KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
79 DAHAN CIKAL BAKAL


__ADS_3

Barbro menyeringai memandang rendah serangan yang datang. Di matanya, orang-orang Jawa bagai bocah kecil yang tingginya tak mencapai dadanya. Sekali ia mengibaskan pedang, jangkauan tangannya yang panjang akan mendahului menyayat tubuh penyerangnya.


" Suuutttt...." kibasan pedang Barbro menahan laju terjangan para. pemuda desa yang melompat mundur untuk menghindar..


Melihat para penyerangnya mundur, Barbro memanfaatkan saat jeda itu untuk membabat satu dahan pohon Baita untuk dibawa dan dipelajari.


" Craaaakkk....!"


Dengan satu tebasan, pedang Barbro yang terbuat dari baja pilihan olahan tehnik logam Romawi memangkas putus satu dahan Baita yang akan dilarikannya. Ia segera melompat ke punggung kudanya tanpa memperhitungkan serangan pemuda desa. Namun....


Kejumawaan Barbro yang terlalu memandang remeh orang Nusantara berbuah pahit. Ia belum tahu bahwa seawam-awamnya kawula Majapahit, Majapahit adalah kekuatan yang baru saja bangkit dengan cita-cita yang sangat besar sehingga setiap pemudanya mempunyai kewajiban bela negara dan pernah mendapat didikan keprajuritan meski sangat minim. Lagipula, cara hidup Nusantara pada masa itu sangat dekat dengan. sifat alam sehingga banyak orang mendalami kesaktian bukan secara raga kasar melainkan jiwa halus namun sangat kuat dayanya.


Melihat raksasa Eropa itu akan melarikan diri, seorang pemuda yang bernama Jaka Mabang bersalto tiga kali di udara mendahului tubuh Barbro yang akan mendarat di punggung kuda.


" Plaaakkk....!!! " kaki Jaka Mabang menghujam kepala Barbro.


Barbro kehilangan keseimbangan.


Meski sepakan Jaka Mabang tidak terlalu keras bagi Barbro, namun kecepatan luncuran dan ketajamannya tak ayal membuat bibir Barbro pecah menyemburkan darah.


" Buuukkkk....!" kaki Barbro memang berhasil mendarat di tanah dengan seimbang, namun tak ayal ia terhuyung dua langkah ke belakang.


" Grrrrr.....!" Barbro menggeram tak menyangka hanya dengan satu serangan tunggal seorang desa Nusantara mampu membuat darahnya mengucur. Padahal postur tubuh Jaka Mabang hanya setengah dari tubuh raksasanya.


Kini Barbro sadar, ia tidak bisa terlalu gegabah mengahadapi orang Nusantara hanya karena ukuran tubuh mereka yang jauh lebih kecil darinya.. Keluwesan dan kecepatan gerak pribumi tidak bisa dipandang sebelah mata.


Yang penting baginya adalah dahan pohon Baita. Segera ia mendekati kudanya lagi untuk menyelipkan kayu itu ke kantong pelana. Setelah itu dengan kewaspadaan penuh Barbro bersiap bertarung sembari mencari kesempatan untuk melarikan diri.


" Hyaaaaattt...." Jaka Mabang mengulangi serangannya dengan gaya yang sama.


Tapi kali ini Barbro sudah bersiap.


Dengan cepat Barbro menyambut datangnya tubuh Jaka Mabang dengan pedangnya.


Untung saja Jaka Mabang belum meluncur di udara. Ia menahan saltonya yang ketiga agar tubuhnya tidak tertusuk pedang Barbro yang mengarah ke atas.


" Keparat!" Jaka Mabang memaki karena hampir saja pinggangnya tertusuk pedang.


Di saat yang sama, pemuda desa serentak melakukan serangan kilat .


Barbro yang memanfaatkan keunggulan jangkauannya dengan memutar pedang melindungi dirinya.


" Trang.... Trang....cring...!!!"

__ADS_1


Terdengar suara pedang saling berbenturan.


Pedang Barbro bergetar.


Namun, rupanya pedang Barbro adalah pedang khusus perang yang terbuat dari bahan logam yang sangat baik, sedang pedang para pemuda desa hanya pedang biasa untuk memangkas ranting dan dahan pohon. Apalagi tenaga kasar Barbro sangat besar dibandingkan tenaga para pribumi.


Akibatnya....


" Tak....pletak....pletak !'


Pedang penduduk desa terlempar dari genggaman dan beberapa patah terpangkas hingga tinggal setengah.


" Hati-hati, dia sangat kuat!" seru Jaka Mabang memperingatkan teman-temannya.


" Jangan berbenturan secara langsung, kita kepung saja dulu, " sahut seorang lain yang kelihatan paling tenang. " Semua, ambil galah bambu!"


" Untuk apa, Sanca?" tanya Jaka Mambang. " Apa untuk dipukulkan ke tubuhnya?"


Orang yang bernama Sanca tampaknya pemimpin di antara para pemuda, " Tidak untuk dipukulkan. Tubuhnya tampaknya sangat kuat, percuma memukulnya dengan bambu. Kita gunakan bambu untuk melompat dengan serangan pedang!"


Semua pemua desa mengangguk paham. Segera mereka membagikan galah bambu sambil mengepung Barbro yang belum paham rencana para penyerangnya.


" Jangan menyerang berbarengan. Bahaya kalau saling bentur di udara, " seru Sanca. " Satu-satu tapi dari arah yang berlawanan agar dia kebingungan bergerak. Tunggu aba-abaku."


" Selatan siap serang, Utara selanjutnya! " seru Sanca memberi aba-aba.


" Hiyaaaatttt....!"


Pemuda yang berdiri paling selatan menghentak galah bambu yang lentur sehingga melontarkan tubuhnya dengan kecepatan bersalto sekali di udara untuk merubah posisi kaki yang ke depan menjadi tangan yang menghunus pedang untuk ditebas ke leher Barbro.


Barbro terkejut dengan serangan cepat itu. Ia segera menebaskan pedangnya untuk menangkis.


" Craaaanggg...!" bunga api berpijar dari benturan pedang.


Kembali kekuatan ayunan pedang Barbro memakan korban. Pedang penyerangnya rompal hampir putus.


" Ahhrrrgg... " penyerang Barbro memekik hampir saja pedangnya lepas dari genggaman.


Hampir saja penyerang dari selatan itu celaka karena ia jatuh berdiri tepat di depan Barbro yang siap mengayun pedang.


Untung di saat bersamaan, dari arah Utara di belakang punggung Barbro, penyerang kedua memulai lompat galahnya dengan teriakan.


Barbro memutar tubuhnya, menghadang.

__ADS_1


" Traaaanggg....!"


" Pletak!" pedang pemuda desa patah.


Belum sempat Barbro menarik napas, dari arah Timur serangan berikutnya menyusul.


"Grrrrhhhhh....!" Barbro menggeram setelah serangan ketiga hampir saja berhasil menggores lengannya.


Selanjutnya dengan pola yang sama, serangan susul menyusul ke segala arah.


Barbro sadar, jika diteruskan ia akan kalah menghadapi pemuda desa yang bergerak sangat lincah. Namun ia telah memutuskan untuk merubah pola pertahanan.


Saat sebuah serangan datang dari arah Tenggara, ia sengaja tidak menangkis melainkan bergerak melompat ke Utara sehingga tubuh penyerangnya lewat. Dengan sigap ia tangkap pinggang penyerangnya. Tenaganya yang sangat besar tanpa kesulitan melempar tubuh penyerangnya ke arah berlawanan yang sedang melakukan serangan susulan.


Akibatnya.....


" Craaaassshh....!"


" Aaaarrrrggghhhh....!"


Warna darah merah muncrat keluar dari tubuh orang yang Barbro lempar karena dadanya tertebas pedang temannya sendiri.


Penyerang yang kaget telah melukai temannya sendiri sedetik termangu. Pada saat itu juga, Barbro menerkam kepalanya dan memuntir leher penyerang itu hingga patah.


" Kreeekkk....!"


Terdengar tulang leher yang patah disusul jatuhnya tubuh yang mati seketika.


Melihat hanya dengan satu puntiran Barbro mampu membunuh seorang temannya, para pemuda desa terhenyak dan tak sadar mundur setindak menghentikan serangan.


Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Barbro yang segera berlari dan melompat ke punggung kudanya.


Kuda Barbro mengangkat kedua kaki depannya karena kaget. Namun Barbro adalah penunggang kuda yang sangat mahir. Dengan cepat ia menguasai keadaan, menghentak perut kuda sehingga melompat, mencongklang sekuat tenaga lari keluar dari desa Jalanidhi.


Melihat kuda Barbro melesat dengan membawa dahan kayu Baita yang tidak boleh keluar dari desa, para pemuda desa segera sadar. Namun terlambat. Kuda Barbro telah berlari jauh. Jarak yang harus dikejar terlampau jauh. Apalagi kuda Barbro adalah kuda berukuran besar seperti kuda dari mancanegara, percuma disusul.


Akhirnya warga desa Jalanidhi hanya mampu menyesali kejadian siang itu. Setelah merawat seorang teman yang terluka dan melaksanakan pemakaman korban tewas yang patah tulang lehernya, mereka menyelenggarakan upacara adat untuk memohon maaf kepada leluhur atas keteledoran yang membuat sebatang dahan pohon keramat keluar dari desanya.


Kejadian yang sekilas sepele itu di kemudian hari berubah jadi bencana sekaligus hikmah di mana jaman akan mencatatnya sebagai sejarah baru lahirnya armada perang terdahsyat di Nusantara, bahkan mungkin secara ukuran terbesar di seluruh permukaan samudra Bumi.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2