
Sesampainya dikantor aku berjalan lesu dan duduk disofa yang ada di lobby.Aku masih memikirkan sikap Dimas padaku tadi.Kenapa dia seolah-olah tak mengenal ku.Aku terlalu larut dalam lamunan ku,saat ponsel ku berdering pun aku mengabaikannya.Didering yang ketiga aku pun tersadar,kulihat nama honey terpampang dilayar.Dengan malas aku mengangkat nya.
"Sudah sampai kantor ya?Gimana lidah kamu?kenapa tadi nggak hati-hati sih.Kopi masih panas kenapa langsung diminum?" Aku menyebikkan bibir ku mendengarnya berbicara.Dengan Jelas tadi dia yang bersikap tak mengenal ku,dan sekarang terkesan begitu perhatian.
"Ooo ini nomor nya Pak Dimas ya,Presdir dari Rumah Sakit Halim Medical Center?Ada perlu apa ya pak?Ooo..apa bapak sudah setuju dengan proposal yang kami ajukan tadi?"Aku sengaja menyindirnya.
"Ren,please..itu tadi hanya profesional dalam pekerjaan Ren.Lagi pula aku tidak bisa langsung menyetujui kerja sama ini."
"Iya,tapi kenapa tadi ko Dimas panggil aku dengan sebutan mbak?" Aku mengerucutkan bibir ku.
"Hahhaha..." suara tawa nya begitu renyah terdengar ditelingaku.
"jadi kamu marah karena aku panggil mbak ya? lalu,aku harus panggil apa dong? Kamu mau aku panggil Honey di depan Pak Leo?"
"Ish..apaan sih!" Aku langsung memutuskan sambungan telepon.
Aku bergegas keruangan Elissa berniat mengajaknya untuk makan siang bersama.Tapi baru saja aku ingin melangkah masuk,aku berpapasan dengan Dewi kepala operasional yang dulu sangat membenciku.Untuk menghormati yang lebih tua,aku lebih dulu menyapa dengan tersenyum kepada nya.Dia pun membalas senyumanku.Aku sedikit heran dengan perubahan sikap nya.Kenapa dia sekarang terlihat ramah.
Memang benar kalau manusia itu seperti musim,yang selalu bisa berubah.Tapi selama dia bersikap baik padaku,aku pun akan bersikap sama.
Kulihat Elissa sibuk dengan pekerjaannya.
"Nggak berniat makan siang?"Aku menepuk pundak nya,dan memperhatikan pekerjaannya di layar komputer.
"Eh,tumben kamu santai?biasa marketing selalu sibuk?" Elissa masih fokus dengan pekerjaannya.
Yah,kami marketing bekerja seperti dikejar setan dari delapan penjuru.Untuk bernafas saja sangat sulit.Yang dipikirkan hanya target dan pencapaian.
"Mau makan siang nggak?jarang-jarang loh aku punya waktu luang."Mendengarku bicara,Elissa pun langsung bergegas bangkit,meninggalkan setumpuk berkas diatas meja kerja nya.Elissa menggandeng tangan ku keluar ruangan.
Kami memutuskan makan siang di restaurant yang tak jauh dari kantor.Melihat wajahku yang lesu,Elissa bisa menebak kalau aku sedang ada masalah.
"Kenapa muka kamu hari ini?jelek banget?"
__ADS_1
"Gagal proyek." Aku menjawab singkat.
"Proyek dengan siapa?" Elissa bertanya dengan santai sambil mengunyah keripik kentang yang disediakan dimeja.
"Proyek dengan RSU HMC."
"Ha,maksud mu dengan Rumah Sakit Halim group?" Mata Elissa sukses membelalak mendengar proyek yang kusebutkan.Elissa langsung menjelaskan kalau perusahaan kami memang sudah lama menargetkan kerjasama dengan mereka.
"Aku malas kerja lagi Sa,pengen kawin aja.Kalau bisa,kawin nya sama orang kaya saja deh."
"Nikah neng,kalau kawin mah gampang.Lagian hari gini siapa juga yang nggak mau nikah dengan orang kaya."
"Iya makanya aku mau nikah sama orang kaya.Jadi aku nggak perlu capek kerja begini."Aku menimpali ucapan Elissa.
"Ya sudah nikah sama Maliq gih,kalau nggak sama koko tajir yang menjemput kamu kemarin."
"Nah,itu masalahnya Sa.Kamu percaya nggak kalau aku bilang koko yang kemarin itu adalah putra dari pemilik Rumah Sakit Halim Medical Center?"Elissa membelalakkan matanya mendengar kata-kata ku.
"Kamu serius?Lalu apa masalah nya?kamu kan udah kenal dekat dengan pemilik nya.Harus nya ini lebih gampang kan?"
Mendengar ceritaku Elissa hanya tertawa terbahak-bahak.Dia terus tertawa sampai mengeluarkan air mata.Mengapa ada orang sepertinya yang terlihat bahagia diatas penderitaan sahabat nya sendiri.Sesaat aku menyesal menceritakan masalah ku padanya.
Aku memang orang yang gampang bersosialisasi.Namun aku tidak banyak memiliki teman dekat yang bisa diajak berbagi cerita dan masalah.Ketika aku duduk dibangku SMA aku hanya dekat dengan Uti.Saat aku pertama kali bekerja di kota C,aku hanya bisa cerita masalah ku pada Merryana dan Karina.Dan sekarang sahabat ku hanya Elissa.
"Sa,kamu bakalan lebih terkejut kalau aku cerita ini." Aku mulai serius,Elissa menghentikan tawanya dan memandang ku dengan seksama.
"Cerita apa?Jangan buat aku penasaran."Elissa menyipitkan mata nya.
Aku pun mulai menceritakan kalau Dimas dulu adalah atasanku.Dan kami sempat berhubungan dekat.Dimas jugalah yang jadi alasan ku pindah ke kota ini.Dan benar saja Elissa hanya bisa menutup mulut dengan tangannya.Ekspresi terkejut dan tidak percaya terlihat diwajahnya.
"Tega banget kamu ya Ren nggak pernah cerita ini ke aku.Keterlaluan kamu Ren.Tapi jujur sih, aku benar-benar iri pada mu.Seperti nya hidup mu selalu dihampiri oleh Dewi keberuntungan." Elissa mencebikkan bibir nya mengatakan ini.
"Dewi keberuntungan apa?"
__ADS_1
"Yaa...kamu beruntung karena selalu dikelilingi oleh laki-laki tampan dan kaya." Mendengar Elissa mengatakan ini,aku hanya menaikkan sudut bibir ku.
Dia tidak akan tahu bahwa dekat dengan orang-orang besar,tak selalu seperti yang dia bayangkan.Berurusan dengan mereka lebih rumit dari pada memecahkan soal matematika dan fisika saat SMA.Mereka bisa melakukan segala cara untuk kepentingan mereka.Sebagian akan terang-terangan mengancam,sebagian lagi ada yang berpura-pura lembut dan manis.
"Sa,aku juga suka heran deh,kenapa ya Maliq selalu tahu dimana pun aku berada?"
"Hari gini kamu masih nanya soal ini? Fix ponsel mu disadap." Aku mengernyitkan dahi mendengar kata-kata Elissa.
"Kok Maliq selancang itu sih?" Aku sedikit kecewa.
"Eittss kamu jangan negative thinking dulu oneng,mungkin saja dia dulu takut kamu nyasar waktu pertama kali pindah ke kota ini.Jadi dia sadap deh ponsel kamu."Mendengar ini aku hanya menganggukkan kepala ku.
Sore ini begitu aku keluar dari pintu kantor,Maliq sudah menunggu ku.
"Bang Maliq kok nggak bilang mau menjemput ku?" Aku masuk kemobil nya dan memasang seatbelt.
"Kenapa harus bilang dulu?kamu ada janji mau pergi dengan seseorang ya?" pertanyaan Maliq lebih ke sindiran padaku.
"Enggak kok,aku sudah dua hari bolos kuliah,hari ini antar aku kekampus ya!" Aku tersenyum sambil menaik turunkan alisku.Melihat tingkah ku Maliq hanya tersenyum dan mengangguk.
Sebenar nya aku ingin bertanya padanya,apakah dia memang menyadap ponsel ku dan memata-matai aku.Namun ku urungkan niat ku.Akan aku cari waktu yang tepat nanti.
"Shareen,..." Maliq memanggil ku yang sedang asyik memandang keluar jendela.
"ya..!" Aku melihat kearahnya.
"Kamu..apa masih berhubungan dengan Dimas?" Ada keraguan dalam pertanyaannya.
"Hmm..kenapa Bang Maliq menanyakan ini?"
"Aku ingin serius dengan mu dan mengenalkan mu pada keluarga ku Ren,apa kamu bersedia?"Deg...aku hanya terdiam.
Tiba-tiba saja perasaan ku menjadi kacau.Aku tidak tahu harus menjawab apa.Maliq baik,bahkan sangat baik.Namun jujur perasaanku pada nya tak lebih dari perasaan seorang adik pada kakaknya.Namun bagaimana aku harus menjelaskan pada nya.Melihat ku yang hanya terdiam,Maliq menghela nafas.
__ADS_1
"Shareen kamu tidak perlu terburu-buru menjawab pertanyaan ku.Aku cuma mau kamu tahu kalau aku serius padamu."
Hal yang paling kubenci adalah ketika aku harus terjebak dalam hutang budi dengan seseorang.Benar kata alm.papa,kalau hutang budi itu akan dibawa sampai mati.Yang artinya seumur hidup kita harus membayarnya.