
Dua Ksatria hebat itu menyimak penjelasan Panembah Swara yang bertindak sebagai juru bicara mewakili Mahapatih Gajahmada. Ia menceritakan semua tugas rahasia yang diberikan melalui Mpu Kuricak kepada Kidang Panah hanyalah rekayasa untuk merekrut prajurit Telik Sandi khusus yang anggotanya berjumlah sangat terbatas dan rahasia. Prajurit khusus yang akan dibentuk itu lepas dari semua angkatan yang ada sepert Jala Yudha, Jala Pati, Jala Rananggana, maupun Bhayangkara, namun mereka harus memiliki kemampuan seluruh angkatan sehingga bisa menyusup sebagai apa saja dengan bentuk penugasan tanpa batas. Pendek kata, pasukan kecil dengan kemampuan super secara pribadi maupun dalam perang massal. Cerita tentang hilangnya cincin cap Mahapatih, surat palsu, pengkhianatan Demang Suranggana pun hanya bagian ujian yang tidak pernah ada. Bahkan demi kepentingan ujian kecerdasan, kemampuan tempur, hingga kesetiaan kepada Negara, Mahapatih Gajahmada membangun Baswara sebagai bagian dari ujian. Termasuk kedatangan Ki Giri yang misterius pun adalah bagian petunjuk untuk memancing kecerdasan Julig bekerja menemukan Baswara.
" Jadi sekarang Julig di mana? " tanya Panembah Swara mengakhiri penjelasannya.
Kidang Panah menceritakan kondisi Julig dan perkembangan terakhir yang sudah sembuh dari sakitnya, termasuk mengakui telah menahan Cucak sang pembawa surat palsu yang sangat setia pada Negara.
Panembah Swara tersenyum lega mendengar semua berakhir dengan baik," Cucak dipanggil saja kembali ke Baswara. Berarti dia prajurit yang baik. Sedang untuk Julig, apa kondisinya sekarang cukup kuat untuk diajak ke sini agar Gusti Mahapatih melihatnya? Karena semua keputusan pengangkatan Telik Sandi khusus adalah wewenangnya."
" Bisa, Bapa Panembah, " sahut Kidang Panah dengan mata berbinar karena sebentar lagi bisa membuktikan pada Padma Dewi bahwa pada akhirnya ia memiliki kesempatan menjadi orang yang berguna bagi Bhumi Pertiwi.
" Biar aku saja yang menjemput Julig, Kang, " potong Karna tidak sabar ingin melihat kondisi terakhir Julig yang saat ditinggal masih seperti mayat.
Kidang Panah mengangguk, Karna pun mengucap pamit untuk menjemput Julig.
***
Ketika Karna datang, Julig sedang asik berbincang dengan Kusa pemilik kedai dan Cucak prajurit Baswara yang membelot. Kedatangan Karna disambut Julig dengan teriakan gembira karena kedatangannya dalam kondisi hidup berarti membawa kemenangan.
" Kang Wingit, di mana Kang Kidang? Apa dia datang belakangan? Demang Keparat itu sudah mati? Baswara kau bakar ndak? Sebelum mati si Demang itu ngompol ndak? Ceritakan sekarang, Kang!"
Karna tertawa lega melihat Julig sudah kumat banyak omongannya, berarti kondisinya memang benar-benar pulih, " Hehe.. sudah-sudah. Sekarang kau mau merayakan pesta kemenangan tidak? Kalau tidak mau ya sudah, biar aku ajak kang Cucak saja ke Baswara bikin pesta meriah."
Cucak mengerutkan kening mendengar ia akan diajak kembali ke Baswara, " Maksud Raden saya kembali ke Baswara untuk apa? Bukankah Demang Suranggana sudah berkhianat? Lebih baik saya kembali ke Kotaraja untuk melaporkan kejadian ini."
Karna tersenyum. Ia tidak bisa menceritakan semuanya kepada Cucak karena penyamaran Gajahmada sebagai Demang Suranggana tidak boleh diketahui siapapun kecuali oleh 6 orang yang terlibat, yaitu 3 Ksatria, Mpu Kuricak, Panembah Swara, dan Gajahmada sendiri. " Nanti di Baswara semua akan jelas. Yang pasti, Demang Suranggana sekarang sudah tinggal nama. Kau dan Julig silahkan bersiap, kita berangkat sekarang."
" Berangkat pesta, Kang?" tanya Julig.
" Iya, " jawab Karna.
" Ada ledhek nya?" tanya Julig dengan mata berbinar.
" Banyak! Cantik-cantik semua, " jawab Karna menahan rasa gembira melihat kondisi Julig.
" Waduuuhhh....!!! Kemajuan nih. Sejak kapan Kang Wingit tahu orang cantik? Bahaya ini buat mbokayu Savitri!"
__ADS_1
Karna tersenyum lebar. Sementara Julig yang tidak sabar seketika melompat keluar untuk menuju kandang kuda Seta.
" Wuuuzzz....!"
Lompatan Julig berkelebat cepat.
Karna tercekat. Bagaimana tiba-tiba Julig bisa bergerak secepat itu seperti sudah menguasai ilmu peringan tubuh?
Karna pun berkelebat mengejar Julig dan memegang pergelangan tangannya, " Apa yang kau lakukan, Julig?"
Julig menatap mata Karna dengan pandangan tak paham, " Mau ambil kuda. Kenapa? Apa kang Wingit marah karena kusinggung nama Savitri? Aku cuma bercanda, Kang."
" Bukan, bukan itu. Kau sadar tidak apa yang baru saja kau lakukan? Kau melompat sangat cepat!"
Julig menatap ke belakang. Ia baru sadar lompatannya sangat cepat dan jauh meski tidak secepat Karna, namun itu belum pernah bisa melompat seperti itu sebelumnya.
" Hah? " Julig melongo tidak tahu apa yang terjadi.
Karna memengang pergelangan tangan Julig, " Coba sekarang kau tarik napas sehalus mungkin lalu tekan di bawah pusar."
Julig melakukan yang diperintahkan Karna, sementara Karna menyusur satu tangannya di balik punggung Julig.
Julig masih tidak percaya pada yang terjadi dalam dirinya, " Maksudnya, nanti aku bisa memiliki kemampuan silat seperti Kang Wingit dan Kang Kidang?"
" Iya, dan itu tidak perlu waktu lama untuk berlatih karena hawa murnimu sudah bergerak hidup," jawab Karna dengan mata bercahaya gembira.
***
Hidup memang menyimpan banyak sisi misteri yang kadang bekerja secara kebetulan. Terlukanya jantung Julig oleh panah membuatnya berbaring koma antara hidup dan mati. Tanpa pikiran, tanpa keinginan, tanpa rasa, tiada beda seperti orang yang sedang masuk ke alam meditasi terdalam. Pada waktu itu, kelangsungan hidup Julig hanya bisa terjaga karena penyaluran hawa murni dari Karna dan Kidang Panah yang dilakukan dengan sangat hati-hati melewati aliran darah dan syaraf yang sangat lembut. Aliran hawa murni yang dilakukan secara terus menerus selama 3 hari 3 malam tanpa henti itu terserap oleh tubuh Julig yang sedang dalam kondisi hampa meditatif. Hal itu secara kebetulan membuka simpul-simpul tenaga yang tertutup untuk aktif apabila mendapat sentakan pertama.
Kebetulan berikutnya terjadi di saat akhir, di mana jamu yang diminumkan kepada Julig merupakan kombinasi racun terkuat dari 9 binatang yang ada di muka Bumi. Reaksi racun itu menyentak simpul-simpul tenaga Julig yang tertidur sehingga bangkit memberi anugerah alami berupa aktifnya Cakra pusat yang mengalirkan hawa murni ke sekujur tubuh Julig.
Itulah anugerah kehidupan, yang datang tanpa direncana, melalui cara kebetulan dalam ujud terpanahnya Julig yang pada awalnya dianggap sebagai bencana.
***
__ADS_1
Sesampai di Baswara, semua menjadi jelas. Pemilihan Julig sebagai anggota Telik Sandi khusus disetujui oleh Mahapatih Gajahmada setelah Panembah Swara menceritakan kecerdikan Julig saat menyusup ke Goa pemujaan Shri Krishna dan menaklukkan keteguhan hatinya, ditambah kesaksian Ki Giri saat memecahkan misteri nama Demang Suranggana.
Malam itu segalanya serba indah meski nantinya kisah indah itu akan menghadirkan kesulitan-kesulitan yang tak terbayangkan di penugasan yang sesungguhnya. Kabar yang disampaikan Karna tentang bangkitnya hawa murni Julig secara alami menjadi hadiah tersendiri bagi Kidang Panah yang terbahak-bahak membayangkan jika nanti Julig sudah menguasai ilmu peringan tubuh, apa tidak membikin repot kalau selalu nantang lomba lari dengan taruhan pijatan?
Belum usai Kidang Panah tertawa tergelak, mendadak Panembah Swara masuk ke ruang 3 Ksatria.
" Maaf, boleh saya mengajak Julig sebentar untuk bicara berdua?" Panembah Swara menyela canda mereka bertiga.
Kidang Panah menatap Panembah Swara, " Silahkan, Bapa Panembah."
Julig segera mengikuti langkah Panembah Swara yang mengajaknya masuk ke ruang seperti Sanggar Pamujan ( Ruang Doa).
Panembah Swara melolos seruling pusaka Murli Katong dari pinggangnya. Dengan khidmat ia menempelkan seruling itu ke dahi sebelum menurunkannya lagi dan berkata, " Jaka Julig, apa kau tahu sejarah seruling pusaka ini?"
" Kang Wingit pernah menceritakan asal muasal seruling Murli Katong kepada saya dan Kang Kidang saat melacak keberadaan Bapa Panembah. "
" Katakan apa yang diceritakan Kakangmu saat itu, " sahut Panembah Swara.
Julig menceritakan kembali apa yang ia dengar dari Karna. Sepanjang cerita, Panembah Swara mengangguk-angguk.
" Benar. Apa yang diceritakan Jaka Wingit benar adanya. Jadi kau sudah mengetahui semua tentang pusaka seruling yang ada hanya satu-satunya di dunia ini. Ketahuilah, aku ini anak sulung keturunan ke tujuh dari leluhurku pemilik Murli Katong pertama. Sesuai sabda Sanghyang Bathara Kresna, setelah aku tidak ada lagi pewaris seruling dan ajian Murli Katong, " ujar Panembah Swara dengan menarik napas berat.
" Tetapi, " sambung Panembah Swara melanjutkan, " Dengan mengetahui itu, timbul rasa sayangku bila ajian langka ini punah sampai di keberadaanku saja. Maka aku mencari cara, apa ada kemungkinan lain agar ajian ini tetap memiliki pewaris. Dan jawabannya, aku harus hidup sebagai Brahmachari ( Brahmana yang menerapkan kehidupan selibat, tidak melakukan aktivitas seksual seumur hidup, tidak berumah tangga, sehingga tidak memiliki keturunan). Sebab sekali aku memiliki keturunan, maka ajian dan seruling ini akan lenyap bersama kematianku."
" Iya, Bapa Panembah, saya paham, " desis Julig.
" Sekarang aku sudah tua, Julig. Sudah saatnya mengundurkan diri dari dunia ramai untuk menyambut mokhsa, menyambut Kasunyatan sejati sebagai pertapa. Selama puluhan tahun aku mencari calon pewaris yang layak untuk memiliki seruling ini, tak ada seorangpun kutemukan. Sampai pagi itu kau datang menyamar sebagai perempuan, aku sebenarnya sudah tahu. Bersamaan dengan itu, aku juga tahu, kau satu-satunya orang yang layak mewarisi ajian dan seruling Murli Katong."
Julig membelalakkan matanya tak percaya akan apa yang ia dengar. Namun Panembah Swara tidak memberinya kesempatan untuk menjawab.
" Terimalah...." tangan Panembah Swara mengulurkan seruling pusaka yang hanya ada satu di seluruh penjuru dunia.
Tangan Julig gemetar.....
Setiup angin menerbangkan daun tulasi dewi seperti memberi tanda pengukuhan bahwa Sang Bathara Kresna ikut menyaksikan lahirnya pewaris baru Murli Katong ....
__ADS_1
BERSAMBUNG
***