
Dalam hidup ini tidak semua yang kita rencanakan akan selalu berjalan sesuai dengan harapan kita.Ku pikir setelah menikah aku akan menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia.Namun selama nafas masih berhembus dan selama kita masih hidup didunia ini,Tuhan akan selalu menghadiahi berbagai macam cobaan.
Aku tak pernah meminta Tuhan meringankan cobaan untukku.Karena aku yakin Dia lebih tahu batas kemampuan umat nya.Aku hanya meminta Tuhan memberiku kekuatan yang lebih dan kesabaran yang tak berbatas dalam menghadapi setiap cobaan dihidup ini.
Setelah kupertimbangkan,aku memutuskan meninggalkan pekerjaan ku.Aku ingin lebih fokus dengan kesembuhan Dimas dan kehamilan ku.Aku ingin punya lebih banyak waktu bersama nya.Aku juga mulai fokus mengelola D'Cafe.
Namun karena kehamilanku yang masih berusia lima bulan,Dimas melarang aku untuk ikut menemani nya ke Jerman.Aku sedikit kecewa,karena kami cuma bersama dalam waktu seminggu.Setelah ini aku tidak tahu kapan dia akan kembali dari Jerman.
Hari ini aku mengantar nya ke bandara.Rindu ku selama empat bulan kemarin belum hilang,sekarang kami harus berpisah lagi.Sepanjang perjalanan ke bandara Dimas terus mengelus perut ku.Tak terhitung lagi jumlah nya berapa kali dia mencium keningku.
"Ingat,kamu harus makan makanan yang sehat dan bergizi.Kamu jangan terlalu lelah dan stress.Jagi diri selama aku tidak ada."Kata-kata nya semua penuh dengan pesan dan nasehat.
Aku hanya mengangguk mengiyakan.Terasa begitu berat melepaskannya.Seolah-olah setelah hari ini kami tidak akan bertemu lagi.Dia tidak mengucapkan sampai jumpa,dia hanya melambaikan tangannya pada ku.
Setelah kepergiannya,aku merasa sendirian ditengah keramaian orang di bandara ini.Aku benar-benar kesepian.Bagaimana aku harus menjalani semua nya sendirian.Kemarin dia menyarankan untuk meminta ibu tinggal bersamaku di kota M.Namun aku juga tidak ingin memaksa ibu.Dia pasti lebih nyaman tinggal di kota T.
Hari-hari terasa berat untuk kulalui.Sesekali Dimas akan mengirim pesan.Terkadang dia menelpon ku.Dia mengatakan semua nya berjalan lancar.Dia mengikuti begitu banyak pemeriksaan dan test.Aku selalu menyemangati nya.
Namun semua terlihat tak baik-baik saja.Setelah tiga bulan dia di Jerman,kabar nya semakin jarang.Dia juga tidak pernah memberi tahu ku alamat nya disana.Aku mulai gelisah ketika nomornya tak lagi aktif.
Perut ku semakin membesar,dimalam hari aku susah mencari posisi tidur yang nyaman.Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.Usia kandungan ku memasuki delapan bulan.Dokter memprediksi kelahirannya bulan depan.
Karena ini weekend,Elissa menemaniku berbelanja pakaian bayi.Selesai berbelanja kami memutuskan untuk makan siang dia foodcourt yang ada di Mall.Ketika kami memasuki foodcourt,ternyata Maliq sudah menunggu kami.
__ADS_1
Dia terlihat tampan dengan pakaian kasual.Melihat ku datang dia langaung menarik kursi untukku.
"Kamu pasti haus kan,ayo diminum." Dia menyodorkan segelas jus jeruk kehadapan ku.Melihat ini aku hanya tersenyum dan meminum jus hingga tersisa seperempat gelas.
"Shareen,kamu beruntung sekali mempunyai sahabat seperti Maliq.Nanti kalau aku hamil aku juga ingin diperhatikan seperti ini."Elissa berbicara sambil menopang dagu nya memperhatikan aku dan Maliq.
"Nanti kalau kamu hamil tidak akan membutuhkan perhatian dariku.Kamu hanya butuh perhatian dari suami mu.Kalau Shareen memang butuh perhatian dari ku." mendengar ini aku merasa kan perih dihatiku.
Suasana menjadi hening sesaat.Mungkin Maliq sadar kalau dia sudah salah bicara.Dia terlihat sedikit canggung.Aku langsung mencairkan suasana dengan memanggil pelayan untuk memesan makanan.
Bagaimana pun juga apa yang dikatakan Maliq tidak salah.Saat ini aku memang butuh perhatian.Aku sudah seperti seorang janda yang ditinggalkan suami nya tanpa kabar.
Selesai makan kami memutuskan untuk pulang.Saat kami sampai dirumah,kulihat ada sebuah mobil kontainer berukuran sedang terparkir di luar pagae rumahku.Ketika aku turun seorang pemuda datang mendekati ku.
"Iya,saya sendiri.Mas nya siapa ya?" aku sedikit mengerutkan dahi ku.
"Kami ditugaskan mengantarkan pesanan barang-barang ini mbak.Ini mau diletakkan dimana ya mbak?" pria itu membuka pintu bak kontainer nya.
Ternyata isi nya adalah barang-barang perlengkapan bayi.Ada box bayi,stroller,baby swing,dan perlengkapan lainnya.
"Tapi ini semua siapa yang memesannya mas?saya nggak pernah pesan ini semua loh mas."Aku masih sedikit heran.
"Oh ini sudah dipesan dari tiga bulan yang lalu oleh Pak Dimas Sudjatmiko Halim mbak.Dan ini semua sudah dibayar lunas mbak."
__ADS_1
Akhirnya aku menyuruh mereka mengangkat semua barang-barang ini kelantai dua.Setelah mereka meletakkan semua dikamar,mereka lalu pamit pergi.Namun sebelum pergi salah satu pria memberi ku sebuah amplop berisi kartu.
Dikamar aku duduk diranjang dan membuka amplop.Didalam amplop ada kartu ucapan berwarna biru,bertuliskan : "Welcome to the world baby Davino Sudjatmiko Halim."
Tulisan ini adalah tulisan tangan Dimas.Ternyata dia sudah menyiapkan segalanya.Semua perlengkapan sengaja dipilih nya berwarna biru.Dan ternyata dia juga sudah menyiapkan nama untuk bayi kami.
Kamar ku telah disulap seperti kamar bayi.
"Mama sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mu Davino." aku bergumam dalam hati.
Waktu berlalu dengan cepat,hari kelahiran sudah semakin dekat.Ibu juga sudah datang ke kota M.Aku yang memang dari awal ingin melahirkan normal hanya menunggu sampai terjadi kontraksi.Namun setelah lewat seminggu dari tanggal prediksi dokter,aku belum juga merasakan kontraksi apa pun.Dan tidak ada juga tanda-tanda bahwa aku akan melahirkan.Dokter menyarankan untuk melakukan induksi,namun tetap aku tak merasakan kontraksi.
Akhirnya hari ini dokter nemutuskan untuk melakukan operasi.Aku ditemani ibu diantar oleh Maliq ke Rumah sakit.Maliq,aku telah banyak berhutang budi padanya.
Aku yang tidak memiliki persiapan merasa benar-benar takut.Dikamar operasi yang begitu dingin aku terbayang wajah Dimas.Bagaimana mungkin dia bisa membiarkan aku melewati ini semua sendirian.Dia bahkan tidak menghubungi ku,sekedar untuk menyemangati ku.
Aku masuk keruangan operasi pukul 08.00 wib.Pukul 08.15 aku sudah mendengar suara jeritan tangisan bayi.Air mataku mengalir,aku sekarang benar-benar telah menjadi seorang ibu.Bayi mungil yang putih di dekatkan ke pipiku oleh salah seorang suster.Aku bisa mencium nya.Pipinya dingin dan lembut.
Selesai operasi aku dibawa ke kamar rawat inap.Kulihat ayah mertua ku sudah menunggu ku.Aku memang kemarin sempat mengabari nya kalau aku akan melahirkan secara saecar.
Dia menyuruhku untuk beristirahat dengan baik.Dia mengatakan kalau aku tak perlu cemas dan stress.Lagipula aku dan bayi ku sekarang sehat-sehat saja.Aku ingin bertanya pada nya,apakah Dimas sudah tahu kalau anak nya sudah lahir dengan selamat.Namun semua ku urungkan,entah kenapa aku merasa itu tidak perlu.
Aku menjalani kehamilan ini hanya sendirian,aku melahirkan anak ini juga tanpa kehadiran Dimas.Terlalu munafik jika aku tidak kecewa pada nya.Tiba-tiba aku merasa tak terlalu mengharapkan kehadirannya lagi.
__ADS_1