Kita Dan Kisah Yang Belum Usai

Kita Dan Kisah Yang Belum Usai
Rindu yang tak berujung


__ADS_3

Sudah seminggu aku tidak melihat sosok Pak Dimas disini.Aku sempat berpikir kalau dia memang menghindari ku.Kami juga tidak saling berkirim pesan.Surat pengunduran diriku sudah kuserahkan ke pusat.Hari ini aku serah terima pekerjaan ku dengan Emi,karena Merry tinggal menunggu hari untuk melahirkan.


Aku berjanji aku akan datang ketika anak Merry nanti lahir.Aku berharap dia akan lahir sebelum aku pindah ke kota M.


Sisa waktu ku dikota ini tinggal dua minggu lagi.Pagi ini kulihat langit begitu cerah.Dan nanti sore aku berencana pulang ke kota R,aku ingin membicarakan perihal kepindahan ku dengan Bang Rahman.Pekerjaan ku hari ini sedikit santai,aku hanya membantu pekerjaan Emi.Tiba-tiba ponsel ku berdering,kulihat nama Bang Rahman muncul dilayar.


"Halo Assalamu'alaikum bang."


"Wa'alaikumsalam,Ren kamu siap-siap pulang kesini sekarang juga ya.Kita harus pulang ke kota T." Perasaan ku tiba-tiba jadi tidak enak.


"Memang nya kenapa bang?kok mendadak gini?"


"Ren,papa ren,papa sudah nggak ada." Duarrr... seperti disambar petir aku mendengar kabar dari Bang Rahman.


"Innalillahi wainnailaihiroji'uun." untuk kemudian hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku.


Aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Bang Rahman.Kalimat halus yang biasa digunakan papa ku untuk mengatakan orang yang sudah meninggal.


Aku terduduk lemas dilantai,ponsel ku jatuh dari genggaman ku.Tak dapat kutahan lagi aku menangis tergugu.Karina yang melihatku langsung mendekati ku.Rendy pun langsung keluar dari ruangannya.


"Kamu kenapa ren?"Aku langsung memeluk Karina.


"Papa aku kak,papa aku udah nggak ada."Aku tak kuat melanjutkan kalimatku.Dadaku terasa sesak.Karina memapahku duduk dan memberi ku air hangat.Aku masih merasa ini hanya lah mimpi.


Pak wiryo yang baru saja datang dari kota R,di perintahkan oleh Rendy untuk mengantar ku kembali ke kota R.Aku berjalan linglung ke mobil.Rendy tak henti-henti nya menguatkan ku.

__ADS_1


Pak Wiryo membawa mobil dengan sedikit cepat dari biasa nya.Sepanjang perjalanan air mataku tak berhenti mengalir.Baru seminggu yang lalu papaku datang mengunjungi kami.Aku tak pernah menyangka kalau itu adalah pertemuan terakhir kami di dunia ini.Harus nya kemarin aku peluk papa lebih lama.


Aku merasa satu persatu orang yang kusayangi akan meniggalkan ku.Mungkinkah ini merupakan suatu peringatan untukku.


Dalam waktu satu setengah jam kami sampai di kota R.Pak Wiryo langsung mengantar ku ke Rumah Bang Rahman.Begitu turun dari mobil kantor aku langsung naik ke mobil Bang Rahman.Aku sampai lupa mengucapkan terimakasih kepada Pak Wiryo.


Disepanjang perjalanan suasana terasa hening.Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.Papa ku memang telah lama menderita hipertensi.Tapi kemarin ketika dia datang mengunjungi kami dia terlihat baik-baik saja.


Keberuntungan berpihak pada kami,hari ini jalanan tidak begitu padat.Dalam waktu empat jam kami sudah sampai di kota T.Bendera kuning berkibar di halaman rumah ku.Rumah dipadati dengan para pelayat.Papa adalah orang yang suka bersosialisasi,tak heran ada begitu banyak orang yang datang melayat.


Aku menghambur ke pelukan ibu ku.Dia hanya diam,tak ada air mata yang mengalir.Ada yang bilang jika itu terlalu pedih dan sakit air mata pun tak lagi bisa mengalir.Aku tahu diantara kami semua ibu lah orang yang paling terpukul dan kehilangan.


Papa adalah lelaki yang begitu tulus mencintai ibu.Setiap dia keluar rumah walau sekedar reuni dengan teman-temannya dia akan membawa serta ibu.Setiap sore dia akan membawa ibu berkeliling dengan motor nya.Dia akan mengantar ibu berbelanja di pasar.Dia memijat ibu ketika ibu sakit atau pun lelah.Papa adalah orang yang bisa memperlakukan wanita dengan baik.Tidak heran kalau saat ini ibu akan merasa sangat kehilangan.


Selesai Ashar papa dikebumikan di pemakaman umum yang tidak begitu jauh dari rumah kami.Semua terasa begitu cepat.Papa pernah bilang,yang jauh didunia ini adalah masa lalu,dan yang paling dekat adalah kematian.Usia muda dan tubuh yang sehat tak menjamin kita akan berumur panjang.Papa ku meninggal di usia 46 tahun.Usia yang masih terbilang muda.


Aku masih berada di pemakaman ketika semua orang telah pergi.Bang Rahman membujuk ku untuk pulang.


"Ayo pulang,kasihan ibu dirumah." Aku mengangguk dan berjalan beriringan dengannya.


Ketika aku turun dari mobil Bang Rahman,aku melihat sesosok pria yang kukenal berdiri diteras rumah ku.Dia memakai kemeja putih dan celana hitam.Aku merasa sedang berhalusinasi.Aku menggelengkan kepalaku berulang kali.Namun semakin dekat wajah nya semakin jelas.


"Pak Dimas." Aku bergumam pelan.Begitu aku yakin kalau itu memang dia aku langsung


menghambur kepelukannya.Aku menangis sesenggukan.Dia yang seminggu ini kurindukan saat ini bisa berada disini.Pak Dimas mengelus lembut kepalaku.

__ADS_1


Aku melepaskan pelukanku dan mengajak nya masuk kerumah.Pak Dimas bilang kalau dia mendapatkan kabar ini dari Rendy.


"Kamu sudah makan ren?" Pak Dimas berbicara dengan begitu lembut.Aku hanya menggelengkan kepala ku.Aku benar-benar tak berselera untuk makan apa pun.


"Kamu harus makan Ren,kalau kamu sakit kasihan ibu kamu.Sekarang cuma kalian yang bisa menghibur nya."


"Pak Dim,ini seperti mimpi pak.Seminggu yang lalu kami masih bercerita dan tertawa bersama.Kehilangan orang yang kita sayangi ternyata sesakit ini." Aku menenggelamkan wajahku dikedua kaki yang kutekuk didepan dadaku.


Kematian adalah sebuah perpisahan panjang.Rindu ini akan menjadi rindu yang tak berujung.Kepergian papa yang tiba-tiba menyisakan duka yang mendalam untuk kami.Karena papa adalah sosok yang dekat dengan istri dan anak-anak nya.


Aku cuti selama tiga hari dan selama tiga hari ini Pak Dimas selalu menemaniku.Dia menginap di salah satu penginapan yang tidak begitu jauh dari rumah ku.Hari ke empat setelah kepergian papa aku kembali bersama Pak Dimas ke kota C.Pak Dimas kemarin mengendarai mobil sendirian ke kota T.Kami memutuskan berangkat disore hari dari kota T.Pak Dimas bilang lebih enak perjalanan di malam hari.


"Ren,kamu memang berencana mau resign dan pindah ke kota M?" Pak dimas membuka percakapan kami.


"Iya pak dan ini sepertinya memang sudah jalannya.kalau aku pindah ke kota M aku akan lebih sering menjenguk ibu."


Pak Dimas hanya mengangguk mendengar penjelasan ku.


Suasana menjadi hening.Pak Dimas yang melihat ku berulang kali menguap menyuruh ku untuk tidur.Aku pun memejamkan mataku dan tertidur.


Pak Dimas menepuk pipiku pelan untuk membangunkan ku.Aku terbangun dan kulihat langit sudah mulai gelap.Pak Dimas menghentikan mobil nya dipelataran mesjid.


"Kamu nggak mau shalat maghrib dulu?saya tunggu kamu dimobil." Aku mengangguk dan segera turun untuk melaksanakan shalat maghrib.


Selesai shalat kami melanjutkan kembali perjalanan.Namun tidak berapa lama Pak Dimas membelokkan mobil nya ke sebuah restoran.Dia bilang kami akan makan malam dahulu.Dia tidak konsentrasi menyetir saat perut nya lapar.

__ADS_1


__ADS_2