Kita Dan Kisah Yang Belum Usai

Kita Dan Kisah Yang Belum Usai
Aku menerima tawarannya


__ADS_3

Setelah dua minggu lebih kepulangan kami ke kota C Pak Dimas tidak pernah kembali ke kota R.Aku pun harus memberi alasan pada Bang Rahman kalau selama dua minggu ini akan ada peluncuran produk baru,jadi kami terpaksa lembur.Aku tahu Pak Dimas masih belum berdamai dengan kedua orang tuanya.Namun aku berpura-pura tidak tahu.


Sudah masuk waktu zuhur,aku berniat kekamar ku untuk menunaikan kewajiban ku.Ketika aku melewati ruangan Pak Dimas aku melihat Rendy sedang didalam dan berbicara cukup serius dengannya.Lagi-lagi aku tidak ingin menguping,namun insting ku sebagai perempuan menuntunku mendekatkan telinga ku ke pintu yang sedikit terbuka.


"Ko,pulang lah kasihan ai ana,dia kemarin nangis-nangis datang kerumah cerita ke papa wa masalah koko." Aku tahu yang di ceritakan Rendy pasti ibu nya Pak Dimas.Ku lihat Pak Dimas masih diam tidak menanggapi.


"Ko,beneran loh bukan wa yang bilang ke ai kalau koko pacaran dengan Shareen.Ai tahu semuanya karena Jennika yang cerita"Mendengar nama Jennika aku langsung terkejut.


Aku melihat ada kemarahan diwajah Pak Dimas mendengar Jennika lah yang memberitahukan pada ibu nya tentang hubungan kami.


Aku segera berlalu dan naik ke lantai dua.Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang.Di satu sisi aku menginginkan Pak Dimas namun di sisi lain dia tidak akan baik-baik saja jika terus bertengkar dengan keluarga nya.


Aku berjalan bolak balik didalam kamar ku.Sekarang aku menjadi begitu gelisah,aku cemas dan takut.Iya aku takut kalau aku harus kehilangan Pak Dimas.Tiba-tiba pintu kamar ku diketuk.Aku membuka nya dan kulihat Rendy sudah berdiri didepan ku.


"Ren,bisa bicara sebentar?" Aku mengangguk dan mengikuti nya duduk di kursi makan.


"Ren,kamu sudah tahu kan kalau Ko Dimas sedang ada masalah dengan keluarga nya? makanya sudah dua minggu ini dia tidak pulang ke kota R." Aku hanya diam mendengarkan Rendy.Tidak mungkin aku menyangkal kalau aku tidak tahu masalah Pak Dimas dengan keluarga nya.


"Shareen,tolong bujuk ko dimas untuk pulang.Kasihan ai Ana,dia bingung mikirin Ko Dimas.Kemarin ai cerita kalau Ko Dimas mau pulang,dia akan membujuk om untuk mengijinkan dia membuka usaha nya sendiri."


"Ya sudah nanti aku coba deh untuk membujuknya."Rendy tersenyum padaku.Aku hanya membalas nya dengan sunggingan kecil disudut mulut ku.


Ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan didunia ini.Ada sesuatu yang harus dikorbankan demi mendapatkan sesuatu yang lainnya.Sesekali aku ingin sekali egois,aku ingin bahagia dengan Pak Dimas walaupun mungkin Pak Dimas akan sedikit terluka.Namun apa kah aku rela melihat nya terluka walaupun hanya sedikit?Tidak, cinta tidak sekejam itu.

__ADS_1


Semua tidak akan serumit ini seandai nya aku tidak memulainya.Bahkan dari awal Pak Dimas sudah menolak dan mengingatkan ku.Harus nya aku menyerah memperjuangkan perasaan ku ketika dia dekat dengan Jennika.


Aku mengambil ponsel ku dan mulai mengetikkan pesan :" Assalamu'alaikum Bang Maliq.Bang,Shareen ingin menanyakan tawaran abang waktu itu apa masih berlaku? Shareen butuh pekerjaan di kota M."


Tidak menunggu lama ponsel ku langsung berdering.Kulihat nama Maliq di layar ponsel ku.


"Hallo..assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam cantik,aduh aku kangen banget loh sama kamu Ren."Aku hanya menyebikkan bibirku mendengar kata rindu dari mulut Maliq.


"Aku mau terima tawaran yang kemarin bang."Aku langsung mengutarakan keinginanku.


"Oke nanti aku kabarin lagi ya,kamu siapin saja CV mu,nanti aku kasih tahu nama perusahaannya.Kalau untuk tempat tinggal,kamu mau tinggal dirumah orang tua ku atau mau ngekost saja?"


"Oke nanti aku cari tempat kost yang dekat dengan kantor kamu ya."


Setelah berbicara panjang lebar aku pun mengakhiri percakapan kami.Aku sudah mantap mau resign dari perusahaan ini dan mengakhiri semua nya.Akhirnya aku memang harus menerima tawaran dari Maliq.Maliq pun tak perlu bertanya alasan ku lagi.Mungkin sejak awak dia juga telah menebak bahwa aku dan Pak Dimas akhirnya akan berpisah.


Aku sudah merencanakan kalau malam ini aku akan membujuk Pak Dimas agar besok dia mau pulang bersamaku ke kota R.


Selesai shalat zuhur aku berniat turun,namun handphone ku tiba-tiba berdering.Ternyata Bang Rahman yang menelepon.Dia hanya menanyakan keadaan ku,dia juga bilang kalau besok aku harus pulang ke kota R.Karena papa dan ibu ku rencana nya akan datang ke kota R,berkunjung ke rumah bang Rahman.


Begitu percakapan ku dan Bang Rahman berakhir, tidak berapa lama ponsel ku berdering kembali.Namun kali ini dari nomor yang tidak ku kenal.Hanya nomor telepon yang tertera di layar ponsel ku.Awal nya aku ragu mengangkat nya.Namun saat dering yang ketiga akhir nya kuangkat juga.

__ADS_1


"Ya hallo..!"


"Hallo,apa saya sedang berbicara dengan Shareen?" Aku mendengar suara wanita diujung sana.Tiba-tiba saja dadaku berdebar.


"Iya dengan saya sendiri.Maaf ini saya berbicara dengan siapa ya?" Aku bertanya dengan cukup sopan.


"Saya Ana,ibu nya dari Dimas." Deg..benar saja tebakan ku.


"Shareen,apa kita bisa bertemu besok? ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu."


Tidak berpikir lama aku langsung menyetujuinya.Dan dia yang menentukan tempat dimana kami akan bertemu besok.Aku pikir ini pas sekali.Mungkin memang ini lah akhir dari perjalanan kisah kami.Aku ingin menyelesaikan semua nya dengan cara yang baik.


Malam ini selesai makan malam aku mengajak Pak Dimas menonton drama korea.Mungkin ini akan menjadi yang terakhir kami menonton bersama.Aku sengaja merebahkan kepala ku dipangkuan Pak Dimas.Sambil menonton drama di televisi,dia membelai rambut ku.Aku ingin bermanja pada nya untuk yang terakhir kali nya.


"Pak Dim,menurut bapak hubungan apa yang tidak akan pernah putus didunia ini?"


"Maksud kamu?" Pak Dimas sedikit bingung dengan pertanyaan ku.


"Pak Dim,hubungan yang tidak akan pernah putus di dunia ini adalah hubungan antara orang tua dan anaknya.Terutama ibu.Ibu adalah orang yang paling menyayangi kita anaknya.Orang yang mencintai kita bahkan sebelum dia bertemu dengan kita.Kita menumpang hidup ditubuh nya selama sembilan bulan.Dia harus bertaruh nyawa ketika ingin bertemu dengan kita.Dia juga harus menyusui kita.Lalu setelah kita dewasa,kita malah membuat nya bersedih,Bukan kah itu terlalu kejam?"


Pak Dimas menghentikan aktifitas nya membelai rambutku.Aku bangkit dari tidur ku kemudian duduk berhadapan dengan nya.


"Sudah cukup Pak Dim merajuknya dengan papa dan mama Pak Dim.Besok kita pulang ke kota R ya.Aku juga sudah rindu dengan ponakan ku.Sudah tiga minggu aku tidak bertemu dengannya."

__ADS_1


Dia pun hanya mengangguk tanda setuju.


__ADS_2