menilai diri kita itu kan orang lain."Kak Karin masih terus meyakinkan ku.Aku memilih tak peduli dan melanjutkan kegiatan ku menghabiskan sisa sereal ku.


"Dia pasti kesepian karena koko kesayangannya tiap hari pulang ke kota R."Tiba-Tiba Merry datang dan ikut nimbrung dalam percakapan kami.


"Iya tukang ojek nya nggak ada ,sekarang dia nggak pernah kemana-mana.kesiannn....!"Kak Karin ikut meledekku.


Aku tak berniat meladeni mereka,setelah sereal ku habis aku membuka ponsel ku karena ada notifikasi masuk.Ternyata pesan dari Indrawan.Dia memberitahu ku kalau sekarang dia berada di kota T.Dia juga bilang dia kemungkinan tak kembali lagi ke kota Y tempat dia menuntut ilmu.Dia tidak bilang alasannya apa,cuma dia menyuruh ku pulang jika ada waktu.

__ADS_1


"Serius amat siapa yang ngechat?" Kak Merryana membuyarkan lamunanku.


"Hmmm...Pacarku,dia udah balik ke kota T."Aku menjawab singkat dan masih fokus kelayar ponsel ku.


"Yah,enak dong bisa melepas rindu kalian,hampir setahun kan kalian nggak ketemu?"Giliran Kak karin yang bersuara.


"Tapi aku sudah berencana mau mengakhiri hubungan kami.Aku bener-bener sudah nggak ada rasa lagi ke dia."Aku berbicara sambil menopang dagu dengan kedua tanganku.


"Eitss,jangan bilang kalau kamu mutusin dia karena kamu mulai deket dengan Pak Dimas?"Kak karin udah seperti juper di kepolisian yang mulai menginterogasi ku.


"Nggak loh kak ini nggak ada hubungannya dengan Pak Dimas atau siapa pun.Ini murni karena memang perasaan ku sudah nggak seperti dulu lagi ke dia."Aku mencoba meyakinkan mereka dan mencoba menutupi apa yang sedang kurasakan sekarang.Jujur ini semua memang karena Dimas.Dia yang sudah mengubah duniaku.Dia berhasil menggeser posisi Indra di hatiku.


Seharian aku tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaanku.Pikiran ku masih dipenuhi dengan pesan dari Indra tadi.Aku penasaran dia sedang ada masalah apa?dan kenapa dia memutuskan kembali dan berhenti kuliah.


Aku sampai melewatkan makan siang ku.Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 3 sore.Aku baru tersadar kalau Pak Dimas belum tiba juga dikota C.Biasa nya dia akan sampai pada pukul 11 siang.


Mereka berkulit putih dan bermata sipit juga.Informasi dari Merry mereka adalah pimpinan cabang dari anak perusahaan di daerah lain.Aku langsung berpikir,salah satu syarat untuk jadi pimpinan di perusahaan ini seperti nya harus berkulit putih dan bermata sipit.


Jika sepuluh tahun lagi pun aku bekerja disini mungkin posisiku akan tetap sama seperti sekarang.Apalagi aku hanya mengantongi ijazah SMA.


Ku lihat diruangan Pak Dimas mereka hanya bercengkrama,sesekali mereka tertawa,sudah seperti ibu-ibu sosialita.Aku bisa dengan jelas melihat nya karena seperti nya Pak Dimas lupa menutup tirai diruangannya.


Tiba-tiba perut ku sedikit nyeri,mungkin karena aku melewatkan makan siang ku.Aku juga merasa sedikit mual.Cepat-cepat aku berlari ke toilet.Aku mencoba memuntahkan isi perut ku.Tapi nihil tidak ada yang keluar.Aku hanya mencuci wajah ku yang terlihat sedikit pucat dicermin.Ketika aku membuka pintu kulihat pak Dimas sudah berdiri didepan ku.


"Kenapa?kamu sakit?"Ada nada khawatir dalam suaranya.Aku merasa diperhatikan,memunculkan gelenyar aneh dihatiku.

__ADS_1


"Oh nggak apa-apa pak,sedikit mual mungkin masuk angin." Aku menjawab sambil menunduk tak berani menatap wajah nya.


"Pasti kamu telat makan,belum makan siangkan?Tadi saya ada beli sop,kamu makan deh diatas,saya letakkan tadi dimeja makan.Kamu hangatkan dulu ya.habiskan saja,saya sudah makan tadi luar."


Aku hanya bengong sambil memandang punggung Pak Dimas yang masuk ke toilet.


Aku menikmati sop dengan perasaan bahagia.Aku menyukai nya,walaupun seandai nya makanan ini rasanya hambar tetap akan terasa manis dimulut ku.


Selesai makan aku bergegas turun,berniat melanjutkan pekerjaanku.


"Ini pasti Shareen kan?"Aku mengalihkan pandanganku dari layar komputer.Kulihat dua orang pria yang bersama Pak Dimas tadi sudah ada dihadapan ku.


"Iya pak."aku tersenyum menjawab pertanyaan dari salah satu pria yang ada didepan ku.Aku berdiri menyambut jabatan tangan mereka.


Pria yang berkacamata memperkenalkan dirinya David,dan yang satu nya bernama ediono.David terlihat lebih kurus dan tinggi dibanding ediono.Terlihat lebih ramah dan banyak bicara.Ediono memang tak seramah David namun juga tak sependiam Pak Dimas.


"Pantes Dimas betah di kota kecil ini dan jarang pulang ke kota R,rupa nya karena ada karyawan manis disini."Aku langsung terkesiap mendengar ucapan David.Aku tidak tahu harus menanggapi nya seperti apa,aku hanya tersenyum tipis.


"Dimas sering cerita loh,katanya kamu itu lucu."Kalimat ini muncul dari Ediono.


"Hahaha,,perasaan Pak Dimas aja itu pak,kalau saya lucu mending saya ikut stand up comedy aja ."Aku sedikit bercanda.


"Nah bisa juga itu ren,bisa dicoba itu."kali ini David yang menimpali.


Kami berbincang beberapa saat diselingi dengan candaan dan tawa.Kegiatan kami berakhir ketika Pak Dimas keluar dan mengingatkan kedua teman nya kalau sudah sore.Akhirnya mereka pamit pergi,dan berjanji akan datang lagi di lain hari.

__ADS_1


Awal nya aku berpikir kalau Pak Dimas akan ikut dengan mereka pulang ke Kota R,namun ternyata dia hanya mengantar sampai depan kantor.Melihat dia kembali masuk ada perasaan senang dihatiku yang membuat bibir ku tanpa sadar tersenyum..


__ADS_2