Kita Dan Kisah Yang Belum Usai

Kita Dan Kisah Yang Belum Usai
Pernikahan tanpa restu


__ADS_3

"Jadi mau beli nggak?mau makan disini atau dibungkus saja?" Dimas tak memberi jeda dalam berbicara.


"Kalau dibungkus, makannya dimana?"Aku malah balik bertanya.


"Dimana saja juga bisa.Ya sudah kamu tunggu disini biar aku yang pesankan."Dimas langsung turun dan ikut berdiri dalam antrian.Dia terlihat begitu mencolok dari yang lainnya.Aku terus memperhatikannya dengan perasaan haru.Dia rela berdiri mengantri hanya untuk membeli makanan yang aku ingin kan.


Setelah mengantri cukup lama dia kembali dengan tiga bungkus nasi goreng.


"Kok beli nya sampai tiga bungkus?" Aku menerima plastik bungkusan nasi goreng dengan sedikit heran.


"Iya untuk teman satu rumah kamu lah."Aku baru sadar kalau dia ingin mengajak makan dirumah ku.Padahal aku ingin merahasiakan alamat terbaru pada nya.


"Ko Dimas nggak boleh kerumah aku yang baru." Aku langsung berkata tegas.


Dia melirikku kemudian berkata,"Saya nggak boleh,tapi Maliq boleh.Apa kamu tidak keterlaluan?"


"Bang Maliq belum bertunangan.Ko Dimas akan segera bertunangan.Aku hanya tidak mau saja di cap pelakor." Aku membuang pandangan ku keluar jendel.


"Shareen,menikah lah dengan ku!"Suara Dimas terdengar begitu lembut ditelinga ku.Aku langsung menatap wajah nya.


"Shareen,aku serius..aku akan berusaha membahagiakan mu."Aku yakin dengan itu,karena mendengar ini saja aku sudah cukup bahagia.Tiba-tiba muncul keegoisan dalam hatiku.Ya..aku hanya perlu menikah dengan nya dan hidup bahagia berdua.Tidak diterima oleh orang tua nya tidak masalah.Toh aku juga tidak tinggal dengan mereka.Lagipula yang menjalani ini aku dan Dimas.


Prinsip menikah dengan seseorang berarti ikut menikahi keluarga nya kini aku kesampingkan.


"Oke,ayo kita menikah."Dengan lantang aku menjawab lamaran Dimas.


Wajah Dimas langsung terlihat sumringah.Sedetik kemudian kami saling melemparkan senyum.


Dimas langsung melajukan mobilnya dengan perasaan bahagia.Dan aku,aku masih terlalu terkejut dengan jawaban ku sendiri.


Dimas menghentikan mobil nya disebuah rumah bergaya Eropa yang bercat putih gading.Aku mengerutkan dahi ku menatap nya.Melihat ekspresi ku dia kemudian berkata," Jangan takut,dengan atau tanpa restu kedua orang tua ku aku akan tetap menikah dengan mu."


Sekujur tubuhku tiba-tiba terasa dingin,ini kah perasaan pertama kali berkunjung kerumah calon mertua?

__ADS_1


Dimas mengajak ku turun.Dengan langkah berat aku mengikuti nya dari belakang.Perasaanku kini bercampur aduk.Entah kenapa kini aku merasa begitu pesimis.


Ketika masuk aku disuguhkan dengan banyak lukisan didinding rumah nya.Dimas langsung membawaku masuk keruang keluarga.Kulihat sepasang suami istri yang berusia sekitar lima puluhan tahun,sedang duduk bersantai sambil menikmati tayangan di televisi.


Melihat kehadiran kami, wajah mereka nampak terkejut.Namun laki-laki yang kutebak itu adalah Sudjatmiko Halim,langsung bersikap biasa.


"Pa,Ma..kenalkan ini Shareena." Aku langsung menyalami mereka.


Ibu nya Dimas terlihat setengah hati menerima uluran tangan ku.Ini adalah kedua kali nya kami bertemu.Raut wajah nya tidak seramah seperti pertama kali kami bertemu.Aku cukup memaklumi nya.Dia menatap ku sedikit curiga seolah-olah aku ini seorang pencuri,yang akan mencuri barang berharga milik nya.


"Pa,aku dan Shareena memutuskan akan menikah dalam waktu dekat ini." Dimas langsung to the point menyampaikan keinginannya,dia terlihat tenang dalam berbicara.Seolah-olah dia telah berlatih ratusan kali untuk melakukan adegan ini.


Aku hanya menunduk,tak berani membayang kan apalgi melihat raut wajah mereka.


"Kenapa terburu-buru?" Terdengar suara Pak Sudjatmiko yang jauh lebih tenang.Dia memang benar-benar berwibawa.Namun aku tak sepenuh nya merasa aman.Karena biasa nya air tenang itu yang lebih menghanyutkan.


Ibu Suliana begitu terkejut,terlihat raut wajahnya yang penuh dengan kekecewaan.


"Ma,aku dan Jennika tidak punya hubungan apa-apa.Jadi jangan berpikir yang berlebihan."Dimas terlihat sedikit emosi.


"Lalu bagaimana dengan perbedaan agama kalian?Berarti Shareen,kamu setuju ikut dengan Dimas kan?" Ibu Suliana menatapku.


Tidak ma,aku yang ikut dengan Shareen." Dimas yang menjawab pertanyaan untukku.Seketika Ibu Suliana terduduk lemas.


"Sudah lah ma,semua agama itu akan mengajarkan kebaikan tergantung kita manusianya." Pak Sudjatmiko mencoba menengahi.


Ibu Suliana langsung berlalu dari hadapan kami dengan berurai air mata dia mengatakan tak akan pernah merestui hubungan kami.Pak Sudjatmiko pun memutuskan untuk mengejarnya.


Dan aku hanya bisa menepuk dahi ku.Semua yang kubayangkan benar-benar terjadi.Dimas terlihat begitu santai dan mengajak ku untuk pulang.Lalu apakah kami akan tetap bahagia walaupun tanpa restu ibu nya?


"Ini aku apa nggak perlu pamit ko?" Aku masih ragu.


"Sudah nggak perlu,kalau sudah seperti ini mama biasa nya tidak mau diganggu."Aku hanya menuruti Dimas,berjalan keluar rumah.

__ADS_1


Didalam mobil aku hanya terdiam.Aku benar-benar merasa bersalah.


"Hmmm....ko apa tidak sebaiknya kita batalkan saja rencana pernikahan ini?"


"Seperti nya nasi goreng ini sudah dingin Ren.Apa kamu mau membeli nya lagi?" Dimas sengaja mengalihkan pembicaraan ku.


Aku langsung menggelengkan kepala dengan cepat.Dimas langsung mengantar ku pulang.


Malam ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.Bayangan wajah ibu Suliana yang menangis terngiang-ngiang dibenakku.Perasaanku bercampur aduk.Ada rasa bersalah,takut dan bahagia menjadi satu.Karena tak bisa tidur,aku memutuskan untuk melaksanakan Sholat istikharah memohon pentunjuk pada yang Maha Agung.


Selesai shalat aku langsung memejamkan mataku dan tertidur.Keesokan pagi nya aku sudah melihat Dimas menunggu ku didepan rumah.Ada perasaan bahagia yang menyelinap dihatiku.Ketika aku keluar rumah dia langsung membukakan pintu mobil untukku.


"Shareen,besok kamu cuti ya." Permintaan Dimas ini membuat ku sedikit bingung.


"Cuti untuk apa?"


"Aku ingin menemui orang tua mu.Aku ingin melamar mu secara resmi."


Aku......


Mengapa mendengar ini aku bisa menjadi begitu bahagia.Aku menganggukkan kepala,dan tanpa kusadari bibir ku melengkung membentuk sebuah senyuman kecil.


Karena tak sempat bercerita dirumah dengan Elissa,aku menceritakan semua pada nya dikantor.Dia hanya bisa tercengang mendengar semua ceritaku.Dia terlihat sedih karena baru sebentar kami tinggal bersama.Namun aku mengatakan kalau aku akan sering berkunjung ke villa mutiara.


Semua berjalan begitu cepat.Dimas datang menemui ibu dan kak Rahman untuk menyampaikan niat nya yang ingin melamar ku.Tak ada penolakan dari mereka.Mungkin mereka merasa aku sudah cukup dewasa,sudah berhak menentukan pilihan ku sendiri.


Dimas mengucapkan dua kalimat syahadat dibimbing oleh seorang ustadz.Semua terasa begitu sakral.Aku sangat bersyukur karena semua serasa dipermudah.


Seminggu lagi kami akan melakasanakan ijab qabul.Namun aku belum memberitahu Maliq tentang kabar pernikahan ku.Aku masih bingung,bagaimana aku harus mengatakan padanya.Ini terlalu mendadak.


Pernikahan kami digelar sangat sederhana.Hanya dihadiri oleh keluarga,jiran tetangga terdekat dan teman terdekat.Orang tua Dimas pun tidak hadir.Hal itu sangat kami maklumi.Hanya Chandra Sudjatman,satu-satu nya anggota keluarga nya yang hadir bersama Hayadi.


Terakhir aku dengar cerita dari Dimas kalau orang tua nya dan orang tua Chandra memang tidak terlalu akur.Aku tidak bertanya lebih detail apa masalah nya.Aku merasa itu adalah urusan internal keluarga mereka.Namun beruntung nya anak-anak nya semua cukup akrab dengan Dimas.

__ADS_1


__ADS_2