
Empat kuda pilihan berderap memecah malam. Kegelapan di parobulan tanpa purnama tidak mampu menghalangi keinginan kuat 3 Ksatria dalam membaktikan dirinya untuk tanah Pertiwi tercinta. Tekad mereka bulat, malam ini juga harus mendapat titik terang untuk tugas negara yang tersampir di dada mereka.
Julig secara maksimal mencoba kemampuan tunggangan barunya, kuda Seta, yang telah dibayar oleh Kidang Panah dengan harga yang sangat mahal meski sebenarnya Bagya menolaknya. Namun, harga kuda Seta memang sesuai dengan kemampuannya. Ia mampu berlari menyejajari kuda Gelap milik Karna yang termasuk jenis kuda perang. Warna bulunya yang putih mulus membuat penampakan kuda Seta saat berlari seperti burung bangau yang menerobos langit hitam. Kontras dengan kuda Gelap yang lenyap tersamar gulita malam.
Tak memerlukan waktu lama mereka sudah sampai di pinggir alas Ketonggo.
" Kita lanjutkan dengan jalan kaki. Hutan ini terlalu rapat untuk diterobos kuda, " ujar Kidang Panah.
Bregas menatap Kidang Panah, " Kalau jalan kaki bisa memakan waktu lama, Raden. Letak goa itu agak ke dalam."
Julig menepuk-nepuk bahu Bregas, " Tenang saja, Kang. Nanti kita menerobos hutan lewat atas. Kita terbang."
" Terbang?" tanya Bregas tak percaya.
" Sudah ndak perlu bingung gimana caranya. Kan ada aku, Raden Jaka Julig yang sakti mandraguna."
Karna tersenyum mendengar bualan Julig.
" Tahu tempat yang aman untuk menambatkan kuda, Kang Bregas?"
Bregas mengangguk dan menunjuk sebuah rumah, " Rumah itu menerima penitipan kuda. Orangnya bisa dibangunkan tiap saat."
Setelah kuda dititipkan, Kidang Panah berkata pada Bregas, " Sekarang, naik ke punggungku!"
" Maksudnya saya naik ke punggung Raden?" Bregas bertanya untuk meyakinkan diri bahwa dia tidak salah dengar.
" Iya, minta gendong kayak aku gini lho, Kang Bregas, " kembali Julig yang menjawab. Ia sudah nangkring di punggung Karna.
" Kenapa harus digendong?"
" Sudaaahhh...ndak usah nanya-nanya lagi. Mau terbang ndak? Jangan lupa pegangan yang kuat daripada jatuh nanti," sahut Julig lagi.
Dengan ragu-ragu Bregas naik ke punggung Kidang Panah. Ia meniru posisi tangan Julig melingkar memeluk tubuh Kidang Panah.
" Tunjukkan arah goa itu!" ujar Kidang Panah.
" Masuk ke selatan kira-kira sepenanak nasi dengan jalan kaki."
Kidang Panah tak menjawab. Ia hentakkan kakinya, melompat tinggi mencari dahan pohon yang cukup kuat untuk dijadikan pijakan awal agar dapat melenting ke puncak-puncak pohon dan berlari di atas hutan sehingga tidak terhalang rapatnya rimba Ketonggo.
" Hiyaaattt....!!! " Karna menyusul melakukan hal yang sama.
Bregas membelalakkan mata. Mereka benar-benar 'terbang' di atas alas Ketonggo. Kecepatan lari Kidang Panah maupun Karna di atas pohon tidak kalah dengan laju kuda di tanah datar. Dalam semalam, Bregas mengalami dua hal yang nyaris tak bisa diterima akal. Pertama mengusap-usap kepala harimau raksasa, dan yang kedua terbang di atas puncak hutan. Ia sangat bersyukur ikut serta dalam misi ini. Keberadaan manusia-manusia sakti ternyata bukan sekedar dongeng.
" Woooowww...." tak sadar Bregas bergumam. Ia sudah tidak sabar menceritakan dua pengalaman ajaib ini kepada semua orang yang ditemui.
Sementara Julig yang sudah mulai terbiasa diajak 'terbang' oleh Karna, dengan santai mencoba berbincang, " Kang Wingit, nanti kalau kita turun bisa ketemu lagi ndak dengan Raja Harimau yang tadi? Nggemesin banget soalnya. Sudah gendut, kuat, tapi jinak kayak kucing."
Karna tersenyum geli, " Ssssttt...aku kasih tau kau rahasia, tapi jangan bilang sama kang Bregas ya?"
" Ya, Kang. Aku janji ndak akan cerita apa-apa, " jawab Julig yang selalu penasaran kalau bicara masalah rahasia.
" Yang tadi itu bukan harimau sungguhan. Tapi harimau jadi-jadian ciptaan sihir kang Kidang biar Bregas tidak takut mengantar kita ke sini. Kang Kidang itu ilmu sihirnya sangat tinggi."
" Ndak lho, Kang. Wong saya usap-usap kepalanya nyata banget. Mosok harimau sihir bisa senyata itu. Wong Raja Harimau tadi bernapas lho, Kang."
" Ya sudah kalau tidak percaya. Aku waktu pertama bertarung sama kang Kidang, dia bisa membelah diri jadi lima orang. Jangankan cuma bernapas, ke lima orang jadi-jadian itu bisa memukul juga."
" Waduh! Jadi itu tadi cuma macan bohong-bohongan ya? Padahal aku sudah terlanjur suka sama Raja Harimau tadi. Ndak tahunya cuma sihir. Payah tu Kang Kidang. Ya mending aku pelihara kucing saja, bisa dibelai-belai beneran, " Julig bersungut-sungut.
Karna tidak mampu menahan tawa geli, " Hahaha...Julig...Julig..."
Kidang Panah melirik Karna, " Kalian bicara apa sampai tertawa seperti itu."
" Tidak bicara apa-apa, Kang. Ini lho, adikmu Julig mau piara kucing," sahut Karna menahan senyum.
Belum sempat Kidang Panah menjawab, Bregas menepuk pundaknya dan menunjuk ke bawah, " Itu goanya, Den!"
__ADS_1
Kidang Panah menjejakkan kaki dan hinggap di dahan besar, disusul Karna.
Kidang Panah memberi isyarat dengan jari agar mereka tidak berbicara keras karena terlihat ada dua penjaga berdiri di kiri kanan mulut goa.
" Kang Bregas dan Julig duduk di dahan ini. Biar aku dan Wingit saja yang turun dulu untuk mencari kepastian keberadaan penculik itu. Kalian lihat saja perkembangannya. Wingit, kita belum tahu malam ini masalahnya selesai atau belum. Bisa saja kita harus kembali besok lagi. Jadi kita tidak boleh dikenali dulu. Tutup wajahmu dengan kain!" bisik Kidang Panah lirih memberi instruksi.
Julig dan Bregas mengangguk paham, sementara Kidang Panah dan Karna menutup wajahnya dengan kain.
Sesaat kemudian, Kidang Panah dan Karna menjejakkan kaki menggunakan ilmu peringan tubuh sehingga ketika mendarat ke tanah tidak menimbulkan suara sedikitpun. Selanjutnya mereka berjalan biasa seperti mendekati mulut goa yang terpasang obor sebagai penerangan dengan dua orang penjaga.
Sekitar 3 depha ( 6 meter) sebelah timur pintu goa, berdiri arca indah Kresna bermain seruling. Rupanya arca itu yang pernah diantarkan oleh Wito dan Bregas ke tempat ini.
" Sampurasun..." Karna dan Kidang Panah mengucapkan salam.
" Rampes," sahut penjaga.
" Rahayu, Kisanak berdua, " ujar Kidang Panah. "'Kami berdua kakak adik dari lereng gunung Mahendra kemalaman setelah tadi sowan ke petilasan ( makam) Eyang Srigati. Maksud kami mau pulang, tapi tersesat berputar-putar di hutan ini. Bolehkah kami menginap semalam saja di goa ini? Adik saya kedinginan dan kelelahan."
Dua penjaga itu saling memandang sebelum salah satunya menjawab, " Tetapi mengapa Kisanak berdua menutup wajah kalau berniat bertamu?"
" Oh...maaf. Bukan bermaksud tidak sopan, kami menutup wajah karena takut kena semburan ular Senduk yang tadi banyak kami temui bergelantungan di pohon-pohon."
" Ooo... begitu? Tapi kami tidak bisa menerima ki Sanak berdua untuk bermalam di dalam goa. Silahkan kalau mau tidur di luar sini saja. Ada obor, jadi tidak akan ada hewan buas yang mendekat."
Karna menyahut, " Apa kami harus membuka kain penutup wajah agar diijinkan masuk ke dalam goa? Jika demikian, akan kami buka penutup wajah kami."
" Oh, maaf, bukan itu alasannya. Tapi kami diperintahkan oleh guru kami Panembah Swara untuk tidak menerima tamu siapapun."
Karna dan Kidang Panah saling melirik. Dugaan mereka kian menguat atas penggunaan nama Panembah Swara ( Pemuja Suara) sangat dekat dengan ajian Murli Katong yang menyalurkan kekuatan lewat nada-nada.
" Jika demikian, biarlah kami yang berbicara dengan yang mulia guru Panembah Swara untuk mohon ijin."
" Tidak bisa, Ki Sanak. Kami tidak berani mengganggu Guru di malam hari."
" Biar kami yang menanggungnya bila yang mulia Guru murka. Andhika berdua tidak perlu khawatir."
" Atau bagaimana kalau saya memberi Ki Sanak berdua perhiasan atau uang Ma emas, asal kami diperbolehkan bertemu dengan Guru Andhika?"
Penjaga itu mengerutkan keningnya, mulai merasa ada yang kurang wajar, " Mengapa Ki Sanak berdua terlalu mendesak kami?"
" Bukan begitu, Kisanak. Kami hanya butuh tumpangan untuk istirahat semalam," jawab Karna.
" Kalau hanya butuh istirahat, mengapa harus masuk ke dalam? Bukankah tidur di luar juga bisa, toh tanahnya datar dan bersih. Apalagi mendesak ketemu dengan guru lagi. Aneh!" ujar penjaga dengan nada ketus.
Kidang Panah kehabisan sabar. Agaknya sudah tertutup kemungkinan untuk masuk ke goa dengan cara halus, " Sudah, tidak perlu banyak omong. Boleh tidak kami masuk ke dalam?"
" Tidak boleh!" jawab penjaga pertama tegas. Sementara melihat suasana yang tidak beres itu, penjaga kedua tiba-tiba menyentakkan tangannya ke tangkai besi yang ada di belakangnya.
" Buuuuuummmm....!!!" Terdengar suara berdentum dahsyat, tanah bergetar oleh dentuman itu, dan tiba-tiba mulut goa sudah tertutup oleh pintu yang terbuat dari batu utuh.
" Plak...Plak...!!!" Secepat kilat tangan Kidang Panah menampar leher kedua penjaga. Seketika dua penjaga itu jatuh tergolek lemas karena terkena syaraf kekuatannya.
" Bantu aku dorong pintu ini!" ujar Kidang Panah kepada Karna.
Kidang Panah dan Karna mendorong pintu batu itu.
" Kerahkan seluruh tenagamu!" teriak Kidang Panah sampai tersengal karena telah mengerahkan seluruh tenaganya.
" Sudah, Kang. Ini seluruh tenaga saya!" jawab Karna juga dengan napas ngos-ngosan.
Peluh membasahi tubuh Karna dan Kidang Panah, namun pintu itu tidak bergerak sedikitpun.
" Ah, percuma didorong. Coba aku pukul dengan Tapak Dahana, Kang, " ujar Karna.
" Iya, tapi harus sepenuh tenaga. Jangan tanggung-tanggung!" sahut Kidang Panah.
Karna mundur lima langkah. Menyiapkan kuda-kuda dan napas untuk menerapkan ajian Tapak Dahana.
__ADS_1
" Tolong agak menjauh, Kang. Aku akan memukul dengan sekuat tenaga!" ujar Karna memperingatkan Kidang Panah yang masih berdiri di depan pintu goa.
Kidang Panah yang pernah merasakan setengah bagian tenaga Tapak Dahana hingga nyaris tewas menjauh dari pintu. Ia tidak bisa membayangkan betapa bahayanya dampak dari tenaga api Tapak Dahana bila dikerahkan sepenuhnya. Diam-diam ia menikmati dan penasaran ingin menyaksikan sahabat barunya Karna yang sakti menggunakan seluruh kekuatan pukulannya.
Setelah Kidang Panah menyingkir, Karna memfokuskan diri mengendalikan energi penuh. Kedua kakinya menempel ke tanah. Ia menarik napas dalam-dalam, ditekannya di perut untuk mengaktifkan Cakra pusar yang berunsur api. Seketika Cakra pusar aktif, tenaganya menyala. Namun itu belum cukup, karena yang akan dikerahkan adalah level tertinggi. Ia gesekan sedikit telapak kakinya untuk mengambil tenaga inti Bumi. Sekejap kemudian, elektron Bumi mengalir dari pusat kedalaman inti magma menuju permukaan tanah, menerobos masuk ke tubuh Karna berputar-putar bersama tenaga murni Karna. Dengan menghembus napas sangat perlahan, tenaga inti api itu dinaikkan ke lengan kemudian ke tapak tangan yang terentang membentuk cakar. Seketika, kedua telapak tangan Karna membara seperti besi tuang, seperti magma itu sendiri.
Tangan Karna terulur lalu ditarik setengah. Telapak tangan Karna yang telah sepanas lahar gunung bertemu dengan embun di alas Ketonggo, menimbulkan desis-desis suara air yang terbakar. Bahkan, hingga sekitar 5 depha ( 10 meter) hawa udara menjadi hangat.
Kidang Panah berdecak kagum menyaksikan pengerahan ajian Tapak Dahana secara penuh itu. Benar apa yang dikatakan Karna, andai kemarin ia dipukul Karna dengan tenaga penuh, dapat dipastikan ia akan tewas terpanggang. Sementara Bregas dan Julig yang menyaksikan dari atas terbengong-bengong dengan unjuk kesaktian sejati seorang Jaka Wingit yang penampilan sehari-harinya tidak menyeramkan.
" Hyaaaatttt...!!!" Karna menerjang pintu batu. Menghantamkan tapaknya sehingga memperlihatkan ujud petir menyambar.
" Blaaaarrr.....!!!" Terjadi percikan api saat permukaan pintu kontak dengan tenaga Karna.
" Blaaaarrr....!!! Blaaaarrr....!!!"
Hingga tujuh kali Karna menghantam pintu batu.
Usai pukulan ke tujuh, tubuh Karna terhuyung mundur. Kemudian ia jatuh terduduk dengan satu kaki berlutut. Ia mendekap dadanya dengan satu tangan.
Kidang Panah mendekati Karna, " Kau baik-baik saja?"
Peluh Karna bercucuran, " Aku tidak apa-apa. Tapi tenagaku habis terserap 7 pukulan penuh. Tolong periksa pintunya, Kang."
Kidang Panah memeriksa pintu batu. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Pintu batu itu berasap, warnanya hitam legam dan tercium bau sangit seperti baru saja terhantam petir. Terlihat garis memanjang. Rupanya pintu itu retak. Kidang Panah mencoba mendorong retakan pintu. Tapi tidak bergerak. Rupanya pintu batu itu sangat tebal sehingga hantaman Tapak Dahana tidak mampu memecahkannya secara keseluruhan.
Melihat Kidang Panah menggelengkan kepalanya, Karna tahu kalau usahanya untuk menghancurkan pintu gagal. Ia berdiri sambil menata napas untuk memulihkan tenaganya, " Bagaimana, Kang?"
Kidang Panah mendengus pendek, " Tidak ada jalan lain. Aku akan menggunakan caraku. Kau jangan ikut campur dulu!"
Kidang Panah menghampiri dua penjaga yang masih tergolek lemas. Mereka bisa menyaksikan dahsyatnya pukulan Tapak Dahana, namun tubuh mereka terlalu lemas untuk bereaksi.
Dengan dua kali totokan, dua orang penjaga itu dipulihkan tenaganya kembali. Kidang Panah mencengkeram leher kedua orang itu.
" Kalian pasti tahu cara membuka pintu itu. Katakan atau kalian mati!"
Penjaga yang menutup pintu tadi bukannya memperlihatkan rasa takut, justru tertawa kecil, " Hahaha...aku tahu kalian berdua sangat sakti dan tentu sangat mudah membunuh kami. Tapi sayangnya, kami tidak takut mati. Hahaha...kalau kami mati, justru itu akan membebaskan lingkaran karma, karena kami mati untuk membela keyakinan kami. Silahkan bunuh kami... silahkan bunuh kami, Tuan Yang Sakti... hahaha...."
Kidang Panah tidak menggertak, " Baik, aku mau lihat sejauh apa kau tidak takut pada kematian. Lihat ini, temanmu akan kubunuh dengan cara paling menyakitkan lebih dari apapun yang bisa kau bayangkan tentang rasa sakit menjelang mati."
Kidang Panah mengerahkan daya sihirnya. Ia mencengkramkan satu tangannya ke leher penjaga. Seketika penjaga itu tubuhnya berkelojotan karena kehabisan napas. Namun Kidang Panah yang sedang menciptakan ilusi sihir kematian yang menyakitkan tidak berhenti sampai di situ. Ia ingin membuat penjaga satunya benar-benar ketakutan.
Dengan satu jarinya yang sangat kuat, Kidang Panah menusuk tenggorokan penjaga itu sehingga masuk menembus ke dalam leher. Darah mengucur deras, terdengar suara mengorok. Kemudian Kidang Panah menggerakkan jari keluar untuk membetot batang tenggorokannya dari leher. Orang itu belum mati, masih berkelojotan sekarat dengan suara mengorok yang sangat keras.
" Kau juga ingin mati seperti temanmu ini?" tanya Kidang Panah menggertak.
Penjaga yang dibiarkan hidup itu malah tersenyum, " Beruntung sekali temanku ini bisa mati membela kebenaran dan dibunuh oleh manusia laknat seperti kau. Aku justru iri oleh keberuntungannya masuk Surganya Wisnu. Ini leherku, Tuan. Perlakukan aku seperti dia. Lebih juga gak masalah. Silahkan bunuh saya daripada saya harus mengkhianati Guru dan Bathara Kresna."
Penjaga itu menjulurkan lehernya untuk dipenggal. Kidang Panah justru terbelalak tak menyangka gertakan ilusi sihirnya tidak mampu menyiutkan nyali penjaga yang sudah kehilangan rasa takut mati. Ia lalu membandingkan dengan dirinya sendiri yang saat membela sesuatu juga tidak takut mati, sehingga sadar percuma saja mengancam atau membunuh orang seperti itu.
Saat Kidang Panah kehilangan akal, tiba-tiba ia merasa ada ranting jatuh dua kali ke kepalanya. Ia mendongak ke atas. Ternyata Julig yang melempari dirinya dengan ranting.
" Apaaaa???" Kidang Panah yang sedang kalut pikirannya berteriak kasar pada Julig.
" Sini, Kang. Sini!" Julig memberi isyarat agar Kidang Panah menyusulnya ke dahan pohon. " Aku tahu caranya!"
" Jangan bercanda kau, Julig!"
" Aku sungguh-sungguh, Kang!"
Kidang Panah segera melompat ke dahan tempat Julig dan Bregas berada. Sementara Bregas menggigil ketakutan karena tidak tahu bahwa saat Kidang Panah membunuh penjaga itu hanya ilusi sihir. Dengan gemetar Bregas beringsut memberi tempat takut menjadi sasaran kemarahan Kidang Panah yang sangat kejam.
" Apa maksudmu, Julig."
" Aku bisikkan, Kang. Aku tahu caranya agar pintu terbuka, " ujar Julig yakin.
***
__ADS_1