KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
81 REKAAN MIMPI PUSPA TAJEM


__ADS_3

Setelah memanggil nama Barbro hingga puluhan kali tanpa hasil, Pastor Odirico turun dari bukit bermaksud meminta bantuan penduduk desa. Pada waktu Odirico sudah meninggalkan bukit, Barbro keluar dari persembunyiannya.


Seperti yang diceritakan di awal, Barbro telah memasang jaring yang ia ikat dan sembunyikan di rerimbunan pohon yang tumbuh di dinding jurang. Saat jatuh bersama kudanya, ia melompat ke jaring itu sehingga selamat sedangkan kudanya meluncur hancur di dasar jurang. Terlindung oleh rimbunnya daun, Pastor Odirico tidak bisa melihat tangan Barbro yang memeluk erat batang pohon. Di samping memasang jaring, Barbro juga meninggalkan tambang berkait di pohon itu. Maka setelah memastikan Odirico sudah meninggalkan bukit, Barbro segera melempar tambang berkaitnya ke tepi jurang, sehingga ia merayap naik keluar dari jurang dengan mudah.


Dengan jalan kaki melalui arah bukit yang berlawanan, Barbro berhasil melarikan diri ke hutan sebagai persembunyian pertamanya. Sementara itu, Pastor Odirico yang menguasai bahasa Sansekerta bisa berkomunikasi dengan warga desa untuk meminta bantuan. Namun, begitu melihat curamnya jurang tempat Barbro jatuh dan kudanya yang mati dalam keadaan hancur, tidak ada satupun warga desa yang sanggup turun ke jurang. Mereka menyarankan Pastor Odirico untuk merelakan kematian Barbro dan membiarkan jasadnya terkubur di sana.


Pastor Odirico tidak memiliki pilihan lain kecuali merelakan kematian Barbro, sebab ia juga tidak memiliki banyak waktu, besok kapal dagang yang membawanya kembali pulang ke Itali sudah berangkat. Ia hanya mampu mengirim doa untuk arwah Barbro dan kembali lagi ke Kotaraja untuk berpamitan dengan Prabu Kalagemet sebelum kembali ke negaranya.


Di sisi lain dari bukit, Barbro sudah siap dengan rencananya untuk tinggal secara diam-diam di Majapahit. Ia ingin mempelajari bahasa Jawa Kawi, hurup Palawa, dan apapun yang berkaitan dengan Nusantara sebelum mampu mengambil pohon Baita dari desa Jalanidhi. Bahkan di perjalanannya, dengan berbekal kelicikan dalam membawa diri dan menipu, Barbro bertemu dengan seorang pendekar tua yang berkenan mengangkat dirinya sebagai murid. Selama sepuluh tahun Barbro mempelajari semua yang bisa diserapnya. Otak yang cerdas dan bakat dalam beladiri serta postur tubuh raksasanya membuat Barbro menjadi orang terpelajar sekaligus pendekar yang sangat tangguh.


Kini Barbro telah menguasai bahasa Kawi dengan sangat baik dan memiliki kesaktian yang bukan hanya bersandar pada kekuatan kasar yang sangat besar dalam bergulat namun juga kelenturan gerak silat dan pengendalian tenaga dalam. Pendek kata, Barbro hari ini adalah ujud Monster yang sangat berbahaya.


Ketika Barbro sudah merasa siap untuk menjalankan rencana sesungguhnya, saat itulah ia bertemu dengan Upas Bumi yang bersedia mengkhianati Majapahit demi kekayaan dan kekuasaan menjadi raja baru dengan bekerjasama dengan kekuatan tersembunyi bangsa Romawi Kuno yang sangat tersohor ribuan tahun yang lalu.


***


Kita tinggalkan sejenak Monster Eropa yang sedang kasak-kusuk dengan si culas Upas Bumi sang pengkhianat tanah air untuk mengikuti perjalanan Gagak Bayan, Suta bersama si cantik Savitri yang bersiap memasuki desa Jalanidhi untuk membeli sebatang pohon Baita.


Sepanjang perjalanan, Gagak Bayan menjadi berlipat-lipat semangatnya setelah mengetahui Savitri ikut dalam rombongan. Meski Savitri nyaris tidak pernah terlihat sosoknya karena selalu ada di dalam pedati yang sengaja ditutup rapat seperti kereta, dan bila keluar hanya untuk buang air atau mandi selalu mengenakan caping untuk menutupi wajahnya, namun sesekali tanpa sengaja tersibak juga wajahnya sehingga ia bisa menikmati beberapa kejap kecantikan yang luar biasa. Kalaupun tidak tersibak seluruhnya, bentuk dagu, bibir, dan pipinya pasti terlihat juga. Di mata Gagak Bayan, kecantikan Savitri kian matang dengan bertambahnya usia. Kulitnya halus bagai pualam, dan bibir yang bersemu jambu seolah-olah selalu mengajaknya untuk dicium sepanjang waktu. Ukuran tubuhnya yang proporsional terlalu sempurna untuk membangkitkan kelakiannya.

__ADS_1


Namun Gagak Bayan tidak ingin berlaku bodoh. Meski hasratnya membayangkan menyeret tubuh Savitri ke semak-semak untuk dicumbui sekujur keindahannya, dan ia tidak takut lagi pada Jaka Wingit karena merasa sudah menguasai Bayu Bajra, namun ia sedang membutuhkan kemahiran Suta sebagai saudagar kayu. Ia tidak ingin merusak rencana yang jauh lebih besar dengan imbalan tahta Majapahit. Ia berpura-pura sudah tidak menginginkan Savitri dan selalu memberi semangat kepada Suta bahwa kalau urusan pembelian kayu selesai, ia akan membantu mencari Jaka Wingit di Kotaraja.


Suta yang dasarnya hanya pedagang tanpa pernah memikirkan intrik politik dengan gampang percaya begitu saja pada Gagak Bayan. Ia menceritakan kalau Jaka Wingit dan Savitri sudah sama-sama suka hanya saja keduanya masih malu-malu untuk mengutarakan, namun sebagai orang tua ia meyakini bahwa itu hanya masalah waktu. Ia ceritakan juga tentang kelat bahu buatan Savitri yang sekarang dipakai Jaka Wingit dan selendang rajutan Savitri yang akan diberikan pada Jaka Wingit jika bertemu nanti.


Merasa Suta sudah percaya penuh kepadanya, Gagak Bayan memanfaatkan hal itu sebaik-baiknya. Ia membohongi Suta bahwa sebenarnya ia ingin mempersembahkan kayu kepada Maharatu Majapahit bukannya tanpa alasan. Bahkan ia mengetahui keberadaan kayu itu dari mimpi saat didatangi Ratu Tribuana Tunggadewi sendiri.


"Jadi sebenarnya itulah asal muasal aku mengetahui keberadaan kayu keramat dan desa Jalanidhi. Sang Maharatu sendiri yang memberi aku petunjuk lewat mimpi Puspa Tajam. Mimpi yang sangat nyata, sampai aku tahu nama desa dan wilayahnya. Padahal aku tidak pernah tahu ada desa yang bernama Jalanidhi. Apa Kang Suta pernah dengar nama desa itu sebelumnya?" ucap Gagak Bayan mengarang cerita di tengah perjalanan.


( Penjelasan istilah : Puspa Tajam /Puspa Tajem \= Mimpi atau Bunga yang Tajam/tepat \= jenis mimpi yang bermakna nyata karena berasal dari petunjuk Tuhan Yang Maha Tahu, biasanya terjadi setelah melakukan ibadah di saat tithi yoni. Waktu Puspa Tajam berkisar jam 03.OO sampai menjelang Fajar. )


" Jadi Dhimas Gagak Bayan sebenarnya mendapat perintah langsung dari Maharatu lewat mimpi?" tanya Suta dengan nada takjub.


Gagak Bayan mengangguk.


" Itulah, Kang Suta, " ujar Gagak Bayan mendramatisir cerita rekaannya. " Untuk membuktikannya cukup mudah. Jika benar di lereng gunung Arjuna ada desa yang bernama Jalanidhi, berarti mimpi itu sungguh-sungguh petunjuk nyata, dan ini memang perintah langsung dari Maharatu."


" Lalu kalau kita benar-benar menemukan desa itu, bukankah Dhimas Gagak tinggal meminta pohon itu atas nama Maharatu sebagai pemilik seluruh bumi Majapahit? Untuk apa saya harus dilibatkan?"


" Tidak semudah itu, Kang Suta. Meski mimpi itu sangat nyata, bahkan aku diperlihatkan bentuk pohon yang sangat besar, tetapi aku sebagai orang yang awam di bidang kayu bisa saja salah pilih kalau tidak didampingi ahlinya. Kang Suta sebagai Mpunya kayu yang bisa memastikan, apa benar kayu yang dimaksud cocok untuk membuat kapal raksasa, karena yang kulihat di mimpi hanya samar-samar. Apalagi....sayang sekali di mimpi itu aku tidak diberitahu nama pohonnya."

__ADS_1


" Oooo...kalau begitu saya paham, " sahut Suta seraya menganggukkan kepala.


" Lagipula Kang Suta yang sangat paham cara mengirimkan pohon itu ke Kotaraja kan?'


" Ya, Dhimas Gagak. Nanti saya yang akan menentukan bagaimana bentuk, ukuran, dan jumlah rakit yang harus diikat di pohon agar bisa dihanyutkan lewat sungai. Semakin besar dan panjang suatu pohon, harus banyak penyesuaian juga dengan lebar dan kuat arus sungainya."


Gagak Bayan tertawa senang dalam sandiwara culasnya, " Hahaha.. itulah mengapa aku mengajak Kang Suta. Ini jelas jalan yang telah diatur Dewata. Kedatangan Gusti Jaka Wingit sang Ksatria Angker sebagai pemimpin Gagak Nagara sejati telah merubah segalanya. Kita bisa menjadi saudara yang bahu-membahu menghatur Bhakti pada Bumi Pertiwi. Aku sangat bersyukur dan bangga menjadi saudara mudamu, Kang Suta."


" Ah, Dhimas Gagak ini terlalu memuji. Terus terang saya merasa pribadi Dhimas yang sekarang sangat layak menjadi pengayom kami semua selama Jaka Wingit berada di Kotaraja," sahut Suta. " Jadi, bagaimana nanti kalau kita sudah sampai dan bertemu dengan sesepuh di desa Jalanidhi. Apa Dhimas akan langsung mengatakan bahwa ini adalah perintah dari Maharatu atau bagaimana?"


Gagak Bayan memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyum liciknya. Tentu ia tidak ingin mengambil resiko namanya tercemar kalau penipuan ini kelak terbongkar oleh pihak Majapahit. Ia akan mengumpankan Suta sebagai pelaku utama.


" Oh, jangan aku yang bicara. Aku tidak paham masalah kayu, nanti malah salah. Kang Suta saja dengan nama jelas yang bicara, sehingga nanti kalau aku persembahkan kayu itu pada Maharatu, aku bisa menyebut nama Kang Suta sebagai penemunya. Ingat, kita ini saudara. Kalau nanti Maharatu memberikan ganjaran, bukan aku saja yang dapat, tetapi kang Suta juga ikut menikmati hidup yang penuh kemuliaan."


Mendengar kata-kata Gagak Bayan, Suta tersenyum lebar. Ia membayangkan dirinya dipanggil oleh penguasa tertinggi Majapahit untuk menerima penghargaan jasa. Sungguh impian yang teramat indah tak terbayangkan sebelumnya.


" Jadi, saya yang akan bicara dengan mengatasnamakan perintah Maharatu Majapahit?" tanya Suta dengan nada gembira.


" Benar, Kang. Kakang Suta yang akan menjadi utusan langsung Maharatu Tribhuwana Tunggadewi, sang pemilik segenap Bhumi Majapahit...." desis Gagak Bayan menyembunyikan jebakannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2