KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
BAB 1 0 PENDEKAR TERSESAT


__ADS_3

Darmo segera mengisi tempayan dengan air dari kalen ( selokan) irigasi sawah. Setelah penuh diguyurkan ke kepala pengemis tua hingga basah kuyup. Rambutnya yang gimbal menyusut seperti tikus terendam. Namun tubuh itu tak bereaksi juga


" Dia sudah mati! " kata Darmo sembari memandang sekeliling untuk minta pertimbangan apa yang harus dilakukan dengan mayat pengemis tak dikenal itu.


" Belum tentu. Mungkin dia lagi pingsan habis mabuk kecubung, " sahut seseorang yang bertubuh besar.


" Ya sudah. Kau periksa saja napasnya. Cium itu hidungnya. Atau kau cium saja mulutnya siapa tahu dia hidup lagi jadi bidadari, Calwan! " Sahut Darmo sengit.


" Lha terus mau diapakan mayat ini? "


" Ditali biar diseret pake kerbau, nanti dikubur di pinggir kali. "


" Ya sudah, ikat saja lehernya. Nanti pakai kerbauku saja nyeretnya. Kerbauku kuat."


Darmo mengambil tali, diikatkan asal-asalan di leher mayat pengemis itu. Sambil mengikat, Darmo terus menahan napas agar tidak tersengat bau busuk. Iseng-iseng ia raba nadi dan urat leher jasad itu. Memang sudah tidak ada detaknya. Jelas pengemis ini sudah mati. Sementara pemilik kerbau yang akan dipakai untuk menyeret mayat sudah menyiapkan kerbaunya. Tali telah terpasang kuat, disambung ke kekang kerbau. Tinggal dikasih aba-aba, kerbau itu akan menyeret mayat sampai ke pinggir sungai.


Pemilik kerbau sudah bersiap menuntun kerbau untuk berjalan. Tiba-tiba...


" Berhenti ! Apa yang kalian lakukan? Menyeret orang tua tidur, apa tidak takut kualat kalian !"


" Eh, kang Kidang Panah, " sahut Darmo agak gugup. Tampaknya orang yang dipanggil sebagai Kidang Panah memiliki pengaruh cukup besar di desa itu. Hal itu terlihat dari semua orang yang tiba-tiba menghentikan kegiatan seperti menunggu petunjuk apa yang sebaiknya dilakukan.


Kidang Panah memang orang yang secara tidak resmi dianggap sebagai pemimpin di desa para Bromocorah. Meski umurnya masih tergolong muda sekitar 30 tahun, tetapi ia memiliki catatan kejahatan yang sangat mengesankan. Pada umur 18 tahun, Kidang Panah sudah menjadi buronan pemerintah karena membunuh seorang lurah prajurit. Konon ia membunuh setelah lurah prajurit yang sombong menantangnya duel karena memperebutkan seorang wanita cantik. Kidang Panah yang berdarah panas meladeni tantangan itu. Lurah prajurit yang pongah merasa pasti mampu memenangkan pertarungan satu lawan satu mengingat dia adalah perwira prajurit yang sudah biasa bertempur, sedang Kidang Panah hanya pemuda desa biasa. Lurah prajurit itu tidak tahu, bahwa ia dijuluki sebagai Kidang Panah bukannya tanpa sebab. Kidang berarti kijang, binatang lincah yang mampu berlari cepat dan panah sudah tentu jika melesat kecepatannya melebihi angin. Kidang Panah memiliki bakat alami berotot lentur dengan sendi-sendi kuat sehingga mampu bergerak meloncat-loncat dengan sangat cepat. Setiap hari sejak kecil ia berlatih lari, melompat dari batu ke batu di sungai, dan melatih pernapasan serta yoga yang menunjang kelenturan tubuhnya. Beranjak remaja, Kidang Panah mampu memanjat bukit batu dengan teknik menjejak dan berlari. Sehingga untuk naik ke atap rumah, hanya dalam beberapa kejap mata ia sudah sampai di wuwungan tertinggi tanpa menggunakan tangga dan tidak membuat genting pecah saat dijejaknya. Itu semua dilakukannya tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Maka pada hari itu, lurah prajurit yang sombong menemui naasnya. Pertarungan yang sengit hanya berjalan sebentar. Selanjutnya, lurah prajurit yang hanya mengandalkan kekuatan dibuat bingung karena Kidang Panah bergerak ke segala arah tanpa bisa diduga. Diantisipasi gerakan tangan, justru tendangan yang datang, dan tamparan-tamparan kecil namun beruntun membuat sekujur tubuhnya sakit. Dalam kebingungannya, lurah itu memutuskan pertarungan duel hidup atau mati. Ia menghunus keris, justru itu kesalahan yang fatal. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba Kidang Panah telah menekuk pergelangan tangannya yang menghunus keris, dan menghantam dari bawah, sehingga ujung keris menghujam ke lehernya sendiri. Lurah Prajurit itu tewas tertembus kerisnya sendiri. Namun karena yang dihadapi seorang perwira yang memiliki banyak bawahan, perkelahian satu lawan satu yang seharusnya adil itu dilaporkan secara palsu oleh para prajurit sebagai pembunuhan terhadap aparat Majapahit oleh begal muda bernama Kidang Panah. Setelah kejadian itu, nama Kidang Panah diburu sebagai penjahat besar. Kidang Panah menjadi pelarian yang berpindah-pindah hingga sekitar 10 kota. Dalam pelariannya, justru ia menjadi begal sesungguhnya. Ia merampok para saudagar kaya, pejabat tinggi negara, uang hasil rampokannya separuh ia bagi-bagikan kepada orang-orang miskin yang lalu dengan senang hati selalu melindungi dirinya saat dicari prajurit Majapahit, seperempat untuk kehidupan pribadinya, dan sisanya untuk membangun kekuatan gerombolannya. Dalam pelariannya, ada lebih dari seratus orang yang menjadi korban keganasannya, baik mati di tangannya pribadi atau anak buahnya. Sampai akhirnya petualangan begal murah hati ini terhenti saat ia merampok sebuah kereta keluarga bangsawan. Bersama 12 orang anak buahnya, Kidang Panah memimpin penyerbuan. Dipikir ini adalah sasaran empuk. Hanya dalam beberapa saat, kereta bangsawan itu berhasil ia kuasai. Ia segera masuk ke kereta mewah yang dipikirnya berisi harta benda. Tak disangka, kereta itu berisi seorang wanita muda cantik sekali, bersama adiknya yang masih bocah. Pedangnya yang sudah terhunus seketika luruh. Wanita cantik itu menatapnya tanpa jerih. Tidak terlihat kesan takut sedikitpun di mata bulatnya, " Pengawalku sudah kau bunuh semua. Kau pikir dengan begitu kau bisa menguasai kereta ini? Langkahi dulu mayat Padma Dewi dengan kaki kotormu yang berlumuran darah orang tak berdosa ! "


Kidang Panah pada dasarnya memang tidak berhati jahat. Ia menjadi begal sesungguhnya karena terpaksa dan unsur dendam telah difitnah namanya oleh oknum prajurit Majapahit. Menghadapi perempuan dan anak-anak, ia tidak pernah berlaku sewenang-wenang. Ia hanya akan selalu bereaksi tanpa ampun saat berhadapan dengan laki-laki dewasa yang melawannya. Apalagi yang dihadapinya sekarang seorang wanita cantik, bangsawan tinggi yang bernyali harimau betina. Hatinya seketika lemah. Ditambah lagi di kereta itu juga ada seorang bocah kecil laki-laki. Ia ingat adik laki-lakinya di rumah yang sudah berpisah dengannya selama 10 tahun. Kira-kira seumuran bocah bangsawan inilah adiknya saat ditinggal pergi. Terlintas saat ia gendong adiknya sambil meloncat-loncat di atas batuan kali yang licin. Adiknya tidak takut jatuh, justru berteriak-teriak senang. Semua kegembiraan itu lenyap begitu saja setelah ia difitnah sebagai begal dan diburu prajurit kerajaan. Kini ia memiliki banyak harta hasil rampokan, gerombolan yang kuat dan nama yang ditakuti sekaligus dihormati banyak orang miskin. Tapi ia tidak bisa mengembalikan kegembiraan murni itu. Ia tidak bisa pulang ke rumah, hidup normal seperti orang lain. Tiba-tiba Kidang Panah merasa kehilangan banyak hal. Dan menghadapi seorang putri seperti Padma Dewi, pikirannya bekerja. Jangan-jangan yang dihadapinya sekarang adalah seorang putri Raja, atau malah seorang Ratu, bukankah Majapahit sekarang dipimpin seorang perempuan? Tapi ia yakin Padma Dewi adalah bangsawan tinggi. Siapa tahu ia memiliki kekuasaan untuk memulihkan namanya sehingga status buronannya dicabut pihak kerajaan dan kesalahannya diampuni sehingga ia bisa kembali ke keluarga yang sangat ia rindukan?

__ADS_1


" Kenapa kau malah diam saja? Kau begal Kidang Panah kan? Ayo Perlihatkan kekejianmu. Lawan aku ! Aku tidak takut mati! Kau pikir trah Wijaya takut melihat darah?" Padma Dewi kembali menghardik. Tangannya yang mungil putih bersih menggenggam cundrik dengan sikap siap tikam atau siap bunuh diri daripada hidup dalam penguasaan musuh.


Kidang Panah terpana. Benar dugaannya, Padma Dewi sebagai trah Wijaya sudah pasti anggota inti keluarga kerajaan Majapahit. Kidang Panah sebenarnya tipe ksatria berjiwa merdeka yang tidak gentar dengan nama besar, sekalipun itu nama Raja, namun kali ini ia memiliki tujuan lain. Ia ingin membersihkan namanya melalui Padma Dewi. Ia letakkan pedangnya ke tanah. Berlutut dalam sikap sembah.


" Tuan Putri, hamba bukan begal. " Ujar Kidang Panah lemah.


" Kalo bukan begal, lantas apa yang baru saja kau lakukan? Pahlawan penyelamat? Kau bunuh semua pengawalku dan kau masih berani bilang kau bukan begal?"


" Ini semua kesalahpahaman, Tuan Putri. "


" Kesalahpahaman? Ya, sebuah kesalahpahaman karena kau mengira ini kereta yang mengangkut uang dan harta kan? Kau tidak tahu, aku sedang momong adikku jalan-jalan tanpa banyak pengawalan. Aku ingin sedikit kebebasan dengan pergi diam-diam dari istana untuk menikmati pemandangan alam, dan kau membunuh semua Pengawalku yang sangat kukasihi karena hanya mereka yang bersedia melanggar aturan keamanan kraton demi kesenanganku. Apa salah Pengawalku sampai tega-teganya kau cabut nyawa mereka? Kau seharusnya tidak perlu seperti itu kalau ingin harta dan perhiasanku, cukup kau minta padaku tanpa perlu membunuh mereka. Dan sekarang dengan tanpa rasa bersalah kau suruh aku percaya bahwa kau bukan begal dan ini semua hanya kesalahpahaman? Bukan hanya tak punya hati, kau juga tak punya malu. Makhluk macam apa kau ini?"


Jantung Kidang Panah terguncang hebat. Tiap patah kata Padma Dewi menjadi tusukan kebenaran yang mencabik-cabik dinding keangkuhan dendamnya pada kehidupan. Ya, tidak seharusnya ia membunuh pengawal yang sedang menjalankan tugas. Mereka sama sekali tidak bersalah kepadanya. Lalu apa haknya mencabut nyawa mereka? Ketajaman kata-kata Padma Dewi membuatnya tertegun. Baru pertama kali ini ia didera sesal setelah membunuh sekian ratus orang sebelumnya tanpa perasaan salah sedikitpun. Tanpa disadari, matanya berkaca-kaca. Agak terbata, Kidang Panah membuka mulutnya, " Iya, Tuan Putri. Hamba hari ini memang begal. Dan hamba bersedia menerima pidana mati untuk perbuatan hamba hari ini dan banyak lagi kejahatan hamba sebelumnya. Hamba bersedia dihukum mati. Tapi...," Kidang Panah ingin melanjutkan pembelaan diri, tapi tak kuasa. Tiba-tiba ia disergap rasa malu bila harus membela diri dengan mengatasnamakan latar belakangnya. Rasanya kekejiannya selama menjadi begal jauh lebih besar dibandingkan pembenaran atas dendamnya.


Padma Dewi mengerutkan alisnya yang legam agak melengkung di bawah kening putih kemilaunya. Ia dapat merasakan nada tulus getir di kalimat Kidang Panah yang belum selesai, " Katakan saja maksudmu. Masalah pidana mati atau tidak, biar hukum Negara yang memutuskan. "


Padma Dewi menatap Kidang Panah yang terus menunduk saat bercerita. Naluri Padma Dewi diam-diam mengagumi kisah itu. Ternyata Kidang Panah seorang pejuang cinta. Sebagai wanita, ia merasa ikut bangga kaumnya dicintai hingga bertaruh nyawa. Namun sebagai seorang negarawan, ia tidak boleh juga membenarkan tindakan Kidang Panah yang merugikan ketertiban umum.


" Jadi atas dasar dendam itu kau jadi begal? Hanya karena kesalahan satu dua orang prajurit Majapahit, kau lantas menganggap semua prajurit Majapahit bersalah? Padahal, jauh lebih banyak prajurit yang baik dibanding yang brengsek. Kalau tidak, siapa yang melindungi keselamatan rakyat? Kalau negara diserang musuh, siapa yang menghadang kalau tidak ada prajurit? Lantas kau mau hidup di mana kalau negaramu diambil orang asing? Sungguh picik pikiranmu! Satu orang yang bersalah, lalu kau salahkan seluruh dunia. Kau ini siapa? Dewa Siwa?"


" Hamba mengaku salah. Hamba bersedia dihukum."


" Bukan aku yang berhak menghukumnu, Kang Kidang!"


Kidang Panah menelan ludah. Meski sekilas sepele, ia menangkap ada perubahan mendasar. Mengapa tiba-tiba seorang putri Kraton memanggil dia dengan sebutan Kang?

__ADS_1


" Andai hamba boleh meminta, sebelum hamba dihukum mati, ijinkan hamba bertemu dengan keluarga. Selanjutnya hamba siap menyerahkan....."


Belum usai Kidang Panah menyelesaikan kalimatnya, terdengar gemuruh genderang tanda datangnya prajurit dalam jumlah besar. Rupanya istana sudah mengetahui ketiadaan Padma Dewi sehingga mengerahkan prajurit dalam jumlah besar untuk mencarinya. Kidang Panah secara pribadi sudah siap ditangkap, tapi ia memikirkan nasib 12 orang anak buahnya. Spontan tubuhnya melesat di depan barisan anak buahnya.


" Mereka tidak bersalah. Bebaskan mereka.. Aku menyerah. Silahkan kalian tangkap!"Teriak Kidang Panah di hadapan ratusan prajurit Majapahit yang sudah mengepung dari segala arah.


" Tidak usah banyak koar, Kidang Panah! Aku membawa seratus lebih prajurit panah. Kau dan gerombolan begalmu tidak akan selamat kalau melawan. Menyerahlah!" seorang perwira prajurit menjawab.


" Sudahlah. Kalaupun kalian menang, itu sudah pasti karena jumlah kalian lebih banyak. Tapi aku peringatkan, satu nyawa saudaraku akan kalian tebus setidaknya 10 nyawa kalian. Belum lagi aku, pasti akan membunuhmu ditambah berlipat-lipat banyaknya prajuritmu yang akan tewas di tanganku. Pikirkan itu! Kau mencari Kidang Panah kan? Ini aku sudah di hadapanmu dan siap menyerah. Jangan ganggu saudara-saudaraku. Mereka hanya pengikutku. Bebaskan mereka !"


Perwira prajurit itu tersenyum. Rupanya dia seorang perwira yang taat pada perintah dan bernyali besar, " Jangan coba-coba menggertak nyali prajurit Bhayangkara, Kidang. Tidak perlu sok paling sakti di antara kita Kau kira kesaktianmu mampu mengecilkan hatiku? Justru aku Kridha Langit ingin sekali membuktikan bualan kosong kesaktianmu."


Bergemuruh isi dada Kidang Panah mendengar pengakuan bahwa yang dihadapi sekarang adalah pasukan elit Majapahit yang sangat tersohor kemampuan tempurnya. Jiwa pendekarnya bergolak, ingin membuktikannya.


" Baik, Kridha Langit. Apa kau mau berjanji menjadikan ini sebagai pertaruhan pribadi?" tanya Kidang Panah.


Kridha Langit tersenyum, " Maksudmu?"


" Jika aku kalah, perlakukan aku dan teman-temanku seperti maumu. Tapi jika aku menang, biarkan teman-temanku pergi sebagai orang merdeka, sedang aku boleh kau tangkap.,"


Kridha Langit merasa takjub dengan pertaruhan yang diajukan oleh Kidang Panah. Segera ia bisa memahami jiwa kepemimpinan Kidang Panah. Iapun menangkupkan tangan tanda hormat.


" Siap, kakang Kidang. Saya terima tantangan Anda."


Kidang Panah tersenyum senang. Rindu rasanya bertempur menghadapi seorang lawan dengan jiwa satria seperti Kridha Langit.

__ADS_1


" Baik, adhi Kridha Langit. Silahkan bersiap. "


__ADS_2