Kita Dan Kisah Yang Belum Usai

Kita Dan Kisah Yang Belum Usai
Aku tak mungkin berpaling


__ADS_3

Sahur pertama ku dikota asing dan bukan dengan keluargaku,sungguh satu pengalaman yang tak terlupakan.Rendy begitu antusias menyambut puasa hari ini.Aku tahu ini adalah puasa pertama untuk mereka.


Kami menikmati makan sahur bertiga dengan diselingi percakapan ringan.Pak Dimas juga selalu mengingatkan ku untuk mengonsumsi suplemen kesehatan.Aku hanya patuh dan melaksankan perintah nya.


Ketika siang hari Rendy mulai lemas,dia hanya terduduk dan menidurkan kepalanya dimeja kerja diruangannya.Aku yang melihat nya hanya tertawa geli.Berbeda dengannya,Pak Dimas masih kelihatan fit disiang hari.Wajahnya masih cerah berseri-seri.Aku sempat curiga,kupikir dia pasti sudah buka puasa diam-diam.Namun aku tidak melihat gelas berisi air minum diruangannya.Dan sejak tadi pun dia tidak keluar ruangan.


Sore hari satu jam sebelum jam pulang kantor kulihat Rendy keluar ruangan lalu duduk didepan mejaku.


"Ren,aku lemas banget.Berapa jam lagi buka puasa nya?" Dia bertanya sambil meletakkan dagu nya diatas mejaku.Dia terlihat begitu menggemaskan.Bibir pink nya terlihat begitu kering.


Aku melihat jam dipergelangan tanganku,kemudian berkata " sekitar satu setengah jam lagi." Mendengar jawabanku dia terlihat putus asa.


Aku hanya tertawa dan berkata "Nanti pulang kerja kita jalan-jalan sore sambil cari makanan untuk berbuka puasa yuk!" Mendengar ajakan ku dia langsung bersemangat.


"Ya sudah sekarang saja yuk!" Dia menarik tangan ku antusias.


Tiba-tiba tangan Rendy ditepis oleh Pak Dimas.


"Ini masih jam kerja,enak saja kalian mau jalan-jalan.Kamu masuk ke ruangan mu lagi sana."


Rendy mau tak mau akhirnya kembali keruangannya.


Aku pun kembali menyelesaikan pekerjaanku.Sementara Pak Dimas berjalan-jalan mengeliling ruangan kantor.Hingga sore hari dia masih begitu segar dan bersemangat.


Begitu jam menunjukkan pukul lima sore Rendy langsung menarik lengan ku.Kami berjalan kaki disore hari,menuju pasar Ramadhan.Beberapa pasang mata melihat kearah kami.Dia selalu menjadi pusat perhatian.Dia cukup tampan dengan kulit putih bersih nya.Hidungnya yang mancung,wajah nya oval,dan tubuh nya yang jangkung.Tak sedikit perempuan-perempuan muda melirik dan membicarakannya.Aku tahu mereka pasti mengagumi ketampanan Rendy.

__ADS_1


Sepanjang jalan Rendy memegang tangan ku.Aku sedikit risih dan ingin melepaskannya.Namun semakin aku berusaha melepasnya,semakin erat pula dia menggenggam nya.Akhirnya aku menyerah dan membiarkannya menggenggam jemariku.


"Nanti dimasa yang akan datang,jika Ko Dimas menyerah dengan hubungan kalian,datang lah pada ku.Aku orang yang nekat dan lebih berani dari dia."Aku terkejut mendengar kata-kata nya.Aku menghentikan langkah ku dan menatap nya tak percaya.


"Aku serius Shareen,aku menyukai mu.Tapi selama kamu masih dengan Ko Dimas aku tidak akan mungkin macam-macam dan mengganggu hubungan kalian.Ren,keluarga Pak Dimas itu tidak mungkin merestui hubungan kalian."


Aku menghela nafas,dan berkata:"Aku tahu,dan aku tak pernah berani untuk berharap."


Rendy hanya menatap ku,kemudian dia menarikku ke penjual jajanan pasar.Dia membeli semua jenis kue dan lauk.Aku tahu dia hanya lapar mata saja.Dia tidak mungkin bisa menghabiskan semuanya.Aku juga dulu seperti nya.


Ketika sampai dikantor, pak Dimas yang melihat kami membawa banyak bungkusan hanya menggelengkan kepala.


Meja sudah penuh dengan berbagai macam makanan.Dan benar dugaanku Rendy hanya mencicipi saja.Begitu masuk waktu berbuka dia lebih banyak minum air putih.Setelah itu dia merasa kenyang,dan tidak bisa menyentuh makanan-makanan yang tadi dibeli nya.


"Lain kali jangan beli begitu banyak makanan.Mau kalian apakan makanan-makanan ini? dibuang? dasar pemborosan."Pak Dimas tak henti-henti nya menceramahi kami.


"Telepon Karina,suruh dia membawa makanan yang belum kalian sentuh dan suruh dia membagikan kepada tetangga kos nya." Selesai bicara Pak Dimas langsung naik kekamar nya.Aku dan Rendy hanya saling pandang dan menggedikkan bahu kami.


Karina datang dan membawa beberapa bungkus makanan.Setelah Karina pulang aku memutuskan masuk kekamar dan mengerjakan sholat tarawih dan bertadarus.


Selama bulan Ramadhan Pak Dimas tidak pernah mengajak ku nonton acara televisi bersama.Selesai berbuka biasa nya kami langsung berisitirahat dikamar masing-masing.Aku dan Rendy juga tidak lagi membeli banyak makanan ketika berbuka.Kemarahan Pak Dimas kemarin cukup membuat kami Jera.


Pak Dimas dan Rendy berpuasa hampir penuh.Mereka tidak berpuasa saat aku juga tak berpuasa karena menstrual period.Tak jarang Pak Dimas bertanya pada ku tentang cara-cara beribadah dalam Islam.Aku hanya menjelaskan hal-hal yang aku mengerti saja.


Tiga hari sebelum lebaran aku pulang kerumah orang tua ku di kota T.Aku pasti akan merindukan Pak Dimas karena seminggu ini tidak bertemu dengan nya.Walaupun kami saling bertukar pesan rasa nya tidak akan sama dengan bertemu secara langsung.

__ADS_1


Hari ini adalah hari kelima ku di kota T.Sisa cuti ku tinggal dua hari lagi.Sore ini aku duduk diteras sambil bertukar pesan dengan Pak Dimas.Sesekali aku akan tersenyum membaca pesan dari Pak Dimas yang mengatakan kalau dia merindukan ku.


"Dari tadi senyum-senyum sendiri,pasti lagi berkirim pesan sama pacar ya?" Tiba-tiba suara papa mengejutkan ku.Aku memang tak pernah bisa menyembunyikan apa pun dari nya.Dia tahu aku telah putus dari Indrawan.Padahal aku tak pernah memberitahu nya.


"kamu lagi dekat dengan siapa sekarang? enggak berniat cerita ke papa?"


Walaupun sedikit ragu akhirnya aku menceritakan kalau aku lagi dekat dengan atasan ku.Awal nya aku takut papa akan marah kalau tahu aku berhubungan dengan lelaki yang berbeda kepercayaan dengan ku.Tapi ternyata papa tidak marah.


"Ren,kamu sudah dewasa,sebentar lagi usia kamu juga sudah 20 tahun.Kamu berhak memilih jalan hidup mu sendiri.Begitu pun dengan kepercayaan.Papa hanya bisa mengarahkan.Papa tidak berhak mengatur apalagi memaksakan kehendak papa.Hanya saja papa ingin mengingatkan,kalau kamu berpikir memilih keluar dari agama mu yang sekarang papa akan mencoret kamu dari ahli waris."


Aku hanya terdiam mendengarkan kata-kata papa.Papa juga mengatakan kalau seandainya papa nanti meninggal salah satu yang bisa menyelamatkan papa dari siksa kubur dan panas nya api neraka adalah do'a dari anak yang soleh dan soleha.


Tanpa papa berbicara seperti ini pun,aku tak pernah berpikir untuk berpaling meninggalkan agamaku.


Hari ini aku memilih naik kereta sore pulang ke kota R.Sesampainya di kota R hari sudah gelap.Kulihat jam dipergelangan tangan ku menunjukkan jarum jam keangka 9.Begitu aku keluar dari pintu kedatangan penumpang,kulihat Pak Dimas sudah berdiri menunggu ku.


Aku segera menghampirinya.Seperti biasa dia akan mengacak rambutku.Dia berinisatif membawa ransel ku dengan satu tangannya,sedangkan tangan yang lain merangkul pundakku.


Mataku mencari-cari motor sport nya,namun tak kutemui.


"Pak Dim,motor nya diparkir dimana?"


"Kita naik si grey saja." Dia berkata sambil membukakan pintu mobil honda Jazz grey,dan menyuruh ku masuk.


"Memang nya si black kenapa pak?" iya dia menamai motor sport nya denga nama si black.

__ADS_1


"Ada dirumah,lagi malas keluar dia."


Aku hanya memutar bola mataku mendengar penuturannya.


__ADS_2