Kita Dan Kisah Yang Belum Usai

Kita Dan Kisah Yang Belum Usai
The End..


__ADS_3

Hidup tak mungkin selalu berjalan mulus.Begitu juga dengan rumah tangga ku dengan Dimas.Sesekali kami akan berselisih paham.Kadang kami bertengkar dan tak saling bicara.Namun itu tidak akan berlangsung lama.Malam hari nya Dimas akan memelukku kemudian mencium kening ku.


Dimas bukan tipe lelaki romantis dan perayu.Dia sedikit kaku namun tetap penuh cinta.Dia memperlakukan ku dengan baik dan lembut.Dia sedikit pencemburu.Setelah tahu kalau tetangga sebelah rumah kami adalah Maliq,sebulan kemudian dia membeli rumah baru dan mengajak kami pindah.


Hubungan ku dengan ibu mertua ku juga tak langsung membaik.Kami hanya bertegur sapa ala kadar nya jika bertemu.Terlihat harmonis diluar namun didalam begitu bergejolak.Aku tahu semua tak mudah bagi nya.Namun aku tak terlalu memikirkannya,buat ku itu hal yang wajar.Yang terpenting adalah dia bisa menerima Davin dan begitu menyayangi nya.


Saat aku dan Dimas pergi ke Jerman untuk terapi,Davin akan kutitip kan pada nenek nya.Davin termasuk anak yang pintar,dia juga jeli dalam membaca keadaan antara aku dan ibu mertua ku.Terkadang dia berusaha menjadi penengah untuk kami.


Aku benar-benar menikmati perjalanan hidup ini.Aku hanya perlu menciptakan bahagia untuk ku dan keluarga ku.Semakin dewasa,kita akan lebih sering mengalah.Untuk menjaga perasaan Dimas,aku membatasi hubungan ku dengan Maliq.Sesekali kami akan berkomunikasi lewat telepon.Atau kami akan makan bersama,tapi tentu nya tidak hanya berdua.Aku akan mengajak Dimas,Davin,dan Elisa.


Setelah menjalani terapi beberapa kali Dimas sudah tidak menggunakan tongkat lagi.Semangat nya untuk sembuh begitu kuat.Dia mulai aktif lagi mengurus usaha ayah mertua ku.Dan aku pun sibuk dengan bisnis D'Cafe.Namun ditengah kesibukan kami,kami akan tetap meluangkan waktu diakhir pekan untuk berkumpul bersama.


Dimas akan memasak untuk ku dan Davin.Kami akan duduk dengan rapi dimeja makan menunggu makanan kami.Ketika hidangan selesai kami bertiga akan makan bersama.Dulu ku pikir aku hanya akan makan berdua dengan Davin.Namun salah satu hal yang paling aku syukuri sekarang adalah aku bisa menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat ku.


Aku telah tahu rasanya kehilangan orang-orang yang aku cintai.Setiap moment adalah berharga.Jadi saat ini aku hanya ingin menikmati nya.Tak semua orang bisa menerima kita dengan baik.Namun buat ku cukup lah dengan cinta dari Davin dan Dimas.


Sore ini Maliq mengajak ku bertemu di salah satu coffee shop di kota M.Dia mengatakan hanya ingin bertemu berdua.Awal nya aku ingin menolak,namun dia mengatakan hanya sebentar saja.Akhir nya aku setuju.Aku mencoba menghubungi Dimas,namun ponsel nya tidak aktif.Jadi aku hanya meninggalkan pesan untuk nya kalau aku akan bertemu dengan Maliq.


Di coffee shop


Ketika aku datang Maliq sudah menunggu ku.Dia memakai pakaian kasual,terlihat cocok ditubuhnya.Melihat ku dipintu masuk dia langsung melambaikan tangannya dan tersenyum kearah ku.Aku duduk didepan nya.Kulihat ada secangkir espresso dihadapannya.


"Kamu mau minum apa?" Maliq menggeser daftar menu kehadapan ku.


Aku memesan Latte macchiato dan potato wedges.


"Bang Maliq,apa kabar nya?" Karena sudah hampir sebulan kami tidak bertemu,aku berbasa basi menanyakan kabar nya.


"Hmmm..tidak begitu baik."Dia mengedikkan bahu dan menyesap espresso yang dipesannya.

__ADS_1


"Kamu....terlihat bahagia Ren.Dimas pasti memperlakukan mu dengan baik kan?"


Aku hanya mengangkat kedua alis ku.


"Aku mencoba menikmati semua nya,aku bahagia jika Davin bahagia."


"Aku tidak bahagia,ketika berjauhan dari kalian.Aku merindukan saat kita makan bersama,nonton bersama dan berbelanja bersama." Suara Maliq terasa berat.


Selama hampir tiga tahun,Maliq selalu ada untuk ku dan Davin.Ketika Davin demam tinggi ditengah malam,Maliq yang membawa ke Rumah Sakit.Maliq yang menemaniku menjaga nya ketika harus dirawat di rumah sakit selama seminggu.Bahkan semua perawat mengira kalau dia adalah Ayah nya Davin.


"Bang Maliq orang yang baik,aku yakin abang akan menemukan wanita yang lebih baik dari ku.Dan akan hidup bahagia juga."


"Kenapa kamu bisa yakin kalau aku akan bahagia jika tidak bersama mu? Aku menunggu selama tiga tahun ini.Tidak,bahkan lebih.Aku sudah menunggu mu sejak lama,sejak kita pertama kali bertemu.Aku akan menerima mu dan Davin dengan tangan terbuka.Aku begitu bahagia ketika tahu kamu sudah menandatangani surat cerai mu.Aku tahu sejak lama Ren,tapi aku masih bersabar dan menunggu sampai kamu benar-benar menerima ku."


Aku hanya termangu mendengar semua kata-kata nya.Bagaimana mungkin dia secinta ini kepada ku.Dia lelaki yang tampan dan mapan,namun dia malah memilih menunggu wanita yang ditinggalkan suami nya.


Aku tak tahu apa maksud kata-kata nya ini.Apa dia berniat menjadi perjaka tua hanya karena diriku?


"Bang Maliq,tolong jangan berpikir seperti ini.Abang juga berhak bahagia.Jangan membuat aku terus merasa bersalah.Dari sejak awal komitmen antara kita hanya lah sebagai kakak dan adik kan?" Aku berbicara dengan sedikit kalut.


"Maaf ren,aku..aku..terlalu terbawa perasaan.Aku begitu menyayangi mu dan Davin.Aku cuma nggak mau kamu kecewa lagi."Kata-kata nya sedikit terbata dan terdengar melembut.


Aku hanya bisa menghela nafas berat.


"Masalah kebahagiaan ku dengan Davin biar lah itu menjadi urusan ku.Aku sangat berterimakasih karena Bang Maliq selalu ada untuk kami selama ini.Tapi kedepannya aku tidak bisa bertemu hanya berdua seperti ini.Bagaimanapun juga aku adalah perempuan bersuami."


"Aku akan pergi ke kota K.Aku berencana membeli perkebunan disana.Kemarin aku kembali kesini karena tidak ada yang menjaga mu dan Davin.Sekarang sudah ada Dimas,kehadiran ku seperti nya sudah tidak dibutuhkan lagi."


Kata-kata nya ini begitu menusuk hati ku.Seolah-olah dia ingin mengingatkan kalau dia begitu berjasa untuk kami.Aku tak dapat berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


Setelah beberapa saat aku merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan,aku memutuskan untuk pamit lebih dulu.Maliq tidak menahan ku.Namun tatapannya begitu sendu,seperti orang yang akan kehilangan sesuatu.


Aku berjalan keluar cafe,kulihat hari sudah menjelang maghrib.Aku tertegun ketika kulihat Dimas berdiri sambil menyilangkan tangannya di dada, bersandar dimobil nya.Aku berjalan mendekati nya.Dia membukakan pintu untukku.Ketika dia masuk kemobil,pikiranku masih melayang.Dia berinisiatif memasangkan seatbelt ku.


"Sudah berapa lama Ko Dimas menunggu ku?"


"Tidak begitu lama,sekitar satu jam."Dia berbicara santai sambil mengedikkan bahu nya.


Dia mengatakan satu jam itu tidak lama.


"Satu jam itu cukup lama loh ko.Kenapa koko nggak masuk saja tadi?"


"Satu jam itu nggak ada apa-apa nya Ren dibandingkan kamu yang menunggu ku selama empat tahun.Lagi pula kamu juga kan memerlukan privasi." Dia berbicara begitu tenang sambil terus fokus mengemudi.


Mendengar ini hati ku menghangat.Aku benar-benar yakin kalau aku akan baik-baik saja melewati segalanya bersama Dimas.Maliq orang yang baik,aku yakin dia juga akan menemukan kebahagiaannya sendiri.


THE END.


Ini adalah novel pertamaku,masih ada banyak kekurangan didalam tulisan ini.Penggunaan bahasa yang tidak baku,typo disana sini.Namun aku sangat berterima kasih untuk semua saran dan kritik yang membangun.Tak berharap lebih,hanya ingin menghibur pembaca.


Karakter Shareen memang sedikit plin plan,mirip seperti karakter penulis,heheheh...


Aku merasa begitu nekat membuat cerita tentang perbedaan keyakinan.Namun yang aku tahu semua agama itu akan mengajarkan kebaikan.Tidak bermaksud menyinggung atau menyalahkan salah satu agama.Yang aku tahu kita masing-masing memiliki hak untuk memilih jalan hidup kita dan keyakinan kita.


Jangan pernah bosan membaca hasil karya ku ya!


Mari kita bertemu di novel berikut nya,Be with You...


Dukungan dan saran dari kalian sangat aku butuh kan...

__ADS_1


__ADS_2