Kita Dan Kisah Yang Belum Usai

Kita Dan Kisah Yang Belum Usai
kecewa..


__ADS_3

Aku tetap bersikeras pulang dengan taxi online.Akhir nya Dimas hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan ku.Disepanjang perjalanan aku masih memikirkan kata-kata Jennika.Bagaimana pun juga Dimas pernah punya perasaan pada nya.Lagi pula siapa yang tidak terpesona dengan kecantikan Jennika.Dia bak jelmaan seorang peri.


Sesampainya di kost,hari sudah maghrib.Aku bergegas melaksanakan sholat maghrib.Selesai sholat aku hanya termenung.Selama beberapa tahun ini telah banyak yang ku lalui.Aku mengejar Dimas dan meninggalkan Indrawan.Ketika Dimas sudah mulai mencintaiku aku memilih meninggalkannya.Aku menerima bantuan dari Maliq.Sekarang aku merasa berhutang budi padanya.Kini Dimas kembali,namun semua sudah menjadi begitu rumit.


Sebenarnya yang menyulitkan kita adalah diri kita sendiri.Segala sesuatu yang sudah terjadi,tidak bisa menyalahkan orang lain.Karena semua keputusan ada ditangan kita sendiri.Dering dari ponsel membuyarkan lamunanku.Kulihat nama maliq yang muncul dilayar ponsel.Aku mengangkat nya sebelum dering yang ketiga.


"Sedang apa?belum makan malam kan?cepat bersiap,lima belas menit lagi aku jemput." Suara Maliq terdengar begitu semangat.Bukannya dia lagi dikota K.kenapa tadi dia bilang akan menjemput ku.


"Jangan bercanda,memang nya Bang Maliq sekarang dimana?"


"Ya dihatimu lah!"Dengan cepat dia menjawab.


"Ih..aku serius loh Bang Maliq."aku mulai gemas pada nya.


"Iyaa..aku juga serius loh,sebenarnya kamu yang ada dihatiku." Aku hanya memutar bola mata jengah menanggapi kata-kata nya.


Segera aku bersiap,belum sampai lima belas menit pintu kamar kost ku sudah diketuk.Ketika ku buka,Maliq sudah berdiri didepan pintu.Dia membawa sebuket mawar merah.Aku hanya tercengang menatap nya.


"Kok ,tumben ngasih bunga? Ulang tahun aku kan masih lama?" Aku menerim bunga pemberiannya dan mencium aroma wangi nya.


"Memang nya mau ngasih bunga harus nunggu ulang tahun.Bunga ini untuk ngelamar kamu." Maliq berbicara dengan santai.Namun terlihat serius.


"Eh.." Aku benar-benar tercengang mendengar kata-katanya.Untuk sesaat aku tak bisa berkata-kata.Dia memang orang yang selalu spontan dalam melakukan segala hal.

__ADS_1


Maliq mengajakku untuk masuk ke mobil nya.Dia mulai melajukan mobil nya dengan santai.Berhenti di depan Cafe yang begitu kukenal.Aku mengernyitkan dahi ku.


"Kenapa harus makan disini sih?"


"Kenapa memangnya?aku pikir kamu suka makan disini.Kamu sering datang kesini kan?" Dimas sengaja menyindirku.


"Oh iya,aku jadi curiga,kenapa sih Bang Maliq selalu tahu keberadaan ku?" Aku menyipitkan mataku.


"Aku menyadap ponsel mu.Awal nya aku hanya takut kamu tersesat di kota ini.Tapi kemudian aku merasa khawatir kamu akan berhubungan kembali dengan Dimas." Maliq berbicara dengan gamblangnya?.Bahkan dia tidak meminta maaf atas perbuatannya.Tiba-tiba aku merasa dia begitu mengerikan.Aku tahu dia begitu menyayangiku,tapi cara nya ini sungguh tidak bisa dibenarkan.


"Bang Maliq sadar nggak,kalau perbuatan Bang Maliq ini sudah melanggar privacy ku.Harus nya Bang Maliq ijin dulu dong ke aku."Aku tak bisa lagi mengendalikan emosi ku.


"Okey aku salah,aku minta maaf.Tapi Ren,aku cuma nggak mau kamu terus berhubungan dengan Dimas.Semakin kamu dekat dengannya akan semakin dalam perasaanmu pada nya.Dan kamu tahu,akan semakin sulit dan sakit ketika kamu berpisah dengannya nanti."


"Melamar mu? Lalu siapa perempuan yang menggandeng tangannya itu?"Maliq menunjuk kepintu cafe dengan dagu nya.


Kulihat Jennika berjalan keluar cafe dengan menggandeng tangan Dimas.Hatiku seperti ditusuk ribuan mata pisau.Begitu sakit dan kecewa.


Maliq menyuruhku turun,namun aku hanya bergeming.Dia membukakan pintu untukku.Rasanya aku tak berdaya untuk menjejakkan kaki ku ketanah.Aku seperti ditarik kedalam dasar bumi.Melihat ku datang bersama Maliq,Dimas terlihat terkejut.Tatapan ku jatuh pada tangan jennika yang merangkul lengannya.Dengan segara Dimas menyingkirkan tangan Jennika.Aku hanya menarik sudut bibirku,tersenyum sinis pada nya.Kemudian berlalu masuk kedalam cafe.


Maliq memesan beberapa menu.Aku tak berselera makan,jadi dia yang memesan makanan dan minuman untukku.


"Kamu harus makan,jangan bertingkah bodoh.Kamu bukan anak kecil lagi.Usia mu sudah 23 tahun bukan 13 tahun."Maliq terus berbicara sambil menyodorkan sepiring omurice kehadapanku.Aku hanya menatap omurice yang aku tahu itu bukan buatan Dimas.

__ADS_1


"Memang nya kenapa kalau dia batal melamar mu?aku kan sudah bilang dari sebulan yang lalu,kalau aku akan melamar mu "Suara Maliq terdengar sedikit mencolok,beberapa orang yang sedang makan melihat kearah kami.Wajah ku langsung memerah.


"Ish,.." Aku menatapnya kesal dan menyuap kan makanan kemulut ku.


"Siapa yang bilang aku batal melamar nya?" tiba-tiba saja Dimas sudah berdiri disebelah ku.Aku sedikit terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.Maliq menarik sudut bibirnya,terkesan mencibir nya.


"Sebelum kamu melamar nya aku sudah lebih dulu melamar nya.Kalau tidak percaya tanya saja sama Shareen."Maliq mencoba memprovokasi nya.


Tatapan Dimas begitu dalam padaku.Aku menjadi sedikit canggung.


"Aku yakin Shareen tidak mencintai mu.Dia hanya merasa berhutang budi padamu."Dimas menyimpulkan sendiri tentang perasaanku.


"Kenapa kamu begitu yakin kalau Shareen tidak mencintaiku? Shareen..,apa kamu membenciku?" Pertanyaan Maliq sungguh menjebak.Aku merasa kalau dua lelaki ini terlalu berlebihan.Aku memutuskan bangkit dan pergi keluar dari cafe.Maliq yang melihatku pergi berniat mengejar.Namun Dimas menahannya dan menyuruhnya membayar bill terlebih dahulu.Sebagai ganti nya Dimas yang keluar mengejarku.


"Shareen,tolong aku bisa jelasin semua nya.Aku dan Jennika tidak ada hubungan apa-apa.Dia cuma teman,bukan kekasih apalagi calon tunangan ku." Dimas berusaha mensejajarkan langkah nya dengan langkah ku.


Aku tak berniat meladeni nya.


"Shareen,please!"Dia sudah berdiri menghadangku.Aku hanya menatap nya tanpa ekspresi.Kemudian berkata,"kita sudah terlalu jauh,semakin lama akan semakin sulit untuk melupakan.Lebih baik kita akhiri dari sekarang."


Sejurus kemudian mobil Maliq sudah berhenti di sisi ku.Aku segera naik.Dimas tak menahanku lagi.Masih ku lihat dari kaca spion diri nya berdiri terpaku menatap kepergianku.Ada rasa sesak dihatiku.Sepanjang perjalanan pulang aku hanya menatap keluar jendela.Maliq juga tak berniat berbicara lagi.Suasana menjadi begitu hening.


Sebelum aku turun Maliq meminta maaf karena sudah terlalu lancang menyadap ponsel ku.Dan mulai hari ini dia tidak akan mencampuri urusan pribadi ku lagi.Aku tak berkomentar dan memilih turun dan masuk ke kamar ku.Aku begitu kecewa dengan Maliq,namun aku lebih kecewa dengan Dimas.Kekecewaan terbesar biasa nya berasal dari pengkhianatan orang yang paling kita percaya.

__ADS_1


__ADS_2