
Aku terbangun ketika jam dinding menunjukkan jarum pendek ke angka delapan.Berarti aku sudah tidur hampir dua jam.Kuraih ponsel ku yang terletak dinakas.Ada banyak panggilan tak terjawab,dan semua nya dari Maliq.Kuperiksa kotak masuk, isi nya pesan dari Maliq yang menanyakan aku dimana.Jam berapa pulang kerja?apakah hari ini kuliah?dan pesan terakhir dia mengatakan akan menjemput ku dikampus.
Aku berniat membalas pesan dari Maliq,namun ku lihat Dimas sudah berdiri didepan pintu kamar.
"Sudah bangun.Ayo kita makan dulu."Dimas mengajakku duduk disofa di ruangannya.Aku pun duduk dihadapannya.Sudah terhidang makanan dimeja.Ada ayam tim jahe,dan Sang-o juga.
Dimas mulai mengambilkan makanan untuk ku.Aku masih mengetik pesan untuk Maliq.Mengatakan kalau dia tidak perlu menjemput ku,karena aku akan pergi makan dengan teman ku.
"Makan dulu,jangan bermain gadget terus."Dimas menyodorkan semangkuk ayam tim kehadapanku,dan aku masih sibuk berbalas pesan dengan Maliq.
"Iya aku cuma mengirim pesan saja."
"Kamu terlihat begitu dekat dengan Maliq.Dia juga begitu perhatian padamu." Aku terdiam dan berhenti mengetik pesan.Apa dia tahu sejak tadi Maliq menelepon ku.Aku meletakkan ponsel diatas meja.
"Aku tidak punya banyak teman dikota ini,dan Maliq lah yang mengenalkan ku dengan kota ini.Maliq membantu ku mendapatkan pekerjaan,Maliq yang mencarikan ku tempat tinggal.Selama ini dia yang selalu mensupport ku.Wajar kalau aku dekat dengannya."
Mendengar ku berbicara,Dimas berhenti makan dan meletakkan mangkuk yang berisi ayam tim diatas meja.
"Ya dan dia jugalah alasanmu meninggalkan ku."Mendengar Dimas mengatakan ini membuat ku terkejut.Bahkan dia dengan jelas tahu bahwa hubungan diantara kami memang tidak mungkin.Dan juga ibu nya sendiri yang memintaku menjauhi nya.Lalu bagaimana bisa dia berpikir ini semua karena Maliq.
Selera makan ku langsung hilang,aku merasa telah salah berada ditempat ini.Harus nya kisah kami telah benar-benar usai.Aku bergegas bangkit dan mengambil tas ku yang tertinggal dikamar.Melihat aku akan pergi,Dimas berusaha menahanku.Dia membujuk ku untuk makan.
"Ren,kamu harus makan dulu.Nanti kamu sakit."
"Tapi aku sudah tak berselera."Aku terus melangkah keluar ruangan.
"Ren,please aku minta maaf.Aku nggak akan nahan kamu tapi aku minta kamu makan dulu,sedikit saja."
Dan pada akhirnya aku mengalah dan kembali duduk.Aku makan ayam tim dan sedikit nasi.Aku tidak bisa menghabiskan makanan ku lagi.
"Kenapa tidak dihabiskan ren?" Dimas berbicara dengan begitu lembut.
__ADS_1
"Kalau aku makan lagi,aku akan memuntahkan semuanya."
Mendengar jawaban ku dia hanya menghela nafas.Dia menyudahi makannya.
"Ya sudah,apa kamu mau pulang sekarang? biar aku antar ya?"
"Aku naik ojek online saja." Aku membuka aplikasi di ponselku.Namun tiba-tiba dia menarik handphone ku.
"Kamu kenapa sih Ren? Tadi kita baik-baik saja.Apa salahnya kalau aku mengantar kamu pulang?" Aku mendengar kemarahan di suara Dimas.Aku terkejut,baru kali ini dia berkata keras pada ku.Sadar dengan keterkejutan ku dia langsung mengontrol emosi nya.
"Maaf ren,aku tidak bermaksud seperti ini.Aku benar-benar tidak sadar." Aku berjalan turun ke lantai satu,Dimas mengikuti ku dari belakang sambil memanggil ku berkali-kali.Sadar dibawah banyak pengunjung yang makan,aku mencoba terlihat biasa dan memperlambat langkah ku.Beberapa karyawan cafe mulai memperhatikan kami.
Aku berjalan keluar pintu, namun betapa terkejutnya aku melihat Maliq sudah berdiri disamping mobil nya.Raut wajah nya begitu dingin ketika melihat Dimas berdiri dibelakang ku.
"Sudah selesai makannya? ayo pulang!" Maliq membuka pintu mobil untukku.Aku pun segera masuk tanpa menoleh kebelakang lagi.
Dimobil suasana terasa dingin.Maliq hanya fokus mengemudi.
"Kemarin,aku tak sengaja satu kereta dengannya."
"Heh,akhirnya dia bisa menemukan mu juga."Maliq menyeringai,raut wajahnya terlihat tidak senang.Aku tak mengerti dengan kata-kata Maliq.Apa selama ini Dimas mencari ku?
Sesampai nya di kost,aku langsung mandi dan beristirahat.Aku masih bertanya-tanya mengapa sikap Dimas sekarang berubah.Dulu dia begitu lembut,tak pernah sekalipun berkata kasar padaku.Tapi hari ini dia seperti Dimas yang berbeda,dia begitu asing.Dia tidak bisa mengontrol emosinya.Dan Maliq,kenapa dia bisa selalu tahu keberadaan ku?
Aku melamun menatap langit-langit kamar.Mataku terasa berat dan pelan-pelan aku tertidur.
Aku terbangun saat adzan subuh berkumandang.Aku bergegas mandi dan sholat subuh.Selesai sholat aku mencari ponsel ku di tas.Namun aku tak menemukannya.Yang ku ingat semalam handphone ku dirampas oleh Dimas.Aku menghela nafas berat,dan terduduk di tepi ranjang.
Aku harus berangkat ke kantor lebih pagi.Karena harus berjalan kaki ke persimpangan untuk mendapatkan kendaraan umum.Begitu aku keluar dari gerbang kost,aku melihat Mercy hitam milik Dimas terparkir dipinggir jalan.Sesuatu yang kebetulan sekali,karena aku bisa meminta ponsel ku yang kemarin dirampasnya.
Ku ketuk kaca jendela mobil nya,ketika diturunkan kulihat wajah Dimas seperti baru bangun tidur."Apa dia semalaman tidur disini?" aku bergumam dalam hati.Dan yang membuatku semakin yakin,ketika melihat pakaiannya adalah kemeja yang kemarin dipakainya.
__ADS_1
Dia membuka pintu dan menyuruh ku masuk.Aku tak dapat menolak nya dan hanya menurutinya.
"Ko Dimas tidur dimobil tadi malam?" Dia tidak menjawab dan menenggak air dibotol mineral sampai habis.
"Kamu mau kekantor? Aku antar ya! pakai seatbelt mu dengan benar." Aku pun memasang sabuk pengaman.
"Kamu mau sarapan apa? mau bubur ayam?mie ayam?atau kamu mau makan nasi soto? atau kamu mau makan nasi gurih? mau yang mana?" Dia terus menawariku berbagai jenis sarapan.
"Bubur ayam saja."
Dia langsung menghentikan mobilnya didepan penjual bubur ayam.
"Mau makan disini atau dibungkus saja?"
"Dibungkus saja ko,aku sarapan dikantor nanti."Aku pikir dia pasti tidak nyaman karena belum mandi dari semalam.Jadi aku memutuskan untuk makan dikantor saja.Dia menyuruhku menunggu didalam mobil.
Sambil menunggu nya,aku iseng membuka laci dashboard mobil nya.Aku mengerutkan dahi ketika menemukan sebuah botol kecil berisi beberapa butir pil.
"Ini obat apa? siapa yang sakit?apa ini obat ko dimas?" beribu pertanyaan bersarang di benakku.
Aku memutuskan mengambil sebutir pil dan menyimpan nya di tas ku.Selain pil aku juga menemukan kertas kwitansi perobatan dari klinik psikiater di kota M ini.Namun melihat tanggal di kwitansi,ini perobatan sekitar enam bulan yang lalu.
Kulihat Dimas berjalan kearah mobil.Dengan cepat aku menutup kembali laci dashboard.Aku berusaha untuk tetap duduk dengan tenang.Dimas menyerahkan tiga bungkus bubur ayam kepadaku.Aku sedikit heran menatap nya.
"Kok beli nya sampai tiga bungkus ko?"Tidak mungkin aku sarapan tiga porsi bubur ayam pagi ini.
"Nggak mungkin aku cuma beli satu bungkus saja kan? nanti kamu bagi teman kantor mu saja." Dimas kembali menyalakan mesin mobil nya dan mengendarainya menuju kantor ku.
Mobil berhenti tepat didepan kantor ku.Sebelum aku turun,dia menyerahkan ponsel ku.
"Shareen,aku minta maaf untuk kejadian semalam.Terkadang aku suka kehilangan kendali." Aku hanya mengangguk dan turun dari mobil.Aku masuk ke kantor setelah mobil Dimas pergi menjauh.
__ADS_1