Kita Dan Kisah Yang Belum Usai

Kita Dan Kisah Yang Belum Usai
Merasa jadi wanita yang beruntung


__ADS_3

Malam ini Pak Dimas berencana mengajak ku makan diluar.Karena lusa sudah puasa Ramadhan dia bilang kegiatan malam ku harus nya diisi dengan ibadah.Aku tidak pernah memberitahu nya tentang ini,tapi sepertinya dia sudah paham.


"Ren,malam ini kita makan diluar ya.Besok malam kan kamu sudah harus beribadah malam.Jadi selama sebulan kita mungkin tidak ada kesempatan makan malam diluar."


"Aku kan pasti ada libur nya pak,kalau pas ketepatan menstrual period,hehehe!"


Pak Dimas yang mendengar ucapan ku hanya menyentil dahi ku pelan.Untuk kemudian dia memegang tanganku menuruni tangga menuju lantai satu.Yah selain dia membelai kepalaku dan merapikan rambutku.Aku juga menyukai ini saat dia memegang dan menggenggam jemariku.


Kali ini Pak Dimas yang menyuruh ku memilih dimana kami akan makan malam.Dikota ini tidak terlalu banyak warung makan.Tiba-tiba aku teringat tempat makan yang terakhir aku datangi bersama Maliq.Aku langsung menyuruh nya mengarahkan motor nya ketempat itu.


Karena malam ini kami naik motor aku langsung menyuruh Pak Dimas masuk ke lorong dengan motor nya.Pak Dimas yang baru pertama kesini pun terheran-heran.Reaksi nya sama seperti pertama kali aku dibawa Maliq kesini.


"Darimana kamu bisa tahu ada tempat makan tersembunyi ini Ren?" Pertanyaan yang bisa kutebak dan ini pasti akan ditanyakannya.


"Dari teman."Aku menjawab singkat.


"Teman..teman yang mana?Merryana atau Karina?kenapa aku tidak tahu? Setahu ku teman mu disini hanya lah karyawan perusahaan." Aku hanya diam mendengar penuturannya.


"Ouuhh...pasti dari Maliq kan?Sudah berapa kali kamu makan disini dengannya?" Ada nada tak suka dalam ucapannya.


"Hanya sekali,lagi pula kami hanya berteman."


Mendengar ini Pak Dimas hanya mencibir.


"Kamu tahu Ren,tidak ada didunia ini yang namanya persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan.Salah satu diantara mereka atau pun mungkin keduanya pasti ada yang menyukai atau pun mengagumi."


Pak Dimas benar,bahkan aku dengan Indrawan dulu nya bersahabat untuk kemudian kami berpacaran.Begitu pun Maliq dia juga pernah mengungkapkan rasa suka nya padaku.Aku tak ingin melanjutkan pembahasan ini dan langsung menyerahkan buku menu kepada nya.


Setelah memesan beberapa menu dan sang pelayan telah pergi,Pak Dimas memandangiku.Aku menjadi sedikit salah tingkah.

__ADS_1


"Sudah kemana saja kamu dibawa sama si Maliq itu?" Aku terkejut dengan pertanyaan Pak Dimas.


"Maksud nya pak? oh..ayolah pak dia cuma mengajak ku keluar makan sesekali.Dan kami sekarang juga jarang berkomunikasi,dia pun sudah dimutasi ke kota lain."


"Bagus lah,jadi aku tidak perlu khawatir kalau kamu akan jalan dengannya lagi."


Aku........setidak nya dia cemburu berarti dia mencintai ku.


Kami menyantap hidangan makan malam kami dengan hening.Pembahasan Maliq benar-benar mempengaruhi suasana hati Pak Dimas.Selesai makan Pak Dimas langsung mengajakku pulang.Alasannya aku harus banyak istirahat.Aku hanya menurut padanya.Sampai di kantor aku langsung naik keatas.Ku lihat Rendy sedang menonton acara televisi.


"Dari mana kamu Ren? keluar makan dengan Ko Dimas ya?" Aku tak mungkin berbohong jadi aku hanya mengangguk.


"Kamu sudah makan malam?" Aku mencoba berbasa basi pada Rendy,lalu duduk disebelahnya.


"Aku makan buah dan oatmeal.Biasa nya aku jarang makan malam kalau tidak karena terpaksa."


"kamu on diet?badan kamu sudah bagus koq."


"Kamu menggemaskan Ren.Aku takut sekali aku akan menyukai mu." Sekali lagi aku tercengang mendengar nya.


Tiba-tiba suara Pak Dimas mengejutkan kami.


"Kenapa belum istirahat Ren?" Aku tidak tahu sejak kapan Pak Dimas sudah berada disini.


"Ya ampun ko,ini masih jam sembilan malam loh.Shareen bukan anak TK,lagi pula dia masih ingin nonton bareng aku.Iya kan Ren?" Rendy menjawab Pak Dimas dan kemudian merangkul pundakku.


Aku menjadi salah tingkah sendiri.kenapa Rendy menjadi sok akrab begini dengan ku.


"Shareena Hashi..cepat cuci muka mu dan sikat gigi.Setelah itu masuk kekamar mu." Aku hanya patuh dan kemudian pergi kekamar mandi.Rendy hanya tercengang melihat reaksi ku.Keluar dari kamar mandi aku melihat Pak Dimas masih berdiri didepan tangga yang mengarah ke lantai 3.Sepertinya dia sengaja menunggu ku.

__ADS_1


Sebelum aku masuk kekamar,Pak Dimas mengingatkan ku untuk mengunci pintu kamar ku.Begitu aku masuk kekamar,samar ku dengar percakapan antara Pak Dimas dan Rendy di luar.


"Koko kok segitu nya sama Shareen?Koko suka sama dia ya?atau mungkin kalian sedang pacaran ya?Ya ampun ko,aku nggak bisa ngebayangin gimana reaksi tante Ana kalau tahu ini."


"Jangan coba-coba menyampaikan apa pun pada mamaku.Dan kalau sampai mamaku tahu berarti itu dari mu."


"Ih enak saja.Aku bukan tipe orang yang suka mengadu domba ya."


Hanya itu,karena kupikir pasti Pak Dimas sudah naik kekamar nya.Yang ku dengar kemudian hanya suara televisi.


Aku bahkan sedikit penasaran bagaimana reaksi keluarga Pak Dimas seandainya mereka tahu hubungan kami.


Namun tidak sekarang,aku belum punya keberanian untuk menghadapi kenyataannya.Karena aku pun yakin tidak mungkin Pak Dimas mengorbankan keluarga dan orang tuanya.Seandai nya saja dia adalah Romeo yang rela mati untuk Juliette.Namun masalah nya aku juga bukan Juliette yang rela mati untuk Romeo.


Setelah melaksanakan sholat isya aku memilih memejamkan mataku.Aku terbangun ketika alarm di ponsel ku berdering berkali-kali.Dengan sedikit malas aku bangkit dari tidur ku.Langit masih gelap.Sayup-sayup kudengar Adzan subuh berkumandang.Selama dikota ini,ini pertama kali nya aku terbangun saat adzan subuh terdengar.Aku merasa menjadi hamba yang paling sombong didunia ini.


Aku menunaikan shalat subuh dalam keheningan.Selesai shalat aku merasa begitu tenang.Ternyata shalat bisa membuat ku sedamai ini,aku jadi merasa menyesal karena selama ini sering melalaikannya.


Selesai shalat subuh aku melakukan olahraga ringan dikamar ku,hanya sekedar untuk meregangkan otot-otot tubuh ku yang kaku.Aku membuka jendela kamar,udara dingin dipagi hari langsung memenuhi kamar ku.


Samar ku dengar suara bising di dapur.Karena penasaran aku keluar kamar.Kulihat Pak Dimas sedang duduk di kursi makan sedang mengikat tali sepatu olahraga nya.


"Loh Pak Dim mau lari pagi?" Aku bertanya sambil mendekati nya.


"Iya kamu mau ikut?" Pak Dimas menawarkan tanpa memandang ku.


"Hmm..lari nya dimana? jauh nggak?"


"Disekitar sini saja,nanti pulang nya sekalian kita sarapan nasi gurih yang dipersimpangan tiga itu." Aku pun langsung menyetujuinya dan kembali kekamar mengganti baju dan memakai sepatu olahraga ku.

__ADS_1


Begitu aku keluar kamar kulihat Rendy sudah berdiri disamping Pak Dimas lengkap dengan pakaian dan sepatu olahraganya.Pagi ini aku merasa sebagai wanita yang paling beruntung karena dikawal oleh dua orang pria tampan.


Kami berlari sekitar 1 jam,aku sendiri hanya sanggup berlari sebentar.Nafas ku langsung sesak dan kaki ku terasa pegal.Pak Dimas bilang aku harus rajin berolahraga.Karena fisik ku terlalu lemah.Aku hanya memajukan bibirku menanggapi ucapannya.


__ADS_2