
Aku memberikan seporsi bubur ayam pada satpam yang sedang bertugas.seporsi lagi kuberikan pada Elissa yang baru saja sampai di kantor.
"Eh,kamu berhutang cerita padaku.Ayo siapa lelaki tajir melintir yang semalam menjemput mu." Elissa menarik tangan ku untuk duduk di sofa di ruang lobi.
"Nanti malam saja kita cerita,aku traktir kamu ngopi ya."Aku berdiri dan meninggalkannya yang terlihat kesal.
Aku masuk keruanganku dan meletakkan tas dimeja.Ketika aku membuka ponsel betapa terkejut nya aku,wallpaper nya sudah diganti dengan foto ku bersama Dimas.Sandi ponsel ku memang tidak pernah kuganti sejak dulu.Aku hanya menggelengkan kepala dengan tingkah konyol nya, yang mengganti wallpaper di handphone ku.
Aku menyantap bubur ayam ku sambil terus memandangi wallpaper di ponsel ku.Ada pesan masuk dari Honey.Aku mengernyitkan dahi,aku merasa tidak pernah menyimpan nomor kontak teman atau saudara dengan nama Honey.Setelah kubuka pesannya,aku baru sadar kalau ini adalah nomor Dimas.
"Jangan diganti wallpaper nya,ponsel ku juga pakai wallpaper yang sama."
Aku hanya menggelengkan kepala dan tidak berniat membalas pesannya.
Aku teringat pil yang kudapat kan dari laci dashboard mobil nya.Aku segera menanyakan kebagian farmasi tentang jenis dan kegunaanya.Aku cukup terkejut mendengar jawabannya,ternyata itu adalah obat anti depresan.Apakah ini ada hubungannya dengan kwitansi yang tadi kutemukan juga?Apakah Dimas mengalami depresi?
Berbagai pertanyaan memenuhi kepala ku.Aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Dimas.Namun darimana aku bisa mendapatkan informasinya.Tiba-tiba aku teringat Merryana.Mungkin saja dia tahu.Aku mencari nomor Merryana di ponsel.Ketika aku bermaksud menelepon Merry,Pak Leo datang dan mengajak ku untuk menemui seorang klien.
"Shareen,klien yang kita kunjungi hari ini masih ada hubungan saudara dengan Pak Chandra Halim.Dia sendiri yang merekomendasikan pada kita.Dia ini memiliki beberapa Rumah Sakit di Kota M ini." Aku hanya mengangguk mendengarkan penjelasannya.
"Bisnis dia selain Rumah Sakit juga properti.Sekarang bisnis Rumah Sakit yang memegang anak nya.Tapi banyak yang bilang anak nya ini lebih sulit diajak bernegosiasi.Kamu harus bisa menarik perhatiannya."Aku tidak mengerti dengan pembicaraan Pak Leo.
__ADS_1
"Maksud Pak Leo menarik perhatian seperti apa?" Aku mengernyitkan dahi ku,perkataan Pak Leo terlalu ambigu buat ku.Pak Leo menepuk dahi nya.
"Maksud saya kamu harus pandai-pandai berbicara dan mengambil hati nya." Aku hanya ber o panjang menanggapi kata-kata nya.
Kami sampai di Rumah Sakit Halim Medical center.Rumah sakit ini cukup besar.Kami tidak bisa langsung bertemu dengan presdir Rumah sakit ini.Walaupun kami sudah membuat janji untuk bertemu,kami tetap harus menunggu.Setelah setengah jam,kami diijinkan oleh sekretaris pribadi nya untuk menemui presiden direksi diruangannya di lantai 4.Kali ini yang akan kami tawarkan adalah kerja sama dibidang pengadaan alat-alat kesehatan dan medis.
Ruangan presdir ini cukup luas,didominasi warna abu-abu dan putih.Terdapat tanaman hidup yang diletakkan disudut ruangan.Aku dan Pak Leo dipersilahkan duduk di sofa,menunggu presdir yang sedang menerima telepon.Dia berdiri membelakangi kami.Melihat punggung nya dari belakang aku merasa tak asing.Dan benar saja ketika dia berbalik,sukses membuat ku tercengang.Namun ekspresi nya hanya biasa saja melihat ku.Tidak ada keterkejutan yang tampak diwajahnya.
Dia berjalan mendekati kami sambil tersenyum.Duduk dihadapanku dengan begitu anggun dan berwibawa.Bagaimana mungkin orang ini mengalami depresi,dia terlihat sehat-sehat saja.Pak Leo langsung mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.Begitu pun aku melakukan hal yang sama.Dia seperti tak mengenalku.Apa mungkin ini yang dinamakan profesionalisme dalam pekerjaan.Entah kenapa ada sedikit rasa kesal dihatiku melihat sikap nya.
Sekretaris lelaki nya menanyakan pada kami ingin minum apa.Pak Leo ingin kopi hitam dengan sedikit gula.Aku memilih kopi dengan sedikit krimer.Ya..aku sengaja memancing nya.Biasa nya dia selalu melarangku jika aku minum kopi.Namun kali ini dia tidak bereaksi.Wow,sandiwara yang apik sekali.Bahkan baru tadi pagi dia membelikan ku tiga porsi bubur ayam.Dan sekarang seolah-olah dia baru mengenalku.Benar-benar akting yang bagus.
"Saya tidak bisa langsung memutuskan proyek kerja sama ini.Karena kami masih ada kontrak satu bulan lagi dengan supplier yang lama.Jadi ini akan kami bicarakan nanti dirapat direksi,apakah kami memutuskan mengganti supplier atau tetap melanjutkan kontrak yang lama." Aku hanya tercenung mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Dimas.
Pak Leo pun menanggapi dengan tawa yang terdengar garing di telingaku.Persis seperti yang dia katakan,Presdir ini adalah orang yang sulit untuk dirayu.Ketika minuman kami datang,dengan sedikit kesal aku langsung meminum kopi yang diletakkan didepan ku.Aku lupa kopi ini masih panas.Sensasi terbakar kurasakan dimulutku.Aku langsung menyemburkan kopi ku dan mengenai kemeja putih Dimas yang duduk tepat didepan ku.
Wajah Pak Leo langsung berubah merah padam.Dengan cepat dia mengambil tisu yang ada dimeja.Dan membantu membersihkan bekas kopi dikemeja Dimas.Aku pun dengan cepat meletakkan gelas kopi dimeja.Dan berulang kali meminta maaf.
"Maaf,maaf Pak Dimas,saya benar-benar tidak sengaja." Aku begitu gugup dan membantu Pak Leo membersih kan sisa kopi yang ada dimeja.
"Oh,tidak apa-apa.Mbak Shareen apa baik-baik saja.Kopi itu masih panas loh,mulut mbak tidak apa-apa kan?" Apa,dia memanggilku dengan sebutan mbak.Aku hanya tercengang menatapnya.
__ADS_1
"Pak Dimas,kami benar-benar minta maaf.Shareen ini baru di divisi marketing,ini yang kedua kali nya dia menemui klien.Maaf atas ketidaksopanan ini." Pak Leo berulang kali meminta maaf.
Setelah insiden semburan kopi kami langsung pamit undur diri.Di lift Pak leo hanya menepuk dahi nya sambil menggelengkan kepala nya.
"Sorry ya pak,aku benar-benar nggak sengaja tadi pak." Aku mengerucutkan bibir ku.
"Aduh Ren,gagal deh kita jalan-jalan ke luar negri." Pak Dimas terlihat lesu.
"Maksud nya pak,jalan-jalan keluar negri gimana?" Aku sedikit penasaran.
"Ya kalau kita tembus proyek ini,selain insentif kita juga dapat reward jalan-jalan ke Beijing."
"kok Pak Leo nggak bilang sih?"Aku menepuk dahi ku.
"Ya niat nya mau kasih kamu kejutan."Pak Leo memutar bola mata jengah.
"Pak Leo,bapak percaya nggak kalau aku bilang aku ini mantan pacar Pak Dimas itu?" Mendengar kata-kataku dia hanya tertawa terbahak-bahak.
"Ren,menghayal kamu.Tidur kamu kelamaan jadi mimpi kamu ketinggian." Pak Leo terus tertawa sampai kami keluar dari lift.
"Lagi pula dia saja tadi seperti nya nggak kenal sama kamu." Iya Pak Leo benar,dia benar-benar seperti orang asing tadi.Jangan-jangan dia memang mengidap depresi.
__ADS_1