KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
42 KARNA & KIDANG PANAH TAK BERDAYA


__ADS_3

Ada satu hal yang tidak diketahui orang luar tentang goa ini. Di bawah langit-langit sisi barat, ada semacam ceruk buatan berbentuk bangku yang dapat diduduki. Di sana ia menuju.


" Heeeehhh...!!!" Kaki Panembah Swara menjejak, membawa tubuhnya melayang ke bangku batu di bawah ceruk buatan itu.


Karna menyusul melompat untuk menangkap Panembah Swara.


Tiba-tiba...


" Sraaaakkk...!"


Panembah Swara menepuk samping bangku batu, dan dari langit-langit goa turun semacam jaring-jaring menutup ceruk itu.


" Uuuugghh...!!!" Tubuh Karna tertahan jaring-jaring itu.


Jaring-jaring itu terbuat dari tali sebesar tambang seukuran jari. Karna tidak dapat melanjutkan pengejaran pada Panembah Swara. Entah terbuat dari apa jaring itu, yang jelas sangat kuat dan liat. Karna mencoba berkali-kali menyobek putus, sia-sia saja. Jaring itu hanya meregang sedikit namun tak putus juga.


Dengan melepaskan pegangan, tubuh Karna meluncurkan ke lantai goa untuk mengambil pedang pasukan yang tergeletak. Setelah mendapat pedang, tangan kiri Karna bergelantung di jaring, tangan kanannya menebaskan pedang untuk memutus tali jaring. Namun sia-sia. Seperti ada campuran getah karet di tambang pembentuk jaring itu. Tiap kali sisi pedang menerpa, jaring itu bergerak memantul.


Panembah Swara tertawa lirih mengejek usaha Karna yang sia-sia. Dengan santai ia duduk mengamati pertempuran yang masih terjadi di lantai goa antara pasukan murid-muridnya melawan pasukan Chandra Birawa.


Melihat. pasukannya terdesak karena kalah jumlah dan kehilangan cara memusnahkan ilusi sihir, ada sekitar 50 siswa telah tumbang dirobohkan oleh Kidang Panah asli yang dengan leluasa mengerjai pasukannya, Panembah Swara merasa harus mengakhiri hal itu. Dan selama ia mempelajari, ia telah menemukan caranya.


Perlahan Panembah Swara menarik seruling yang diselipkan di pinggang. Dengan anggun memejamkan mata membawa ujung seruling ke bibirnya. Memang demikian cara membangkitkan ajian Murli Katong, harus dengan perasaan terhalus agar dapat berkomunikasi dengan seluruh makhluk yang dituju.


Terdengar suara dengung rendah menggelombang dari tiupan seruling Panembah Swara. Meski suaranya tidak keras memekakkan telinga, namun dengung berfrekuensi rendah itu merambat jauh di dalam hingga keluar goa menyusup melalui lobang angin dan celah-celah.


Karna dan Kidang Panah sejenak menghentikan gerakannya, waspada mengantisipasi yang akan terjadi akibat dengungan itu. Mereka menduga-duga apa yang akan datang terpanggil ajian Murli Katong kali ini. Kalau ular agak sulit mengingat goa dalam kondisi tertutup, sehingga paling jumlah yang bisa datang terbatas. Apalagi hewan-hewan besar, jelas tidak mungkin. Akhirnya dengan was-was Karna dan Kidang Panah hanya bisa menunggu dan bersiap, sementara usaha Karna mengoyak jaring juga belum membuahkan hasil.

__ADS_1


" Wuuuuuunggg....wuuuuuunggg... wuuuuuunggg...." suara dengung menguat menguasai suara yang ada di dalam goa, mengalahkan jerit panik dan gemerincing suara senjata yang bertemu di pertempuran pasukan Panembah Swara melawan pasukan sihir Kidang Panah.


Di lantai goa, Kidang Panah beringsut minggir membiarkan pasukan sihirnya bekerja sendiri untuk menguras habis tenaga pasukan lawan. Ia memilih berkonsentrasi menghadapi kemungkinan dampak Murli Katong yang akan datang. Ia hanya memutar-mutar tombak sekedarnya untuk menyamarkan keaslian dirinya, agar tidak terlalu mencolok kalau diam saja, orang akan bisa menduga bahwa dia adalah Kidang Panah yang asli.


" Wuuuuuunggg......" dengung seruling.


" Ngeeeeennggg.... ngeeeeennggg.... ngeeeeennggg....." terdengar dengung lain.


Makin lama dengung yang terakhir terdengar semakin menguat. Mula-mula berasal dari arah timur sisi belakang goa. Makin lama berjalan mendekat ruang utama sehingga menyerupai gelombang lautan.


Kidang Panah menambah kewaspadaanya, memutar tombak kian kencang sembari menyalangkan mata menatap arah suara dengungan terakhir.


Benar, dari timur belakang goa terlihat sebentuk kabut berwarna coklat gelap. Kabut itu sangat besar sehingga menutupi seluruh ruangan goa dari dasar hingga langit-langit. Anehnya, kabut itu bergerak maju dan mengeluarkan gelombang dengung rendah namun sangat jelas.


Kabut coklat gelap itu mendekat, menelan seluruh ruangan. Saat kabut itu maju, ia menutup semua cahaya obor sehingga keadaan goa yang sudah temaram makin gelap saja.


Kidang Panah memicingkan mata untuk melihat ujud sesungguhnya dari kabut itu. Namun, karena goa itu tertutup rapat sehingga tidak ada sinar matahari kecuali obor sebagai satu-satunya cahaya penerang, ditambah keberadaan kabut itu menutup sebagian sinar obor, pandangan mata Kidang Panah yang sangat awas memerlukan beberapa kejap waktu untuk mendeteksi pecahan-pecahan bentuk kabut itu.


Begitu pandangan Kinang Panah mampu beradaptasi dengan minimnya cahaya, bulu kuduknya seketika meremang.


" Tawon ?" desis Kidang Panah.


Benar penglihatan Kidang Panah.


Kabut itu memang terbentuk dari kumpulan ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan lebah dan kumbang beracun dari seluruh penjuru alas Ketonggo yang dipanggil oleh tiupan seruling Murli Katong Panembah Swara. Karena ukurannya yang kecil, mereka mampu menerobos masuk goa lewat lobang udara dan sela-sela retakan dinding goa. Jutaan kebah beracun berbagai jenis dan ukuran beterbangan naik turun tanpa membuat gerakan maju setapakpun. Seolah-olah mereka menunggu-nunggu aba-aba yang belum diucapkan.


Kidang Panah menelan ludah, tenggorokannya terasa kering oleh ketegangan yang mencengkram pikiran. Demikian pun Karna yang setelah mengamati dapat melihat jutaan pasukan lebah membuat formasi siap serang dalam ujud kabut pekat.

__ADS_1


" Ngeeeeennggg.... " gelombang jutaan pasukan lebah berdengung mengintimidasi nyali dua satria Majapahit yang belum tahu apa yang harus dilakukan.


Panembah Swara tersenyum melihat dua pemuda sakti itu tertegun oleh pasukan lebah yang dipanggilnya.


Dengan sangat anggun Panembah Swara memejamkan matanya lagi, meniup ujung seruling dengan rasanya untuk memberi perintah tertentu pada jutaan pasukan lebahnya.


" Ngiiiiiiinggg......! " suara tiupan seruling Murli Katong berubah seketika dari frekuensi rendah ke frekuensi tinggi yang menyengat telinga. Bedanya, kali ini frekuensi tinggi itu tidak merusak gendang telinga, sehingga tidak ada satupun pasukan Panembah Swara yang kesakitan.


Tapi, rupanya frekuensi tinggi itu adalah perintah khusus pada jutaan lebah untuk memulai menyerang Kidang Panah dan Karna.


Dalam sekejap, kumpulan lebah yang semula beterbangan di tempat seketika bergerak terbang meluncur dengan arah pasti.


Akibatnya sungguh luar biasa! Jutaan lebah beracun berbagai jenis menyerang langsung Karna dan Kidang Panah.


Karena lebah adalah binatang tanpa pikiran ilutif, mereka tidak terpengaruh ilusi sihir Chandra Birawa Kidang Panah yang telah menciptakan 500 orang pasukan bayangan. Andai Prabu Salya panglima perang Kurawa sebagai pencipta Chandra Birawa yang menghadapi hal itu, pasti ia kewalahan juga dengan serangan jutaan lebah.


Jutaan pasukan lebah itu secara pasti diperintah oleh Panembah Swara dengan tiupan Murli Katong hanya menyerang tubuh pribadi Kidang Panah dan Karna. Mereka tidak mengenal tubuh ilusi. Secara serempak tujuannya pasti, menyengat tubuh dua tubuh manusia itu!


Akibatnya tak dapat dihindarkan. Tubuh Kidang Panah yang asli dan Karna dikerubuti jutaan lebah beracun!


Kidang Panah memutar tombaknya. Ribuan lebah beracun terpukul jatuh mati. Namun sia-sia. Jumlah mereka jutaan. Seribu mati, ratusan ribu datang menyerang lagi.


Demikian juga yang terjadi pada Karna. Ia terpaksa melepaskan pegangannya pada jaring. Tubuhnya meluncur jatuh, diikuti jutaan lebah yang siap menancapkan sengat menyuntikkan racun dalam jumlah jutaan tetes.


Jika itu terjadi. Mau sesakti apapun manusia, menerima jutaan sengat beracun lebah, pasti mati juga!


***

__ADS_1


__ADS_2