
Setelah insiden di cafe antara aku,Dimas dan Maliq,aku memilih menyibukkan diriku dengan pekerjaan.Aku juga memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru.Aku hanya tidak mau terus berhutang budi pada Maliq.Awal nya oma Ratih melarang ku pindah.Namun aku beralasan kalau aku akan dipindahkan ke kantor cabang.Jadi aku harus mencari tempat tinggal yang lebih dekat.
Aku meminta bantuan Elissa untuk mencari sebuah rumah.Dengan gaji ku yang sekarang,rasa nya aku sudah mampu untuk menyewa sebuah rumah.Lagi pula Elissa berencana tinggal bersama ku.Untuk sewa rumah kami bisa berbagi.
Kami mencari rumah dikawasan perumahan yang sedikit lebih jauh dari pusat kota.Komplek perumahan Villa Mutiara Residence.Tempat nya cukup aman.Sewa nya juga tidak terlalu mahal.Kami hanya perlu membayar lima belas juta rupiah setahun.Rumah nya memang tidak terlalu besar.Namun memiliki keamanan yang cukup baik.
Libur hari sabtu ini,kami manfaat kan untuk berbelanja mengisi perabotan dirumah.Kami membeli beberapa perlengkapan dapur.Kami membeli lemari pedingin,mesin pencuci pakaian,dan beberapa perlengkapan untuk memasak.Kami juga membeli televisi baru dan AC untuk kamar kami.
"Ren,seperti nya aku harus mencari side job nih.Uang tabungan ku sudah menipis Ren."Elissa terduduk lemas disofa ruang tengah tempat kami menonton televisi.Nafas nya tersengal-sengal karena lelah membersihkan rumah.
"Tenang saja sebentar lagi bonus tahunan akan cair.Bakalan tebal lagi tuh dompet kamu." Melihat ku mengatakan ini,mata Elissa langsung berbinar.Aku hanya menyebikkan mulut ku melihat reaksi nya.
Tak berapa lama ponsel ku berdering.Kulihat Maliq yang menelepon.
"Maksud kamu apa ren? kenapa pindah rumah tanpa memberitahu ku?" Sebelum aku mengucapkan halo,Maliq sudah mencecar ku dengan pertanyaan.
"Aku masih sibuk berbenah jadi nggak sempat menghubungi Bang Maliq.Lagi pula aku tinggal dengan Elissa sekarang.Bang Maliq tak perlu khawatir."
"Kamu masih marah pada ku ya Ren? Aku kan sudah minta maaf,kamu nggak mau maafin aku?Allah saja selalu memaafkan hamba nya yang bertaubat Ren." Mendengar ini aku ingin sekali mengatakan pada nya kalau aku bukan Tuhan,aku hanya manusia yang tidak sempurna,yang bisa saja sakit hati.
"Enggak aku sudah nggak marah kok.Hanya saja menyewa rumah seperti ini rasanya lebih nyaman.Dan aku punya teman cerita setiap malam." Mendengar ini Maliq tidak berkomentar lagi,dia hanya menyuruhku untuk bisa menjaga diri.
"Ren,kamu dengan Maliq tidak berniat menjalin hubungan? Sayang loh,Maliq itu tampan dan mapan.Dan kelihatannya dia suka deh sama kamu." Elissa berkomentar begitu ku akhiri pembicaraan ku dengan Maliq.
"Aku malas Sa dengan yang nama nya berpacaran.Lagi pula aku sudah menganggap Maliq itu sudah seperti abang aku sendiri.Aku masih mau fokus dengan kuliah.InsyaAllah tahun depan aku sudah wisuda.Dan setelah itu aku mulai menabung untuk aku traveling."Aku menatap langit-langit sambil tersenyum,membayangkan semua rencana ku.
__ADS_1
Elissa hanya mengedikkan bahunya.
"Kamu itu beruntung Ren,lepas dari Dimas masih ada Maliq.Ibarat nya seperti kehilangan Emas masih ada platinum."
"Ih istilah apaan itu?"Aku hanya menggelengkan kepala menanggapi ucapan Elissa.
Aku tak pernah mau peduli ketika orang merasa aku lah yang paling beruntung,biar lah mereka berpikir seperti itu.Sebenarnya yang paling tahu dan merasakannya hanyalah kita sendiri.Bahagia kita tak selalu sama dengan bahagia orang lain.Itu lah mengapa aku hanya perlu bersyukur dan bersyukur.
Hari ini Pak Leo mengajak ku untuk mengunjungi Rumah Sakit Halim Medical Center.Namun aku menolak dengan alasan ada jadwal pertemuan dengan klien yang lain.Sudah sebulan aku dan Dimas tidak berkomunikasi.Aku berpikir kalau dia memang sudah menganggap hubungan kami sudah berakhir.
Sore hari sepulang dari kunjungan pak Leo ke RSU Halim Medical Center,dia menemui ku.
"Ren,ada berita terbaru loh.Tadi aku dengar dari staff rumah sakit katanya Pak Dimas itu mau bertunangan ya?Kamu sudah dengar kabarnya belum?Soal nya kemarin sewaktu di Beijing kan kalian terlihat akrab sekali." Gaya Pak Leo bercerita sudah persis seperti ibu-ibu yang belanja di tukang sayur keliling, yang hobi nya bergosip.
Aku hanya menggelengkan kepala dan mengatakan kalau aku belum menerima undangannya.Pak Leo hanya manggut-manggut dan berlalu keruangannya.
Namun yang kurasakan malah sebaliknya.Ada rasa tak rela yang menggelayut dihatiku.Ada penyesalan yang tak bisa ku gambarkan.Aku merasa hati ku benar-benar kosong.Tak menyangka kemarin adalah perjalanan pertama dan terakhir ku berdua dengannya.
Aku kembali menenggelamkan diriku dengan pekerjaan.Ketika aku keluar kantor langit sudah gelap.Hari ini satpam yang piket jaga adalah mang Udin.Ketika dia melihat ku keluar kantor dia langsung mendekati ku.
"Mbak Shareen paling akhir pulang ya?Mbak,dari tadi sudah ditungguin loh." Aku mengerutkan dahi ku menatap mang Udin.
"Siapa mang yang nungguin saya?" Aku melihat kekanan dan kekiri.
"Itu mbak,mobil nya parkir diseberang jalan sana."Mang Udin menunjuk sebuah mobil hitam yang berhenti diseberang jalan.
__ADS_1
Tiba-tiba jantung ku berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya.Kulihat Dimas keluar dari dalam mobil dan berjalan mendekati ku.Ingin lari menghindar rasa nya sudah tidak mungkin.Rasanya seperti kekanak-kanakan sekali.
Ketika Dimas berdiri dihadapan ku,mang Udin sudah kembali ke pos satpam.
"Kamu banyak kerjaan ya,sampai malam begini baru pulang?"Dimas melirik jam yang melingkar ditangannya.
"Iya lumayan."Aku hanya menjawab singkat.
"Belum makan malam kan? Hmm..mau makan malam bareng?" Dia terlihat sedikit ragu.
"Pak Dimas apa nggak masalah kalau keluar makan dengan saya? nanti tunangan bapak cemburu?" Aku sengaja menyindir nya.Kulihat air muka nya langsung berubah.Aku merasa ada yang salah dengan kata-kata ku.
Dimas langsung menarik tangan ku menyeberangi jalan.Aku berusaha melepaskan genggaman nya.Aku berjalan mengikuti nya dari belakang.Dan kemudian masuk ke mobil.Di dalam mobil dia menyuruh ku memakai seat belt.Dengan gerakan malas aku memakainya.Belum sempat seatbelt ku terpasang dengan benar,dia sudah melajukan mobil nya dengan cukup kencang.Walapun aku sedikit takut namun aku tak mau berkomentar.
Aku tidak tahu dia mau membawaku kemana.Yang pasti ini sudah sangat jauh dari arah pulang kerumah ku.Kulihat wajahnya begitu dingin.Sudah sebulan ini aku tak melihat dan mendengar suara nya.Pertemuan hari ini benar-benar mengobati rindu ku.Aku hanya meliriknya tak berani menatap nya langsung.
Dia melambatkan laju mobilnya saat melewati jalan yang cukup padat kendaraan.
"Mau makan apa?" Sudah berjalan sejauh ini dia baru menawari ku untuk makan.Aku hanya diam,pandangan kualihkan keluar jendela.Tiba-tiba aku melihat ada warung nasi goreng yang begitu ramai dipinggir jalan.Aku jadi penasaran.
"Aku mau makan itu!" aku menunjuk warung nasi goreng yang ramai dengan orang mengantri.Dimas hanya menaikkan sudut bibirnya.Dia memutar balik mobil nya menuju ke warung nasi goreng tadi.Mobil berhenti tidak jauh dari warung.Kami tidak langsung turun.Melihat begitu banyak manusia yang mengantri aku jadi ragu.Pasti ini akan memakan waktu yang cukup lama.
"Apa makanan nya enak banget ya,kok banyak sekali yang beli."Aku bergumam sambil memperhatikan antrian yang cukup panjang.
"Belum tentu juga,jangan-jangan mereka juga baru mau mencoba."Aku mengernyitkan dahi ku menatap Dimas.
__ADS_1
"Ya sekarang banyak manusia seperti itu,menilai sesuatu itu dari luarnya saja.Tanpa bertanya atau mencari tahu sudah langsung percaya."Dimas menyebikkan mulut nya dan mengangkat sedikit bahu nya.
Aku langsung sadar kalau kata-kata Dimas ini mengandung ironi yang ditujukan padaku.