KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad

KSATRIA BHUMI MAJAPAHIT: Ajian Sapu Jagad
45 PERDEBATAN DEWA VS MANUSIA


__ADS_3

Meski yang dihadapi oleh Kidang Panah adalah kepribadian Panembah Swara yang kompleks dan nyaris tidak bisa diterima akal, tapi melihat kedatangan Julig di saat ia menghadapi jalan buntu, ada sedikit gerak harapan dalam hati Kidang Panah. Siapa tahu ia kehabisan akal hanya karena kelelahan, sedang Julig masih segar bugar sehingga mampu berpikir jernih untuk menemukan cara lain.


Kidang Panah meluncur turun disambut Julig yang sedikit kaget melihat sorot mata ganas Kidang Panah yang belum pernah ia saksikan selama ini. Ia pun tahu, bahwa pendekar ilmu sihir ini sedang dalam puncak kemarahan. Maka Julig tidak terlalu banyak berkata. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Kidang Panah.


Kidang Panah tampak sangat sungguh-sungguh menyimak bisikan Julig. Sementara di atas ceruk, Panembah Swara yang berlumuran darah menatap mereka.


" Ah...anak itu, " gumam Panembah Swara sambil menduga-duga apa yang sebenarnya sedang dibicarakan Julig.


Tak seberapa lama kemudian, Kidang Panah tampak mengangguk-angguk. Ada sedikit perubahan tenang dalam sinar matanya, " Baik, aku coba, Julig."


Kidang Panah melentingkan badan kembali ke ceruk. Dengan langkah cepat ia datangi tubuh lemah Panembah Swara. Tanpa berkata sepatah katapun, tangannya terulur untuk merampas seruling bambu dari gengaman Panembah Swara.


Menyadari seruling bambunya akan diambil paksa, Panembah Swara menggenggam serulingnya dengan erat. Namun karena luka dalamnya cukup parah akibat pukulan Karna, tenaganya yang lemah tak mampu mempertahankan genggamannya.


Seruling Murli Katong sudah ada dalam genggaman Kidang Panah sekarang. Raut wajah Panembah Swara menampakkan tanda panik. Baru pertama kali ini Kidang Panah melihat ekspresi panik di wajah tua orang keras kepala itu. Harapannya kembali timbul untuk mendapatkan sobekan surat Gajahmada.


" Apa yang mau kau lakukan dengan serulingku" hardik Panembah Swara.


Kidang Panah tidak menjawab, dengan santai ia duduk dan mengetuk-ngetukkan seruling itu ke dinding goa.


Melihat seruling pusakanya diperlakukan sembarangan, Panembah Swara berusaha bangkit berdiri. Namun akibat daging yang sobek hingga ke pangka pagal membuat kekuatan otot tak mampu menopang gerakannya. Kakinya goyah terhuyung ke belakang sehingga ia jatuh terduduk lagi. " Jangan perlakukan seruling itu dengan sembarangan! Itu seruling pusaka turun temurun dari leluhurku! Pemberian langsung dari Bathara Kresna! "

__ADS_1


Kidang Panah tertawa mengejek, " Ini? Seruling butut ini? Apa bedanya dengan seruling yang lain? Biar kulihat sekuat apa dia kalau kupukulkan di batu, " ujar Kidang Panah sembari mengangkat seruling Panembah Swara dengan gerakan akan dihantamkan ke bebatuan.


" Jangan!" Panembah Swara mengulurkan tangannya panik. Ia berusaha bangkit lagi, namun seketika terjatuh lagi. Dari sudut bibirnya meneteskan darah.


Para siswa yang melihat dari bawah sebenarnya ingin memanjat goa untuk merawat Panembah Swara, tapi mereka mengurungkan niat setelah melihat Karna terlihat tidak senang. Mereka memundurkan langkah takut gerakannya memancing kemarahan Karna pemilik Bayu Bajranya yang telah menghempaskan ratusan teman-temannya.


Kidang Panah mendengus dingin, " Tua bangka tak tahu diri. Aku kau minta peduli pada urusanmu dengan leluhurnu tentang seruling ini, tapi kau tidak mau tahu urusanku dengan surat itu? Sekarang kau mau apa? Kau pikir urusanmu lebih penting dibanding urusan Negara yang ada di surat itu? Baik, sekarang aku ikuti caramu! Kalau kau tak peduli dengan urusanku, aku pun tak peduli dengan urusanmu! Silahkan kau ambil sobekan surat itu! Kau tak perlu memberi tahu padaku di mana kau simpan suratku. Setelah ini aku akan geledah seluruh isi goa untuk mencari surat itu. Apa susahnya? Paling hanya masalah waktu, tapi pasti bisa kutemukan surat itu!"


' Silahkan! " Panembah Swara membalas gertakan Kidang Panah, " Silahkan geledah seluruh goa! Kalaupun kau temukan surat itu, kau sudah kehilangan waktu untuk melaksanakan tugasmu."


Kidang Panah tersenyum mengejek, " Baik. Aku akan geledah seisi goa ini, tapi setelah menghancurkan seruling ini!"


Kidang Panah melempar seruling itu ke lantai. Panembah Swara terpekik marah melihat seruling pusaka leluhurnya, yang didapatkan atas petunjuk langsung dari Bathara Kresna sendiri, dan hanya ada satu-satunya di dunia dilempar begitu saja tanpa rasa hormat oleh Kidang Panah. Namun apa daya, tenaganya terlalu lemah untuk menjangkau seruling pusaka yang menggelinding ke lantai ceruk.


Kidang Panah mendengus dingin, " Dan terkutuklah kau, Panembah Swara yang mengenakan busana Begawan namun menghalangi tugas Negara!'


Mata Kidang Panah dan Panembah Swara menaut. Saling memancarkan kemarahan tertinggi. Kemurkaan mereka sama-sama memuncak tidak bisa didamaikan lagi.


Kidang Panah berjalan ke atas seruling pusaka Murli Katong. Dengan ekspresi datar ia mengangkat kakinya dan berkata, " Kalau kau tua bangka tidak mau menyerahkan sobekan surat Mahapatih Gajahmada sekarang juga, aku tidak peduli menerima kutuk Triloka, tiga dunia kehidupan. Yang aku tahu sebagai seorang murid adalah melaksanakan tugas dari guruku, dan yang kutahu sebagai sebagai seorang kawula adalah memunaikan kewajiban kepada Raja, Pertiwiku, Bhumi Majapahit. Akan kuinjak hancur seruling ini! Aku tidak takut pada kuasa Kahyangan, yang kutakutkan hanya bila lidah ksatriaku tidak mampu membayar ucapan yang telah terikrar!"


Mendengar ucapan Kidang Panah, seisi goa tercakam. Perselisihan kerasnya tekad antara Brahmana dan Ksatria ini telah menyentuh batas pemikiran tentang kedewataan yang tanpa batas ujud, berhadapan dengan kemanusiaan dalam bernegara yang jelas berbentuk. Karna yang mengetahui konsep banyak Agama pun terdiam, demikian pula Julig yang telah membaca ribuan kitab sastra.

__ADS_1


Panembah Swara menyorotkan pandangannya bergantian untuk menakar antara cintanya pada seruling pusaka dan sorot mata kesungguhan Kidang Panah untuk menghancurkannya.


Panembah Swara menghembuskan napasnya. Menyeka keringat di dahi yang mendadak keluar karena takut bila seruling pusaka yang hanya ada satu-satunya di dunia itu benar-benar dihancurkan.


" Baiklah, aku menyerah. Jangan hancurkan seruling Murli Katong, aku serahkan sobekan surat yang kau minta, " ujar Panembah Swara lirih.


Kidang Panah menghempaskan napas lega. Menurunkan kakinya yang terangkat.


" Serahkan sekarang, aku tidak punya banyak waktu."


Panembah Swara mengangguk. Ia melongok ke bawah. Dilihatnya di antara belasan murid-muridnya yang tersisa ada Darsono yang telah pulih dari totokan Karna.


" Darsono, kau masuk ke ruang semadhi. Di bawah batu hitam Limas ( Piramida) ada ruangan bawah tanah. Putar saja Limas nya, kau masuk ke situ. Di sana ada peti kayu, bawa ke sini. Itu isinya sobekan surat."


'"Sandhika Dhawuh, Bapa Guru, " jawab Darsono.


Kidang Panah menatap Julig. Rasanya ia ingin terbang memeluk 'Anak Kancil' yang telah memberikan jalan keluar untuk masalah yang benar-benar membuntukan semua akal sehatnya.


Sementara Julig tersenyum, Kidang Panah menyerahkan seruling pusaka Murli Katong kembali ke tangan Panembah Swara.


Saat itu terjadi, matahari sudah benar-benar tenggelam tanpa sinar. Tepat Surup tanpa cahaya. Namun, ada yang bercahaya berpendar-pemdar, yaitu hati 3 Ksatria Bhumi Majapahit. Mereka Karna, Julig, dan Kidang Panah siap melanjutkan langkahnya untuk menunaikan tugas Negara karena telah memperoleh petunjuk lengkap tentang kepada siapa dan harus ke mana untuk melacak keberadaan cincin stempel yang hilang milik sang Mahapatih yang bercita-cita mempersatukan Nuswantara dalam satu panji Gula Klapa, Merah Putih.

__ADS_1


***


__ADS_2