KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
32 MENERKA LOBANG UDARA


__ADS_3

Karna dan Kidang Panah saling menatap. Kemudian mereka melihat kecepatan rayap ratusan ular berbisa yang menuju dahan tempat Julig dan Bregas duduk. Tak mungkin lagi dicegah, sudah pasti beberapa kejap mata lagi ular-ular yang kesakitan oleh hawa panas sehingga sedang ganas-ganasnya dapat dilawan Julig.


Tak ada jalan lain, mereka harus mendahuluinya. Sekali saja seekor ular berhasil mematok Julig atau Bregas, pasti mereka mati.


" Hiyaaahhh....!!!" Kidang Panah dan Karna tanpa dikomando berbarengan menjejakkan kaki melompat ke dahan di mana Julig dan Bregas berada dalam keadaan panik.


" Loncat ke punggungku, sekarang!" pekik Kidang Panah dan Karna bersamaan.


Julig melompat mendekap tubuh Karna, sedang Kidang Panah tertimpa nasib agak sial. Rupanya Bregas sudah terkencing-kencing ketakutan melihat ratusan ular merayap naik memburu dirinya.


" Keparat!" ujar Kidang Panah, " Pesing banget bau kencingmu, Bregas!"


Bregas yang memeluk tubuh Kidang Panah dengan gemetar menjerit, " Ampuuunn ...!!! Ampun, Raden! Saya sangat takuuuuttt....!"


Kidang Panah mendenguskan napasnya kuat-kuat untuk membuang aroma pesing kencing Bregas yang menelusup ke paru-parunya.


" Hiyaaahhh. ..!!!" berbarengan Karna dan Kidang Panah melentingkan tubuh menuju pucuk-pucuk pohon untuk berlari keluar dari alas Ketonggo.


" Zzzuuuuutttt......!!!"


Puluhan ekor ular berbisa melompat ' terbang' menyerang tubuh Julig dan Bregas. Untung saja Kidang Panah dan Karna sudah melentingkan tubuh sehingga serangan ulat itu menemui ruang kosong. Puluhan ular berjatuhan menimbulkan suara ketepak ketepok di tanah alas Ketonggo.


Menyadari serangan pasukan ularnya gagal oleh kegesitan dua pendekar sakti itu, Panembahan Swara menghentikan tiupan serulingnya.


" Hmmmmm ... kemampuan dua bocah itu benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Mulai saat ini jangan membuka pintu goa kecuali pada orang yang kita kenal atau yang sudah ada perjanjian sebelumnya, " ucap Panembahan Swara.


" Sandika Dhawuh, Yang Mulia Guru!" sahut para murid di dalam goa.


***


Sesampai di penginapan, Kidang Panah yang biasa berlaku sebagai pemimpin bersungut-sungut. Ia berjalan mondar-mandir gelisah. Semua cara sudah dilakukan. Baik cara Karna dengan Tapak Dahana, caranya dengan ilusi sihir, yang terakhir dan hampir berhasil adalah siasat Julig. Sayang sekali, mereka tidak mampu mengantisipasi datangnya pasukan ular yang dapat diperintah dengan tiupan seruling Murli Katong.

__ADS_1


Saat itu sudah Lingsir wengi, namun tak seorangpun berniat untuk tidur. Karna, Julig dan Kidang Panah sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Besok pagi sudah memasuki hari ke dua, waktu semakin pendek.


" Besok pagi kita ke sana lagi! " ujar Kidang Panah.


Karna saling tatap dengan Julig. Agaknya mereka sepikiran. Julig menggeleng kepala, demikian juga Karna.


" Kenapa kalian geleng kepala?" tanya Kidang Panah dengan nada tak nyaman.


" Kedatangan kita telah diketahui oleh Panembah Swara, pasti penjagaan di goa makin diperkuat. Bisa saja pintu goa ditutup seharian oleh mereka. Jadi percuma kita datang selama tidak bisa membuka pintu, " jawab Karna.


" Justru itu kita tetap ke sana. Kalau perlu bawa palu besar untuk memecah pintu itu."


" Sementara kita memalu pintu, apa Panembah Swara akan diam saja tanpa perlawanan? Malam ini kita tidak mampu menghadapi ribuan ular. Mungkin besok bisa saja ditambah memanggil harimau, ribuan burung gagak, atau apapun kita tidak tahu. Kita belum tahu batas kemampuan ajian Murli Katong, Kang."


" Lantas, apa kita harus diam saja? Atau kita menyerah dan mengembalikan tugas ini kepada guruku Mpu Kuricak? Kalau aku lebih baik mati daripada tidak melaksanakan tugas dari guruku!" sahut Kidang Panah sengit.


" Bukan begitu, Kang. Saya pun lebih memilih mati daripada menolak tugas dari Guru, " ujar Karna dengan nada rendah untuk meredam ketegangan. " Kita tetap ke sana, tapi harus dengan siasat yang tepat."


" Maaf, terus terang saya. juga belum menemukan caranya, Kang Kidang. Tapi mari kita pikirkan dengan kepala dingin. Duduklah sebentar menenangkan diri."


" Julig tadi menyuruh aku sabar, sekarang kau menyuruh aku tenang. Kurang sabar aku tadi. Kalau tidak sabar, sudah kupecahkan kepala dua penjaga keras kepala tadi!" ujar Kidang Panah yang temperamental. Dengan mendengus pendek ia duduk membentuk segitiga di antara Julig dan Karna.


Kidang Panah menatap lantai kamar, demikian juga Karna tampak berpikir keras.


" Saya boleh menyela Kakang berdua?' Julig membuka suara.


Kidang Panah yang sudah membuktikan kecerdasan Julig dalam mengurai masalah menatap Julig, " Katakan, Anak Kancil!"


Karna menahan senyum mendengar Julig mendapat julukan baru sebagai Anak Kancil yang berarti kecil tapi cerdik.


" Tadi Kang Karna bilang, kemungkinan pintu goa akan ditutup seharian. Saya kira itu ndak mungkin. Karena mereka butuh udara untuk bernapas, " ujar Julig.

__ADS_1


Karna dan Kidang Panah menatap Julig. Benar juga yang dikatakan Julig, murid-murid Panembah Swara yang tinggal di dalam goa sepertinya cukup banyak, karena mereka sempat mendengar gemuruh langkah orang berlarian sesaat setelah tanda bahaya dipukul oleh penjaga.


" Tapi, " sahut Karna, " Waktu pintu goa itu ditutup saat kita ada di sana, itu waktunya cukup lama. Kalau mereka cukup banyak dan butuh bernapas, tentu mereka tidak berani menutup pintu goa terlalu lama. Jadi kemungkinan mereka tidak mengandalkan udara dari pintu goa untuk bernapas."


" Benar sekali, kang Wingit. Itu yang ingin saya sampaikan. Berarti, goa itu ada lobangnya untuk keluar masuk udara."


Kidang Panah menepuk pahanya sendiri merasa ada harapan untuk bisa masuk goa lewat jalan lain, " Bagus! Kalau begitu besok kita siang kita ke sana agar cukup terang untuk memeriksa seluruh dinding goa untuk menemukan lobang udaranya."


" Jangan, Kang Kidang!" Julig buru-buru menyela, " Percuma kita ke sana terang-terangan. Seperti yang dikatakan kang Wingit, mereka sedang waspada, pasti melipatgandakan penjagaan. Kedatangan kita pasti akan langsung diketahui, dan Panembah Swara tidak mungkin diam."


" Lantas bagaimana cara tahu letak lobang udara kalau tidak kita periksa?"


" Dengan menyusup. Itu satu-satunya cara masuk ke sana."


" Cara menyusupnya?" Kidang Panah memiringkan wajahnya, menatap wajah Julig dengan penuh harap mendapat jawaban ajaib seperti yang diutarakan saat menyuruhnya menyerang arca Bathara Kresna.


" Itu yang saya belum tahu, Kang."


" Astaga!" seru Kidang Panah menepuk jidat dengan kecewa.


" Tapi saya butuh keterangan sebanyak mungkin tentang kebiasaan-kebiasaan para penghuni goa itu. Kalau saya tahu kebiasaan kegiatan mereka, mungkin saya bisa menemukan cara untuk menyusup, " ujar Julig.


" Iya, tapi kita tidak tahu sama sekali tentang itu."


" Bregas, Kang. Waktu ia mengantar arca Kresna, pasti ia cukup lama di sana karena ukuran arca itu cukup besar, tidak mungkin bisa dipasang dalam waktu cepat. Pada saat memasangnya, pasti ia sempat melihat kegiatan yang rutin mereka lakukan."


" Ya sudah, sekarang juga kau panggil Bregas ke sini!" ujar Kidang Panah tak sabar.


" Ya, Kang! " jawab Julig seraya berdiri. Ia berjalan setengah berlari kecil karena ingin secepatnya memperoleh keterangan yang sangat ia butuhkan untuk rencana penyusupan.


***

__ADS_1


__ADS_2