
Setelah menemaniku selama enam bulan,ibu memutuskan untuk pulang ke kota T.Elissa juga sudah kembali ke villa mutiara.Aku dan Elissa memutuskan untuk membeli rumah yang selama ini kami sewa di villa mutiara.Karena terlalu kecil kami membeli dua rumah.Kami sengaja membuat pintu yang bisa menghubungkan rumah ku dan rumah nya.
Dirumah ini hanya tinggal aku,baby davino dan seorang pengasuh yang tinggal bersama kami.Setiap pagi bu Asmah akan menemani ku dan baby Davino berjemur di teras.Kami memutuskan membuat pintu yang bisa menghubungkan teras ku dan teras depan rumah nya.
Lama kelamaan aku terbiasa seperti ini.Hidup berdua dengan baby davino ternyata tidak terlalu buruk.Kami juga dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dengan kami.Ada bu Asmah yang hampir setiap hari menemani kami.Ada Maliq yang ketika pulang kerja membelikan ku makanan dan membelikan Davino mainan.
Davino bertumbuh dengan cepat,diumur setahun dia sudah bisa berjalan dan berlarian.Aku juga mulai beraktifitas kembali.Pagi hari hingga sore hari aku akan mengurus D'Cafe.Malam hari nya kami menghabiskan waktu dirumah.
Memasuki bulan November intensitas hujan meningkat di kota M.Beberapa jalanan di genangi air.Sore ini aku berencana pulang lebih cepat,entah kenapa perasaan ku begitu tidak nyaman.Kulihat Davino masih tidur terlelap dikamar,aku memutuskan menggendong nya dan meletakkan nya di kursi penumpang disamping pengemudi.Semenjak aktif di D'Cafe aku memutuskan menggunakan mobil Marcedes milik Dimas.
Sampai dirumah Davino terbangun,dia mengucek mata nya berulang kali.Aku tersenyum melihat nya dan menggendong nya turun dari mobil.
Mbak Asih asisten rumah tangga yang sudah bekerja dengan ku selama setahun ini menyambut kami.Dia langsung mengambil Davino dari gendongan ku.
"Bu,tadi ada surat untuk ibu." Asih menyerahkan sebuah amplop coklat.Aku mengerutkan kening ku.Seperti nya amplop ini berisi beberapa lembar kertas.Aku duduk diruang tamu sambil membuka amplop kuning yang diberikan Asih.Dan memang benar ada beberapa lembar kertas didalam nya.Namun aku begitu terkejut ketika kubaca kop surat itu bertuliskan Pengadilan Negeri Agama.
Jantung berdebar membaca kalimat demi kalimat yang berisi gugatan perceraian yang diajukan Dimas padaku.Beberapa kertas yang lain isi nya menjelaskan tentang pembagian harta dan hak asuh anak.Aku mendapat kan rumah,mobil,usaha D'Cafe,dan uang tunjangan yang cukup besar tiap bulan.Aku benar-benar akan menjadi seorang janda kaya.
Pengasuhan Davino akan diserahkan padaku sampai usia nya 5 tahun.Setelah itu akan ditinjau kembali hak pengasuhan.Selama pengasuhan kedua belah pihak tidak ada larangan untuk bertemu dengan Davino.
Bagaimana bisa Dimas memutuskan ini secara sepihak.Dia tidak memberi ku kabar selama setahun lebih,tiba-tiba dia mengirimkan surat perceraian kami.Tidak kah ini terlalu sadis.Hati ku begitu sakit.Rasanya seperti ditusuk ribuan mata pisau.
Seandainya dia tidak bisa berjalan seumur hidup nya pun aku masih tetap ingin bersama nya.Tanpa sadar aku meremas surat perceraian yang ada ditangan ku.Dia benar-benar ingin membebaskan ku.
Tiba-tiba dering ponsel ku membuyarkan lamunan ku.Nama Ayana muncul dilayar.Aku segera menekan tombol hijau dilayar.
__ADS_1
"Halo assalamu'alaikum dek!"
"Wa'alaikumsalam kak,kak ibu kak."Suara ayana terdengar cemas diujung sana.
"Iya ibu kenapa?kamu tenang dulu,ngomong yang jelas."
"Ibu,ibu jatuh kak tadi dikamar mandi,dan sekarang ibu,ibu gak sadar kan diri kak,aku takut kak." Suara ayana terbata-bata menahan isak tangis.
Duarr...serasa petir menyambar ku.Ponsel ku terlepas dari genggaman ku.Aku menjadi linglung.Sedetik kemudian aku langsung berteriak memanggil Asih sambil berlari naik ke lantai dua.
Asih yang melihat ku tergesa-gesa menatap ku dengan bingung.
"Mbak Asih tolong bantu packing pakaian Davino,pakaian mbak juga ya,kita berangkat ke kota T malam ini.Ibu aku pingsan mbak."
Mendengar ini,Asih langsung bergegas mengerjakan perintah ku.
Setelah menghubungi Maliq,aku menghubungi ayah mertua ku.Ayah mertua ku mengatakan kalau aku akan diantar supir ke kota T.Namun aku menolak,dan mengatakan kalau aku akan diantar oleh teman ku.
Dalam perjalanan ke kota T pikiran ku kacau.Tiba-tiba aku merasa takut sekali.Aku ingat bagaimana kepergian papa ku beberapa tahun yang lalu.Aku benar-benar takut kalau sampai harus kehilangan ibu.
Maliq yang fokus mengemudi sesekali menenangkan ku.Air mataku terus mengalir,satu persatu orang-orang terdekat ku pergi dengan cara nya masing-masing.
Maliq benar-benar mengemudikan mobil dengan cepat.Dalam waktu satu jam kami sudah tiba di kota T.Semakin dekat dengan rumah perasaan ku semakin takut dan cemas.Seperti nya Maliq menyadari ketakutan ku.
"Ren,semua akan baik-baik saja.Serahkan semua pada Allah.Apa pun itu, pasti itu lah yang terbaik."
__ADS_1
Namun lutut ku tiba-tiba melemah,ketika kulihat rumah ku sudah penuh dengan tetangga.
Aku keluar dari mobil dan langsung berlari masuk kerumah.Ku lihat Ayana sudah menangis meraung memeluk ibu ku.Baru saja dia pergi 10 menit yang lalu.Bu Nur tetangga terdekat kami mengatakan padaku sambil memeluk tubuh ku.
Bahkan ibu tak ingin menunggu diri ku.Bertemu dengan ku untuk terakhir kali.Seperti Dimas yang tak ingin lagi menemui ku.Perpisahan ini begitu menyakitkan.Aku hanya terdiam memeluk Ayana.Mencoba menguatkannya padahal aku sendiri pun begitu rapuh.
Aku tak tahu bagaimana Ayana menghadapi nya sendirian.Dia selalu menyaksikan kepergian papa dan kepergian ibu.Aku mencium kening dan pipi ibu berkali-kali.Semua nya masih terasa hangat.Bibir nya seolah tersenyum kepadaku.Senyum yang mengatakan,"semua akan baik-baik saja."
Ibu,semua tak akan baik-baik saja tanpa mu.
Seolah air mata ku telah mengering,aku tak dapat mengeluarkan air mata lagi.Aku terdiam menatap tubuh ibu yang terbujur kaku.Semua seperti mimpi,aku berharap aku segera terbangun dari mimpi buruk ini.
Ami menyuruh Asih membawa Davino beristirahat dikamar.Ku lihat Maliq duduk didepan bergabung dengan para pelayat yang lain.Dia bersikap seperti tuan rumah.Seandainya dulu aku menerima lamaran Maliq,mungkin kejadian nya tidak seperti ini.
Ibu mulai sakit-sakitan semenjak kecelakaan yang menimpa aku dan Dimas.
Dokter mengatakan gula darah dan tekanan darah nya naik karena stress.Dia pasti stress karena memikirkan kehidupan ku.
Ya Allah,aku langsung tersadar dengan apa yang kupikirkan.Kenapa aku bisa berpikir seperti ini.Lagi pula sekarang sudah ada Davino.Segala sesuatu yang terjadi bukan tanpa alasan.Semua memiliki hikmah yang tersembunyi.
Menjelang subuh,Bang Rahman sampai di rumah.Dia langsung memeluk ku dan Ayana.Tak ada lagi isak tangis ku,semua seperti telah ku ikhlaskan.Aku ikhlas melepas ibu,aku ikhlas dengan apa yang telah digariskan dihidup ku.
Pagi hari nya ayah mertua ku datang.Dia memelukku dan mengelus puncak kepala ku.Melihat Davino dia langsung menggendong nya.
Ibu di kebumikan selepas zuhur.Bahkan semua masih seperti mimpi.Aku benar-benar kehilangan tempat untuk mengadu.Aku kehilangan papa,Ibu,dan aku juga akan segera kehilangan Dimas.
__ADS_1
Aku merasa cobaan ini datang bertubi-tubi.Seandainya tak ada Davino bersamaku,mungkin aku tak akan mampu melewati semua ini.