Kita Dan Kisah Yang Belum Usai

Kita Dan Kisah Yang Belum Usai
Sampai mana mampu bertahan


__ADS_3

Setelah hampir sepuluh tahun aku membenci hujan,untuk hari ini aku telah mengubah pandanganku terhadap hujan.Sebenarnya aku juga tidak benar-benar membenci hujan,sesekali aku ikut menikmati irama nya.Terkadang aku menjulurkan tanganku dari jendela kamarku hanya untuk merasakan dingin dari air nya.


Langit mulai menggelap,sebagian karyawan juga sudah pulang.Aku melihat Jennika masih diruangan Pak Dimas,masih menunggu jemputan Pak Wiryo.Bahkan ruangan kasir sendiri sudah cukup nyaman.Kenapa dia selalu menempel dengan Pak Dimas,sudah seperti anak koala dengan induk nya saja.


Semakin kesini aku semakin serakah,cinta ini membuatku ingin memiliki Pak Dimas seutuhnya.Aku menggeleng-geleng kan kepala ku berulang kali,mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran absurd ku.


Notifikasi masuk ke ponsel ku.Setelah kulihat ternyata dari Pak Dimas.Dia mengatakan kalau dia harus pulang ke kota R menemani Jennika pulang dengan kendaraan umum.Pak Wiryo tidak bisa menjemputnya karena istri nya tiba-tiba masuk rumah sakit.


Aku hanya terdiam membaca pesannya.Bahkan aku tidak tahu harus membalas apa.Itu lebih tepat nya sebuah pemberitahuan yang hanya perlu jawaban 'ya' dari ku atau mungkin dia juga tak butuh jawaban ku.Dan benar aku memang harus menjawab ya untuk pesannya.


Kulihat mereka berjalan bersisian melewati ku.Kesan yang selalu kutangkap adalah,mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi.Kulit Jennika yang putih serasi dengan warna kulit Pak Dimas.Aku membayangkan ketika aku berjalan bersisian dengan Pak Dimas bukankah aku terlihat lebih cocok sebagai pembantu nya.Tanpa sadar aku menertawakan dalam hati pikiran yang baru terlintas di benakku.


Mereka berdiri bersisian sambil menunggu kendaraan umum yang lewat.Melihat nya hatiku serasa tercabik-cabik.Jennika masih jadi pemenang nya,ya masih dia pemenangnya.Tanpa mau berlama-lama melihat pemandangan yang menyesakkan ini,aku memutuskan naik ke kamar ku.Persetan dengan pekerjaan yang belum selesai,toh besok pagi-pagi aku bisa mengerjakannya.


Sejenak aku berdiri termenung didepan jendela kamarku.Perjalanan selama dua jam apa mungkin Pak Dimas hanya diam saja?Mungkin sesekali Jennika akan tidur bersandar di bahu nya.Lalu Pak Dimas akan merangkul pundak Jennika.entah kenapa semakin memikirkannya dada ku semakin sesak.Aku meraih handuk ku di nakas memilih mandi untuk menyegarkan otak ku.


Selesai mandi aku berniat memasak mie instant.Sambil merebus mie dipanci,aku menyanyikan lagu love me like you do nya dari Ellie Goulding.Kaos oblong dipadukan dengan legging,handuk masih melilit dikepala,benar-benar gaya anak kost di akhir bulan karena makannya pun hanya mie instant.


Aku tidak suka mie yang terlalu over cooked.Jadi untuk menghasikan mie yang setengah matang, begitu air mendidih mie langsung kumasukkan dan hanya aku masak sebentar.Ketika akan menuangkan nya ke mangkuk tiba-tiba aku mendengar suara Pak Dimas menanyakan aku sedang apa.Karena terkejut rebusan mie tadi tumpah dan mengenai tanganku.


Spontan aku menjerit kesakitan,Pak Dimas dengan sigap menarik tanganku ke wastafel lalu membasuhnya dengan air yang mengalir dari keran.

__ADS_1


"Masih terasa panas nggak?" Dia bertanya padaku sedikit khawatir.Aku hanya menggelengkan kepala.Dia mematikan keran lalu membawaku duduk dimeja makan.


"Kenapa ceroboh sekali? tangan mu bisa melepuh,kemarin kaki yang terluka,sekarang tangan,besok apa lagi?" Pak Dimas sedikit marah sambil mengambil kotak obat.Dia mengoleskan salep untuk luka bakar ditanganku yang memerah.


"Apa nanti tangan aku bakalan melepuh ya pak?" aku bertanya sambil memperhatikan dia mengoles salep ditanganku dengan lembut.ya begitu lembut seolah-olah takut kalau aku tersakiti.


"Ya tergantung,tapi harus nya nggak sih."


"Ngomong-ngomong kenapa bapak bisa ada disini?bukannya tadi mau nemani kak Jennika pulang ke kota R?"


"Nggak jadi,tadi kebetulan teman aku lewat bawa mobil.Dia mau pulang ke kota R,jadi aku menitipkan Jennika pada nya."Aku hanya ber ooo panjang menanggapinya.


Karena tadi mie yang kumasak sudah tumpah,akhirnya Pak Dimas memasak dua porsi lagi.Untuk nya dan untukku.Selesai makan Pak Dimas bergegas mandi,dan aku memilih menonton drama korea.


Tak berapa lama ponsel nya berdering,kulihat nama Jennika yang tertera dilayar.Dia langsung mengangkat nya,dan aku bisa mendengar dengan samar suara manja Jennika diujung sana.


"Iya Jen,hmm..aku sedang menonton." Dia berbicara dengan sangat lembut nya pada Jennika,itu membuat ku cemburu.


"Iya,aku sudah makan mie instant tadi.Hanya sesekali bukan setiap hari aku memakannya."Kudengar Jennika protes karena dia makan mie instant.hmm...apa salah nya dengan mie instant? ketika aku menonton drama korea,mereka orang-orang korea juga sering makan mie instant,toh mereka sehat-sehat saja.Jennika ini sudah seperti papa ku saja terlalu berlebihan dengan memusuhi mie instant.


Semakin lama mendengar mereka berbincang aku semakin tidak nyaman.Apa mereka sedekat ini,bahkan mereka membahas hal remeh temeh dari mulai menanyakan sudah mandi,sudah makan,kenapa belum tidur.Ya kali Pak Dimas anak tiga tahun yang jam delapan sudah harus tidur malam.Ponakan ku saja yang berumur dua tahun tidur nya jam sepuluh malam.

__ADS_1


Seperti nya Pak Dimas mulai menyadari kalau aku tidak nyaman.Dia memilih mengakhiri obrolan tidak penting nya itu terlebih dahulu,dengan alasan perut nya tidak nyaman dan harus ke toilet.Sebuah senyuman langsung terbit disudut bibir ku.


Kali ini aku merasa menang dari si Jennika gadis manja itu.


Sesaat keadaan menjadi hening diantara kami.Hanya terdengar suara dari drama yang kutonton di tv,yang sejujur nya tak benar-benar kunikmati sejak Pak Dimas menerima panggilan dari Jennika.


Aku merasa Pak Dimas memperhatikan ku,sejurus kemudian dia merangkul pundakku.


"Aku dan Jennika cuma berteman,nggak seperti yang kamu pikirkan."Aku sedikit terkejut dengan pernyataannya.Ada desiran hangat di hatiku.


"Kalian terlihat mesra,apa mungkin hubungan seperti kalian ini yang dinamakan teman tapi mesra?" aku mulai memancing nya.


"Istilah apa itu? aku cuma berteman dengannya,lagian aku bukan orang yang suka mencari kesempatan disaat hubungan dengan pacar nya sedang bermasalah."


"Seandainya Jennika putus dengan pacarnya,apa Pak Dim berniat mendekati nya?" Aku sedikit takut mendengar jawabannya.


"Bagaimana aku harus melakukan hal segila itu Ren.Aku sudah melakukan hal ekstrim dengan berhubungan sedekat ini dengan mu Ren."Pak Dimas menjawab sambil membelai rambut ku.


Aku menyukai sikap nya ini,ya..sangat suka.


Aku sesekali melihat ke pintu kamar ku,aku takut Merry memergoki ku dengan Pak Dimas.Tadi ketika kami makan Merry sudah naik dan masuk kekamar.

__ADS_1


"Dia bakalan tahu,kamu nggak mungkin berlama-lama menyembunyikan ini dari nya." Pak Dimas seperti nya bisa membaca pikiran ku.Aku meliriknya dan menyikut perut nya dengan pelan.Dia sedikit mengaduh,dan aku hanya menyebikkan bibirku.Bahkan dia sudah menjadi sedikit berlebihan sekarang.


Apakah ini saat nya aku bahagia,aku tahu masih terlalu dini untuk menyimpulkannya.Bahkan hubungan ini tak mungkin semulus dan selancar jalan tol.Tapi aku akan mencoba menjalani nya,mungkin suatu saat kami akan menyerah dengan takdir,atau takdir lah yang akan menyerah dan mempersatukan kami.who knows.


__ADS_2