KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
59 MENYUSUP


__ADS_3

Rumah benteng Baswara sebagaimana sebutannya masih berpendar-pendar di tengah malam. Cahaya obor bergoyang-goyang dari balik pagar kayu. 3 Ksatria memilih pohon tinggi untuk mengamati keadaan dalam benteng. Namun rupanya mereka sudah memperhitungkan kemungkinan itu. Pohon-pohon dengan ketinggian yang cukup untuk mengintip benteng telah dipangkas habis dari sekeliling benteng, sehingga kalau harus mengamati, harus mencari pohon tinggi yang cukup jauh di luar jangkauan pandang mata orang dewasa. Untung Karma dan Kidang Panah adalah orang yang sangat terlatih menguatkan jarak pandang saat di hutan, sehingga meski dalam perhitungan orang biasa harusnya isi Benteng Baswara tidak dapat teramati sama sekali, bagi dua Ksatria itu masih tertangkap bayangan kasar posisi berdiri para penjaga, dan bagian-bagian halaman yang terlihat paling lemah penjagaannya karena terdapat bangunan kecil berbentuk kotak yang menghalangi pandangan penjaga di sebaliknya.


" Pojok barat daya benteng bagian yang paling tidak terjaga, Wingit. Kau lihat itu?" desis Kidang Panah.


" Iya, Kang. Menurutku juga begitu. Kita tidak perlu mendobrak pintu gerbang. Kita lompati pagar barat daya langsung masuk ke sana."


" Di luar sana ada pohon agak tinggi cukup untuk pijakan lompat ke dalam. Ayo kita ke sana!"


Karna memegang lengan Kidang Panah, " Bagaimana dengan Julig, Kang. Ia tidak mungkin ikut masuk benteng. Terlalu berbahaya!"


" Kau benar, Wingit. Kau tunggu saja di pohon itu ya, Julig?"


" Iya, Kang, " sahut Julig yang menyadari untuk masalah pertempuran fisik bukan bidang yang tepat baginya. Keterlibatannya dalam pertempuran fisik justru akan merepotkan Karna dan Kidang Panah yang harus berbagi perhatian untuk melindunginya.


Setelah sampai di pohon yang dimaksud, Julig ditinggal sendirian sedang Karna dan Kidang Panah yang telah menutup wajahnya dengan kain hitam, melompat bersamaan tanpa suara mendarat mulus di sebalik bangunan keci pojok barat daya halaman rumah benteng Baswara tanpa diketahui penjaga.


Kedua Ksatria itu berdiri menempel dinding bangunan untuk menyamarkan pandangan penjaga. Perlahan-lahan mereka bergeser mengelilingi bangunan untuk membaca keseluruhan situasi dan kekuatan penjaga halaman benteng.


Ada 6 orang penjaga di balik gerbang utama. Di setiap sudut dijaga oleh dua orang, sedang di antara tiap sisinya saling ronda berjalan 4 orang berlawanan arah. Sehingga total penjaga yang aktif meronda adalah 16 orang di sisi-sisi yang selalu berjalan, ditambah 8 orang yang tetap tersebar di sudut, dan 6 orang di pintu utama. Tepat berjumlah 30 orang.


" Terlalu banyak yang berjaga, Kang. Sekali ketahuan, 30 orang itu pasti memanggil bantuan. Kita tidak tahu berapa orang prajurit di barak utama. Kalau dilihat dari ukurannya, bisa untuk ditinggali 500 prajurit, " bisik Karna.


" Iya, terlalu beresiko kalau melakukan serangan langsung. Aku akan menggunakan cara lain."


" Maksudmu, Kang?"


" Sirep ( ilmu gaib untuk menidurkan orang secara massal), " jawab Kidang Panah seraya berkonsentrasi dan mengatur napas sehalus mungkin seperti napas orang tidur untuk menebarkan rasa ngantuk ke seluruh penjuru benteng.


Hanya dalam beberapa kejap kemudian, tercipta suasana menggelayut di udara Baswara berupa hawa sejuk seolah hujan rintik syahdu dengan paduan suara serangga malam. Daya Sirep yang dipancarkan oleh Kidang Panah merambat perlahan-lahan mendekati para prajurit penjaga. Begitu terasuk, niscaya mata dan kepala mereka akan terasa berat sehingga jatuh tertidur.


Namun, tiba-tiba Kidang Panah tersentak dari keheningannya.


" Uuuuhhh....ada kekuatan yang sangat besar menghadang daya sirepku, "ujar Kidang Panah dengan raut wajah terkejut.


Karna meskipun tidak mempelajari ilmu gaib, namun kepekaan batinnya dapat merasakan juga, bahwa ketika hawa yang menggelayut ciptaan Kidang Panah hampir menebar sempurna, ada hawa lain yang bersifat panas menghantam hawa sejuk Sirep.


" Ada orang yang sangat tinggi ilmu sihirnya atau tempat ini ditanami rajah pusaka yang melindungi dari serangan gaib. Aku tidak mampu menembusnya...." sambung Kidang Panah.

__ADS_1


Karna menatap sekeliling, " Kalau begitu tidak ada jalan lain, kita harus merobohkan penjaga itu satu per satu. Kita mulai dari penjaga pojok barat daya terdekat. Saya serang yang kanan, Kang Kidang yang kiri!"


Kidang Panah dan Karna menyiapkan sebutir kerikil di jarinya.


" Sekarang!"


" Zuuuutttt.....!!! Zuuuutttt...!!!"


Dua butir kerikil melesat menuju dua penjaga Barat Daya.


" Tik....! Tik..!"


Dua penjaga itu roboh tanpa suara dengan tubuh lemas tertotok.


Kidang Panah dan Karna beringsut ke pojok barat daya untuk menyembunyikan dua tubuh penjaga yang telah roboh.


Dengan cepat Dua Ksatria melucuti pakaian penjaga itu untuk dipakai menyamar dan segera berdiri dengan tegak bersenjata tombak persis sikap penjaga yang telah dirobohkan. Mereka menunggu datangnya 4 penjaga keliling yang datang menyusur pagar Barat dan Selatan.


Tidak berapa lama, empat orang penjaga keliling yang ditunggu terlihat mendatangi dengan jarak yang hampir sama.


" Kau bereskan dua orang yang dari arah kiri, aku yang kanan, " bisik Kidang Panah.


" Semua baik-baik saja, Kang?" tanya penjaga keliling.


" Baik, " jawab Karna dan Kidang Panah sembari menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya. Ketika mereka makin mendekat sehingga pasti dapat mengenali wajah Dua Ksatria, seketika Karna dan Kidang Panah bergerak secepat kilat menotok 4 orang itu.


" Tak...! Tak..! Tak..! Tak..!"


4 orang orang roboh tanpa suara, lemas tertotok. Total sudah 6 prajurit jaga yang telah roboh. Masih tersisa 24 lagi. Bukan tugas yang ringan untuk membereskan sisanya, mengingat mereka harus melakukan serangan dari jarak sangat dekat, cepat dan akurat tanpa menimbulkan suara gaduh sedikitpun.


" Sekarang bagaimana, Kang? Kita kuasa pojok Tenggara dulu atau Barat Laut?" ujar Karna.


Kidang Panah membaca kondisi benteng sejenak. Pojok Tenggara terusannya adalah pagar Timur yang langsung terhubung dengan Rumah Utama, sedang Pojok Barat Laut terusan pagar Utara yang dibelah oleh Gerbang Utama dengan 6 penjaga.


" Menurutku pojok Tenggara saja. Kalau kita berhasil, bisa langsung menyusup Rumah Utama untuk mencari Demang Suranggana. Sedang kalau ke pojok Barat Laut berarti harus memutar lagi dan menghadapi 6 orang penjaga sekaligus di Pintu Gerbang. Bagaimana pendapatmu?"


" Menurutku memang lebih baik langsung ke Tenggara untuk masuk ke rumah utama, " jawab Karna.

__ADS_1


Setelah keduanya sepakat, Karna dan Kidang Panah berpura-pura menjadi prajurit ronda keliling menyusur pagar selatan menuju pos jaga pojok tenggara. Kidang Panah yang posturnya sedikit lebih tinggi dari orang kebanyakan agak membungkukkan badan agar tidak mengundang kecurigaan ketika berpapasan dengan prajurit ronda dari arah yang berlawanan.


Di pertengahan pagar selatan, Dua Ksatria itu berpapasan dengan dua penjaga yang lain. Kidang Panah agak terkejut tidak menyangka secepat itu berpapasan dengan penjaga, sehingga sedikit terlambat melancarkan totokan. Sementara Karna sudah merobohkan satu prajurit, rekan satunya lagi yang lebih dekat dengan Kidang Panah terkesiap tak menyangka mendapat serangan mendadak. Ia membuka mulutnya untuk berteriak tanda bahaya, belum sampai suaranya keluar, Kidang Panah sudah membungkam mulutnya dan menotok syaraf gerakannya. Ia menyusul jatuh lemas.


Total 8 penjaga sudah dirobohkan oleh Karna dan Kidang tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Kini Dua Ksatria itu melanjutkan perjalanannya menuju pos Tenggara. Tinggal setengah jalan lagi. Begitu pos itu dikuasai, mereka bisa menerobos masuk rumah utama. Dengan mempercepat langkah, keduanya dalam waktu singkat sudah hampir sampai di pos tujuan. Hanya tinggal 2 depha ( 4 meter).


Namun, ketidak-siapan Kidang Panah saat merobohkan prajurit ke-8 ternyata berakibat fatal. Sasaran totokannya sedikit melenceng dari titik syaraf pusat, sehingga dampaknya tidak maksimal. Pengaruh totokan yang harusnya cukup memberi waktu bagi mereka untuk menyusup ke rumah utama tanpa diketahui, pudar terlalu cepat. Prajurit ke-8 itu berhasil memulihkan pergerakan rahangnya untuk berteriak...


" Bebayaaaaa ....!!! Ada penyusuuuppp...!!! Dua orang itu penyusuuuppp....!!!"


Penjaga pos Tenggara seketika menyadari bahaya yang datang. Seorang penjaga segera memukul kentongan tanda bahaya sekeras-kerasnya.


Kidang Panah dan Karna melompat serentak menerjang dua penjaga pos Tenggara. Sekali gebrakan mereka rebah tak berdaya.


Namun terlambat! Bunyi kentongan tanda bahaya telah terdengar oleh seisi benteng Baswara!


Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah sudut Timur Laut. Usai suara ledakan, dari arah itu timbul nyala api yang bergerak sangat cepat merambat di atas pagar benteng Baswara. Rupanya api itu berasal dari sumbu kain yang berbalur belerang dan bubuk cetbang ( mesiu ala Majapahit hasil pengembangan dari petasan China) sambung-menyambung dari satu obor ke obor lain yang dipasang berjumlah ribuan di sepanjang benteng. Begitu api melewati obor, obor yang dilintasi sumbu itu menyala. Dalam beberapa kejap seluruh benteng Baswara terang benderang sehingga Karna dan Kidang Panah tidak bisa menyembunyikan diri.


Dua Ksatria itu tercengang menyaksikan cara pengelolaan cahaya Benteng Baswara yang menggunakan tehnik terbaru. Benar-benar sebuah benteng prajurit yang dirancang nyaris sempurna!


Belum habis rasa takjub Dua Ksatria, terdengar suara berderak dari bawah permukaan tanah. Karna dan Kidang Panah saling berpandangan, tidak paham arti suara itu.


Tiba-tiba tanah bergetar seperti dilanda gempa kecil. Kemudian dari 8 penjuru pinggir benteng, tanah bergerak. Benar-benar bergerak....


Mata Dua Ksatria mengawasi dengan waspada pergerakan tanah itu. Beberapa kejap kemudian pergerakan tanah tersebut berhenti bersamaan dengan suara derakannya. Namun, tiba-tiba...8 bagian tanah itu terbuka seperti terkoyak dari dalam.


Dari 8 tanah yang terkoyak berlompatan ratusan prajurit bersenjata lengkap dengan busur panah.


" Hiyaaaaatttt....!!! Heaaa...!!! Huuuu...!!!" terdengar gemuruh sorakan ratusan prajurit muncul dari bawah tanah.


Rupanya ada 8 ruang bawah tanah di sepanjang halaman benteng Baswara yang pintunya tersamar rumput. Sungguh benteng dengan sistem pertahanan sangat kuat di luar dugaan.


Ratusan prajurit yang muncul dari bawah tanah tu semuanya telah memasang anak panah di tali busur, siap tembak!


Karna dan Kidang Panah mengatur posisi saling memunggungi.


Mereka berdua telah terkepung 8 penjuru angin oleh ratusan prajurit yang terlihat sangat siap perang dan merajam tubuh Dua Ksatria dengan anak-anak panah yang terhunus tajam....

__ADS_1


***


__ADS_2