
Aku tak berselera makan,namun Pak Dimas terus memaksa ku.Akhirnya aku makan hanya tiga suap.
"Kalau kamu tidak makan,kamu akan sakit Ren.Kamu tidak kasihan sama ibu kamu?"
Aku terdiam mendengar ucapan Pak Dimas.
"Bagaimana aku bisa melepas mu tinggal sendirian di kota M,kalau kamu tidak bisa menjaga dirimu sendiri." Sejak kapan dia merasa punya kewajiban untuk menjagaku.
Akhir nya aku mengalah dan makan beberapa suap lagi.Namun perut ku terasa mual.Aku berlari ke toilet dan memuntahkan makanan ku.Ulu hati ku terasa sakit.
Setelah membasuh wajahku aku keluar dari toilet.Pak Dimas sudah berdiri didepan toilet dengan wajah cemas nya.
"Apa sakit sekali?" Dia bertanya sambil membantu memapahku.
"Aku masih sehat pak."Aku menyingkirkan tangannya,dan berjalan kembali kemeja ku.
Aku tak melanjutkan makan lagi.Dia hanya menyuruhku minum teh hangat.Selesai Pak Dimas makan kami melanjutkan perjalanan lagi.Kepala ku sedikit pusing jadi aku hanya memejamkan mataku dan tertidur.
Aku terbangun ketika mobil berhenti di pelataran SPBU.Aku tak melihat Pak Dimas disebelahku.Namun sesaat kemudian pintu mobil terbuka.Dia datang dengan membawa dua cup minuman panas.
"Kamu sudah bangun? ini teh mint,minum pelan-pelan ya,ini masih panas." Dia menyodorkan cup berisi teh panas.Aku menerima nya dan meletakkan di dashboard mobil.Kulihat dia menyesap pelan kopi hitam nya.
"Pak Dim ngantuk ya?" kulihat dari kantong matanya dia mungkin tidak beristirahat dengan baik akhir-akhir ini.
"Iya,saya sedikit mengantuk.Tidak masalah kan kalau kita istirahat sebentar?" Aku hanya mengangguk.
Dia memundurkan kursi nya membuat posisi yang nyaman untuk berbaring.Tak menunggu lama kulihat nafas nya sudah teratur.Karena dari tadi aku sudah tertidur aku tak mengantuk lagi.Aku menurun kan sedikit kaca mobil,sambil menyesap teh hangat aku melihat pemandangan malam dari kaca jendela mobil.
__ADS_1
Aku memeriksa ponsel ku,masih ada beberapa teman yang mengucapkan belasungkawa melalui pesan singkat.Ada satu nomor tak dikenal yang mengirim pesan.Aku sedikit penasaran dan membuka nya ternyata itu dari Indrawan.Dia menyampaikan permintaan maaf karena tidak bisa datang melayat.Saat ini dia sedang berada diluar kota.Aku membalas pesannya mengucapkan terimakasih dan memaklumi ketidakhadirannya.
Setelah lima belas menit Pak Dimas terbangun.Dia pergi ke toilet untuk membasuh wajah nya.Aku hanya menunggu di mobil.Ketika dia masuk aku sudah menyimpan ponsel ku.Bermain ponsel saat mobil berjalan bisa membuat kepala ku pusing.
Pak Dimas menyalakan mesin mobil nya.Sebelum nya dia bertanya apakah aku lapar dan ingin makan sesuatu.Aku menjawab kita bisa berhenti jika menemukan minimarket nanti.Karena aku ingin membeli makanan manis.Dia hanya mengangguk,mengusap kepala ku dengan lembut dan kemudian melajukan mobil nya.
Mungkin ini akan menjadi perjalanan terakhir aku bersamanya.Disisa perjalanan aku tak ingin tertidur lagi.Kami masih harus menempuh kira-kira tiga jam lebih perjalanan lagi.Pak Dimas mengemudikan mobil dengan santai.Seperti nya dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu berdua.
"Ren,apa yang kamu bicarakan kemarin dengan mama saya?" Pak Dimas bertanya tanpa melihat ku.
"Membicarakan bapak.Ibu nya Pak Dim meminta saya menjauhi bapak."Aku menjawab sambil melempar pandanganku keluar jendela.
"Lalu kamu bilang apa padanya?"
"Ya saya mau,saya bilang saya akan melanjutkan kuliah saya diluar kota dan menjauhi bapak."
"Heh..Kenapa sekarang kamu yang menyerah?" Pak Dimas berkata sambil mengangkat sudut bibirnya,terkesan meremehkan ku.
"Jadi maksud kamu saya tidak pantas diperjuangkan?"
"Saya nggak sanggup kalau harus berjuang sendirian.Berjuang sendirian itu capek pak."
Hal yang paling menakutkan adalah ketika kita mencintai seseorang dengan penuh,namun dia membalas cinta kita hanya separuh.
Kami berhenti di sebuah minimarket.Aku membeli beberapa cokelat dan snack keju.Sedangkan Pak Dimas hanya membeli sebungkus kecil snack rumput laut atau nori.Aku baru sadar kalau dia tidak begitu suka mengonsumsi makanan ringan.Dia cuma suka makan snack rumput laut ini.Beberapa kali aku melihat snack ini di laci nya.
"Jangan terlalu sering mengonsumsi makanan manis." Pak Dimas berkata sambil memasang seatbelt.
__ADS_1
"Tidak sering hanya sesekali." Aku menjawab sambil mengerucutkan bibir ku.Dia hanya tersenyum melihatku kemudian melajukan mobilnya.
Kami sampai di kota C sudah larut malam.Aku langsung mandi dan pergi tidur.Aku terbangun ketika adzan subuh berkumandang.Selesai shalat subuh aku merebahkan tubuh ku kembali di ranjang.Semua barang-barangku sudah ku susun di kotak.Aku akan menggunakan jasa pengiriman barang untuk mengirim nya ke kota M.Kemarin Maliq sudah memberitahukan alamat kost ku disana.
Bang rahman pun sangat mendukung ketika aku cerita kalau aku akan pindah ke kota M.Awal nya Bang Rahman ingin membawa ibu pindah ke kota R.Tapi ibu menolak meninggalkan rumah kami.Katanya sudah terlalu banyak kenangan dia dengan papa dirumah itu.
Aku menatap langit-langit kamar ku.Lamunan ku buyar saat ku dengar suara ketukan di pintu kamar .Ketika ku buka pintu,Pak Dimas sudah berdiri didepan kamar.
"Ayo sarapan!"
"Saya lagi tidak selera pak."Aku hendak menutup pintu kamar,namun Pak Dimas langsung menahannya.
"Ayo lah Ren,kamu jangan seperti ini.Nanti magg kamu kambuh."Pak Dimas terus memaksa.Akhir nya aku mengalah dan mengikuti nya ke meja makan.
Dimeja makan sudah tersedia tiga bungkus nasi gurih.
"Tidak ada bahan makanan di kulkas jadi saya membeli nasi gurih."
Pak dimas membuka bungkus makanan dan menyodorkan ke hadapan ku.Aku hanya diam memandang seporsi nasi gurih dihadapanku.
"Sini saya suapi."Dia langsung duduk disebelah ku,dan menyodorkan sesendok nasi gurih ke mulutku.Aku menerima suapan dari nya.Ada rasa haru yang menyerbu hati ku.Kenapa dia bisa begitu baik memperlakukan ku.Tak pernah sekalipun terucap dari bibir nya kalau dia mencintaiku.Namun semua sikap dan tindakannya seolah-olah menunjukkan kalau dia pun mencintaiku.
Suapan demi suapan masuk ke mulutku.Air mata ku pun menetes membayangkan aku akan segera berpisah dengan nya.Rasa nya aku ingin tetap disini bersamanya.
Dia menghapus air mata ku dengan ibu jari nya.Dia hanya diam tak bicara sepatah kata pun.Membiarkan ku meluapkan setiap emosi dan kesedihanku.
Aku merasa Tuhan begitu tidak adil padaku.Harus nya Dia mengambil seseorang yang kusayangi dan menggantikannya dengan yang lain.Namun Dia mengambil orang yang paling kusayangi dan menjauhkan ku juga dari orang yang sangat kucintai.
__ADS_1
"Ren,saya bukan orang yang baik.Saya juga sudah bilang ini dari awal.Saya tidak punya begitu banyak keberanian untuk menyakiti perasaan orang tua saya.Saya minta maaf karena tak memilih mu.Namun bila di masa depan kita bertemu lagi,saya berharap kita bertemu dalam keadaan yang lebih baik lagi.
Jika boleh aku meminta,di waktu yang akan datang aku tidak ingin bertemu dengan nya lagi.Aku berharap kisah kami ini benar-benar telah usai sampai disini.