KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
AKAL GAGAK BAYAN


__ADS_3

Halaman rumah Savitri dipenuhi rombongan Gagak Bayan beserta prajuritnya. Para tetangga diam-diam mengintip dari balik pohon dan rerimbunan dengan rasa was-was. Reputasi buruk prajurit Gagak Nagara selama ini memaksa mereka sembunyi daripada mendapat masalah. Dalam hati mereka berdoa agar Jaka Wingit datang di situasi yang genting ini.


Setelah memasuki gapura rumah, Gagak Bayan turun dari kudanya yang paling tegap dibanding dengan kuda-kuda prajuritnya. Seorang prajurit mengangkat sebentuk peti yang terlihat lumayan berat entah berisi apa, diletakkan di depan tempat Gagak Bayan berdiri.


Seorang prajurit diutus untuk masuk ke rumah Suta. Beberapa saat kemudian, Suta keluar dengan expresi wajah tegang. Gagak Bayan dan Suta kemudian terlibat pembicaraan yang tidak bisa didengar oleh para tetangga yang jarak persembunyiannya agak jauh. Raut wajah Suta berubah-ubah selama pembicaraan itu terjadi. Namun raut serius jelas terpampang di sana. Beberapa kali Gagak Bayan menggerak-gerakkan tangan seolah meyakinkan atau memaksakan sesuatu. Beberapa kali pula Suta menggelengkan kepalanya. Gagak Bayan terus bicara hingga akhirnya Suta berdiam seperti sedang berpikir keras sebelum mengambil keputusan. Wajahnya menunduk dalam. Gagak Bayan membiarkan itu.


Tak lama kemudian, terdengar teriakan Suta memanggil nama Savitri. Bibir Gagak Bayan menyunggingkan senyum samar. Savitri didampingi ibunya keluar dari rumah dengan langkah ragu-ragu. Suta berbicara kepada mereka. Mereka mengangguk-angguk gamang.


Kemudian kaki Savitri dan ibunya melangkah lebih dekat ke arah Gagak Bayan yang lalu tersenyum lebar. Tangan Gagak Bayan memberi isyarat kepada prajuritnya yang segera membuka peti. Gagak Bayan meraih sesuatu dari peti itu Kemudian ia mengangkatnya.


" Keris?" Bisik seorang tetangga Suta dari balik persembunyian.


Ya. Gagak Bayan memang memegang sebilah keris yang masih ada di dalam warangka. Sejurus kemudian ia mengangkat warangka keris di depan dada. Tangan kanannya terulur memegang gagang keris, menariknya perlahan. Pelan-pelan bilah keris keluar dari warangkanya. Keris yang indah. Hitam legam dengan sisi-sisinya bersepuh emas. Indah sekaligus angker tajam dengan jumlah Luk ( lekuk) 3.


Bibir Gagak Bayan tampak bergerak mengucap sesuatu. Suta tidak menjawab hanya menatap dengan tajam keris yang telah dibunus oleh Gagak Bayan. Ada sikap waspada di sana, namun kakinya seperti terpatri di tanah tanpa beringsut.


Gagak Bayan berbicara lagi sambil melangkahkan kaki mendekati Suta hingga kini jaraknya sangat dekat. Bahkan terlalu dekat. Mata Savitri dan ibunya tak henti mengawasi.


Para tetangga yang mengintip kian tercekat. Jarak Gagak Bayan dan Suta hanya seayunan lengan. Satu tukikan saja tangan Gagak Bayan bergerak, dapat dipastikan perut Suta tidak mungkin lolos dari tikaman keris.


Dan....benar! Tangan Gagak Bayan bergerak. Para tetangga ingin berteriak, namun tak berani. Sementara Suta seolah-olah terhipnotis oleh keris itu. Tanpa respon, tanpa reaksi!


Mereka hanya berjarak serentangan telapak tangan saja. Kejadian selanjutnya tidak akan bisa dicegah lagi....


" Tahan, Tuan Gagak Bayan...!!! " Tiba-tiba melesat sebuah bayangan yang langsung menggenggam lengan Gagak Bayan sehingga gerakannya terhenti di tengah jalan.


" Kakang Jaka Wingit !" Tanpa sadar bibir merah muda Savitri berteriak tertahan. Mata bulatnya berpendar-pendar senang menatap Karna sudah berdiri tepat di samping Suta sambil mencekal erat tangan Gagak Bayan.


Karna melirik Savitri. Seketika dadanya berdegup agak kencang. Namun ia segera memusatkan perhatian pada Gagak Bayan yang justru tampak tersenyum sumringah.


Sementara, para tetangga yang bersembunyi, bersorak-sorai melihat kedatangan Karna. Mereka sudah mendengar cerita tentang kedigdayaan Jaka Wingit saat memukul keok Gagak Bayan beserta 100 prajuritnya. Sirna seketika rasa ketakutan pada Gagak Bayan. 100 orang saja dibuat tak berdaya, apalagi sekarang Gagak Bayan cuma membawa sekitar 20 orang prajurit? Bisa dibikin mati berdiri dalam satu gebrakan. Serentak mereka keluar dari tempat persembunyian, berlarian mendekat sambil mengelu-elukan nama Jaka Wingit.


" Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan?" Tanya Karna sambil melepaskan genggamannya pada Gagak Bayan setelah memastikan keadaan gawat mampu ia atasi.


Gagak Bayan justru tertawa mendengar pertanyaan Karna, " Bahagianya aku bertemu lagi dengan adhiku Jaka Wingit. Jangan salah paham. Coba tanya sama Kang Suta."


Karna terlihat agak bingung dengan situasi itu. Ia menoleh ke arah Suta, " Apa yang terjadi, Kang Suta?"

__ADS_1


Suta belum sempat menjawab, di gapura masuk 3 ekor kuda yang membawa Julig, Kebo Ireng, dan temannya Julig. Julig tanpa paham situasi yang sebenarnya langsung berteriak, " Hajar saja mereka semua, Kang Wingit! Dasar gerombolan ndak tau diuntung. Kemarin apa ndak tau kalau diampuni, sekarang malah berulah. Bunuh saja kalau perlu, biar saya yang buang mayat mereka ke Bengawan. Ndak usah dikubur rombongan orang ndak tau diri macam mereka. Bikin kotor bumi saja !"


" Sabar, Julig. Sabar." Karna mengangkat tangannya.


" Apa yang mereka lakukan, Kang Suta?" Karna mengulang pertanyaannya.


Suta tersenyum tipis, " Tuan Gagak Bayan bermaksud mengikat tali persaudaraan dengan kami sekeluarga."


" Mengikat tali kekeluargaan?" Karna mengerutkan kening," Maksudnya Tuan Gagak Bayan ingin mempersunting Savitri?'


" Hahaha...bukan begitu, Adhi Wingit," Gagak Bayan memotong pembicaraan. Ia menangkap ada nada cemburu pada diri Karna.


" Maaf," Karna menyela, " Jika ini pembicaraan antara pribadi Tuan dengan keluarga Kakang Suta, saya tidak bermaksud turut campur. Silahkan, saya hanya ingin memastikan bahwa semua baik-baik saja."


Kembali Gagak Bayan tersenyum lebar, " Lho, Adhi juga bagian dari keluarga kita. Jadi berhak tahu."


" Tapi mengapa Tuan tadi menghunus keris di depan Kang Suta?"


Gagak Bayan menepuk-nepuk bahu Karna, " Yang Adhi lihat tadi kesalahpahaman karena Adhi baru datang. Kakang tidak menghunus keris, tapi sedang menunjukkan keris Chandramaya yang akan Kakang berikan untuk Kang Suta sebagai tanda ikatan keluarga."


" Benar yang dikatakan Tuan Gagak Bayan, Adhi Wingit," Suta menimpali.


Gagak Bayan tertawa, " Hahaha...saya justru senang. Itu tandanya Adhi Wingit sangat peduli pada keselamatan jiwa saudara baruku Kang Suta. Lagipula Adhi Wingit jangan salah paham dengan maksudku mengikat tali kekeluargaan dengan Kang Suta, sama sekali bukan untuk meminang Savitri. Apa Kakang sudah gila mengambil Savitri yang calon istri Adhi Wingit adikku sendiri."


"'Maaf, Tuan, " Karna memotong, " Savitri bukan calon istri saya," sambungnya dengan polos.


Perkataan Karna yang masih sangat lugu dalam membaca perasaan wanita tak disadari membuat Savitri menghembus napas cepat karena kecewa. Pipinya memerah, tanpa sadar ia sembunyikan wajah di pundak ibunya yang segera paham bahwa putri tunggalnya sedang dilanda asmara pada Jaka Wingit.


Gagak Bayan yang sudah sangat hapal dengan gerak-gerik wanita menangkap jelas isyarat hati Savitri. Ia lanjutkan tawanya, " Bukannya bukan, Adhi Wingit. Mungkin cuma belum. Nanti juga iya. Siapa laki-laki yang bisa menolak wanita secantik dan seanggun ratu seperti Savitri?"


Kali ini Karna tidak menjawab. Ada rasa sesal juga telah menjawab dengan kata 'bukan'. Bagaimanapun harus ia akui, Savitri memang sangat menarik hati dan pikirannya, bahkan menimbulkan rasa rindu yang mendesirkan dada.


" Hari ini, disaksikan semua yang ada di sini, juga para warga Dahayu. Aku Gagak Bayan, berjanji tidak akan mengganggu Savitri. Dan bukan hanya aku. Tapi setiap laki-laki selain Adhi Jaka Wingit, yang berani menggoda, merayu, apalagi menyentuh Savitri, akan aku kejar untuk kukirim ke liang kubur sebagai jasad mati."


Semua yang mendengar sumpah Gagak Bayan terkesiap. Takjub atas kesungguhannya. Diam-diam Savitri tersenyum senang di balik bahu ibunya.


Sejenak hening. Suta berkata memecah kebiasuan, " Baiklah jika demikian maksud Tuan Gagak Bayan mengangkat kami semua sebagai keluarga. Saya Suta sekeluarga, lahir dan batin, dengan perkenaan restu dari Dewata Yang Agung dan para leluhur, menerima ikatan persaudaraan ini, dan mulai saat ini karena saya lebih tua dari Anda, saya menyebut Gagak Bayan sebagai Adhi."

__ADS_1


Gagak Bayan tersenyum senang, ia haturkan sembah pertama sebagai adik, lalu memeluk Suta yang menerima dengan hati lapang atas semua tindakan buruk Gagak Bayan selama ini.


Semua yang hadir tidak menyangka awal hubungan Gagak Bayan dan Suta yang demikian buruk dapat berakhir dengan sangat indah oleh kehadiran Jaka Wingit. Kebo Ireng tak henti-henti mengucap syukur, sementara Julig melongo.


Gagak Bayan bukan hanya menyerahkan keris Chandramaya sebagai tanda kekeluargaan. Ia serahkan peti yang ada di hadapannya kepada Suta. Ternyata peti yang cukup berat itu berisi uang dan perhiasan emas berlian sebagai pengganti seluruh kerugian Suta akibat kalah judi, hilangnya barang dagangan, dan kebakaran peternakan. Bila dihitung, pemberian Gagak Bayan sangat cukup jumlahnya, bahkan lebih dibandingkan jumlah kekayaan Suta sebelumnya. Gagak Bayan juga mengutarakan keinginannya untuk 'bertobat'. Ia bercerita telah memerdekakan seluruh gundik dan dayang-dayang yang memilih untuk kembali ke orangtuanya masing-masing. Hanya beberapa selir dan dayang-dayang yang memang secara suka rela memilih untuk tinggal yang masih tetap di Wisma Gagak Nagara. Demikian juga untuk prajurit, telah dibubarkan agar tidak bertentangan dengan hukum Negara, kecuali sebagian kecil yang masih tinggal sebagai penjaga keamanan dan pelayan biasa, abdi dalem, pelayan adat, ritual keagamaan, serta pegawai urusan administrasi dan kependudukan.


Penjelasan Gagak Bayan yang cukup meyakinkan membuat Kebo Ireng beberapa kali memuja kebesaran Hyang Widhi atas kuasaNya yang telah mendatangkan Jaka Wingit sehingga mampu merubah Gagak Bayan yang bengis, sombong penuh angkara menjadi pribadi yang teduh, mau belajar rendah hati sekaligus murah hati. Karna pun hanyut mulai percaya pada ketulusan hati Gagak Bayan. Perlahan sirna rasa takut para warga terhadap sosok Gagak Bayan, terganti perasaan hormat pada seorang pemimpin daerah yang menginjak tahap bijaksana.


" Demikian Ki Buyut Kebo Ireng, Kakang Suta, dan Adhi Wingit. Beri saya kesempatan untuk mengabdi pada Bhumi Majapahit dengan cara yang setepat-tepatnya, sekaligus menjadi pamong yang mengayomi seluruh warga Gagak Nagara, " Gagak Bayan menutup ceritanya.


Kebo Ireng mendesah napas panjang, halus dan lega, " Kami menyaksikan dan berdoa untuk kemuliaan cita-cita Tuan. Kiranya Sang Hyang Widhi menuntun setiap gerak kehidupan kita semua. Ada lagi yang Tuan Gagak Bayan ingin sampaikan?"


" Tidak, Ki Buyut. Hari sudah menjelang senja, saya bermaksud mohon pamit kembali ke Gagak Nagara. Tiga hari dari sekarang, saya bermaksud mengadakan perjamuan kecil-kecilan untuk mengukuhkan kekeluargaan kita. Baik antara saya dengan Kang Suta, maupun dengan Adhi Wingit. Bila berkenan, saya sangat berharap Anda semua hadir. "


" Baiklah, saya bersedia hadir, " Kebo Ireng dan Suta menjawab hampir bersamaan.


" Bagaimana dengan Adhi Wingit?" tegas Gagak Bayan dengan sangat berharap. Andai seluruh orang hadir, tetapi tanpa kehadiran Jaka Wingit, semua sia-sia.


Karna tersenyum, " Saya bersedia, Tuan...."


" Eh, mengapa masih juga memanggil saya Tuan? " Gagak Bayan memotong pembicaraan," Apa aku benar-benar tidak layak menjadi saudara tuamu, Adhi?"


Karna tergagap, " Ah...maaf, Tu...eee...Kakang Gagak Bayan. Hanya belum terbiasa saja. Maafkan saya, Kang."


Gagak Bayan tertawa senang mendengar Jaka Wingit telah memanggilnya Kakang, " Nah, itu baru Adhi sejatiku! "


Julig tertawa cengingisan, "Waaaahhh..Kang Wingit punya saudara kaya raya nih ceritanya...!"


" Hus...!" Kebo Ireng menegur muridnya. Julig buru-buru menutup mulutnya.


" Baiklah, karena sudah usai maksud saya ke sini untuk sowan ( sowan \= kunjungan seseorang kepada orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya ) saya mohon pamit. Rahayu . "


" Rahayu untuk semua, Tuan Gagak Bayan. Jaya-Jaya Wijayanti, " jawab Kebo Ireng. Jaya-Jaya Wijayanti adalah salam untuk mengantar seseorang yang akan pergi atau pamitan, yang berarti harapan agar mendapat keberhasilan/kemenangan di tiga alam, yaitu alam kelahiran, alam kehidupan, hingga alam kelanggengan ).


" Selamat di perjalanan hingga sampai tujuan, Kang Gagak Bayan, " timpal Karna, " Jaya Jaya Wijayanti. "


Rombongan Gagak Bayan meninggalkan rumah Suta. Di sepanjang perjalanan, Gagak Bayan menebar uang ke warga yang berpapasan. Dari uang Gobog, Ku , Ma , dan Tahil tembaga, Timah, hingga perak. Warga desa yang menerima uang pemberian Gagak Bayan seolah bermimpi. Sepekan yang lalu Gagak Bayan adalah sosok yang sangat menakutkan sekaligus dibenci sebagai kepala daerah yang sewenang-wenang menarik pajak, namun kini dalam sekejap telah berubah menjadi dermawan yang sangat murah hati. Bahkan terlalu murah hati rasanya. Ah, ternyata Yang Maha Agung memang tidak pernah kehilangan cara untuk membolak-balikkan hati manusia.

__ADS_1


Tiga hari lagi akan ada pesta besar di Wisma Gagak Nagara. Semua boleh datang. Semua orang penasaran ingin menyaksikan keajaiban selanjutnya.


***


__ADS_2